Ardi, seorang pemuda miskin yang tulus, tiba-tiba dicampakkan oleh Siska, kekasihnya selama lima tahun, demi Bagas, sahabat Ardi yang baru saja naik jabatan menjadi manajer yang kaya raya. Di tengah keputusasaan dan hinaan brutal, Ardi secara tak terduga membangkitkan [Sistem Flash Sale Rp1], sebuah antarmuka misterius yang memungkinkannya membeli barang apa pun—dari mobil sport mewah, penthouse, hingga seluruh perusahaan—hanya dengan satu rupiah. Dengan kekayaan instan yang tak terbayangkan ini, Ardi mulai membalas dendam secara face-slapping kepada mereka yang meremehkannya, sembari menjelajahi kehidupan barunya sebagai miliarder muda yang paling berkuasa di negeri ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Wajah Rico seketika memerah menahan amarah mendengar sindiran pedas dari pemuda berkaos oblong di depannya itu.
"Jaga mulutmu gembel! Aku menghabiskan puluhan juta rupiah dari uang sakuku sendiri untuk menyewa aula utama hotel itu!" bentak Rico tidak terima.
Rico lalu melemparkan amplop undangan emas itu dengan kasar hingga jatuh ke atas tanah berdebu di depan kaki Ardi.
"Ambil undangan itu dan datanglah malam ini jika kau mau merasakan makanan enak secara gratis," ucap Rico menatap rendah pada Ardi.
"Aku yakin perut miskinmu itu sudah lama tidak diisi dengan daging berkualitas kan?" tambahnya tertawa sinis.
Ardi menunduk menatap undangan yang tergeletak di tanah itu, lalu menginjaknya pelan dengan ujung sandalnya.
"Tentu saja aku akan datang Rico, aku sangat tidak sabar melihat wajah teman-teman lama kita," jawab Ardi dengan senyum misterius yang mematikan.
"Bagus, jangan lupa pakai baju terbaikmu yang paling bersih," pesan Rico melangkah kembali menuju mobil Fortunernya.
"Jangan sampai teman-teman yang lain mengira aku mengundang seorang pengemis jalanan ke acaraku yang megah," teriak Rico sebelum menutup pintu mobilnya.
Mobil SUV putih itu langsung melesat pergi meninggalkan kepulan asap knalpot tebal di depan rumah Ardi.
Ardi mengibaskan tangannya mengusir asap itu lalu memungut undangan emas yang sudah kotor terkena debu tersebut.
"Reuni SMA di Grand Royal Hotel ya? Kebetulan sekali aku menginap di sana malam ini," gumam Ardi tersenyum lebar.
Dia sangat tahu watak Rico dan teman-teman satu sirkelnya yang pasti akan menggunakan acara reuni ini sebagai ajang pamer harta dan merendahkan orang lain.
Namun malam ini, mereka telah mengundang monster yang salah ke dalam acara pamer mereka tersebut.
Tiba-tiba, antarmuka cahaya emas Sistem muncul melayang tepat di depan wajah Ardi yang sedang tersenyum.
[Notifikasi Sistem Flash Sale Rp1]
[Mendeteksi adanya undangan acara sosial yang berpotensi menjadi ajang penghinaan terhadap Tuan Rumah.]
[Sistem sangat membenci Tuan Rumah direndahkan oleh lalat-lalat kecil di daerah pedesaan.]
[Sistem membuka penawaran Flash Sale untuk mengambil alih lokasi acara secara mutlak.]
[Item: Kepemilikan 100 Persen Atas Grand Royal Hotel beserta Seluruh Fasilitas Bintang Limanya.]
[Harga Spesial: Rp1.]
[Waktu Tersisa: 23 Jam 59 Menit.]
Ardi tertawa lepas hingga suaranya menggema di halaman rumah tua yang sepi itu.
"Sistem, kau benar-benar tahu cara paling kejam untuk merusak acara pamer seseorang ya," batin Ardi dengan mata berbinar sangat antusias.
"Rico menghabiskan puluhan juta untuk menyewa aula, tapi aku hanya butuh satu rupiah untuk membeli seluruh gedungnya."
Ardi langsung menekan tombol beli di layar transparan itu tanpa ragu sedikit pun.
[Memproses transaksi pengambilalihan properti perhotelan...]
[Pembelian Berhasil. Saldo rekening Anda telah terpotong Rp1.]
[Sertifikat kepemilikan hotel telah diteleportasi ke brankas kamar presidensial Anda.]
[Anda kini adalah bos besar dari Grand Royal Hotel mulai detik ini juga.]
Ardi menghela napas panjang dan memasukkan undangan kotor itu ke dalam saku celana pendeknya.
Dia tidak repot-repot menyapu lagi dan langsung mengunci kembali pintu pagar rumah lamanya.
Malam ini akan menjadi pertunjukan tamparan wajah yang sangat epik untuk para teman SMA-nya yang sombong.
Ardi melangkah keluar dari gang sempit itu dan mencari taksi untuk kembali ke hotel miliknya yang baru.
Dia butuh mandi dan memilih setelan jas yang paling mahal dari kopernya untuk menghadiri reuni tersebut.
"Mari kita lihat, seberapa sombongnya dirimu malam ini Rico, saat kau tahu siapa pemilik asli tempat kau berpijak," gumam Ardi menatap langit sore yang mulai menguning.
Waktu berlalu dengan cepat, malam hari akhirnya tiba menyelimuti kota kecil tersebut.
Di depan lobi utama Grand Royal Hotel, suasana terlihat sangat ramai dan penuh dengan mobil-mobil bagus.
Sebuah spanduk besar bertuliskan Selamat Datang Alumni SMA Harapan Bangsa terpasang megah di depan pintu masuk aula utama.
Banyak pemuda dan pemudi berpakaian sangat rapi sedang mengobrol dan tertawa riang di depan pintu masuk.
Rico berdiri di tengah kerumunan itu dengan mengenakan setelan jas putih yang sangat mencolok.
Dia dikelilingi oleh banyak teman yang terus memuji dan menjilat kekayaannya tanpa henti.
"Wah Rico, kau benar-benar hebat bisa menyewa aula termewah ini untuk kita semua!" puji seorang pria kurus yang dulu adalah kaki tangan Rico.
"Tentu saja, uang segini tidak ada artinya bagi calon direktur pabrik sepertiku," jawab Rico tertawa sombong membusungkan dadanya.
"Hei Rico, kudengar kau tadi siang bertemu dengan Ardi si miskin itu ya?" tanya seorang wanita dengan riasan tebal dan perhiasan mencolok bernama Reni.
"Iya, aku melihatnya sedang menyapu rumah rongsokannya memakai celana pendek gembel," jawab Rico membuat semua orang di sana tertawa keras.
"Apakah kau benar-benar mengundangnya ke sini Rico? Jangan sampai dia merusak pemandangan elit kita malam ini," protes Reni dengan wajah jijik.
"Biarkan saja dia datang Reni, kita butuh badut untuk ditertawakan malam ini kan?" balas Rico tersenyum sangat licik.
"Lagipula, aku ingin dia melihat dengan mata kepalanya sendiri seberapa jauh perbedaan kasta kita sekarang!" tambahnya dengan penuh kemenangan.
Tepat saat mereka sedang asyik menertawakan Ardi, sebuah suara langkah sepatu pantofel yang tegas terdengar mendekati kerumunan itu.
Semua orang menoleh serempak ke arah sumber suara tersebut.
Dari ujung lorong lobi, seorang pemuda bertubuh tinggi tegap berjalan dengan sangat tenang dan penuh wibawa.
Pemuda itu mengenakan setelan jas hitam legam dengan potongan sempurna yang membalut tubuh atletisnya.
Rambutnya ditata dengan sangat rapi, dan wajah tampannya memancarkan aura dominasi yang membuat napas siapa pun tertahan.
"Siapa pria tampan itu? Apakah dia tamu VIP hotel ini?" bisik Reni dengan mata berbinar-binar kagum menatap pemuda itu.
"Jas yang dia pakai itu pasti harganya ratusan juta, potongannya sangat eksklusif," timpal teman Reni yang lain tidak berkedip.
Pemuda berjas mahal itu terus berjalan mendekat dan akhirnya berhenti tepat di depan Rico dan kerumunannya.
Senyum sinis yang sangat khas terukir di wajah tampan pemuda tersebut.
"Kenapa kalian semua diam? Bukankah tadi kalian sedang menertawakanku dengan sangat keras?" sapa Ardi dengan suara berat dan tenang memecah kebisuan.
Mata Rico langsung terbelalak maksimal hingga bola matanya nyaris melompat keluar.
Rahang Reni jatuh menganga lebar tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihat dan didengarnya.
"A-Ardi? Apakah itu benar-benar kau?" tanya Rico dengan suara terbata-bata menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu.
Ardi memasukkan sebelah tangannya ke saku celana dan menatap Rico dengan pandangan sedingin es kutub.
"Tentu saja ini aku Rico, bukankah kau sendiri yang mengundang badut ini untuk datang ke acaramu?" jawab Ardi membalikkan hinaan Rico tepat ke wajahnya.
Seluruh alumni SMA yang berkumpul di sana langsung membeku, bersiap menjadi saksi dari badai kehancuran yang akan melanda malam reuni ini.