Dua tahun lamanya Arya jadi suami yang diinjak dan diremehkan. Ketika istrinya, aktris papan atas **Bella**, berpaling ke cinta lamanya, Arya rela pergi tanpa sepeser pun—tapi begitu surat cerai diteken, "si kodok buangan" itu berbalik jadi pewaris rahasia **Grup Adiwangsa**, dan diam-diam adalah **Tuan Besar**, otak di balik sindikat yang paling ditakuti di Surabaya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan **Anindya**—CEO cantik berhati es yang justru jadi orang pertama yang membelanya di depan umum: *"Berani sentuh suamiku sekali lagi, kurobek kau!"*—Arya mulai membalas satu per satu orang yang pernah menginjaknya. Dari tamparan balik di pesta ulang tahun, perang media sosial, duel bisnis melawan konglomerat, sampai sindikat bertopeng **Sindikat Trisula** dan klub rahasia para taipan **Istana Merah**—setiap kali Arya naik satu tingkat, satu misteri lama makin dekat: *siapa yang membunuh ibunya, sang ilmuwan jenius, sepuluh tahun lalu?*
Semakin dalam ia menggali, semakin banyak topeng yang jatuh. Sampai semua petunjuk—sebuah jempol kaki yang hilang, sebuah foto di balik bingkai—menuntun pada satu nama yang paling tak ingin ia percayai... orang yang selama ini memanggilnya "cucu".
Mereka pikir dia cuma kodok. **Mereka salah besar.**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26: Luka yang Tak Boleh Disentuh
Pada akhir bulan, seluruh cabang Adiwangsa kembali berkumpul di Puri untuk jamuan keluarga.
Arya datang bersama Anindya. Bekas tamparan di pipinya sudah hilang, Kijang tua masih berada di bengkel, dan sedan keluarga kini menjadi kendaraan sementara. Di depan pintu, beberapa kerabat menilai perubahan itu sebagai bukti bahwa anak buangan akhirnya menikmati uang Wisnu.
"Dulu datang dengan mobil rongsok," kata putra Ratri saat mereka duduk. "Sekarang sudah belajar jadi orang kaya."
Arya menuang air. "Saya belajar memakai mobil yang mesinnya hidup."
"Mudah kalau semua dibayar keluarga."
Anindya meletakkan sendok. "Mobil itu digunakan untuk urusan PE dan biaya operasionalnya tercatat."
"Bu Anindya cepat sekali membela. Kami hanya bercanda."
"Kalau begitu cari lelucon yang lebih pintar."
Meja menjadi sunyi sesaat. Arya melirik istrinya, tetapi Anindya tetap menatap piring.
Ratri tersenyum. "Anak muda memang sensitif. Kami hanya heran, seseorang yang baru masuk keluarga mendapat perlakuan seolah pewaris. Padahal status hukumnya sendiri masih diproses."
Kata yang tak ia ucapkan menggantung jelas: anak di luar nikah.
Seorang kerabat lain lebih berani. "Dari anak haram jadi orang kaya baru. Nasib bisa berubah cepat kalau Eyang berhati lunak."
Wisnu menaruh gelas. Damar yang duduk di seberang juga mengangkat mata.
Arya justru tersenyum. Ia telah minum dua gelas anggur, cukup untuk memberi alasan bila kata-katanya dianggap terlalu lurus. Tidak cukup untuk menghilangkan kendali.
"Kalian benar," katanya. "Saya tidak dibesarkan di rumah ini. Saya juga tidak punya riwayat puluhan tahun di perusahaan keluarga."
Ratri bersandar, mengira ia akan mundur.
"Tapi saya pulang bukan untuk menjadi pajangan," lanjut Arya. "Apa pun hak yang sah menurut pengakuan anak, wasiat, dan suara RUPS, akan saya perjuangkan secara terbuka. Bukan lewat gosip makan malam. Bukan lewat pintu belakang."
Suara alat makan berhenti.
"Saya tidak meminta bagian orang lain," katanya. "Namun apa yang menjadi hak saya, akan saya ambil dengan kepala tegak."
Eyang Hardiman menatapnya dari ujung meja. Wajah tua itu tak lagi ramah.
"Kau baru kembali beberapa minggu dan sudah bicara soal hak waris?"
"Saya bicara agar tidak ada yang mengira diam berarti takut."
"Kau tidak tahu setinggi apa langit keluarga ini."
"Kalau begitu biarkan saya melihat sendiri."
Wisnu hendak menyela, tetapi Eyang mengangkat tangan.
"Sombong," katanya. "Darah saja tidak cukup membuat seseorang pantas."
Arya mengangkat gelas. "Saya setuju. Karena itu saya tidak akan meminta penilaian berdasarkan darah saja."
Ketegangan menyebar sampai kursi paling belakang. Ratri menyembunyikan kepuasan; Arya baru saja menantang Eyang di depan semua orang. Damar tidak tersenyum. Ia melihat sesuatu yang lain: Arya menggunakan hinaan keluarga untuk memaksa aturan permainan dinyatakan terbuka.
Sasa yang duduk dekat Wisnu menatap orang dewasa bergantian. "Kenapa semua marah?"
Anindya mengulurkan semangkuk puding kepadanya. "Tidak ada yang marah, Dik. Orang dewasa sedang bicara terlalu keras."
Kalimat anak itu memecah ketegangan. Eyang memerintahkan jamuan dilanjutkan, tetapi tak ada percakapan yang benar-benar santai setelahnya.
Menjelang tengah malam, Anindya membantu Arya kembali ke sayap tamu. Langkah Arya masih stabil, hanya sedikit lebih lambat akibat anggur.
"Anda sengaja minum agar bisa mengatakan itu," ujar Anindya.
"Saya sengaja mengatakan itu. Minum hanya memberi mereka alasan untuk meremehkan lagi besok."
"Eyang benar-benar marah."
"Bagus. Orang menunjukkan batas saat marah."
"Suatu hari permainan Anda akan melukai diri sendiri."
Arya membuka pintu kamar. "Hari ini belum."
Di meja samping terdapat nampan buah yang disiapkan staf, lengkap dengan pisau kecil. Arya melepas jas. Anindya mengambilnya dan meletakkan di kursi.
"Terima kasih," kata Arya.
"Untuk apa?"
"Di meja tadi. Kamu tidak perlu membela saya."
"Mereka menyerang keputusan operasional PE."
"Tentu. Selalu karena perusahaan."
Anindya berbalik untuk pergi. Anggur membuat kehati-hatian Arya terlambat setengah detik. Ia membuka kedua tangan dan bergerak seolah hendak memeluk singkat, gerakan spontan untuk mengucapkan terima kasih, bukan memaksa.
Ia tidak sempat menyentuh penuh.
Anindya membeku.
Napasnya putus. Mata melebar, tetapi tidak melihat kamar. Tubuhnya mundur keras sampai pinggang menghantam meja. Nampan buah bergeser.
"Nindya?"
Arya segera menurunkan tangan.
"Jangan..."
Suara Anindya berubah menjadi bisikan yang nyaris tak terdengar. Kedua tangannya gemetar. Ketika Arya mundur untuk memberi ruang, gerakan itu justru membuat bayangan masa lalu yang tak terlihat semakin dekat di matanya.
Tangannya meraih benda pertama di meja.
Pisau buah.
Arya melihat kilatan logam. Ia bisa menghindar, tetapi gerakan mendadak mungkin membuat Anindya makin panik. Ia mengangkat lengan untuk melindungi dada.
Ujung pisau menggores lengan bawahnya.
Darah muncul sepanjang beberapa sentimeter.
Anindya tersentak. Pisau jatuh ke karpet.
"Aku..."
Arya menekan luka dengan saputangan. Rasa perihnya ringan. Ketakutan di wajah Anindya jauh lebih serius.
"Tidak apa-apa," katanya.
"Aku melukaimu."
"Lukanya dangkal."
Anindya menempel ke tepi meja, masih sulit bernapas. "Jangan mendekat."
Arya langsung mundur sampai pintu. "Baik. Saya tidak mendekat."
Ia tidak bertanya siapa yang pernah menyentuhnya. Tidak bertanya mengapa pelukan sederhana berubah menjadi ancaman dalam pikirannya. Pertanyaan pada saat itu hanya akan memaksa Anindya kembali ke tempat yang sedang ia coba tinggalkan.
Arya membuka pintu dan memanggil kepala rumah tangga perempuan yang berjaga di koridor.
"Tolong temani Bu Anindya. Jangan sentuh sebelum meminta izin. Hubungi dokter keluarga bila napasnya tidak membaik."
"Lengan Den Arya berdarah."
"Kotak pertolongan pertama di mana?"
"Saya panggil perawat."
"Setelah ada orang menemani dia."
Anindya menatap darah yang menetes ke saputangan putih. Kesadarannya telah kembali, membawa rasa bersalah yang menghantam lebih keras daripada panik.
"Arya, tunggu."
Arya berhenti, tetapi tidak berbalik mendekat.
"Saya akan tidur di bangunan penerima," katanya. "Kamu aman di sini. Pintu bisa dikunci dari dalam."
"Aku bukan bermaksud..."
"Saya tahu."
Ia keluar. Kepala rumah tangga masuk perlahan setelah meminta izin. Pintu tetap terbuka beberapa detik agar Anindya tidak merasa terkurung, lalu ditutup atas permintaannya sendiri.
Di kamar lain, perawat membersihkan luka Arya dan memasang enam jahitan kecil. Tidak ada tendon yang terkena. Ia menolak obat penenang, hanya menerima pereda nyeri dan instruksi menjaga perban tetap kering.
Sementara itu, Anindya duduk di lantai dekat ranjang. Pisau buah telah diambil staf. Kedua tangannya masih gemetar di atas lutut.
Ia memandang noda darah kecil di karpet.
"Maaf," bisiknya kepada kamar yang kosong. "Aku tidak sengaja."
Namun ketakutan dalam suaranya bukan ditujukan kepada Arya.
Ketakutan itu datang dari luka lama yang bahkan belum sanggup ia sebutkan sendiri kepada siapa pun sampai malam itu.