Indonesia
NovelToon NovelToon
Dia Istriku, Tapi Kayak Orang Asing

Dia Istriku, Tapi Kayak Orang Asing

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Selingkuh / Cinta Terlarang
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Storyginal Finger

Seorang pria bernama AZKA (27 tahun) sudah beberapa minggu mengalami koma akibat kecelakaan kerja ketika ia yang merupakan pimpinan konstruksi sedang meninjau proyek pembangunan.

Azka telah menikah dengan VISHA (24 tahun) selama 3 tahun tapi belum memiliki momongan. Meskipun begitu, hubungan pernikahan mereka masih sangat harmonis. Visha senantiasa merawat Azka di rumah sakit.

Tapi siapa sangka kalau ternyata otak Azka yang sedang koma justru menciptakan ingatan baru yang berbeda.

Dia teringat dengan SESILIA (19 tahun) yang merupakan kepala tim QC baru di kantornya. Walaupun Azka baru bertemu beberapa kali, ternyata secara tidak sadar, Azka mempunyai rasa ketertarikan dengan Sesilia.

Hal ini membuat kenangan-kenangan indah tentang hubungan Azka dan Sesilia. Sedangkan ingatan tentang Visha justru terhapuskan.

Semenjak sadar, Azka mengalami dilema antara Visha dan Sesilia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28: Siasat Menghilangkan Jejak

“Nomor antrian 76, silahkan ke loket 3”.

Mendengar pengumuman, Azka membangunkan Kayla yang tertidur di pundaknya. Ia langsung bergegas menuju loket 3 mengurus surat-surat penebusan obat.

Tak berapa lama, ia kembali duduk di sebelah Azka untuk merapikan kertas lalu memasukkannya ke dalam tas.

“Sudah?” tanya Azka bingung.

“Sudah, tapi kita harus tunggu lagi peracikan obatnya,” ujar Kayla.

Azka menggelengkan kepala, “Menunggu lagi?”

“Iya, beginilah kalau menebus obat menggunakan asuransi dari pemerintah. Lama nunggunya, maaf ya, Pak.”

“Untung nebus obat seperti ini, cuma dua bulan sekali,” lanjutnya.

Mendengar kesulitan yang dialami Kayla, ia penasaran terkait jumlah biaya penebusan obat ibunya itu.

“Mahal ya?” tanya Azka.

“Lumayan. Sekali menebus obat, sekitar 2,4 jutaan,” jawab Kayla lesu.

Azka kemudian berhitung, “Berarti 1,2 juta per-bulan ya.”

Belum sempat merespon ucapan Azka, tiba-tiba terdengar panggilan atas nama ibunya.

“Irma Puspitasari!”

Sontak saja Kayla langsung berdiri. Ia menghampiri loket farmasi, mengambil obat yang hendak ditebus. Setelah selesai, Kayla memberikan kode kepada Azka untuk pergi dari situ.

Langkah mereka melambat saat tiba di ujung koridor rumah sakit. Kayla berjalan di sisi Azka, diam beberapa saat, sebelum akhirnya membuka percakapan.

“Setelah ini, kamu mau ke mana?”

Azka menoleh ke arahnya sejenak. Langkah terhenti. Ia menatap wajah Kayla yang polos tanpa riasan seperti biasanya. Ia teringat mengenai rencana nanti malam. Ia meyakinkan apakah benar tidak perlu dijemput.

Ia masih berupaya agar Kayla dijemput olehnya. Ia berencana menyewa mobil jika Kayla menyetujui.

“Tidak perlu, Pak, aku naik ojek online saja, aman kok,” ujar Kayla tetap pada pendirian.

Merasa perlu tanggung jawab, Azka mengambil handphone lalu melakukan pengiriman uang ke e-wallet milik Kayla.

“Baiklah, tapi kamu harus terima uang yang barusan aku kirim. Itu untuk ongkos kamu naik taksi online, jangan pakai ojek motor,” ucapnya.

Kayla memeriksa handphone, ia membuka e-wallet miliknya.

“Ya ampun, banyak sekali, Pak. Ini taksi online untuk pergi ke singapura atau gimana, Pak?” responnya bercanda.

Sambil tertawa, ia minta Kayla tidak perlu sungkan.

“Itu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan apa yang sudah kamu berikan ke aku,” ujar Azka.

Wajah Kayla sedikit heran dengan ucapan tersebut tapi tidak ingin bertanya lebih lanjut. “Baiklah pak, kita berpisah di sini ya, aku mau langsung pulang. Kasihan ibu pasti sudah nungguin aku.”

“Terima kasih banyak ya, Pak. Buat semuanya.”

Sebenarnya Azka sangat ingin mengajak Kayla makan siang, tapi ia teringat momen saat berada di Dess Cake. Ia tidak ingin mengulangi kesalahan.

Azka dan Kayla kemudian berpisah.

***

Di dalam mobil taksi online menuju hotel, Azka ternyata dari tadi menahan rasa khawatir. Ia takut Visha mengetahui histori kalau ia pernah transfer Kayla.

Azka berpikir tentang bagaimana siasat menghilangkan jejak pengiriman. Ia berusaha mencari cara menghapus riwayat, tapi tidak bisa. Catatan arus keluar masuk uang tidak mungkin dihilangkan.

Ia kemudian mendapatkan ide membayar tagihan-tagihan lewat e-wallet miliknya. Ia mengirimkan sejumlah uang dalam jumlah besar.

Setelah itu, ia membayar sejumlah tagihan yang sebenarnya belum jatuh tempo. Mulai dari kartu kredit hingga biaya langganan platform online.

Bukan hanya tagihan, ia juga membeli beberapa barang di situs toko online menggunakan e-wallet tersebut. Intinya agar riwayat pengiriman ke Kayla bisa tertimbun dengan pembayaran-pembayaran barusan.

Ketika sedang melakukan itu, tiba-tiba saja Visha menelepon berupa panggilan video. Azka yang masih berada di dalam mobil langsung bingung.

Azka merasa tidak mungkin ia mengangkat telepon karena tidak bisa memberikan alasan yang tepat. Meskipun sebenarnya banyak alasan masuk akal, tapi karena Azka sedang melakukan kesalahan, pikirannya tengah diselimuti rasa takut.

Perasaan was-was tidak bisa ia tutupi sehingga membuat Azka tak dapat berpikir jernih.

Setelah memikirkan lagi, ia memutuskan tidak mengangkat telepon. Ia menganggap lebih aman jika dibiarkan. Nantinya ia hanya akan beralasan kalau sedang tidur di kamar hotel.

Beberapa menit setelahnya. Ia tiba di lobi, bergegas menuju lift. Dengan setengah berlari, ia masuk ke kamar, mengganti pakaian, lalu kembali berpura-pura sedang tidur di atas ranjang.

Azka menghubungi Visha, posisi sudah rebahan. Begitu diangkat, ia duduk lalu beranjak ke kamar mandi berpura-pura cuci muka sambil membawa handphone.

“Baru bangun? Kamu sudah makan belum?” tanya Visha.

Tentu saja Azka menjawab kalau ia belum makan karena tidur sejak tadi pagi.

“Bagaimana kondisimu?” ucap Visha lagi.

“Sudah lebih baik, sebelum tidur, aku minum obat yang kamu bawakan.”

Tapi kemudian pertanyaan dari Visha membuat ia diam seribu bahasa.

“Oh iya, hampir saja lupa. Aku mau tanya, apa kamu bayar tagihan kartu kredit? Notifikasi masuk di email soalnya,” ucap Visha.

Seketika saja Azka yang baru saja selesai mengeringkan wajah pakai handuk tidak bisa memikirkan jawaban cepat. Ia terlihat gugup, wajahnya pucat.

Tapi beruntung Visha justru melihat perubahan sikap Azka sebagai sesuatu yang lain. Ia mengira suaminya mengalami masalah kesehatan.

“Azka, kamu tidak apa-apa? Coba kamu duduk dulu, jangan terlalu banyak bergerak,” katanya sedikit panik.

Memanfaatkan kesalahpahaman ini, Azka meneruskan drama, “Aduh, kepalaku pusing, mata kunang-kunang.”

“Aku hubungi mama dan papa ya, supaya tengok keadaanmu. Kalau memang sekiranya parah, kamu ke igd saja,” ucap Visha.

Tentu saja Azka langsung menolak, “Tidak perlu. Aku hanya butuh istirahat. Tidak perlu berlebihan.”

Ia menambahkan bahwa orang tuanya pasti sedang sibuk dengan kegiatan di yayasan.

“Apalagi jarak dari rumah ke sini sangat jauh, mereka di daerah timur, sedangkan aku ada di barat. Kamu tidak usah khawatir, kamu temani aku saja disini ya, jangan tutup teleponnya,” ucap Azka sambil membaringkan tubuh perlahan.

“Iya, ya sudah. Aku pesankan bubur ya untuk makan kamu,” kata Visha.

Azka mengangguk pelan. “Tunggu sebentar. Nanti kamu tidak usah turun, aku akan titip pesan ke drivernya, supaya pegawai hotel mengantar ke kamar kamu,” jawab Visha sambil memainkan layar handphone.

“Kamar 314 kan ya?”

Berpura-pura lemas, Azka mengangguk pelan.

Visha kemudian berpesan agar Azka minum obat lagi setelah makan nanti. Ia terlihat benar-benar khawatir karena takut kondisi Azka memburuk akibat kecelakaan beberapa waktu lalu.

“Aku nyusul kamu saja deh ya?” pinta Visha.

Seakan lupa dengan sandiwara yang ia perankan, Azka lantang tidak mengizinkan. Tapi kali ini Visha tetap memaksa. Ia mengatakan kalau selama di rumah, ia juga tidak tahu harus melakukan apa.

Azka tetap melarang. Ia minta agar Visha mencari kegiatan baru supaya tidak merasa bosan di sana.

“Aku bukan anak kecil, kamu tidak perlu khawatir berlebihan seperti itu,” kata Azka, nada bicara mulai meninggi.

Namun karena merasa khawatir, Visha tetap berusaha merayu Azka agar mengizinkannya pergi, “Tapi aku khawatir sama kamu, aku tidak mau kalau terjadi apa-apa sama kamu, aku tidak ada di sana”.

Ia bahkan sampai menangis.

“Kamu tidak tahu bagaimana rasanya. Mendengar kabar buruk tentang orang yang kita sayang, aku trauma Azka. Aku tidak mau kejadian itu terulang!” ucapnya mematikan fitur video agar wajahnya yang sedang menangis tidak terlihat.

Azka hanya bisa diam menyadari situasi sepertinya sudah tidak bisa dikendalikan lagi sekarang.

1
Storyginal Finger
sangat bagus
Nanda Jambi
kenangan terindah pasti ada dalam setiap ingatan terdalam
Storyginal Finger: sepakat 😍👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!