"Di kelas, dia adalah hukum. Di dunia luar, dia adalah takdir."
Ravian menjalani dua kehidupan yang berbeda. Di siang hari ia adalah dosen dingin di kampus dan setelahnya ia adalah CEO kejam Evander Corp.
Batasan yang ia buat runtuh seketika ketika ia tak sengaja jatuh cinta pada pandangan pertama kepada mahasiswinya.
Kini Ravian terjebak di antara aturan etika akademis, profesionalisme perusahaan, dan getaran dada yang tak bisa ia kendalikan.
Sanggupkah Ravian mempertahankan rahasianya saat batas antara ruang kuliah, ruang rapat, dan hatinya makin menipis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Midtwilight03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15 Konfrontasi Tanpa Ampun
Kamis pagi datang dengan langit yang masih pucat. Sisa embun menggantung di ujung-ujung dedaunan di halaman Fakultas Ekonomi dan Bisnis Kampus Jagatara, sementara aktivitas mahasiswa belum sepenuhnya memenuhi lorong-lorong gedung. Tiga puluh menit sebelum jam kuliah pertama dimulai, kampus masih berada dalam jeda sunyi yang aneh, tenang di permukaan, tetapi menyimpan sesuatu yang terasa ganjil.
Di ruang rapat kedap suara yang berada di lantai dasar, suasana justru jauh dari kata tenang.
Kaivan Ravello duduk sendirian di salah satu sisi meja oval berbahan mahoni tua. Jemarinya mencengkeram sebuah map cokelat berisi berkas aduan yang telah ia persiapkan semalaman. Sudut-sudut kertas di dalamnya bahkan sudah sedikit kusut karena berkali-kali dibuka dan dibaca ulang.
Pagi ini, ia berniat menyerahkan semuanya kepada Dekan. Ia telah meyakinkan dirinya sendiri bahwa inilah saatnya.
Tidak ada lagi keraguan. Tidak ada lagi rasa takut.
Setidaknya, itulah yang berusaha ia tanamkan dalam pikirannya.
Namun, kurang dari sepuluh menit sebelumnya, langkahnya terhenti ketika dua pria bertubuh tegap dengan setelan hitam menghadangnya di koridor. Keduanya tidak banyak bicara. Hanya satu kalimat pendek yang terdengar seperti perintah.
"Silakan masuk. Pak Ravian sudah menunggu."
Dan kini, Kaivan berada di ruangan ini.
Sendirian.
Menunggu.
Detik jam dinding terdengar begitu jelas di antara keheningan.
Tik.
Tik.
Tik.
Kaivan berusaha mengabaikannya.
Ia baru saja hendak membuka kembali map di tangannya ketika terdengar bunyi gagang pintu diputar.
Pintu terbuka perlahan.
Kaivan mengangkat wajah. Untuk sesaat, napasnya seolah tertahan.
Ravian Adhikara Evander melangkah masuk dengan ketenangan seseorang yang sama sekali tidak merasa terancam. Setelan jas tiga lapis berwarna abu-abu gelap membungkus tubuh tegapnya dengan sempurna. Setiap langkahnya terukur, tidak terburu-buru, tetapi justru menghadirkan tekanan yang semakin besar.
Tidak ada ekspresi marah di wajah pria itu.
Tidak ada pula kegelisahan.
Hanya ketenangan dingin yang entah mengapa jauh lebih mengintimidasi daripada amarah.
Di belakang Ravian, dua pria paruh baya menyusul. Keduanya mengenakan setelan formal dan berkacamata dengan bingkai tebal. Salah satunya adalah Julian, Kepala Tim Legal Evander Corp, sementara pria lainnya merupakan pengacara senior yang namanya cukup dikenal di kalangan hukum Jakarta.
Mereka membawa tas kerja kulit berwarna hitam.
Kaivan menelan ludah. Jantungnya yang sejak tadi berdegup cepat kini terasa menghantam tulang rusuk.
"Pak Ravian?" ia berusaha menyunggingkan senyum sinis, meskipun sudut bibirnya tampak kaku.
"Saya kira Anda akan gemetar di depan Dekan pagi ini," katanya, berusaha terdengar percaya diri. "Bukan malah sengaja menemui saya di tempat seperti ini."
Ravian tidak menjawab. Ia hanya berjalan menuju kursi di hadapan Kaivan.
Dengan gerakan tenang, ia menarik kursi itu, duduk, lalu menyilangkan kedua kakinya. Tatapan matanya langsung tertuju kepada Kaivan.
Dingin.
Tajam.
Tak berkedip.
Tatapan itu membuat Kaivan merasa seolah-olah seluruh keberaniannya sedang dibongkar satu per satu.
Seperti seekor predator yang tidak perlu terburu-buru mengejar mangsanya karena tahu bahwa tidak ada tempat untuk melarikan diri.
Julian kemudian maju satu langkah.
Ia membuka tas kerjanya dan mengeluarkan sebuah map hitam yang jauh lebih tebal daripada map milik Kaivan. Map itu diletakkan perlahan di atas meja, tepat di hadapan Kaivan.
Brak.
Tidak keras, tetapi cukup untuk membuat Kaivan tersentak.
"Saudara Kaivan Ravello," ujar Julian dengan suara tenang dan formal. "Sebelum Anda melangkah lebih jauh dan menyerahkan berkas di tangan Anda kepada Dekan, saya sarankan Anda membaca isi dokumen ini terlebih dahulu."
Kaivan menatap map hitam tersebut. "Apa ini?"
"Jawaban kami."
Alis Kaivan berkerut.
Tangannya perlahan meraih map itu. Ada keraguan yang tiba-tiba muncul di dalam dirinya, sesuatu yang sejak tadi berusaha ia tekan.
Ia membuka halaman pertama. Wajahnya langsung berubah.
Beberapa lembar dokumen hukum tersusun rapi dengan kop resmi, lengkap dengan lampiran bukti digital.
Matanya bergerak cepat membaca satu demi satu.
Pasal Tindak Pidana Peretasan dan Pengintaian Ilegal.
Terdapat rangkaian bukti digital mengenai aktivitas Kaivan yang menunjukkan bahwa ia telah melakukan pengintaian secara terencana terhadap kendaraan pribadi serta properti yang berkaitan dengan Evander Corp.
Halaman berikutnya.
Pencemaran Nama Baik dan Fitnah Berat.
Draf gugatan perdata dengan nilai tuntutan mencapai sepuluh miliar rupiah.
Kemudian halaman berikutnya.
Surat Rekomendasi Pemecatan dan Blacklist Akademik.
Kaivan membeku. Jemarinya yang memegang kertas mulai gemetar.
Satu halaman.
Dua halaman.
Tiga halaman.
Semakin ia baca, semakin pucat wajahnya.
Semua yang selama ini ia kira tersembunyi ternyata telah diketahui.
Bukan hanya diketahui.
Tetapi sudah dikumpulkan menjadi sebuah berkas yang rapi, lengkap, dan siap digunakan untuk menghancurkannya.
"M-maksudnya apa ini?" suaranya nyaris tidak terdengar.
Ravian akhirnya berbicara. "Maksudnya sangat sederhana, Kaivan," Suaranya rendah. Tenang.
Namun setiap katanya terasa seperti tekanan yang perlahan menghimpit dada.
"Kamu berpikir bisa menghancurkan saya hanya dengan satu lembar foto curian?"
Kaivan mengangkat wajah.
Ravian sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. Kedua tangannya bertumpu di atas meja.
"Foto itu diambil di area privat kantor saya. Hubungan saya dan Liora di luar kampus adalah urusan pribadi. Dan keberadaan Liora di perusahaan saya memiliki dasar kemitraan resmi antara universitas dan Evander Corp."
Ravian berhenti sejenak. Tatapannya semakin tajam. "Tetapi kamu melangkah terlalu jauh."
Kaivan mengepalkan tangan. "Saya tidak melakukan apa pun!"
Ravian tersenyum tipis.
Senyuman itu sama sekali tidak mengandung kehangatan.
"Kamu mengancamnya."
Kaivan terdiam.
"Kamu mengikutinya."
Kaivan mulai kehilangan warna di wajahnya.
"Kamu mengambil foto tanpa izin."
Napas Kaivan semakin berat.
"Dan kamu mencoba menggunakan foto itu untuk memerasnya."
"Saya..." Kaivan membuka mulut, tetapi suaranya tersangkut di tenggorokan.
Julian menyela dengan nada yang jauh lebih tegas. "Dan itu baru sebagian," ia mengambil beberapa lembar dokumen dari dalam map. "Kamera pengawas Evander Corp mencatat keberadaan Anda semalam. Tim keamanan kami juga telah mengamankan rekaman yang relevan."
Julian meletakkan dokumen itu di atas meja. "Tim siber kami telah mengamankan log aktivitas digital, termasuk riwayat komunikasi dan pesan ancaman yang Anda kirimkan kepada Liora Valeska."
Kaivan menatap lembaran itu dengan mata melebar.
"Tidak mungkin..."
"Semua ada buktinya."
Julian menatapnya lurus. "Jika dokumen ini kami serahkan kepada pihak kepolisian dan Rektorat hari ini, Anda akan menghadapi konsekuensi hukum sekaligus sanksi akademik."
Kaivan mulai menggeleng. "Tunggu..."
"Dan saya sarankan Anda tidak meremehkan situasinya," suara Julian tetap tenang.
Tetapi, justru ketenangan itu membuat ancamannya terdengar semakin nyata.
Kaivan terduduk lemas. Map aduan yang sejak tadi ia pegang erat perlahan terlepas dari tangannya.
Bruk.
Map itu jatuh ke lantai. Beberapa lembar kertas menyembul keluar.
Kaivan tak peduli.
Keringat dingin mulai mengalir dari pelipisnya. Tenggorokannya terasa kering. Keberanian yang sejak kemarin membakar dadanya, amarah, kecemburuan, rasa sakit karena merasa kalah, semuanya runtuh hanya dalam beberapa menit.
Ia baru sadar bahwa selama ini ia berhadapan dengan seseorang yang memiliki sumber daya jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.
Ravian berdiri.
Gerakannya tetap tenang.
Ia merapikan kancing jasnya satu per satu, kemudian mengambil napas pendek sebelum kembali menatap Kaivan.
Ada sesuatu dalam sorot matanya. Bukan sekadar kemarahan. Melainkan keputusan.
Keputusan seseorang yang sudah memberikan batas terakhir.
"Saya berikan kamu satu kesempatan."
Kaivan mengangkat wajah.
"Kesempatan terakhir," Ravian mengucapkan setiap kata dengan perlahan. "Hapus seluruh file foto itu. Dari ponselmu. Dari laptopmu. Dari penyimpanan awanmu. Dari mana pun kamu menyimpannya."
Kaivan menatapnya dengan wajah pucat.
"Dan lakukan sekarang."
Ravian menganggukkan kepala ke arah Julian dan pengacara di sampingnya.
"Mereka akan memastikan tidak ada salinan yang tersisa."
Kaivan menelan ludah.
"Setelah itu..." Ravian berhenti tepat di hadapannya. "...jauhi Liora."
Suasana mendadak terasa semakin sunyi.
"Jangan menyapanya," Satu langkah.
"Jangan mendekatinya," Langkah berikutnya.
"Jangan mengirim pesan kepadanya," Ravian menatap langsung ke dalam mata Kaivan. "Dan jangan pernah menyebut namanya lagi jika tidak diperlukan."
Kaivan tidak sanggup menjawab.
Ravian kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu. Tangannya sudah menyentuh gagang pintu ketika ia berhenti.
Untuk beberapa detik, punggungnya tetap menghadap Kaivan.
"Kalau saya mendengar kamu mengganggunya satu kali lagi..." Ravian menoleh sedikit. Tatapan matanya kembali menjadi dingin. "...saya tidak akan datang untuk memperingatkanmu."
Kaivan menahan napas.
"Karena setelah itu, semua keputusan akan dibuat oleh tim hukum saya."
Pintu terbuka.
Namun sebelum benar-benar meninggalkan ruangan, Ravian memberikan kalimat terakhir.
"Dan percayalah, Kaivan," senyum tipis muncul di wajahnya. "Saya jauh lebih sabar daripada yang kamu kira."
Pintu kemudian menutup rapat.
Klik.
Keheningan kembali menguasai ruangan. Namun kali ini, keheningan itu terasa berbeda.
Kaivan menundukkan kepala. Tatapannya kosong.
Di hadapannya, Julian telah membuka laptop dan menyiapkan beberapa dokumen digital. Pengacara senior di sebelahnya mulai menjelaskan prosedur yang harus dilakukan.
Sementara itu, map aduan yang tadi terasa seperti senjata kini tergeletak tak berdaya di lantai.
Kaivan menatapnya lama.
Ia sadar bahwa pagi ini seharusnya menjadi hari ketika ia menghancurkan Ravian Adhikara Evander.
Namun kenyataannya justru sebaliknya.
Dalam hitungan menit, dialah yang berada di ambang kehancuran. Dan yang paling menyakitkan, ia tidak lagi memiliki keberanian untuk melawan.
Di luar ruangan, langkah Ravian terus menjauh menyusuri koridor kampus.
Tenang.
Teratur.
Tanpa sedikit pun keraguan.
Sementara di dalam ruang rapat, satu demi satu bukti di ponsel Kaivan mulai dihapus di bawah pengawasan tim legal.
Sebuah peringatan telah diberikan.
Dan jika Kaivan cukup bodoh untuk mengabaikannya, maka konfrontasi pagi ini hanyalah awal dari sesuatu yang jauh lebih buruk.