Reyhan Mahardika adalah seorang aktor figuran gagal yang nasibnya berubah drastis setelah ia diikat oleh Sistem Pemeran Penjahat Profesional yang menjanjikan karier legendaris. Namun keberuntungan itu berubah menjadi mimpi buruk ketika setiap adegan pembunuhan yang ia perankan di depan kamera tiba-tiba terjadi di dunia nyata dengan pola yang sama persis. Publik dan polisi, termasuk Detektif Alena Prameswari yang cerdas dan dingin, mulai mencurigainya setelah sebuah video aktingnya yang terlalu realistis tersebar ke internet. Kini Reyhan harus membuktikan dirinya tidak bersalah sambil terus menjalankan misi dari sistem misterius itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Brak.
Pintu sel isolasi itu tertutup dengan suara dentuman logam yang sangat berat.
Reyhan mengusap pergelangan tangannya yang memerah akibat cengkeraman borgol.
Ia duduk perlahan di atas dipan beton yang terasa sedingin es.
"Sistem, tampilkan sisa waktuku sebelum Gilang sadar sepenuhnya," gumam Reyhan pelan di tengah kegelapan.
[Ding! Waktu perkiraan tersisa: 10 jam 45 menit.]
Reyhan menghela napas panjang dan menyandarkan belakang kepalanya ke dinding beton yang kasar.
"Sepuluh jam."
"Itu waktu yang sangat cukup bagi Propam untuk menyiksa Alena secara psikologis."
Reyhan tahu betul bagaimana cara kerja oknum polisi kotor saat mereka sedang terpojok oleh opini publik.
Mereka pasti sedang memaksa Alena untuk menandatangani surat pengakuan palsu saat ini juga.
Tepat dua ruangan dari sel isolasi Reyhan, Alena sedang duduk berhadapan dengan dua orang penyidik Propam.
Lampu neon di ruangan itu sengaja diarahkan tepat ke wajah Alena agar ia merasa silau dan kehilangan fokus.
"Tanda tangani saja surat ini, Detektif Alena," ucap salah satu penyidik berwajah tirus.
"Surat ini menyatakan bahwa kau dimanipulasi oleh pesona Reyhan Mahardika dan dipaksa untuk membantunya."
Penyidik itu menyodorkan selembar kertas bermaterai beserta sebuah pulpen ke depan Alena.
"Kalau kau mau menandatanganinya, Brigjen Surya berjanji akan membebaskanmu dari semua tuduhan insubordinasi."
Alena menatap selembar kertas itu dengan pandangan penuh rasa jijik.
"Kalian pikir aku ini polisi bodoh yang baru lulus kemarin sore?"
"Kalau aku menandatangani sampah ini, kalian akan langsung menembak mati Reyhan besok pagi dengan alasan dia melawan saat diinterogasi."
Penyidik kedua yang bertubuh kekar langsung menggebrak meja dengan sangat keras.
Brak!
"Jangan keras kepala, Alena!"
"Karir kepolisianmu sudah hancur lebur malam ini."
"Setidaknya selamatkan nyawamu sendiri dari kurungan penjara militer."
Alena tersenyum sinis dan menyandarkan punggungnya ke kursi dengan sikap yang sangat santai.
"Kalian yang seharusnya menyelamatkan diri kalian sendiri sekarang."
"Apa kalian berdua tidak memeriksa layar ponsel kalian sejak satu jam yang lalu?"
Kedua penyidik Propam itu saling pandang dengan raut wajah bingung bercampur curiga.
"Artikel lengkap tentang Yayasan Pelita Hati sudah tersebar ke seluruh Indonesia," lanjut Alena dengan nada mengejek yang provokatif.
"Semua rekening gendut atasan kalian sudah terpampang jelas di beranda media massa malam ini."
"Kalian ini sedang berusaha menambal kapal besar yang sudah tenggelam ke dasar laut."
Wajah penyidik bertubuh kekar itu seketika memerah karena menahan amarah yang meledak.
"Tutup mulut besarmu!"
"Berita murahan dari internet tidak akan pernah bisa dijadikan alat bukti yang sah di pengadilan."
"Mungkin tidak secara hukum formal," jawab Alena dengan cepat dan tajam.
"Tapi kemarahan publik di luar sana bisa meruntuhkan gedung utama Mabes Polri ini jika kalian berani menyentuh sehelai rambut saja dari kepala Reyhan."
Kedua penyidik itu mendadak terdiam kaku karena mereka tahu ancaman Alena sangat nyata dan masuk akal.
Sementara itu, di lantai lima Rumah Sakit Pusat Polri yang berjarak beberapa kilometer dari sana.
Suara monitor detak jantung berbunyi dengan ritme yang lambat dan teratur memecah kesunyian malam.
Tit. Tit. Tit.
Gilang terbaring lemah di atas ranjang pasien dengan selang oksigen menempel menutupi hidungnya.
Enam orang anggota Brimob bersenjata laras panjang berjaga sangat ketat di luar pintu kamarnya.
Perlahan, kelopak mata Gilang berkedut pelan sebelum akhirnya terbuka sempurna.
Ia menatap langit-langit kamar rumah sakit yang berwarna putih bersih dengan pandangan kosong.
Rasa sakit yang luar biasa hebat langsung menyerang sekujur punggungnya akibat dorongan ledakan C4 tersebut.
"Argh," erang Gilang pelan sambil mencoba menggerakkan jari-jarinya.
Tiba-tiba, suara mekanik yang sangat dingin dan datar berdengung di dalam kepala Gilang.
[Sistem Sutradara Tragedi kembali aktif.]
[Status Host: Kritis namun stabil.]
[Apakah Host ingin menggunakan Poin Tragedi untuk memulihkan kerusakan jaringan fisik?]
Gilang tersenyum tipis di balik embun masker oksigennya.
"Tidak perlu, Sistem."
"Luka fisik parah ini akan menjadi alat bukti visual yang sangat sempurna di depan hakim nanti."
"Berapa sisa Poin Tragedi yang kumiliki di bank sistem sekarang?"
[Poin Tragedi tersisa: 15.000 Poin.]
"Bagus sekali."
"Pertunjukan kemarin malam ternyata tidak sepenuhnya gagal, ledakan teater itu menghasilkan banyak poin keputusasaan dari publik yang menonton beritanya."
Gilang memutar bola matanya menatap ke arah celah pintu kamar yang tertutup rapat.
Ia tahu Reyhan pasti sudah berhasil ditangkap oleh pasukan Propam dan sedang ditahan di sel khusus saat ini.
"Reyhan mungkin berpikir dia bisa menang dengan bantuan artikel jurnalis amatir itu."
"Tapi dia lupa satu hal penting, aku adalah sutradaranya."
"Sistem, buka panel Skenario Bukti sekarang juga."