Bercerita tentang mahasiswa IT yang membuat AI secara mandiri di dalam sebuah Android kentangnya, dan merubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Di Antara Kode dan Derita
Hujan gerimis membendung aroma tanah basah yang menyusup lewat celah jendela kayu berayap. Di dalam ruangan sempit berukuran tiga kali empat meter itu, bayangan temaram dari layar laptop tua memantul di wajah Bayu Anggara. Jarinya menari cepat di atas kibor yang sebagian hurufnya sudah terhapus, menciptakan rentetan baris kode pemrograman yang rumit.
Tiba-tiba, suara batuk keras dan berat memecah keheningan malam. Bayu serta-merta menghentikan ketikannya dan menoleh ke arah tempat tidur berbusa tipis di sudut ruangan.
"Ibu? Ibu mau minum?" tanya Bayu lembut seraya beranjak dari kursi plastiknya.
Seorang wanita paruh baya berdada cekung mencoba duduk perlahan. Wajahnya pucat, dengan lingkaran hitam pekat di bawah matanya.
"Tidak usah, Nak. Ibu cuma... tidak ingin mengganggu fokusmu," bisik Ibu dengan suara parau yang tertahan.
Bayu meraih gelas berisi air hangat di atas meja kecil, lalu membantunya minum seteguk demi seteguk. "Ibu tidak pernah mengganggu Bayu. Obat yang tadi sore sudah diminum, kan?"
"Sudah, Bayu. Tapi... obat yang dari dokter puskesmas itu sudah habis sejak kemarin sore," jawab Ibu pelan, matanya menyiratkan rasa bersalah yang mendalam. "Kamu tidak perlu memikirkannya malam ini. Lanjutkan saja tugas kuliahmu."
Bayu menahan napas sejenak, berusaha menyembunyikan rasa cemas yang berkecamuk di dadanya. Ia tahu betul harga obat resep dokter spesialis paru-paru itu tidak murah untuk ukuran kantongnya. "Tenang saja, Bu. Besok Bayu belikan lagi. Bayu baru saja menyelesaikan proyek perbaikan sistem dari klien freelance."
"Uang dari mana lagi, Nak? Kamu jangan terlalu memeras tenagamu. Kamu itu mahasiswa, harus fokus belajar," tutur Ibu sembari mengelus lengan Bayu yang tertutup jaket lusuh. "Ibu merasa jadi beban untukmu."
"Ibu jangan bicara begitu," potong Bayu cepat namun tetap bernada halus. "Bayu bisa kuliah dan bertahan sampai hari ini juga karena Ibu. Bayu janji, kondisi kita tidak akan terus-menerus seperti ini."
Bayu membantu ibunya kembali berbaring dan menyelimutinya hingga dada. Setelah memastikan napas ibunya kembali teratur, ia kembali duduk di depan laptop tua yang mesinnya terdengar mendengung kencang. Ia mengusap wajahnya yang lelah, merapikan kacamata berbingkai hitam tebal yang menyembunyikan ketajaman matanya.
Ponsel Android murah milik Bayu di samping laptop bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk dari aplikasi pesan singkat. Namanya tertera jelas, Dimas.
“Bay, tugas logika algoritma untuk besok pagi sudah kelar belum? Punya gue masih nge-bug di baris 40-an nih.”
Bayu mengetik balasan dengan cepat. “Sudah. Kirimkan saja kodemu, nanti aku bantu koreksi bagian yang error.”
Tidak sampai satu menit, dokumen kode terkirim. Bayu membukanya, meneliti baris demi baris hanya dalam hitungan detik, lalu menemukan letak kekeliruannya. Ia segera mengetik penjelasan detailnya.
Ponselnya kembali bergetar. Kali ini panggilan telepon dari Dimas. Bayu segera mengangkatnya dan berbicara dengan suara sepelan mungkin agar tidak membangunkan ibunya.
"Halo, Dim?"
"Gila, Bay! Cuma butuh sepuluh detik buat lu ngerjain error yang bikin gue pusing seharian?" suara Dimas terdengar kagum dari balik telepon. "Lu itu beneran jenius, tahu gak? Harusnya dosen-dosen di kampus yang belajar sama lu."
Bayu tersenyum tipis. "Cuma salah penempatan variabel eksternal saja, Dim. Logika kamu sudah betul."
"Tetap saja, Bay. Oh iya, gimana kondisi Tante malam ini? Sudah ada kemajuan?" tanya Dimas dengan nada yang berubah menjadi perhatian.
Bayu menghela napas panjang, menatap bayangan ibunya dari jauh. "Obat utamanya habis. Besok pagi aku harus cari cara buat menebus resep baru di apotek."
"Bay, gue ada tabungan sisa uang saku bulan ini. Besok pas di kampus, lu pakai dulu uang gue ya," tawar Dimas tanpa ragu.
"Tidak usah, Dim. Kamu sudah terlalu sering bantu aku. Aku tidak mau makin merepotkan kamu," tolak Bayu secara halus.
"Astaga, Bayu! Kita ini sahabat dari awal masuk kuliah. Kenapa sih lu selalu sungkan? Gue tahu kondisi lu lagi berat banget," desak Dimas. "Tante itu butuh obatnya segera."
"Aku tahu, Dim. Tapi aku masih punya simpanan kecil dari hasil slicing HTML minggu lalu. Kalau memang kurang, baru aku pinjam ke kamu. Terima kasih banyak ya, Dim."
Dimas terdengar menghela napas di ujung telepon. "Ya sudah kalau mau lu kaya begitu. Tapi ingat, kalau ada apa-apa, lu harus cerita sama gue. Jangan ditanggung sendiri semuanya."
"Iya, Dim. Terima kasih. Sampai ketemu besok pagi di kampus."
"Sip. Jangan tidur kemalaman, Bay."
Sambungan telepon terputus. Bayu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi plastik yang berderit. Ia membuka dompet kainnya yang kumal, menghitung lembaran uang kertas yang tersisa. Totalnya hanya ada delapan puluh ribu rupiah, jauh dari cukup untuk membeli resep obat seharga lima ratus ribu rupiah.
Ia menatap layar monitornya kembali. Di sana, sebuah jendela compiler menampilkan baris-baris kode algoritma kecerdasan buatan yang sedang ia kembangkan sendiri secara mandiri. Sebuah proyek eksperimental pribadi yang berawal dari keisengannya mencoba mengoptimalkan kinerja memori pada ponsel Android kelas bawah.
"Kalau saja aku punya akses ke server yang lebih cepat..." gumam Bayu pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba, ibunya berdeham pelan di pembaringan, membuat Bayu mengalihkan perhatiannya seketika.
"Bayu..." panggil ibunya lirih.
Bayu berdiri dan menghampiri ibunya lagi. "Iya, Bu? Ada yang sakit?"
"Dada Ibu... terasa agak sesak," bisik Ibu sambil memegang dadanya dengan tangan yang gemetar.
Bayu segera mengambil minyak kayu putih dan mengusapkannya perlahan di punggung serta dada ibunya. "Tahan sebentar ya, Bu. Tarik napas pelan-pelan lewat hidung, hembuskan lewat mulut."
Ibunya mengikuti petunjuk Bayu secara perlahan hingga napasnya sedikit lebih stabil. "Maafkan Ibu ya, Bayu... karena sakit-sakitan begini, kamu jadi tidak bisa menikmati masa mudamu seperti anak-anak lain."
Bayu menggelengkan kepala dengan tegas. "Jangan pernah bicara begitu lagi, Bu. Kebahagiaan Bayu itu kalau melihat Ibu sembuh. Bayu tidak butuh hal lain."
"Tapi Ibu tahu, di kampus kamu pasti sering kesulitan. Pakaianmu cuma ini-ini saja, sepatu kamu juga sudah berlubang di bagian depannya," mata Ibu berkaca-kaca menatap sepatu kain hitam milik Bayu yang bersandar di dekat pintu.
"Sepatu ini masih sangat layak pakai, Bu. Yang penting fungsinya, bukan penampilannya," jawab Bayu tenang sambil tersenyum hangat untuk menenangkan hati ibunya. "Fokus Ibu sekarang cuma satu, istirahat dan sembuh."
"Terima kasih, Nak... Kamu anak yang sangat baik," bisik Ibu pelan sebelum akhirnya memejamkan mata kembali, mencoba untuk tidur.
Bayu mematikan lampu utama kamar dan menyalakan lampu meja yang lebih redup. Ia kembali duduk di depan laptopnya, menatap baris demi baris kode yang terus berjalan secara otomatis. Di tengah himpitan kemiskinan, rasa lelah yang menumpuk, dan beban merawat ibunya yang sakit keras, otak jeniusnya tetap bekerja tanpa henti. Bayu tahu betul, hanya lewat penguasaan teknologi dan logika inilah satu-satunya jalan bagi dirinya untuk keluar dari kegelapan hidup yang sedang mengurungnya.