Indonesia
NovelToon NovelToon
Takdir Sang Ophelia

Takdir Sang Ophelia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:500
Nilai: 5
Nama Author: Ashe Lepidoptera

Demi meningkatkan reputasi, Ophelia—seorang anak yatim piatu—tiba-tiba diadopsi oleh keluarga Pratama, konglomerat yang baru naik kasta. Namun bukannya kasih sayang, ia justru mendapatkan penyiksaan di rumah dan bullying di sekolah elit yang dimasukinya.

Puncaknya, Ophelia tewas secara tragis di tangan mereka.

Tetapi alam semesta memberinya kesempatan kedua. Terbangun satu tahun sebelum kematiannya, Ophelia bertekad merobohkan keluarga Pratama menggunakan senjata mematikan: rahasia-rahasia busuk yang ia ketahui dari masa depan.

Dibantu oleh seorang pewaris misterius dari keluarga ternama, kali ini Ophelia tidak akan lagi menjadi korban. Dia yang akan memegang kendali atas panggung permainan hidupnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashe Lepidoptera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Gaun merah muda itu menjuntai panjang hingga hampir menyentuh mata kaki. Modelnya tanpa lengan, dengan hiasan yang terlihat simpel di bagian dada. 

Hm, dulu gaun ini terlihat kepanjangan di badan Ophelia. Sekarang benar-benar pas. 

Rambutnya mesti diapakan? Diikat satu seperti biasa atau digerai saja? 

Ia juga mesti menggunakan make up. 

Berbeda dengan Chelsea yang punya paras sempurna, Ophelia sadar kalau dia tidak cantik. Wajahnya rata-rata, tipe yang mungkin akan orang lupakan ketika berpapasan karena saking biasanya. 

“Oh, bagus kamu belum pakai apa-apa.”

Chelsea masuk ke kamarnya membawa sebuah tas yang berisi banyak produk. Gaun merahnya memiliki potongan di bagian paha, dengan rambut yang sengaja dibuat ikal di bagian bawah. 

Bahkan dia memakai bunga mawar sebagai hiasan. 

Cantiknya. Warna merah itu seakan mempertajam rambut pirang yang dimiliki Chelsea.

“Pakai ini dulu.” ia memberinya sebuah botol kaca. “Udah itu kering pakai yang ini, terus langsung pakai yang ini. Kamu udah cuci muka ‘kan ya?” 

“Aku mandi tadi.” 

“Cuci muka pakai pencuci muka maksudnya.” 

Ophelia mengangguk. 

Chelsea terlihat mengeluarkan produk lain dan mulai mengusap wajahnya menggunakan kapas. 

Ophelia yakin ia duduk diam di depan cermin selama lebih dari setengah jam sebelum Chelsea akhirnya bilang, “Selesai.” 

Gadis itu membuka mata, melihat rambutnya yang kini disanggul sedemikian rupa dengan... darimana datangnya hiasan itu? 

Make up yang dipakainya juga terlihat sempurna, seakan orang di cermin sana bukan Ophelia. Dia tidak tahu kalau ia juga bisa menjadi—

“...cantik.” 

“Tentu saja, aku yang buat begitu.” Chelsea mengusapkan sesuatu di bibir Ophelia. “Lipstikmu itu glossy, bakalan cepet ilang kalau kena gelas atau makanan, jadi harus sering touch up.” 

Ophelia mengangguk. “Terima kasih.” 

Chelsea terlihat bangga mendengar itu. Ia beralih ke belakang Ophelia, merapikan rambutnya sekali lagi sebelum berkata, “Kamu punya tanda lahir ternyata.” 

“Di belakang leher ya?” ujarnya. “Jelas banget kah?” 

“Bentuknya unik sih, agak transparan juga.” 

Selama tidak terlalu kelihatan sepertinya tidak apa-apa.

Ketika mereka turun dari tangga, Randi dan Yelena terlihat berdiri menunggu di depan pintu. Ayah angkatnya memakai setelah jas berwarna hitam sedangkan Yelena menggunakan gaun dengan potongan dada rendah berwarna coklat. Sama seperti yang dipakainya di masa lalu. 

Kalau asetnya sebesar itu dipamerin juga bagus ya?

“Kalian terlalu lama, kita bisa-bisa terlambat,” tegur Randi.

“Maaf.”

Perjalanan ke mansion Mahawirya membutuhkan waktu lebih dari setengah jam. Kediaman itu agak jauh dari jalan raya, dengan pohon-pohon juga taman raksasa yang mengelilinginya. 

Ophelia yakin kalau di belakang mansion masih ada lapangan khusus untuk berkuda juga danau buatan. Belum lagi kediaman yang besarnya mirip istana—mereka benar-benar berbeda kelas dengan keluarga Pratama.

“Acara puncaknya dimulai tengah malam nanti,” ucap Randi. “Sebelum itu akan ada makan malam. Ingat table manners kalian, jangan sampai membuat keluarga kita malu.”  

“Baik, Ayah.” 

“Dimengerti.”

Tamunya lebih banyak dari yang Ophelia ingat, mereka juga terlihat saling kenal satu sama lain. Tapi Randi dan Yelena, entah kenapa bisa langsung menyesuaikan diri. 

Mereka juga langsung terlihat dekat, seakan ingin menunjukkan kalau mereka adalah pasutri sempurna.

“Kemampuan sosialisasi yang mengerikan,” gumam Ophelia. 

“Ini pertama kalinya aku melihat ayahmu, dia agak sesuatu ya?” 

Ophelia yang mendengar suara itu langsung menunduk ke bawah, melihat Airin dengan gaun biru tua yang sudah ada di sebelahnya. Darimana dia belajar tiba-tiba muncul begitu?

Gadis itu tersenyum. “Kamu cantik banget hari ini.” 

“Iya kan?” Ophelia menyentuh rambutnya. “Aku aja hampir nggak percaya ini aku.” 

“Dia kalau nggak didandani mungkin cuma bakal bareface ke pesta begini,” ujar Chelsea yang ada di sebelahnya. “Gaun itu cocok padamu, keliatan imut.”

“Makasih. Kemarin ‘kan, kak Chelsea juga yang bantu pilih.” 

Ophelia melihat ke arah aula pesta sekali lagi. Di antara meja-meja itu, ada beberapa orang lain yang ia kenal. 

Reine.

“Keluarga Maharaja ada di sini juga ternyata.” 

Chelsea langsung berbicara. “Justru aneh kalau mereka tidak diundang.” 

Di masa lalu dia tidak bisa menemukan Reine maupun keluarganya, kenapa sekarang mereka datang? Apa karena kali ini, Airin ikut hadir?

Ini juga kali pertama Ophelia melihat Ayahnya Reine. Dia lebih tua dari ayah angkatnya, tapi memiliki tatapan tajam yang sama. 

Benar-benar ambisius.

“Dia—”

“Nyonya Maharaja meninggal satu tahun setelah Reine lahir. Bunuh diri. Suaminya tidak pernah menikah lagi setelah itu.”

Itu bukan informasi yang Ophelia cari sih tapi lumayan juga. 

Mereka duduk di meja yang sudah dipersiapkan, menunggu sesuatu. Kalau tidak salah disaat ini baru keluarga Kaiser akan—

Oh. 

Pintu besar di aula itu terbuka. Mereka datang. 

Orangtua Kaiser berjalan lebih dulu, dengan rangkulan tangan yang terlihat anggun. Ayahnya Kaiser terlihat agak lebih tua dari ibunya, mungkin selisih usia mereka agak jauh? 

Sedangkan Kaiser berjalan bersama dengan kakaknya, Aidoneus yang memakai setelan berwarna abu-abu.

Dia tidak memakai jas coklat seperti di masa lalu. Menghindari terlalu banyak kesamaan dengan Yelena ‘kah? 

Mereka mengucapkan beberapa kalimat singkat, kemudian 4-course dinner mulai dihidangkan diiringi dengan musik harpa dari musisi di depan sana. 

Ophelia makan sedikit demi sedikit, berusaha menghindari lipstiknya agar tidak cepat hilang—seperti yang dikatakan Chelsea. 

Selepas makan malam ada sambutan yang disampaikan oleh kepala keluarga Mahawirya dan video masa kecil Kaiser yang disusun sedemikian rupa hingga sekarang. 

Ophelia menahan tawa. Airin terlihat muncul berulang kali di sana.  

Setelah beberapa acara lain, satu jam sebelum tengah malam para tamu diberi waktu bebas untuk bersosialisasi. 

Akhirnya.

Para wartawan juga mulai dibiarkan masuk. 

“Mengadopsi seorang yatim piatu, sungguh mulia sekali hati Anda!”

Ophelia tersenyum sinis mendengar kalimat itu lagi. Ia dan Chelsea ada di tempat yang sama, tempat dimana para wartawan bisa melihat mereka. 

Hm?

Ophelia mengingat sesuatu dan menginjak kaki kakaknya perlahan.

“Kamu ngapain?” 

Ophelia menginjaknya lagi. 

“Serius kamu ngapain sih?” 

“Mau aja,” senyum Ophelia. Ia melihat ke tengah pesta, Kaiser dan Airin terlihat bicara dengan para tamu lain. 

Kali ini, dia yang menggandeng Chelsea ke tempat mereka. “Selamat ulang tahun,” ucapnya datar. “Semoga panjang umur.” 

“Kenapa ucapanmu seperti tidak tulus begitu?” 

Tatapan matanya berbeda. Sekarang kehampaan itu tidak ada di sana. 

Kaiser menatap Airin yang ada di sampingnya. “Kalau bukan karena kamu aku tidak mau mengundang dia.” 

“Kalau lemon tart di sini bukan yang paling enak yang pernah kumakan aku juga tidak mau datang.” 

“Jadi yang kamu incar itu cuma makanan?” Chelsea memandangnya sebelah mata. “Kaiser, selamat ulang tahun yang ke-18.”

“Terima kasih,” senyumnya. 

“Nanti bakalan ada pesta dansa,” ucap Airin riang. “Aku pengen banget liat kamu dansa.” 

Yah, dia diajari menari sih tapi bukannya dansa dilakukan oleh dua orang?

“Aku nggak terlalu yakin soal itu.” 

Lagipula, fokusnya ada di hal lain. 

Ophelia melihat jam di sana. 

Setengah jam lagi, tengah malam.

1
aku
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!