Di Kerajaan Shanyue, tepat dipinggiran Kota Shiyue seorang gadis tinggal di sebuah desa terpencil bernama Desa Caiyun.
Dia Xia Qinglan, anak seorang Jenderal ternama di Kerajaan Shanyue yaitu Putri Jenderal Xia Agung, Xia Longyuan.
Xia Qinglan memiliki takdir pernikahan dengan Lima Pangeran yang memiliki sikap angkuh, manja, dingin, bahkan ada juga yang menjadi budak cinta. Namun, alih-alih Qinglan menolak mereka justru ia menaklukan kelima Pangeran itu dengan caranya sendiri.
Dibalik kisah Cinta mereka di liputi perjuangan yang penuh tantangan yaitu mereka berenam harus berhadapan dengan Pangeran Ketiga, Xi Zhouyun yang licik.
Xi Zhouyun adik dari tunangan Qinglan yaitu Xi Yunzhi sang Putra Mahkota. Qinglan tidak memihak siapapun ia hanya berdiri pada keputusannya sendiri. Bahkan, kelima Pangeran itu Feng Huang, Xiao Mingye, Gu Yichen, Ling Chen dan Xi Yunzhi di didik secara langsung oleh Qinglan untuk menjadi Pilar Kerajaan Shanyue.
Ikuti kisah petualangan mereka!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takdir yang Membagongkan
Lorong di depan reruntuhan kediaman keluarga Xia kini telah bersih dari mayat-mayat pembunuh bayaran, berkat bantuan sigap para pengawal rahasia Putra Mahkota yang langsung membersihkannya tanpa meninggalkan jejak. Suasana di dalam halaman utama rumah yang sudah lama terbengkalai itu mendadak terasa jauh lebih sesak—bukan karena ancaman musuh, melainkan karena kejut-kejut batin yang melanda Xia Qinglan setelah kebenaran mutlak terungkap di hadapannya.
Di bawah temaram cahaya lentera yang dibawa oleh para pengawal, Qinglan berdiri terpaku di serambi aula utama. Ia menatap tajam ke arah dua sosok figur terkemuka kekaisaran yang kini berdiri berdampingan di hadapannya: Xi Yunzhi, sang Putra Mahkota yang berwibawa, dan Ling Chen, sang sarjana agung berambut putih yang masih tampak merapikan jubahnya akibat insiden salah peluk tadi.
Ketiga pangeran lainnya—Feng Huang, Mingye, dan Gu Yichen—berdiri sedikit di belakang Qinglan. Mereka menatap silih berganti antara sang Putra Mahkota, sang sarjana agung, dan pergelangan tangan kanan mereka masing-masing.
Suasana malam itu mendadak hening seketika, dipenuhi oleh ketegangan yang sama sekali berbeda dari pertempuran sebelumnya.
Qinglan mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Urat di pelipisnya berkedut hebat. Selama bertahun-tahun, ia mengira takdir Plum Blossom miliknya—dengan pola tanda lahir dua kelopak merah dan tiga kelopak pink—hanya akan mempertemukannya dengan para pemuda dari kalangan bangsawan atau pangeran pelarian seperti Feng Huang, Mingye, dan Gu Yichen.
Namun, kenyataan malam ini menampar wajahnya dengan cara yang paling tidak masuk akal di dunia.
Qinglan perlahan mengangkat tangan kanannya, menyingsingkan lengan jubah putihnya hingga memperlihatkan tanda lahir kuntum bunga plum dengan tiga kelopak berwarna pink terang yang bersinar samar di bawah cahaya lentera. Ia lalu mengalihkan pandangannya yang tajam setajam pedang kepada Ling Chen dan Xi Yunzhi.
“Tunggu sebentar...” suara Qinglan terdengar bergetar, bukan karena takut, melainkan karena rasa frustrasi yang luar biasa besar. Ia menunjuk ke arah Ling Chen dan Xi Yunzhi secara bergantian dengan jari telunjuknya. “Kalian berdua... Jangan bilang kalau...”
Xi Yunzhi menghela napas pelan. Dengan gestur yang sangat tenang, Putra Mahkota itu mengangkat lengan jubah safirnya, lalu menyingsingkan kain tersebut hingga memperlihatkan pergelangan tangan kanannya.
Di sana, terukir jelas sebuah tanda lahir alami berbentuk kuntum bunga plum dengan gradasi warna merah pekat yang menyatu sempurna dengan kulitnya.
Qinglan menoleh dengan cepat ke arah Ling Chen. Sang sarjana agung berambut putih itu tampak tersenyum kikuk, menggaruk pipinya yang tidak gatal, lalu perlahan menyingsingkan lengan jubah putihnya. Di pergelangan tangan kanan Ling Chen, sebuah tanda lahir serupa terpampang nyata, memancarkan gradasi merah muda yang identik dengan sisa kelopak milik Qinglan.
Lengkap sudah. Dua kelopak merah dan tiga kelopak pink. Kelima pemilik tanda lahir takdir Plum Blossom kini telah berdiri lengkap di satu tempat yang sama—di reruntuhan kediaman keluarga Xia.
Melihat bukti nyata di hadapannya, pertahanan kesabaran Qinglan akhirnya runtuh seketika. Gadis itu menepuk jidatnya dengan telapak tangan, mendongak menatap langit malam sambil mendengus frustrasi.
“Kenapa?!” seru Qinglan dengan nada frustrasi yang tidak lagi bisa ia sembunyikan, membuat Feng Huang dan Mingye langsung tersentak kaget. “Dari miliaran penduduk di seluruh kekaisaran Shanyue, kenapa harus Sarjana berambut putih yang hobi salah peluk ini dan sang Putra Mahkota kekaisaran yang menjadi dua tunangan terakhirku?!”
Jeritan protes itu menggema di halaman kediaman Xia, memecah kesunyian malam dengan keputusasaan yang menggelitik.
Mingye, yang tadinya masih terkejut dengan identitas asli dua tokoh penting itu, langsung tidak mampu menahan tawanya. Ia membekap mulutnya sendiri dengan tangan, berusaha meredam gelak tawa yang hampir meledak, sementara Feng Huang sudah terbahak-bahak tanpa beban, menepuk-nepuk bahu Gu Yichen yang berdiri di sampingnya.
“Luar biasa!” tawa Feng Huang meledak di tengah keheningan. “Takdir benar-benar memiliki selera humor yang sangat buruk! Bayangkan saja, dari semua orang suci dan ksatria di dunia, Lanlan justru harus terikat dengan seorang sarjana tua pikun dan sang penguasa masa depan kekaisaran!”
“Hei, jaga mulutmu, Tuan Muda Feng! Aku belum selama itu pikun!” protes Ling Chen tidak terima, meski ia sendiri tampak salah tingkah dan buru-buru merapikan rambut putihnya agar tetap terlihat berwibawa di hadapan sang gadis tunangannya.
Xi Yunzhi, sang Putra Mahkota, hanya bisa tersenyum masam. Ia menurunkan lengan jubahnya kembali, lalu melangkah mendekat dengan postur tubuh yang tegap dan berwibawa. Meskipun posisinya adalah orang nomor dua paling berkuasa di kekaisaran, di hadapan Qinglan—gadis pemilik takdir garis tangan bunga plum—ia tampak menyadari bahwa wibawa seorang pangeran mahkota sama sekali tidak ada gunanya.
“Aku tahu ini sulit dipercaya, Nona Xia,” ucap Xi Yunzhi dengan suara baritonnya yang tenang, mencoba meredam emosi Qinglan. “Bahkan saat pertama kali aku menyadari tanda lahir ini bertahun-tahun lalu, aku berharap takdir ini salah orang. Menjadi Putra Mahkota di tengah intrik Pangeran Ketiga saja sudah cukup membuat kepalaku pening setiap hari, dan sekarang... takdir memaksaku menjadi bagian dari tunanganmu.”
Qinglan menurunkan tangannya, menatap Xi Yunzhi dan Ling Chen dengan sorot mata yang menyiratkan campuran antara rasa pening luar biasa dan keinginan untuk pingsan seketika.
“Pening?” cibir Qinglan tajam, melipat kedua tangannya di dada. “Kalian berdua duduk nyaman di singgasana istana dan ruang baca istana, sementara aku dan ketiga orang aneh di belakangku ini—” ia menunjuk Feng Huang, Mingye, dan Gu Yichen bergantian—“harus bersusah payah bertarung melawan puluhan pembunuh bayaran di lorong gelap, hidup sebagai buronan fitnah, dan hampir mati keracunan jamur hutan!”
Gu Yichen, yang sejak tadi berdiri diam mengamati perdebatan itu, melirik Qinglan sekilas dengan sudut bibir yang sedikit terangkat. “Setidaknya, Nona, daftar beban pikiranmu sekarang sudah lengkap. Kita tidak perlu lagi mencari sisa-sisa pangeran di ujung dunia.”
“Diam kau, Gu Yichen! Jangan membuatku semakin pusing!” potong Qinglan cepat, meski ia sendiri tidak bisa menahan desahan napas panjang yang sarat akan kepasrahan.
Ling Chen melangkah maju dengan senyuman lembut khas seorang sarjana agung. Ia menatap Qinglan penuh pengertian. “Takdir tidak pernah salah memilih jalurnya, Qinglan. Kehadiran kami berdua—sebagai Sarjana Agung dan Putra Mahkota—bukanlah sebuah kebetulan. Ini adalah kepingan terakhir puzzle yang memang disiapkan untuk merobohkan kekuasaan Pangeran Ketiga dari dalam sistem istana.”
Mendengar kata-kata serius dari Ling Chen, ekspresi Qinglan perlahan melunak. Ia menarik napas dalam-dalam, menenangkan detak jantungnya yang sempat berdegup kencang karena terlalu banyak kejutan dalam satu malam.
Kelima pria itu kini berdiri di hadapannya. Feng Huang dengan api dan egonya, Mingye dengan kelicikan dan luka masa lalunya, Gu Yichen dengan kesetiaan dingin sang pengawal bayangan, Ling Chen dengan kecerdasan dan eksentrisitas sang sarjana, serta Xi Yunzhi dengan wibawa dan kekuasaan seorang Putra Mahkota.
Masing-masing dari mereka membawa beban, luka, dan kekuatan yang berbeda, namun semuanya diikat oleh satu garis takdir yang sama di pergelangan tangan kanan mereka.
Qinglan menggelengkan kepalanya pelan, lalu menyunggingkan senyuman tipis yang mematikan. Keputusasaan beberapa detik lalu kini sepenuhnya berganti dengan tekad baja yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.
“Baiklah,” ucap Qinglan final, suaranya kembali terdengar tegas dan mendominasi. “Jika takdir memang berniat mempermainkan hidupku dengan mengumpulkan kelima pria paling merepotkan di kekaisaran ini menjadi tunanganku... maka kuperingatkan kalian semua: di bawah atap kediaman Xia ini, tidak ada lagi status pangeran, sarjana agung, ataupun Putra Mahkota.”
Qinglan melangkah maju satu langkah, menatap tajam bergantian ke arah kelima pria tersebut dengan aura pemimpin mutlak yang membuat mereka menegakkan punggung secara serempak.
“Di sini, kalian semua adalah bawahanku dalam pertempuran. Siapa pun yang berani membuat kekacauan atau bertindak bodoh seperti tadi,” matanya melirik tajam ke arah Ling Chen, “akan kutendang keluar dari gerbang ini untuk dijadikan umpan serigala hutan. Mengerti?!”
“Dimengerti, Nona!” jawab Feng Huang, Mingye, Gu Yichen, Ling Chen, dan Xi Yunzhi secara serempak—sebuah pemandangan langka di mana lima pria paling berpengaruh di kekaisaran tunduk patuh pada satu perintah mutlak seorang gadis pewaris takdir bunga plum.
Di dalam reruntuhan kediaman Xia yang diselimuti cahaya lentera malam, persekutuan akhir yang paling absurd, berbahaya, dan mematikan dalam sejarah kekaisaran Shanyue resmi terbentuk sempurna. Badai ibukota kini bersiap meletus, dan para pengkhianat istana tidak akan pernah tahu apa yang akan segera menghantam mereka dari bayang-bayang.