"Selama ini Mama sendirian, Papa. Kai sering melihat Mama menangis... Kalau Kai di sini terus bersama Papa, siapa yang memeluk Mama?"
....
Demi melindungi keluarganya dari ancaman mertua yang kejam, Bening Azalea (29) memilih bungkam. Ia merelakan dirinya difitnah berselingkuh dan pergi membawa rahasia besar, janin berusia satu bulan di rahimnya.
Tujuh tahun berlalu, Bening berjuang mati-matian membesarkan putranya, Kaivandra Saputra, dalam kesederhanaan. Namun takdir kembali mempertemukannya dengan Gibran Aditama (33), sang mantan suami yang kini menjadi CEO sukses.
Tahu keberadaan cucunya, sang mantan mertua dengan culas menggunakan kekuasaan untuk merebut hak asuh Kai. Gibran yang awalnya dipenuhi kebencian, mulai terenyuh oleh keteguhan Bening dan kepolosan putra kecilnya.
Perlahan, kejujuran Kai meruntuhkan ego Gibran, membuka mata sang CEO bahwa ada kebenaran dan kebohongan besar yang tersimpan rapi di masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 #Perang dingin
Ketegangan pekat yang menyelimuti kamar rawat bernuansa putih itu mendadak berada di titik didih. Kehadiran Dokter Arfan yang tiba-tiba melenyapkan keheningan intim yang baru saja terbangun di antara Gibran dan Bening.
"Saya baik-baik saja kok, Mas Arfan... hanya sedikit kelelahan," sahut Bening cepat dengan nada seramah dan setenang mungkin, berusaha menutupi kecanggungan luar biasa yang merayapi dadanya.
Mendengar jawaban Bening, Arfan menghembuskan napas lega. Pria berjas putih itu melangkah kian mendekat ke tepi ranjang, sama sekali tidak memedulikan keberadaan Gibran yang berdiri tegap di sana, menatapnya dengan raut wajah kaku dan iris mata yang memancarkan pendar perang yang teramat dingin.
"Syukurlah kalau begitu..." ujar Arfan, menyatukan kedua tangannya di depan dada. Tatapannya dipenuhi kehangatan dan rasa cemas yang tak ditutup-tutupi. "Tapi apa kamu benar-benar sudah baikan? Mungkin masih ada bagian yang terasa pusing atau sakit? Katakan saja padaku, Bening."
"Hei, Dokter..."
Suara bariton yang amat dingin menembus percakapan mereka. Gibran mengambil satu langkah maju, mengikis jarak hingga posisinya sejajar dengan Arfan. Postur tubuh sang CEO yang tinggi berwibawa menyebarkan tekanan dominan yang intimidatif.
"Saya rasa... sikap Anda malam-malam begini sudah terlalu berlebihan terhadap seorang pasien," sela Gibran penuh tekanan, setiap suku katanya sarat akan kepemilikan yang tak bersahabat.
Arfan menghentikan perhatiannya pada Bening, memutar tubuhnya sedikit untuk membalas tatapan tajam Gibran tanpa rasa gentar sedikit pun.
"Bening itu memang pasien saya, Pak Gibran. Dan bukan cuma itu... dia juga orang terdekat saya," jawab Arfan santai namun menohok. "Jadi sangat wajar kalau saya merasa khawatir saat mengetahui dia dirawat di sini."
Gibran bersedekap dada, sudut bibirnya terangkat membentuk sunggingan remeh yang sangat tajam. "Itu tetap berlebihan. Lakukan saja tugas Anda sesuai batasan antara pasien dan dokter... Saya rasa itu sudah lebih dari cukup."
"Kenapa Anda yang harus marah, Pak Gibran?" potong Arfan cepat, matanya menyipit menantang. "Atas hak apa Anda melarang saya untuk memberikan perhatian pada Bening? Bukankah Anda dan Bening hanyalah mantan? Sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi di antara kalian berdua."
Deg.
Kata 'mantan' yang diucapkan Arfan meluncur bagai bahan peledak yang langsung menyulut amarah di dada Gibran.
"Ahaha.."
Gibran tertawa sinis, sebuah tawa singkat yang terdengar berbahaya dan mengerikan di tengah keheningan malam. Pria itu memiringkan kepalanya sedikit, menatap Arfan bagai seekor pemangsa yang siap menerkam.
"Lalu... apa hubunganmu sendiri dengan Bening, hm?" tembak Gibran tajam.
Arfan tertegun sejenak.
"Asal kamu tahu, Dokter..." lanjut Gibran dengan suara rendah namun menggelegar penuh ketegasan, "Aku akan rujuk dengan Bening. Jadi, lebih baik kamu jangan terlalu percaya diri mengatakan bahwa hubunganmu begitu dekat dengan wanita yang merupakan ibu dari anakku!"
Tanpa ragu dan tanpa memberi kesempatan untuk membantah, Gibran mengulurkan lengannya yang tegap, merengkuh pundak Bening dan menarik tubuh lemas wanita itu mendekat ke dalam dekapannya, tepat di depan mata Arfan!
Tindakan posesif Gibran sukses membuat Arfan membelalak tak percaya. Dadanya bergemuruh hebat, merasa terpukul oleh klaim tegas yang baru saja didengarnya.
Arfan mengalihkan pandangannya pada Bening, menatap wanita itu dengan binar kecewa dan pendar bertanya yang mendalam. "Benarkah... benarkah seperti itu, Bening? Kamu akan menikah lagi dengannya?"
Bening yang mendadak berada di tengah kubangan perang dingin dua pria itu merasakan dadanya dihantam kepanikan luar biasa. Sentuhan hangat tangan Gibran di pundaknya terasa membakar, namun ia sadar situasi ini sama sekali tidak boleh dibiarkan makin melenceng.
Dengan sisa tenaga dan napas yang bergetar, Bening menggerakkan tangannya, melepaskan cengkeraman tangan Gibran dari pundaknya secara perlahan tapi tegas.
"Itu... itu cuma permintaan Kai, Mas Arfan..." bisik Bening lirih, suaranya sarat akan keletihan fisik dan emosional.
Bening menatap kedua pria yang masih saling lempar tatapan membunuh itu dengan pandangan memohon.
"Tolong... kalian jangan berdebat di sini," pangkas Bening menghentikan bentrokan ego mereka. Ia menatap Arfan terlebih dahulu. "Mas Arfan... terima kasih atas perhatiannya, tapi kembalilah pada pekerjaanmu. Aku harus istirahat sekarang."
Lalu, Bening memalingkan wajahnya menatap Gibran dengan raut kaku yang tak kalah dingin. "Dan Mas Gibran... kamu juga pulanglah."
Arfan menelan ludah, berusaha mengendalikan gejolak emosi di dalam dadanya. Rasa bersalah berdesir pelan saat melihat raut wajah Bening yang makin pucat dan dipenuhi beban.
"Maafkan saya, Bening..." bisik Arfan dengan suara rendah yang sarat akan rasa penyesalan. "Saya benar-benar tidak bermaksud untuk mengganggu ketenangan dan waktu istirahatmu. Kalau begitu... saya keluar dulu."
Arfan mengangguk tipis penuh kesopanan pada Bening, lalu mengundurkan diri melangkah keluar dari kamar rawat. Saat melewati posisi Gibran, Arfan sempat melemparkan pandangan tajam, seseorang pria yang enggan menyerah begitu saja sebelum akhirnya pintu itu tertutup rapat.
Suasana ruangan kembali hening dan kaku. Bening memijit pelipisnya yang mendadak kembali berdenyut pening, lalu menoleh menatap pria tinggi yang masih berdiri mematung di samping ranjangnya.
"Kenapa masih di sini, Mas?" cicit Bening dengan suara serak yang begitu lelah. "Pergilah... aku mohon, pulanglah."
Gibran menatap Bening lurus-lurus, raut wajahnya kembali mengeras dingin tanpa ada niat untuk mengalah sedikit pun. "Sudah aku katakan... aku akan tetap di sini, Bening."
Bening mengembuskan napas panjang. Ia sadar betul betapa keras kepalanya seorang Gibran Aditama jika sudah memiliki keinginan. Melawannya saat fisik sedang ambruk seperti ini hanya akan membuang-buang energi.
Bening akhirnya memilih pasrah. Ia menarik selimut putih rumah sakit hingga sebatas dada, memiringkan tubuhnya membelakangi Gibran, lalu memaksa memejamkan matanya rapat-rapat, meski ia tahu kepalanya terlalu riuh untuk bisa tertidur lelap.
Melihat Bening yang akhirnya menyerah, Gibran melangkah pelan menuju sofa empuk di sudut ruangan. Pria itu menyandarkan punggungnya, melipat kedua tangan di dada, dan menatap punggung Bening. Tak ada sedikit pun niat dalam benaknya untuk melangkahkan kaki keluar dari ruangan itu malam ini.
***
Jarum jam dinding telah menunjukkan pukul dua belas lewat tengah malam.
Di saat sebagian besar orang sudah tertidur lelap, suasana mencekam justru menyelimuti kediaman megah Aditama. Di dalam ruang kerja pribadinya yang luas bertembok kayu jati mahal, Wira Aditama masih terjaga. Pria paruh baya berkuasa itu duduk di kursi kebesarannya dengan rahang mengerat kaku dan garis wajah yang mengeras kejam.
Di hadapannya, Bambang, orang kepercayaan sekaligus asisten pribadinya berdiri kaku dengan kepala sedikit tertunduk setelah baru saja menyampaikan kabar yang amat tidak menyenangkan.
"Jadi..." suara berat Wira terdengar membekukan udara di dalam ruangan. "...Gibran berhasil menemukan jejak keberadaan Heru? Dan dia mulai curiga bahwa Heru hanyalah pria bayaran yang aku sewa untuk menjebak wanita miskin itu?!"
"Benar, Pak Wira," sahut Bambang penuh kehati-hatian. "Tim penyidik rahasia Pak Gibran sudah berhasil melacak keberadaan Heru di daerah Kalimantan. Jika kita tidak bertindak cepat, Pak Gibran akan segera menerbangkan pria itu kembali ke Jakarta untuk membocorkan segalanya."
BRAK!
Wira memukul permukaan meja kerjanya yang dilapisi kaca tebal. Urat-urat di lehernya menegang menahan amarah yang meledak-ledak.
"Sialan!" geram Wira dengan tatapan mata yang memancarkan pendar kejam. "Pastikan Heru tidak akan pernah membuka mulutnya soal aku! Jangan biarkan nama Aditama terseret sebagai dalang di balik semua skenario perselingkuhan murahan tujuh tahun lalu itu!"
Wira menatap Bambang dengan sorot mata membunuh yang tak bertoleransi.
"Kirim orang-orang terbaikmu ke Kalimantan malam ini juga!" perintah Wira dingin, setiap kata yang keluar dari bibirnya sarat akan ancaman mematikan. "Kalau perlu... lenyapkan Heru sebelum Gibran berhasil menemuinya! Buat seolah-olah itu kecelakaan murni!"
Bambang mengangguk patuh tanpa banyak tanya. "Baik, Pak Wira. Saya akan segera mengurusnya."
Asisten itu membungkuk hormat, lalu berbalik dan melangkah keluar dari ruang kerja, meninggalkan Wira seorang diri di tengah keheningan malam yang pekat.
Wira menyandarkan punggungnya di kursi kulit mahal, menyatukan jemarinya di atas meja. Pikiran-pikiran busuk dan licik berputar liar di dalam kepalanya. Tatapan matanya lurus menatap kegelapan di balik jendela kaca besar.
"Aku sungguh menyesal..." gumam Wira lirih dengan senyuman sinis yang teramat kejam di bibirnya. "...kenapa dulu aku tidak menyuruh Heru untuk benar-benar mengotori wanita miskin itu secara nyata? Kenapa dulu aku hanya menyuruhnya berpura-pura di atas ranjang?"
Wira meremas pegangan kursinya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Jika dulu Heru benar-benar menyentuhnya... setidaknya sekarang aku tidak perlu repot-repot menyusun rencana keji yang baru hanya untuk menjauhkan Gibran dari wanita itu lagi!"
bening juga bodoh, percaya sekali sama Arfan, padahal hatinya iri dan dengki