Lahir di tengah gemerlap keluarga bangsawan bisnis tak lantas membuat Exel Dirgantara bahagia. Masa lalu kelam menempanya menjadi pria berdarah dingin, berjarak, dan berpandangan tajam seolah mampu membunuh lawan bicaranya dalam hitungan detik. Di balik dinding tebal yang ia bangun, hanya Achmad—sahabat sekaligus asisten pribadinya yang serba bisa dan humoris—yang sanggup memahami luka serta menghadapi kerumitan sikap sang CEO.
Dunia Exel yang tenang dan penuh kontrol mendadak runtuh saat sebuah rencana perjodohan lama mengikatnya dengan Alexa Pramudya. Alexa adalah perwujudan dari segala hal yang dibenci sekaligus dibutuhkan Exel: seorang gadis SMA mungil berparas bak bidadari, namun memiliki suara cempreng, super cerewet, dan energi yang seolah tak pernah habis.
Bersama ketiga sahabatnya yang tak kalah ramai—Rin Mashita si blasteran Jepang-Indo yang cerdas, Safi murid pindahan Malaysia dengan logat Melayu khasnya, serta Melati si cantik berdarah Arab-Indo—Alexa membawa warna baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Si Botol Yakult dan Derita Sebelum Cincin
Matahari pagi menyengat lapangan SMA Garuda. Bunyi bel istirahat pertama baru saja berbunyi melengking, memicu gelombang siswa yang berhamburan keluar dari kelas bagaikan kawanan lebah yang kehilangan sarang. Namun, di koridor lantai dua menuju kantin, suasana terasa jauh lebih heboh dari biasanya.
"Biarin! Biarin aja! Awas ya kamu, Rin!"
Suara cempreng Alexa membelah keramaian. Gadis mungil itu sedang berlari-lari kecil berusaha menggapai kotak susu stroberi yang diangkat tinggi-tinggi oleh Rin Mashita. Namun, perbedaan tinggi badan mereka membuat usaha Alexa terlihat sangat menggemaskan—dan menyedihkan di saat yang bersamaan.
"Makanya, tumbuh itu ke atas, Ca, bukan ke samping!" gelak Rin sambil dengan santai memindahkan kotak susu itu ke tangan satunya. Paras cantiknya yang oriental makin bersinar saat tertawa. "Kamu kalau berdiri di samping tiang bendera gini makin kelihatan kaya botol Yakult tahu gak?"
"RIN MASHITA! TEGA BANGET!" jerit Alexa sambil menghentakkan kakinya kaku ke lantai. Wajahnya yang kemerahan dan pipinya yang mengembung membuat julukan itu makin makin menjadi-jadi.
Safi, yang berjalan di samping Melati sambil membawa mangkuk bakso panas, menggeleng-gelengkan kepala. Logat Melayu khasnya yang kental langsung meluncur santai. "Aiyo, Rin... tak baik kau panggil Alexa macam tu. Kasihan dia, dah lah kontet, suara macam toa masjid pula tu."
"SAFI! KAMU BUKANNYA BELA KAN MALA TAMBAH NGEJEK!" seru Alexa makin histeris, beralih menatap Safi dengan tatapan ingin memakan orang.
Melati, gadis berdarah Arab-Indo dengan mata indahnya yang lebar, hanya bisa tertawa halus seraya merangkul bahu mungil Alexa. "Sudah, sudah... Alexa jangan cemberut terus. Nanti makin imut, lho. Nih, aku beliin cireng bumbu rujak kesukaan kamu."
Begitu melihat cireng panas bernoda bumbu merah melimpah di tangan Melati, amarah Alexa seketika menguap bagaikan embun pagi. Matanya yang bulat berbinar-binar seketika. "Aaaa, Melati memang sahabat terbaik aku se-dunia! Gak kaya Rin sama Safi yang hobinya menindai anak mungil seperti aku!"
"Bukan menindas, Ca," ralat Rin seraya menyerahkan kotak susu stroberi yang tadi ia sembunyikan. "Kami cuma gemas. Lagian julukan 'Si Botol Yakult' itu cocok banget buat kamu. Mungil, manis, tapi kalau diminum bikin mules gara-gara suaranya kek kaset rusak."
"Rinnn!" Alexa kembali cemberut, namun tangannya tetap sigap menyambar susu dan cireng tersebut, lalu duduk di kursi kayu favorit mereka di pojok kantin.
Saat mereka berempat mulai sibuk mengunyah, Rin memperhatikan Alexa yang mendadak diam seraya melamun menatap cireng di genggamannya. Ibu jari Alexa menari-nari cemas di pinggiran piring plastik.
"Ca," panggil Rin pelan. "Kamu dari kemarin lusa kaya ada yang disembunyiin deh. Biasanya kalau ada cowok ganteng lewati depan kelas kamu paling heboh. Ini kok malah banyak melamun? Kenapa?"
Alexa tersentak kecil, hampir saja tersedak bumbu cireng. "E-eh? Gak ada apa-apa kok! Melamun apaan? Orang aku lagi mikirin nanti sore mau beli boba rasa apa!"
"Betul ni tak ada ape-ape?" selidik Safi, memajukan wajahnya dengan mata menyipit. "Muka kau tu tak pandai menipu, Ca. Macam orang kena rundung masalah berat je."
"Gak ada, Safi-ku yang cantik!" elak Alexa cepat, berkeringat dingin di balik seragam SMA-nya.
Bukan tanpa alasan Alexa berbohong. Pikiran anak sekolahnya runtuh jika harus membayangkan reaksi ketiga sahabatnya ini kalau tahu bahwa tiga hari lagi ia—Alexa Pramudya, si murid SMA kelas tiga yang mendapat julukan 'Si Botol Yakult'—akan melangsungkan pertunangan privat dengan seorang CEO berusia dua puluh delapan tahun!
Bisa-bisa aku diketawain sampai lulus sekolah! Belum lagi Rin pasti bakal ngejek aku menikah sama paman-paman! batin Alexa menjerit panik.
"Pokoknya gak ada apa-apa!" ulang Alexa cepat, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Oiya, kalian tahu gak? Kemarin lusa aku ketemu lagi sama Si Pria Beruang Es itu!"
Safi dan Rin langsung meletakkan sendok mereka, sementara Melati menopang dagu dengan tertarik.
"Si Pria Es Batu yang hampir nabrak kamu di jalan itu?" tanya Melati penasaran.
"Iya! Si Kanebo Kering itu!" cerocos Alexa dengan gaya heboh khasnya. "Masa ya, dia itu sombongnya setengah mati! Mukanya itu lho, datar banget kek papan tulis kelas kita! Ngeselin banget, pengen aku kempesin ban mobil mewahnya itu!"
"Tapi ganteng gak, Ca?" goda Rin sambil menaik-turunkan alisnya. "Tinggi, naik mobil mewah, muka dingin... itu kan tipe cowok di novel-novel romantis yang suka kamu baca."
"Ganteng dari mananya?!" jerit Alexa reflek, walau terbayang kembali garis rahang kencang dan wangi parfum mahal milik Exel saat jarak mereka sangat dekat malam itu. Wajah Alexa mendadak hangat, memicu warna merah samar di pipinya. "Hih, amit-amit! Gantengan juga idol Korea aku! Pokoknya dia itu manusia paling tidak menyenangkan se-dunia!"
Safi tertawa terkekeh. "Hati-hati, Ca... benci sangat nanti jadi cinta. Orang tua-tua selalu cakap macam tu."
"Gak akan! Sampai gajah bisa terbang juga gak bakal!" balas Alexa bersumpah serapah, menyerap susu stroberinya dengan sedotan hingga berbunyi nyaring, berusaha mengusir bayangan Exel dari otaknya.
Sementara itu, di lantai teratas gedung Dirgantara Group, atmosfer kerja terasa sangat kontras. Jika di kantin sekolah Alexa dipenuhi tawa dan teriakan, maka di ruang kerja berdesain minimalis-mewah ini, yang terdengar hanyalah gesekan pena dan ketikan kibor yang ritmis.
Exel Dirgantara duduk tegap di belakang meja kerjanya yang terbuat dari kayu mahoni mahal. Kemeja mewahnya tergulung rapi hingga siku, menyingkap jam tangan bernilai ratusan juta. Pandangannya fokus menatap lembaran dokumen akuisisi, namun jika diperhatikan lebih dekat, alis tebalnya berkerut lebih dalam dari biasanya.
Tok, tok, tok.
Tanpa menunggu izin masuk—karena hanya ada satu orang di kantor ini yang berani melakukannya—pintu ruangan terbuka. Achmad melangkah masuk dengan santai sambil membawa seberkas dokumen di tangan kiri dan dua cangkir kopi di tangan kanan.
"Permisi, Bapak CEO yang terhormat," sapa Achmad dengan nada jenaka yang langsung membuat bahu kaku Exel makin tegang.
Achmad meletakkan cangkir kopi di meja Exel, lalu duduk di kursi seberang tanpa diundang. Wajahnya dihiasi cengiran lebar yang sangat menyebalkan bagi Exel.
"Tanda tangan dulu ini, Bos," kata Achmad menyodorkan berkas. "Laporan keuangan anak perusahaan di Bali."
Exel meraih pena fountain-nya, menandatangani dokumen tersebut dengan gerakan cepat dan tegas tanpa mengalihkan pandangan. "Ada lagi?"
Achmad menyandarkan punggungnya, menopang dagu dengan kedua tangan sambil menatap Exel penuh godaan. "Gak ada sih soal kerjaan. Cuma mau nanya... gimana persiapan menuju 'Hari H' tiga hari lagi? Jas buatan penjahit Italia-mu sudah sampai tadi pagi, lho."
Gerakan tangan Exel berhenti seketika. Pria itu perlahan meletakkan penanya ke atas meja, lalu mengangkat pandangannya. Tatapan matanya yang cokelat gelap memancarkan aura membunuh yang dingin.
"Lu mau gua pecat hari ini juga, Mad?" ancam Exel dengan suara rendah yang berbahaya.
Bukannya takut, Achmad justru tertawa lepas hingga bahunya terguncang. "Elah, Cel! Galak amat! Gua kan cuma nanya sebagai sahabat yang peduli sama masa depan lu. Lagian, kenapa sih mukanya ditekuk terus dari kemarin lusa? Padahal mau tunangan sama gadis mungil yang cantik gitu."
"Dia bukan gadis mungil yang cantik," desis Exel kaku. "Dia itu sumber sakit kepala."
"Tapi imut kan?" celekuk Achmad jahat. "Sumpah ya, Cel, kemarin pas di restoran gua hampir meledak nahan tawa pas dia nyebut lu 'Kanebo Kering'. Lu tahu gak, seumur-umur gua kenal lu dari zaman kuliah, gak ada satu orang pun yang berani ngatain lu begitu di depan muka lu langsung! Dia hebat banget, sumpah!"
"Achmad," tegur Exel dengan nada penuh penekanan, urat di lehernya mulai bertambah tegang.
"Oke, oke, bercanda!" Achmad mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, walau tawa di matanya belum surut. "Tapi jujur ya, Cel... gua perhatiin dari kemarin lu agak aneh. Lu yang biasanya selalu menolak mentah-mentah urusan cewek, kok kali ini pasrah banget ditunangkan sama dia? Apa jangan-jangan... ada yang bikin lu tertarik sama si Botol Yakult itu?"
Exel menyipitkan matanya. "Botol Yakult?"
Achmad menepuk jidatnya sendiri sambil tertawa. "Oh iya, lu kan belum tahu! Kemarin pas gua riset profil keluarga Pramudya buat keperluan dokumen pertunangan, gua sempat lihat catatan dari orang suruhan kita. Katanya di sekolah, si Alexa itu sering diejek temannya 'Si Botol Yakult' gara-gara badannya mungil banget tapi suaranya ramai."
Exel terdiam sejenak. Pikiran rasionalnya mendadak membayangkan postur tubuh Alexa yang hanya sebatas dadanya, lengkap dengan gaun pink pastel dan raut wajah hebohnya lusa lalu. Sebuah kedutan tipis—hampir tak terlihat—terjadi di sudut bibir Exel. Namun dengan cepat, ia menetralkan kembali ekspresinya menjadi dingin bagaikan batu es.
"Nama panggilan yang konyol," komentar Exel datar seraya meraih cangkir kopinya. "Dan gua tidak tertarik sama sekali padanya. Perjodohan ini cuma kompromi enam bulan demi Mama. Setelah enam bulan, gua bakal lepas dari budak SMA itu."
Achmad tersenyum misterius, mengangguk-angguk kecil seraya meneguk kopinya sendiri. "Ya, ya, terserah lu deh, Bapak CEO. Tapi ingat kata-kata gua... makin keras lu menolak, makin susah lu lepas nantinya. Orang dingin kaya lu itu biasanya kalau sekali kena sentuh cewek yang tepat, bucinnya bisa bikin se-Jakarta gempa."
"Keluar dari ruangan gua sekarang, Achmad," potong Exel dingin, menunjuk pintu keluar dengan pena mahal di tangannya.
"Siap, Bos! Selamat membayangkan acara pertunangan tiga hari lagi!" seru Achmad riang sambil melompat berdiri dan berjalan cepat keluar sebelum Exel benar-benar melempar dokumen di mejanya.
Setelah pintu ruangan tertutup rapat dan keheningan kembali menguasai ruang kerja megah itu, Exel menghela napas panjang. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi eksekutifnya, memandangi pemandangan gedung-gedung tinggi Jakarta dari balik jendela kaca.
Jemarinya mengetuk-ngetuk meja secara teratur. Bayangan wajah Alexa yang menjulurkan lidahnya di restoran malam itu kembali terlintas tanpa diundang. Exel menggeram pelan, memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut.
Tiga hari lagi. Hanya sebuah acara pertunangan privat yang sederhana. Hanya memasangkan cincin di hadapan keluarga dekat, lalu berpura-pura menjadi pasangan tunangan yang baik selama enam bulan.
Gampang, batin Exel mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Dia cuma anak SMA yang cerewet. Gua cuma perlu mengabaikannya.
Namun di sudut hatinya yang terujung, sang CEO berdarah dingin itu belum menyadari bahwa badai terkecil sekalipun sanggup meruntuhkan dinding es yang telah ia bangun bertahun-tahun. Dan badai itu bernama Alexa Pramudya.