Indonesia
NovelToon NovelToon
Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama
Popularitas:120
Nilai: 5
Nama Author: Nayara Putri

Umur lima belas, **Laras** cuma cewek tomboy anak bengkel di gang sempit Bekasi—rambut cepak, kunci inggris selalu di tangan, ditakuti satu sekolah. Sampai suatu sore, sebuah Mercedes berhenti di depan warung, menurunkan bocah laki-laki sepuluh tahun yang menangis tanpa berani mengetuk pintu. Ibunya pergi begitu saja. Namanya **Rayhan**.

"Mbak… kamu mirip kakak laki-lakiku," kata bocah itu sambil menyeka air mata.

Laras kira dia cuma adik kecil cengeng dan manja, yang tiap hari nempel memanggilnya "**Bang Laras**". Dia tidak pernah sadar—di balik wajah manis si juara kelas, diam-diam tumbuh seekor "serigala" yang seumur hidup hanya mengincar satu orang: dirinya.

Bertahun-tahun kemudian, bocah cengeng itu sudah menjadi pemuda jangkung yang lolos ke ITB—dan ternyata **anak di luar nikah seorang konglomerat properti**. Dari anak buangan yang dulu dihina, ia bangkit menjadi **pewaris tunggal kerajaan bisnis triliunan**. Tapi satu hal tak pernah berubah: obsesinya pada Laras.

"Aku bukan adikmu lagi," bisiknya, mengurung Laras di antara lengannya. "Sekarang, giliran kamu yang memanggilku… **abang**."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15

Foto di Dompet

Setelah pertandingan, rombongan belum langsung pulang. Mereka berhenti di warung mi ayam karena Mbah Surti menelepon tiga kali untuk memastikan Rayhan makan.

Koh Kelvin duduk di sebelahnya. "Dompet lo mana? Gue pinjam uang kecil buat parkir."

"Di tas. Ambil sendiri."

Rayhan sedang mencuci tangan ketika Kelvin membuka dompet hitam itu. Sebuah foto terselip di belakang kartu pelajar, terlipat pada sudut karena terlalu sering dipindahkan.

Kelvin menariknya.

"Lah, ini Mbak Laras, kan?"

Suara warung mendadak terasa lebih keras. Laras yang sedang menuang sambal menoleh.

Di tangan Kelvin ada foto dirinya berambut panjang, tertawa di pesta ulang tahun Bima bertahun-tahun lalu.

Rayhan kembali tepat saat itu. Wajahnya berubah.

"Balikin."

Ia merebut foto sebelum Kelvin sempat mengangkat lebih tinggi.

"Santai. Gue cuma heran. Kenapa foto Mbak Laras disimpan di dompet?"

Bima batuk untuk menyembunyikan tawa. Nadia menatap Laras. Galih berhenti mengaduk minuman.

"Foto lama," jawab Rayhan.

Galih mengulurkan tangan. "Boleh lihat?"

Rayhan menutup dompet. "Nggak."

"Itu foto Laras. Harusnya dia yang memutuskan."

"Foto itu diambil di acara umum. Aku nggak menyebarkan."

"Tapi dia tahu lo ambil?"

Rayhan menoleh kepada Laras. "Sekarang tahu. Kalau Laras minta aku hapus, file-nya aku hapus. Foto cetaknya tetap aku simpan."

Kejujuran terang-terangan itu membuat meja makin sunyi. Laras seharusnya marah karena dipotret tanpa izin. Ia memang tidak suka. Namun sudut foto yang aus menunjukkan benda itu dijaga, bukan dipakai untuk mempermalukan.

"File-nya hapus," katanya. "Jangan pernah foto diam-diam lagi."

Rayhan mengangguk. Ia membuka ponsel, mencari folder lama, dan menghapus salinan digital di depan Laras. "Yang cetak?"

Laras menahan napas. "Terserah lo."

Mata Rayhan berubah lebih hangat. Galih menatap Laras seolah ingin protes, tetapi hak memilih memang miliknya.

"Justru itu. Lo simpan berapa tahun?"

Rayhan memasukkan kembali foto ke tempatnya. "Bukan urusan lo."

Nada dinginnya membuat Kelvin mengangkat tangan. "Oke. Salah gue buka. Maaf."

Laras tidak ikut bertanya. Ia menaruh botol sambal terlalu keras sampai tutupnya lepas.

Foto itu diambil ketika Rayhan masih sebelas tahun. Berarti selama bertahun-tahun, di asrama, di kelas, dalam setiap perjalanan, wajah Laras selalu berada di dompetnya.

Kalimat Kelvin kemarin kembali: kalian lebih seperti orang pacaran.

"Ras, duduk sini," panggil Rayhan.

Biasanya Laras akan duduk di kursi kosong di sebelahnya. Kali ini ia memilih tempat di samping Nadia.

Rayhan melihat perubahan kecil itu tanpa komentar.

Sepanjang makan, Kelvin berusaha mengembalikan suasana dengan cerita pertandingan. Bima ikut menimpali. Galih bertanya soal jadwal kompetisi. Hanya Nadia yang diam-diam menyentuh lutut Laras di bawah meja.

"Lo oke?" bisiknya.

"Kenapa nggak?"

"Tangan lo tuang kecap ke mangkuk kosong."

Laras melihat mangkuknya. Benar.

Saat pulang, mereka menunggu kendaraan di depan warung. Rayhan berdiri dekat Laras seperti biasa. Ketika motor melintas terlalu dekat, ia menarik bahu Laras ke sisinya.

Laras langsung melepaskan diri.

"Gue bisa jaga diri."

Rayhan menatap tangannya yang kosong. "Aku tahu."

"Terus jangan narik-narik."

"Dari dulu juga begitu."

"Sekarang nggak usah."

Galih mendengar percakapan itu dari beberapa langkah. Rayhan tidak membalas, tetapi tatapannya mengikuti Laras sampai ia naik kendaraan.

Di Gang Mawar, jarak buatan itu berlanjut. Rayhan datang ke bengkel membawa makanan; Laras selalu menemukan pekerjaan di bawah mobil. Ia duduk di teras Pak Darto; Laras masuk kamar lebih cepat. Jika dulu Rayhan menyandarkan kepala ke bahunya saat lelah belajar, kini Laras berdiri sebelum ia sempat mendekat.

Pak Darto menjadi orang pertama yang terganggu.

"Kalian berantem?"

"Nggak."

"Rayhan tadi nganter susu. Kamu bahkan nggak keluar."

"Saya lagi ganti kampas rem."

"Biasanya tangan penuh oli juga kamu masih sempat rebutan gorengan."

Laras mengencangkan baut lebih keras. Pak Darto menunggu, lalu berkata, "Kalau ada masalah, selesaikan. Jangan bikin anak itu mikir dia salah cuma karena pulang."

Kalimat tersebut menusuk karena itulah yang dilakukan keluarga Rayhan dulu: membuatnya merasa keberadaannya salah. Laras tidak ingin mengulang luka yang sama, tetapi ia juga tak tahu cara bersikap normal setelah melihat foto.

Malamnya ia mengirim pesan singkat: Susunya udah gue minum. Makasih.

Rayhan membalas kurang dari semenit: Besok aku bawain lagi.

Laras hampir mengetik jangan, lalu menghapus. Jarak yang ia buat ternyata tidak sanggup menghilangkan kebiasaan mereka saling merawat.

Pada hari ketiga, Rayhan menahannya di depan gudang onderdil.

"Kamu menghindar."

"Bengkel lagi ramai."

"Malam juga ramai?"

"Gue capek."

"Karena foto itu?"

Laras menatap rak baut. "Kenapa lo simpan?"

"Karena aku suka."

"Suka fotonya atau orangnya?"

Pertanyaan itu lolos sebelum sempat ditahan.

Rayhan melangkah lebih dekat. Tidak menyentuh, tetapi tubuhnya menutup jalur keluar.

"Kalau aku jawab, kamu bakal lari lebih jauh?"

"Gue cuma mau semuanya balik kayak dulu."

"Dulu kapan? Waktu aku sepuluh tahun?"

"Sebelum jadi aneh."

"Buat aku nggak ada yang baru. Kamu yang baru lihat."

Laras akhirnya menatapnya. Ada kesabaran bertahun-tahun di wajah Rayhan, sesuatu yang terlalu utuh untuk disebut kagum sesaat.

"Sejak kapan?"

"Aku belum mau jawab kalau kamu masih siap kabur."

"Lo nyebelin."

"Aku belajar dari kamu."

"Lo masih anak sekolah."

"Itu bukan jawaban."

"Dan lo nggak perlu tanya."

Laras menyelinap melewatinya. Rayhan tidak mengejar. Justru diamnya membuat tengkuk Laras makin panas.

Malam itu, Laras duduk di atap dengan kretek yang tidak dinyalakan. Nadia menelepon.

"Rayhan suka lo," katanya tanpa pembuka.

"Dia cuma nempel dari kecil."

"Orang nggak simpan foto bertahun-tahun karena cuma nempel."

"Dia belum ngerti."

"Mungkin. Tapi lo ngerti sekarang."

Laras memutar batang rokok di jari. Yang menakutkan bukan hanya kemungkinan Rayhan menyukainya. Yang lebih menakutkan adalah tubuhnya sendiri mulai sadar setiap kali Rayhan berdiri terlalu dekat.

Ia melihat dari atap. Rayhan sedang membantu Mbah Surti menutup warung. Dari jauh pun, tinggi tubuhnya menonjol di antara orang dewasa.

Ponsel Laras bergetar. Pesan masuk.

Aku nggak akan buang foto itu. Tapi aku juga nggak akan maksa kamu tanya sebelum siap.

Laras membaca dua kali. Tidak membalas.

Di seberang gang, Rayhan mengangkat kepala ke arah atap, seolah tahu ia sedang dilihat.

Laras buru-buru mundur dari pagar.

Untuk pertama kalinya, ia tidak sedang menjaga Rayhan dari dunia. Ia sedang menjaga dirinya sendiri dari cara Rayhan memandangnya.

Sayangnya, setiap langkah mundur yang Laras ambil justru membuat tatapan itu terasa jauh lebih jelas dari sebelumnya. Foto di dompet telah mengubah rahasia menjadi bukti di antara mereka berdua sekarang, dan bukti tidak bisa dipaksa kembali menjadi kebetulan biasa.

Tak lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!