Bagi Jema (24 tahun), hidup ini hanya tentang bau oli, tagihan listrik, dan obat Ibunya yang mahal. Lulusan S1 Elektro yang terpaksa jadi montir ini punya hati sedingin es dan tidak punya waktu untuk urusan cinta.
Sampai akhirnya, Maikel (18 tahun) datang mengacaukan segalanya.
Ceria, berisik, dan kaya raya. Bocah SMA bad boy itu sengaja merusak mobil sport mewahnya berkali-kali hanya agar punya alasan sah untuk menggoda Jema di bengkel.
Jema mati-matian menjaga jarak. Baginya, Maikel hanyalah gangguan berisik. Namun, saat Maikel pelan-pelan menyusup ke titik paling rapuh di hidup Jema, benteng pertahanan itu mulai goyah.
Sanggupkah Jema mengabaikan perbedaan usia enam tahun dan jurang status sosial di antara mereka? Apalagi ketika dunia remaja Maikel yang liar mulai menyeret hidup Jema ke dalam bahaya.
"Gue punya alasan sah buat ngerusak mobil gue tiap hari, biar bisa dapet servis dari montir pribadi hati gue." — Maikel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LANGKAH PERTAMA DI WORKSHOP UTAMA
Hari Senin yang dinantikan akhirnya tiba. Aku sudah berdiri di depan cermin kamar mandi rumah sakit sejak pukul enam pagi, memastikan blazer hitam dan kemeja putih tulangku terpasang sempurna tanpa cela sedikit pun.
"Anak Ibu cantik sekali hari ini," puji Ibu dari atas ranjang, tersenyum hangat melihat penampilanku yang jauh lebih rapi dari biasanya.
Aku berbalik, mendekati ranjangnya, lalu meraih tangan kurus Ibu untuk kucium takzim.
"Jema berangkat ya, Bu. Doakan hari pertama Jema lancar, tidak bikin malu perusahaan, dan bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan baru."
"Pasti, Nak. Doa Ibu selalu menyertai setiap langkahmu. Ingat, kerjakan semuanya dengan jujur, disiplin, dan hati-hati," pesan Ibu lembut sembari mengusap punggung tanganku.
"Siap, Bos Besar!" sahutku bercanda demi mencairkan ketegangan yang mulai mengumpul di dadaku sendiri.
Setelah mencium kening Ibu yang kondisinya kian membaik dan meminta restunya, aku melangkah mantap keluar dari kamar rawat. Kakiku melangkah lebar meninggalkan rumah sakit, menuju gedung megah PT Purna Jaya Otomotif Bach.
Pukul delapan kurang lima belas menit, aku selesai melapor ke divisi SDM. Seorang staf wanita dengan ramah mengarahkanku menuju workshop utama yang terletak di lantai dasar gedung. Begitu pintu geser otomatis terbuka, mataku langsung membelalak pelan.
Tempatnya sangat luas, bersih, dan dipenuhi oleh deretan unit mobil keluaran terbaru yang mengilat di bawah siraman lampu LED putih.
Berbeda jauh dengan bengkel lamaku yang semi-terbuka dan penuh noda oli hitam di lantainya, workshop ini menerapkan standar teknologi industri yang sangat canggih. Lantainya dilapisi epoksi abu-abu yang begitu bersih tanpa setitik pun noda minyak, seolah-olah lantai itu dibersihkan setiap lima menit sekali.
"Jema Juvita, ya?" sebuah suara bariton yang berat menyapaku dari arah belakang.
Aku tersentak pelan, lalu segera berbalik. Di hadapanku berdiri seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan seragam teknisi berwarna abu-abu gelap yang sangat rapi. Di dada kanannya tertera logo perusahaan, dan di dada kirinya tertulis bordiran nama: Yusuf. Kerutan halus di sekitar matanya menandakan pengalaman yang sudah sangat matang di dunia otomotif, namun sorot matanya tampak ramah dan teduh.
"Iya, benar, Pak. Saya Jema," jawabku sopan sembari membungkuk hormat sekilas.
Pria itu mengulurkan tangannya yang tampak kapalan, tanda bahwa dia adalah seorang praktisi lapangan sejati, bukan sekadar bos yang hanya tahu teori di balik meja kerja.
"Kenalkan, saya Yusuf. Usia saya sudah kepala empat, jadi kamu bisa panggil saya Pak Yusuf saja."
Aku menyambut jabat tangannya dengan erat dan penuh rasa hormat.
"Baik, Pak Yusuf. Mohon bimbingan dan arahannya ya."
"Bsik. Mulai hari ini sampai tiga bulan ke depan, saya yang akan bertanggung jawab membimbing kamu selama masa training," ujarnya sembari melepaskan jabatan tangan kami.
"Di sini kita memegang divisi sistem kelistrikan utama, yang berarti kita adalah otak dan saraf dari setiap kendaraan yang keluar dari gedung ini. Tingkat ketelitian kita harus seratus persen. Salah potong atau salah sambung satu jalur kabel saja, komputer mobil bisa mati total atau bahkan korsleting. Kamu sudah siap dengan tekanan itu?"
"Siap, Pak Yusuf. Saya akan berusaha sebaik dan seteliti mungkin," sahutku penuh keyakinan, meskipun batin kecilku sedikit berdesir ngeri mendengar bobot tanggung jawab sebesar itu.
Pak Yusuf mendadak terkekeh pelan melihat ekspresi wajahku yang mendadak kaku.
"Jangan terlalu tegang begitu, Jema. Santai saja tapi tetap fokus. Ayo, saya ajak keliling dulu untuk mengenal wilayah kekuasaan kita hari ini."
Beliau mengajakku berjalan menyusuri area workshop, mengenalkan beberapa pegawai lain di divisi kelistrikan dan mekanikal. Suasana kerja di sini terasa sangat profesional namun entah mengapa terasa tetap hangat.
Setelah selesai berkeliling, Pak Yusuf membawaku kembali ke salah satu stall kosong di mana sebuah mobil SUV hitam berukuran besar baru saja diparkir.
"Oke, Jema. Tugas pertama kita dalam masa training ini adalah melakukan pemeriksaan menyeluruh pada unit-unit yang baru datang dari pabrik pusat," jelas Pak Yusuf sembari menunjuk mobil gagah tersebut.
"Kami di sini menyebutnya Pre-Delivery Inspection atau PDI. Menurut pengetahuanmu, mengapa proses ini sangat krusial?"
Aku berpikir sejenak, mengorek kembali ingatan materi kuliah sistem mutu otomotif sebelum menjawab,
"Untuk memastikan tidak ada cacat produksi, kesalahan perakitan, atau kerusakan tersembunyi yang terjadi selama proses pengiriman dari pabrik ke diler, Pak."
"Tepat sekali," puji Pak Yusuf dengan anggukan mantap yang membuatku sedikit lega.
"Tugas kamu adalah memastikan seluruh sistem kelistrikan berfungsi sempurna sebelum unit ini diserahkan ke tangan customer. Kita tidak mau pelanggan yang sudah bayar mahal kecewa hanya karena ada lampu panel dasbor yang mati, saat mobil baru sampai di rumah mereka."
Beliau kemudian berjalan ke sebuah meja kerja beroda di sudut stall dan mengambil sebuah perangkat komputer genggam berukuran besar yang tersambung dengan kabel tebal.
"Langkah awal, kita lakukan diagnosis menggunakan scanner OBD (On-Board Diagnostics). Kamu tahu di mana letak soketnya untuk tipe SUV terbaru ini?"
"Di bawah panel kemudi sebelah kanan, dekat dengan tuas pembuka kap mesin, Pak," jawabku cekatan tanpa ragu.
"Bagus. Ambil ini, colokkan ke soketnya, lalu periksa apakah ada kode kerusakan atau DTC (Diagnostic Trouble Code) yang terbaca pada sistem kelistrikan pusat mobil ini."
Aku menerima alat canggih itu dengan tangan yang sedikit gemetar karena saking antusiasnya, dengan gerakan cekatan, aku membuka pintu kemudi, membungkuk ke bawah dasbor yang berbau harum mobil baru, dan menghubungkan soket OBD. Bunyi klik pelan menandakan koneksi berhasil terhubung.
Aku menegakkan tubuh kembali, duduk di kursi kemudi yang masih terbungkus plastik pelindung transparan, lalu mengoperasikan layar scanner setelah memutar kunci kontak ke posisi ON.
Ini adalah hal yang sering kupelajari secara teori di kampus, namun melihat alat pemindai secanggih ini secara langsung membuat adrenalin teknikku bergejolak hebat.
Layar digital di tanganku mulai melakukan pemindaian sistem secara otomatis, memunculkan grafik arus listrik dan baris data yang bergerak cepat.
"Bagaimana hasilnya, Jema? Ada modul yang berwarna merah atau memunculkan peringatan?" tanya Pak Yusuf yang kini bersandar di bingkai jendela mobil, memperhatikanku bekerja dengan saksama.
"Semua modul terbaca normal, Pak. Powertrain, sasis, body control module... semuanya berwarna hijau. Tidak ada fault code yang aktif pada sistem pusat," laporku setelah beberapa menit mengamati pergerakan data di layar dengan teliti.
"Bagus. Berarti sistem perangkat lunak dan komunikasinya aman," kata Pak Yusuf, menepuk pintu mobil sebagai isyarat menyuruhku keluar.
"Sekarang, kita beralih ke bagian fisik luar. Tolong kamu buka kap mesinnya. Kita periksa wiring atau rangkaian kabel di kompartemen mesin. Apa saja yang harus diperhatikan secara visual?"
Aku melangkah keluar dari mobil, lalu menarik tuas kap mesin di bawah dasbor. Setelah menyangga kap baja yang cukup berat itu, aku menatap ruang mesin yang masih sangat bersih tanpa setitik debu pun.
"Kita harus memastikan tidak ada isolasi kabel yang terkelupas, longgar, atau terjepit di antara komponen mesin yang menghasilkan panas tinggi, Pak. Selain itu, sambungan terminal aki juga harus dipastikan kencang dan tidak ada gejala korosi dini," jelasku sambil mulai memeriksa jalur kabel satu per satu.
"Benar sekali. Kerjakan sekarang. Jangan ragu untuk meraba jalur kabelnya secara manual untuk merasakan apakah ada soket yang kurang mengunci," perintah Pak Yusuf.
Selama berjam-jam berikutnya, aku benar-benar tenggelam dalam dunia baruku yang menyenangkan ini.
Di bawah arahan teliti Pak Yusuf, aku diajarkan banyak hal baru: cara mendiagnosis jalur kabel yang rumit, memeriksa fungsionalitas ECU (Electronic Control Unit) sebagai otak kendaraan, hingga memeriksa sensor-sensor sensitif yang mengatur sistem pengereman otomatis dan traksi roda mobil. Kami melewatkan waktu dengan diskusi teknis yang padat, diselingi tanya jawab interaktif yang membuat otakku terus berputar aktif sepanjang hari