Sena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya—sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir—karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiSena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pucuk di cinta
Sena bersandar di kap mobilnya yang dingin, mengusap keringat dingin yang masih tersisa di dahinya. Mengingat detail novel yang pernah dibacanya, Lucian Voss bukan sekadar pembunuh yang bersembunyi di balik bayangan ia adalah sosok tokoh publik berkelas atas yang amat tersohor.
Dengan jemari yang sedikit bergetar, Sena membuka aplikasi peramban di ponsel pintar milik Estella. Ia mengetikkan nama "Lucian Voss" di kolom pencarian.
Hanya dalam hitungan detik, ribuan artikel dan profil biografinya bermunculan di layar. Namun, begitu mata Sena membaca baris demi baris informasi serta melihat foto profil utama pria tersebut, jantungnya seolah berhenti berdetak seketika.
Napas Sena tertahan di tenggorokan.
Di layar ponselnya terpampang profil resmi sang pengusaha genius:
Nama: Lucian Voss
Usia: 19 Tahun
Status: Pendiri & CEO Voss Group, Pria Terkaya Nomor 1, Peraih Penghargaan Pengusaha Termuda & Paling Berpengaruh Tahun Ini.
Namun, bukan hanya deretan prestasi gila dan kekayaan fantastis di usia 19 tahun itu yang membuat otak Sena mendadak freeze.
Foto resmi yang terpampang di artikel tersebut seorang pemuda berwajah sempurna bagaikan pahatan patung Yunani, dengan iris mata sehitam malam yang dingin dan rahang yang tegas adalah sosok pria yang persis sama dengan yang ia temui di basement mal kemarin! Pria berkemeja putih berdarah yang ia dorong ke balik pilar dan ia ikat pinggangnya dengan kain syal!
"ANJIRRR!" pekik Sena tertahan, menutup mulutnya sendiri rapat-rapat dengan kedua tangan. Matanya membelalak selebar-lebarnya menatap layar ponsel.
Sena langsung memegangi kepalanya yang mendadak berdenyut hebat. Perasaannya saat ini benar-benar campur aduk tak karuan antara ingin menangis karena malang, tapi juga ada sedikit rasa senang yang absurd.
"Dia...?!" gerutu Sena dengan napas memburu, meratapi nasibnya yang luar biasa acak-adut.
"Gue malang banget, ya Tuhan! Pria tampan bertubuh roti sobek yang kemarin bikin jiwa jomblo gue menjerit kagum itu... ternyata Vex Noir?! Psikopat yang hari ini menancapkan pisau sama tikus mati di mobil gue?!"
Sena mengacak-acak rambut mewahnya frustrasi, lalu kembali melirik foto Lucian di layar.
"Tapi... tapi bentar deh," gumam Sena, bibirnya menyunggingkan senyum miring yang meringis bingung. "Kalau dipikir-pikir... setidaknya cinta pada pandangan pertama gue kemarin kagak bertepuk sebelah tangan sama orang lain! Target yang mau gue deketin biar leher gue selamat, sama cowok ganteng yang bikin gue takjub kemarin ternyata orang yang sama!"
Sena menepuk dadanya yang berdebar kencang, mencoba menguatkan mentalnya yang hampir terbelah dua. "Oke, Sena... eh, Estella! Lu harus makin nekat. Cowok 19 tahun kaya raya, gantengnya kebangetan, tapi pembunuh dingin... Ini sih mode survival tingkat dewa!"
Setibanya tukang cuci mobil panggilan yang langsung mengurus dan merawat interior Porsche abu-metalik milik Estella secara total, Sena memutuskan untuk meninggalkan area parkiran kampus. Jiwanya yang baru saja kena guncangan teror tikus mati butuh pasokan kafein dan pendingin otak.
Sena melangkah masuk ke sebuah kafe eksklusif berdesain minimalis-modern yang terletak tak jauh dari area perkuliahan. Kafe itu tenang, diiringi alunan musik jazz lembut yang mengalun tipis. Sena memilih duduk di sudut ruangan dekat jendela besar, lalu memesan secangkir ice caramel macchiato.
Sambil memutar-mutar sedotan di dalam gelasnya, wajah Sena ditekuk cemberut.
Aduh, pusing gue! Gimana caranya biar nyawa gue selamat sentosa, terus bisa hidup damai menikmati harta sultan si Estella ini sebagai rakyat biasa yang bahagia?! omel Sena habis-habisan dalam hatinya. Niat hati mau santai menikmati jadi anak kaya raya, eh malah dikejar-kejar target pembunuhan bocah sepuluh sembilan tahun yang gila harta dan gila darah!
Sena menopang dagu, matanya menatap kosong ke arah kasir kafe. Namun, ketika matanya menyapu barisan antrean pelanggan yang sedang memesan minuman, tubuh Sena seketika menegak kaku.
Jantungnya melompati satu detakan.
Di sana, berjarak hanya sekitar lima meter darinya, berdiri seorang pemuda bertubuh jangkung dengan kemeja hitam tergulung hingga sikut dan celana bahan yang pas di tubuhnya. Gaya berdirinya sangat tenang, kedua tangannya terbenam santai di dalam saku celana. Rambut hitamnya tersisir rapi, memamerkan garis rahang yang tajam bagaikan pahatan batu pualam.
Lucian Voss. Sang psikopat genius sekaligus miliarder nomor satu!
Pria itu sedang berdiri di dalam barisan antrean kasir, menunggu gilirannya untuk memesan minuman dengan ekspresi wajah yang teramat datar dan dingin.
Sena membelalakkan mata. Rasa kaget yang membakar dadanya perlahan memudar, berganti dengan kilatan nekad di iris abu-abunya.
Ular dicinta, pucuk pun tiba! seru Sena girang dalam hati, mengacak-acak peribahasa secara asal-asalan. Kesempatan emas kagak datang dua kali! Daripada gue nunggu dieksekusi di tempat tidur, mending gue pepet sekarang juga!
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Sena langsung berdiri dari kursinya. Menyambar tas Chanel-nya, ia berlari kecil menghampiri area kasir dan menyusup masuk ke barisan tepat di samping Lucian, bertepatan saat barista selesai mencatat pesanan sang pemuda.
"Totalnya jadi delapan puluh ribu rupiah, Mas," ujar barista tersebut sopan.
Sebelum Lucian sempat mengeluarkan dompet atau kartu kreditnya, Sena dengan sigap menusukkan Black Card mewahnya ke atas mesin EDC kasir!
BIP!
Layar mesin kasir langsung menunjukkan status pembayaran berhasil.
"Sekalian sama minuman saya yang ini ya, Mbak! Semuanya saya yang bayar!" potong Sena cepat seraya memamerkan senyum manisnya yang paling menawan ke arah barista yang sempat tertegun.
Usai transaksi selesai, Lucian perlahan memiringkan kepalanya. Iris matanya yang sehitam jelaga menatap lurus ke arah Sena. Tatapan itu amat dingin, datar, dan menusuk seolah-olah sedang meneliti seekor serangga aneh yang mendadak melompat ke hadapannya tanpa rasa takut.
Sena, yang ditatap dengan aura intimidasi membekukan itu, justru membusungkan dadanya dengan percaya diri. Ia mengibaskan rambut cokelat gelombangnya, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Lucian sambil menyunggingkan senyuman lebar tanpa dosa.
"Hai, Ganteng! Ketemu lagi kita!" sapa Sena dengan nada suara yang kelewat ceria dan heboh.
Ia memiringkan kepala, menatap wajah rupawan Lucian dengan binar mata yang blak-blakan. "Gimana luka kamu kemarin? Udah nggak berdarah-darah lagi, kan? Duh, takdir emang lucu ya, kita bisa ketemu lagi di kafe kecil begini!"