Seo Tae-jun telah hidup selama 34 tahun dengan keyakinan bahwa cinta hanya membuat seseorang lemah.
Han Ji-eun justru hidup dengan keyakinan sebaliknya.
Bagi Ji-eun, kehilangan orang yang dicintai memang menyakitkan, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti mencintai.
Pertemuan mereka dimulai dari hubungan profesional.
Tae-jun adalah pewaris sekaligus pemegang kendali jaringan hotel Seo Group.
Ji-eun adalah manager hotel yang telah bekerja keras selama lima tahun untuk mendapatkan posisinya.
Tae-jun awalnya hanya tertarik pada keberanian Ji-eun.
Namun perhatian itu berubah menjadi ketertarikan.
Ketertarikan berubah menjadi kebutuhan.
Dan kebutuhan perlahan berubah menjadi cinta yang membuat Tae-jun mempertanyakan seluruh hidupnya.
Masalahnya, keluarga Seo menyimpan rahasia yang berkaitan dengan kematian orang tua Ji-eun.
Semakin dekat mereka, semakin besar kemungkinan cinta mereka menghancurkan keluarga Tae-jun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiara L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24
Dua jam berlalu dengan cepat. Ji-eun, Tae-jun dan Seo-ah menghabiskan waktu bersama. Atmosfer di dalam apartemen Ji-eun yang semula dipenuhi gelak tawa mendadak perlahan berubah tegang. Kehadiran Seo-ah yang awalnya ceria kini terganggu oleh ponselnya yang tak henti-hentinya bergetar dan mendentingkan nada pemberitahuan di atas meja.
Setiap kali layar ponsel itu menyala, raut wajah Seo-ah membeku. Raut gembira yang tadi terpancar saat mengobrol bersama Ji-eun dan Tae-jun perlahan berganti menjadi guratan kekesalan yang mendalam. Ia berulang kali mengabaikan panggilan masuk dan menolak pesan dengan gerakan jari yang kasar.
Ji-eun yang duduk di sebelah Seo-ah mulai menyadari perubahan tingkah sahabatnya itu. "Seo-ah-ya, ada apa? Siapa yang meneleponmu terus-terusan?"
Seo-ah tersenyum dipaksakan, mengibaskan tangannya di udara. "Bukan siapa-siapa. Cuma pesan tidak penting."
Namun, Ji-eun menyipitkan mata penuh curiga. Ia kenal betul raut wajah Seo-ah ketika sedang menyembunyikan sesuatu. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB ketika ponsel Seo-ah kembali bergetar hebat. Kali ini, sebuah pesan singkat masuk. Begitu membacanya, wajah Seo-ah tampak memucat seketika sebelum berubah menjadi campur aduk antara cemas dan marah.
"Ji-eun-a, Direktur Seo... maaf, aku harus keluar sebentar. Ada urusan mendadak," ujar Seo-ah terburu-buru seraya menyambar jaketnya dari sandaran kursi.
"Malam-malam begini? Jam sebelas malam?" Ji-eun menahan lengan sahabatnya dengan cemas. "Ada apa sebenarnya?"
"Cuma sebentar di bawah. Aku janji akan segera kembali," potong Seo-ah cepat tanpa memberi penjelasan lebih lanjut, lalu bergegas keluar menyusuri lorong apartemen.
Sikap terburu-buru Seo-ah membuat dada Ji-eun dihinggapi perasaan tak tenang. "Ini aneh. Sikapnya sama sekali tidak wajar."
Tae-jun yang berdiri di samping Ji-eun memegang pundaknya lembut. "Kau cemas?"
"Sangat," aku Ji-eun jujur.
"Kalau begitu, ayo kita ikuti dia," ajak Tae-jun mantap.
Tanpa membuang waktu, keduanya segera mengenakan mantel dan melangkah menyusul keluar. Mereka menjaga jarak aman beberapa meter di belakang Seo-ah, menyusuri jalanan malam sekitar lingkungan apartemen Ji-eun yang mulai sepi dan remang-remang.
Langkah Seo-ah terhenti di sebuah taman kecil berdinding beton yang tak jauh dari gedung Apartemen. Di sana, di bawah pendar lampu jalan yang temaram, berdiri seorang pria jangkung berpakaian serba gelap yang tampak sedang menunggu dengan gelisah. Meski berdiri di jarak yang cukup jauh dan terhalang bayangan pohon, mata Ji-eun langsung mengenali siluet pria tersebut.
"Kau mengenalnya?" tanya Tae-jun berbisik tepat di samping telinga Ji-eun.
"Lee Gyeong-tae. Mantan pacar Seo-ah," bisik Ji-eun seraya mengepalkan jemarinya di balik saku mantel.
Tae-jun mengernyitkan alis. "Kenapa dia menemui Seo-ah malam-malam seperti ini?"
"Aku tidak tahu. Kita lihat saja dari sini," sahut Ji-eun dengan pandangan tak lepas dari dua orang di depan sana.
Dari kejauhan, perdebatan sengit tampak terjadi. Seo-ah terlihat mengibaskan tangannya, menolak apa pun yang dikatakan Gyeong-tae, sementara pria itu makin mendesak dan maju mendekatinya. Perdebatan verbal itu kian memanas hingga situasi tak terkendali terjadi.
Brak!
Secara mengejutkan, Gyeong-tae yang tampak emosi mendorong dada Seo-ah dengan keras hingga perempuan itu hilang keseimbangan dan jatuh tersungkur di atas konblok taman.
Mata Ji-eun membelalak hebat. Amarahnya membumbung seketika ke ubun-ubun. Tanpa berpikir panjang, ia langsung berlari menghampiri mereka, diikuti oleh Tae-jun di belakangnya.
"Hei!! Apa yang kau lakukan?!" teriak Ji-eun membahana memecah keheningan malam.
"Ji-eun-a..." ucap Seo-ah lirih dari atas tanah, terkejut melihat kehadiran sahabatnya.
Tae-jun dengan sigap berlutut di samping Seo-ah. "Kau baik-baik saja?" tanyanya lembut seraya membantu Seo-ah berdiri dan memastikan perempuan itu tidak mengalami luka serius.
Sementara itu, Ji-eun sudah berdiri melangkah maju, bertolak pinggang tepat di hadapan Gyeong-tae dengan napas memburu dan mata menyala-nyala.
"Apa kau sudah gila?!" tanya Ji-eun naik pitam.
Gyeong-tae mendesis sinis, menatap Ji-eun dengan pandangan meremehkan. "Tidak usah ikut campur! Ini urusanku dengan Seo-ah!"
"Hei, Lee Gyeong-tae! Kau lupa dengan ucapanku saat kalian putus karena kau berselingkuh?!" bentak Ji-eun dengan nada suara melengking penuh emosi. "Aku benar-benar akan membunuhmu kalau sampai melukai Seo-ah lagi!"
"Dasar wanita ini..." raung Gyeong-tae yang kehilangan akal sehatnya akibat kemarahan.
Ji-eun bisa melihat dengan jelas bagaimana kepalan tangan Gyeong-tae terangkat ke udara, siap melayangkan tinjuan keras tepat ke arah wajahnya. Naluri bertahan membuat Ji-eun refleks memejamkan mata rapat-rapat, bersiap menahan rasa sakit.
Namun, detik demi detik berlalu, rasa sakit itu tak kunjung datang.
BUK!
Suara benturan keras berbunyi di udara disertai erangan kesakitan. Ji-eun membuka matanya dengan terperanjat. Di hadapannya, Gyeong-tae sudah tersungkur di atas tanah sambil memegangi rahang bawahnya yang terhantam keras.
Tae-jun berdiri tegap di depan Ji-eun. Pandangan mata pria itu yang biasanya tenang kini berubah menjadi kilatan amarah yang teramat mengerikan. Aura dingin dan berbahaya memancar kuat dari tubuhnya.
"Kau berani menyentuh wanitaku?" desis Tae-jun dengan suara rendah yang bergetar penuh ancaman. "Aku yang akan membunuhmu lebih dulu. Bangun!!"
Gyeong-tae yang tersulut emosi dan rasa malu langsung bangkit berdiri dan menerjang maju. Siapa sangka bahwa pada akhirnya dua lelaki itu saling melempar tinju di tengah malam yang sepi. Tae-jun yang terlatih membalikkan pukulan Gyeong-tae, melayangkan beberapa pukulan balasan yang telak mengenai wajah pria itu, sementara Gyeong-tae juga sempat mendaratkan balasan ke sudut bibir Tae-jun.
"Stop! Hentikan! Tae-jun-ssi, berhenti!" jerit Ji-eun panik.
Ji-eun dan Seo-ah akhirnya berlari menembus pertikaian itu, sekuat tenaga melerai dan menarik tubuh kedua pria yang sudah tersulut emosi membara tersebut. Ji-eun memeluk pinggang Tae-jun rapat-rapat dari belakang untuk menahannya, sementara Seo-ah berdiri menghalangi Gyeong-tae yang terengah-engah dengan wajah lebam.
Belum sempat mereka meredakan napas yang memburu dan merapikan pakaian yang kusut, raungan sirene terdengar makin mendekat. Satu mobil polisi menyusur jalanan dan berhenti tepat di samping taman kecil itu. Sepertinya, warga sekitar yang mendengar keributan dan teriakan di tengah malam telah melaporkan pertengkaran tersebut ke pihak berwajib.
Beberapa petugas polisi turun dari mobil dengan lampu patroli yang menyala merah-biru bergantian.
"Semuanya, harap jangan bergerak!" panggil salah satu petugas.
Dan akhirnya, di tengah malam yang semakin larut itu, mereka berempat terpaksa dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
...****************...