Indonesia
NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Yang Kedua

Ternyata Aku Yang Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Poligami / Balas Dendam
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dunia Sasi runtuh dalam semalam. Keputusannya memutuskan Hendrik karena menolak diajak berhubungan badan justru berujung petaka—Hendrik yang gelap mata melecehkannga dan mencapnya sebagai wanita munafik. Belum sembuh rasa traumatik itu, Sasi yang tiba di rumah langsung dihadapkan pada lamaran Adrian Maheswara, putra sahabat ayahnya. Demi menghormati permohonan sang ayah, Sasi yang masih syok hanya mampu mengangguk pasrah.
Pernikahan kilat pun digelar keesokan harinya. Namun, neraka baru menyambut Sasi saat Adrian membawanya pulang. Di sana, berdiri Fitria—istri pertama Adrian. Merasa ditipu dan dijadikan alat semata demi mendapatkan keturunan bagi pasangan tersebut, Sasi harus menelan kenyataan pahit: tersiksa oleh trauma yang belum usai, kini ia terperangkap dalam ikatan poligami tanpa persetujuannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Adrian melangkah ke arah lemari kayu berukir di sudut kamar, merogoh bagian dalamnya, dan mengeluarkan sebuah objek yang membuat darah Sasi seketika membeku.

Sebuah gelang kaki logam berwarna hitam pekat dengan sensor elektronik dan klip pengunci khusus.

Gelang alarm itu dirancang khusus demi memastikan Sasi tidak akan pernah berani lari lagi.

Jika Sasi nekat melangkahkan kakinya melewati batas pintu keluar rumah mewah tersebut, gelang itu akan memicu suara sirine nyaring yang akan memutus segala celah pelariannya.

Adrian mendekat dengan langkah perlahan, berlutut tepat di hadapan Sasi yang meringkuk ketakutan di lantai.

Tanpa memedulikan rontaan halus wanita itu, Adrian mencengkeram pergelangan kaki Sasi yang dingin dan memasangkan gelang hitam itu hingga terdengar bunyi klik pengunci yang mengutuk.

"Kenapa kamu nekat? Bukankah aku sudah mengatakan kalau aku akan menghukummu?" bisik Adrian dengan nada dingin, tepat di samping telinga Sasi.

Sasi menengadah, matanya yang sembap memancarkan kilatan benci dan trauma yang bercampur aduk. Napasnya tersengal parah.

"Karena aku lebih baik mati jatuh dari balkon daripada harus membiarkan tubuhku ditindas dan dijadikan barang sewaan oleh kalian!" jerit Sasi dengan suara parau yang bergetar hebat.

"Kamu dan istri pertamamu sama saja—kalian monster yang tidak punya hati!"

Adrian bergeming. Tatapannya menajam sejenak menahan letupan emosi, namun ia tidak membalas atau memukulnya.

Pria itu berdiri tegak, merapikan kemejanya yang bersimbah bercak darah akibat luka gigitan Sasi yang kembali terbuka.

Tanpa sepatah kata pun lagi, Adrian akhirnya berjalan santai ke arah sofa panjang di ujung kamar Sasi.

Ia merebahkan tubuhnya yang tegap di sana, memejamkan mata seolah kekacauan dahsyat tadi hanyalah angin lalu.

"Tidurlah, Sasi. Aku mengantuk," gumam Adrian datar dari sofa.

Malam ini, ia memutuskan untuk tidur dan menunggui kamar Sasi secara langsung.

Sasi terpaku di lantai yang dingin. Rasa sesak menghimpit dadanya hingga ia sulit bernapas.

Dengan jemari yang menggigil dan memerah, ia berulang kali memukul dan menarik-narik besi gelang di kakinya, berusaha sekuat tenaga melepaskannya meski kulit pergelangan kakinya mulai memar dan lecet.

"Dasar sakit jiwa," bisik Sasi lirih di tengah isak tangisnya yang pecah dalam kegelapan malam, menyadari bahwa belenggu di kakinya kini mengunci sisa-sisa kebebasan hidupnya secara utuh.

Sasi yang kelelahan akhirnya ikut memejamkan matanya.

Sunyi perlahan merayapi rumah besar itu, menyelimuti dingin yang terlanjur mengendap di antara hubungan mereka.

Di kamar bawah, Fitria mondar-mandir. Rasa gelisah dan cemburu membakar dadanya hingga tiap detik terasa begitu menyiksa.

Ia berulang kali menatap pintu kamar yang terbuka sedikit, menunggu kedatangan suaminya yang ternyata sudah tertidur di sofa kamar Sasi.

"Mas, kenapa kamu selalu membela wanita itu?!" gumam Fitria yang kembali turun dan masuk ke kamarnya.

Suara pintu yang ditutup dengan hentakan halus menyertai langkahnya yang gontai.

Ia melempar tubuhnya ke atas ranjang, memeluk bantal rapat-rapat seolah berusaha menahan sesak yang membuncah di dada.

Bayangan perhatian suaminya pada Sasi—meski hanya berupa tatapan kasihan—berhasil mengikis sisa-sisa kesabarannya.

Mengapa selalu Sasi? Mengapa wanita itu selalu berhasil menarik seluruh perhatian dan empati suaminya, sementara dirinya di sini seolah hanya menjadi penonton dalam rumah tangganya sendiri?

Sementara itu, di kamar atas, malam merambat kian larut. Pria yang tertidur di sofa itu terbangun samar.

Cahaya remang lampu tidur menerpa wajah Sasi yang tampak pucat dalam lelapnya. Ada helaan napas berat yang lolos dari bibirnya.

Antara rasa bersalah pada Fitria dan dorongan untuk melindungi Sasi, ia terjebak di persimpangan yang kian hari kian menyiksa.

Keesokan paginya, adzan subuh berkumandang dari kejauhan, membelah keheningan pagi yang masih diselimuti embun dingin.

Adrian bangun dari tidurnya. Ia merenggangkan otot-otot tubuhnya yang pegal karena semalaman tertidur di atas sofa.

Matanya melirik ke arah Sasi yang masih tertidur pulas dengan tubuh meringkuk di atas ranjang. Adrian menyelimuti Sasi yang tampak masih kelelahan dari kekacauan semalam.

Ia berdiri dan berjalan menuju ke arah Sasi, lalu menepuk pelan bahu wanita itu.

"Sasi, ayo sholat subuh," panggil Adrian dengan suara beratnya.

Sasi bergeming sejenak sebelum akhirnya menggeliat pelan.

Tanpa membuka matanya, ia bergumam dengan nada dingin dan penuh sarkasme.

"Hm, sholat lah kalian berdua suami istri. Di sini aku hanya alat untuk menghasilkan anak."

Adrian menghela nafas panjang. Rasa bersalah kembali berdenyut di dadanya, namun ia tetap mempertahankan sikap tegasnya.

"Sasi, bangun atau aku memanggulmu."

Mendengar nada bicara Adrian yang tak main-main, Sasi langsung membuka matanya lebar-lebar.

Kilatan kejengkelan terpancar jelas dari tatapannya.

Ia menyibakkan selimut, lalu menunjuk gelang logam hitam yang masih mengikat pergelangan kakinya.

"Buka ini dulu, bagaimana aku bisa wudhu jika gelang ini menempel di kakiku?" cetus Sasi ketus.

Tanpa berbantah lagi, Adrian berlutut di tepi ranjang.

Ia mengeluarkan kunci khusus dari sakunya lalu membuka gelang alarm tersebut hingga terdengar bunyi klik.

Setelah gelang itu terlepas, Adrian berdiri dan menatap Sasi datar.

"Mandi dan wudhu lah. Aku tunggu di luar."

Sasi tidak menjawab. Ia hanya mengusap pergelangan kakinya yang memerah, lalu bangkit dengan langkah kaku menuju kamar mandi, meninggalkan Adrian yang menatap punggungnya dengan helaan napas berat.

Adrian turun ke bawah dan melihat Fitria yang sudah siap menunggunya di depan tangga, menyilangkan kedua tangan di dada dengan raut wajah masam.

"Enak, Mas, tidur di atas?" sindir Fitria dengan nada dingin dan penuh selidik.

"Fit, ini masih pagi," sahut Adrian singkat, enggan memicu pertengkaran sebelum subuh berlanjut.

Adrian masuk ke kamar, segera mandi dan mengambil air wudhu untuk membersihkan diri. Setelah itu, ia melangkah menuju ruang sholat yang berada di bagian belakang rumah.

Namun, setibanya di sana, Fitria sudah berdiri di dekat sejadah dengan kening berkerut, mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.

"Kemana wanita itu? Apa dia pingsan atau kabur lagi?" cercah Fitria sinis.

"Siapa juga yang kabur?"

Suara dingin dari arah pintu membuat Fitria dan Adrian menoleh bersamaan. Sasi berdiri di ambang pintu, sudah mengenakan mukena putih bersih.

Meski wajahnya masih pucat dan ada lingkaran hitam melingkari matanya, ia tetap melangkah masuk dan mengambil posisi di barisan belakang, agak menjauh dari posisi Fitria.

Melihat jarak yang sengaja dibuat Sasi, Adrian menggeleng pelan lalu merapikan posisi sejadahnya sebagai imam.

"Sasi, mendekat. Ayo kita sholat subuh," panggil Adrian seraya memberi isyarat agar Sasi maju merapatkan shafnya.

Sasi menghela nafas panjang dan duduk di samping Fitria dengan enggan, menjaga jarak setipis mungkin agar shaf tetap rapat tanpa harus bersentuhan.

Adrian mulai memimpin sholat subuh. Suara lantang dan merdu bacaannya bergema pelan di dalam ruangan yang hening.

Di belakangnya, Sasi berusaha untuk khusyuk, mencoba mengikis segala sesak dan amarah yang memenuhi dadanya sejak semalam.

Setelah salam, Adrian memutar tubuhnya menghadap kedua wanita di belakangnya, lalu menjulurkan tangannya di atas pangkuan.

"Ayo, cium tangan suamimu," perintah Fitria dengan nada sok mengatur, menatap Sasi penuh tekanan.

"Suamimu, Fit. Bukan suamiku," jawab Sasi datar, mulai berani membantah dan menatap lurus mata Fitria.

"Sasi!" panggil Adrian dengan suara berat yang bernada peringatan.

Sasi mengerucutkan bibirnya, menahan kekesalan yang hampir membuncah.

Dengan enggan, ia mendekat dan mencium punggung tangan suaminya dengan singkat, sekadar menggugurkan kewajiban.

Setelah itu, ia langsung bangkit berdiri hendak melangkah pergi.

"Eh, mau kemana? Sekarang kamu harus buat kopi untuk Mas Adrian," ucap Fitria menghentikan langkahnya, bersedekap dada seolah-olah dirinya adalah nyonya besar di rumah itu.

Sasi menghentikan langkahnya, menoleh perlahan, lalu menjawab dengan tatapan tajam, "Aku bukan babumu."

Tanpa menunggu balasan lagi, Sasi berjalan cepat masuk ke kamarnya, mengunci pintu dari dalam dan meninggalkan Adrian serta Fitria yang terdiam di ruang sholat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!