Alexa Lily, gadis yang di Adopsi oleh salah satu ketua klan mafia sejak usia enam bulan. Alexa hidup di dalam kemewahan dan di kelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.
Tapi dibalik itu, Alexa tidak pernah tahu siapa orang tua kandungnya. Hingga suatu hari Alexa mendapatkan misi dari ayah angkatnya, dan misi itu berhasil ia selesaikan dengan mulus. Terlepas dari itu, Alexa mendapatkan sebuah informasi tentang siapa ayah kandungnya.
Berawal dari Informasi yang ia dapatkan, Alexa mendatangi kediaman ayah kandungnya itu.
Apakah ayah kandungnya itu akan menerima dan mengakui Alexa sebagai anak kandungnya? Atau justru ayahnya hanya menjadikannya sebagai pion untuk keuntungan pribadinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmawati18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 : Ingin Membawa Alexa Pulang
"Kamu yang akan tamat!" Anya kembali menampar pipinya sendiri.
Plakk plakk plakk.
BRUUKK.
Anya sengaja menjatuhkan dirinya. Tubuhnya ambruk ke lantai marmer. Lututnya terbentur. Ia berteriak kesakitan sambil memegangi wajahnya yang sudah lebam.
Zionathan dan ayahnya yang berlari dari tangga pun langsung khawatir. Wajahnya cemas. Mereka segera berlari untuk membantu Anya berdiri.
"Loh Anya!" teriak Zionathan dengan wajah cemas.
"Apa yang terjadi?" tanya Harry Zayn, tatapannya tertuju kepada Alexa. Napasnya masih ngos-ngosan karena berlari menaiki satu persatu anak tangga.
"Kak, ini salahku. Aku mohon jangan pukul aku." Anya berlutut di depan Alexa dengan wajah sedih. Air matanya deras. Aktingnya benar-benar keren. Pipinya sudah merah semua.
"Apa-apaan ini? Sebenarnya apa yang terjadi?" bentak Harry Zayn, ia menatap tajam ke arah Alexa. Wajahnya penuh amarah melihat Anya seperti itu.
"Kenapa kamu sampai memukul Anya?" tanya Harry Zayn lagi. Suaranya naik satu oktaf.
Alexa masih berdiri. Tangan ia masukkan ke dalam saku. Wajahnya datar. Dingin. Seolah semua ini cuma sandiwara murahan. Alexa ketawa. Sekali. Pendek.
Anya memegang wajahnya yang memerah. "Ayah... Aku baik hati ngajak kakak untuk berkunjung ke villa ku. Aku bahkan mau kasih dia ulang 20 juta buat uang jajan. Hanya saja aku nggak nyangka, kakak tiba-tiba ngamuk dan mukul aku. Mukaku sampai bengkak, sakit banget." Jelas Anya meringis kesakitan. ia memegang pipinya.
"Anya nggak apa-apa. Sini kakak obatin." ucap Zionathan hendak membantu adik angkatnya itu berdiri.
Alexa mengangkat pandangannya. Ia memiringkan kepalanya. "Dasar wanita munafik! Kalau aku nggak beneran mukul kamu. Kalau begini, aktingmu ini benar-benar terlalu palsu. Dasar wanita ular."
Alexa memegang leher Anya dan memaksanya berdiri. Alexa langsung menampar wanita itu berkali-kali.
Plakk plakk plakk.
"Katanya aku pukul dia? ya sudah aku penuhi!" Alexa mendorong kasar tubuh Anya.
BRUUKK.
Zionathan langsung menahan tubuh adik angkatnya itu. Sudut bibir gadis itu berdarah.
Zionathan semakin geram. "Alexa Zayn, kamu jahat banget! Dasar wanita nggak punya hati kamu, ya!"
Harry Zayn melotot kepada Alexa. Matanya merah, ia berusaha menahan amarahnya. "Alexa, Nak,,, kita ini kan satu keluarga. Bagaimana bisa kamu seperti ini? Kamu menindas Anya. Sifat liarmu sungguh tak berubah." pria itu menggelengkan kepalanya.
Wajah Alexa datar, tatapannya tajam dan menusuk. "Beberapa tamparan ini, agar kamu ingat baik-baik. Lain kali, jangan cari gara-gara sama aku. Ini baru awalnya saja. Jika kamu mengulang hal yang sama lagi, aku akan hancurin wajah licikmu itu!" Alexa menunjuk gadis yang sedang berdiri di depannya dengan nada memperingatkan.
Anya berdiri diam mematung, wajahnya pucat ketakutan.
"Anya sudah, tidak apa-apa. Ayo kita pergi." Zionathan memapah tubuh adik angkatnya itu pergi dari kamar Alexa. Namun, mereka di hentikan oleh Alexa.
"Tunggu dulu." ucap Alexa. Suaranya dingin.
Zionathan berhenti. "Mau apa lagi?"
Alexa berjalan pelan ke arah Anya. Sepatunya bunyi di lantai marmer.
Tek tek.
Ia berhenti tepat di depan Anya.
"Katanya mau kasih aku 20 juta. Uang ini, sayang nggak kalau di ambil." Alexa mengambil paksa kartu ATM yang dipegang Anya.
Anya berdiri dengan wajah yang memerah akibat bekas tamparan. Sudut bibirnya masih berdarah. Ia meringis kesakitan. Gadis itu menoleh kepada Zionathan dengan wajah sedih. "Kakak, tolonglah,,,"
Zionathan langsung pasang badan. Ia menenangkan adik angkatnya. "Sudahlah, kita nggak usah ladenin wanita gila ini. Ayo kita pergi." Zionathan membawa Anya pergi.
Harry Zayn kembali menatap putri kandungnya itu. "Oh, Alexa,,,,," Harry Zayn menghela nafas dan melangkah pergi meninggalkan Alexa yang masih berdiri dengan wajah puas.
***
Dilain tempat, disebuah ruangan bawah tanah yang hanya di hiasi pantulan cahaya lampu sorot yang tidak terlalu terang. Di dalam Markas Black Bleiz.
Udaranya dingin. Aroma besi sangat kuat. Dinding betonnya basah. Di tengah ruangan ada meja panjang dari baja.
Tiga orang pria sedang bersujud di depan pria berpakaian rapih dengan menggunakan setelan jas berwarna hitam. Di sampingnya berdiri seorang pria berpakaian baju kaos putih memegang sebuah cambuk.
Para pengawal berbaris rapih di depan mereka.
Damian memainkan pisau di tangannya.
Sring... sring...
Suara bilahnya mantulin cahaya lampu. "Kalian bertiga memang manis. Berani ngintip aku ya?"
Suasana hening. Hanya ada suara dentuman jarum jam yang terpampang di dinding ruangan bawah tanah itu.
Damian mengangkat pandangannya, ia masih memutar-mutar pisau di tangannya. Tatapannya tajam. "Adikku, akan ku cungkil mata kalian bertiga. Ku cungkil lalu kuberikan kepada anjing." Damian berdiri hendak melangkah ke arah ketiga pria itu dengan pisau di tangannya.
Jas hitamnya nggak ada satu kerutan pun. Ia berjalan mendekati ketiga pria itu.
"Black Bleiz punya 1 aturan." Damian berhenti di belakang mereka. "Yang ngintip... matanya diambil. Yang ngelapor... lidahnya dipotong. Yang ngadu... tulangnya dihancurin."
Ketiga pria yang tadinya bersujud pun bangun dari sujudnya. Ia memohon kepada Damian.
"Jangan tuan muda pertama! kami mohon! Tuan muda pertama, kami sungguh tidak berani!"
"Kami tidak berani lagi!"
"Jangan."
"Jangan."
Ketiga pria itu semakin memohon. Damian semakin mendekat. Langkahnya tak terhenti.
"Tuan Muda Bleiz Pertama! Jangan Tuan Muda! Kami mohon." Pria itu terus-menerus memohon.
Damian membungkuk. Ia mengangkat kerah baju pria yang bersujud di depannya itu.
Srettt srettt srettt.
Damian tiba-tiba saja mencolok mata ketiga pria itu. Ketiga pria itu berteriak kesakitan. Wajah mereka penuh darah. Damian berbalik dan mengambil lap. Ia membersihkan darah yang melekat di ujung pisaunya menggunakan lap itu.
Dari belakang, Leonard berjalan dengan cambuk di tangannya. tanpa berpikir panjang, ia langsung mencambuk ketiga pria itu tanpa ampun. Ruangan, dengan cahaya redup itu hanya dipenuhi suara cambukan dan jeritan ketiga pria itu.
Sementara itu, di dalam kamar, Gideon sedang duduk di tepi ranjang. Lampu kamar temaram. Ia menatap sebuah foto di tangannya. Foto itu sudah agak kusam di pinggirnya. Seorang gadis, umur 19 tahun. Senyumnya lebar, menggunakan setelan hitam dengan rambut di gerai. Foto itu ia lap dengan ujung kemeja putih yang di pakainya.
"Adikku,,, kakak benar-benar kangen sama kamu." Suaranya serak. Gideon melihat sekelilingnya dan memastikan tidak ada orang yang melihatnya. lalu mencium foto adik angkatnya itu.
Tidak sengaja, Theodore berjalan melewati kamar Gideon. Langkahnya terhenti. Ia melihat putra keduanya sedang mencium sebuah foto. Punggung Gideon sedikit membungkuk. Bahunya naik turun.
"Yang dua itu sedang menyiksa orang lain. Sementara yang satu ini, menyiksa dirinya sendiri." wajah Theodore datar dan menunjukkan kekhawatiran melihat ketiga putranya itu.
Ia menarik ujung jasnya. "Nggak bisa! Aku harus segera membawa Alexa pulang. Kalau tidak begitu,,, ketiga anak laki-lakiku ini, cepat atau lambat, mereka bisa gila.
***
anak angkat di sayang anak kandung dibenci alur cerita begini udah basi..... aku kira menarik cih...