kisah seorang anak yang bernama Nina yang tinggal di desa dan bertahun-tahun di tinggal ayahnya, kemudian saat beranjak dewasa , ia di ambil kembali dan di paksa menikah untuk menggantikan saudara tirinya dengan laki-laki kejam seperti serigala.
yuk.. ikuti kisahnya... , akankah Nina bisa bertahan hidup di sarang serigala yang isinya manusia kejam berhati iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Keesokan harinya, Faris melangkah ragu menyusuri koridor megah berkaca gelap menuju ruang kerja utama Jafar. Hawa dingin dari pendingin udara terasa makin menggigit, seirama dengan ketegangan yang merayapi tengkuknya.
Di balik meja kayu jati berukuran besar, sosok itu duduk tenang. Jafar tak pernah memperlihatkan wajah utuhnya kepada siapa pun. Sebuah masker kain hitam selalu menutupi separuh parasnya dari hidung hingga dagu. Namun, separuh wajah yang terlihat justru memancarkan intimidasi yang mengerikan. Alisnya hitam tebal, dibingkai oleh bulu mata lentik yang menaungi sepasang mata tajam, mata yang dingin, tanpa kilat emosi, seolah mampu membaca titik terlemah setiap manusia yang berdiri di hadapannya.
Faris meremas jemarinya yang mendadak dingin, berusaha mengatur napas sebelum membuka suara.
"T-Tuan Jafar..." suara Faris bergetar halus, kehilangan seluruh keangkuhan yang biasa ia pamerkan di rumah. "Mengenai sisa tenggang pembayaran utang perusahaan saya... Saya tahu waktu saya sudah mendesak."
Jafar tidak bergeming. Ia hanya menyandarkan punggungnya pada kursi kulit, menatap Faris dalam keheningan yang menyiksa. Pandangan mata itu sudah cukup untuk membuat Faris makin berkeringat dingin.
"Saya ingin mengajukan penawaran lain, Tuan," lanjut Faris terbata-bata, terdesak oleh ancaman kebangkrutan. "Saya memiliki seorang putri. Jika Tuan berkenan, saya siap menyerahkannya untuk... menjadi pendamping Tuan, sebagai imbalan pembebasan utang-utang saya."
Sebuah dengusan dingin terdengar pelan dari balik masker hitam Jafar. Sorot matanya berubah makin tajam, memancarkan rasa jijik yang tak ditutupi.
"Putrimu?" suara Jafar terdengar berat dan datar, bergema pelan di ruangan yang luas itu. "Maksudmu gadis yang setiap hari memamerkan tubuhnya di tempat umum dengan pakaian mini itu? Hazel, bukan?"
Jafar memajukan tubuhnya sedikit, tatapannya menghujam tepat di manik mata Faris.
"Membayangkan sosoknya saja sudah membuat saya mual. Kamu datang ke sini hanya untuk menawarkan sampah seperti itu padaku, Faris?"
Tubuh Faris gemetar hebat mendengar penghinaan terang-terangan itu. Namun, rasa takut akan kemiskinan membakar sisa keberaniannya untuk bertahan.
"B-bukan Hazel, Tuan! Bukan dia!" sela Faris cepat, menggelengkan kepala dengan panik. "Saya punya satu putri lagi! Dia anak kandung saya yang selama ini tinggal di desa... Nama gadis itu Nina."
Jafar tidak memotong, namun alis tebalnya bertaut tipis di balik masker.
"Nina berbeda, Tuan. Sangat berbeda," Faris terus meyakinkan dengan nada memohon. "Dia gadis yang sangat lugu, penurut, dan selalu berpakaian tertutup dengan hijabnya. Dia tidak pernah tersentuh oleh kehidupan luar. Saya baru saja membawanya ke kota."
Kata berpakaian tertutup dan lugu yang terlontar dari mulut Faris menggantung di udara. Untuk pertama kalinya, ada kilat asing yang melintas di sepasang mata dingin milik Jafar. Rasa benci dan rasa jijiknya pada wanita adalah benteng kokoh yang dibentuk oleh pengkhianatan masa lalu ibunya, tetapi gambaran tentang seorang gadis desa yang tertutup dan penurut mendadak menyenggol rasa penasarannya.
Jafar penasaran melihat sejauh mana kepolosan itu bisa bertahan, atau apakah itu hanya topeng lain dari seorang wanita.
"Gadis desa berpakaian tertutup..." gumam Jafar sangat pelan di balik maskernya.
Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap Faris yang menanti keputusannya dengan napas tertahan. Keheningan kembali menguasai ruangan itu selama beberapa saat yang terasa begitu menyiksa.
______
Di ruang tengah yang sepi, Anggun menarik lengan Hazel secara tiba-tiba sebelum putrinya itu sempat melangkah keluar rumah. Wajah Anggun terlihat sangat serius, bahkan ada sedikit kecemasan yang terpancar dari balik tatapan tajamnya.
"Hazel, dengarkan Mama baik-baik," bisik Anggun dengan suara ditekan serendah mungkin. "Mulai hari ini, stop ganggu dan ejek si Nina. Mau di rumah atau di kampus, jangan cari masalah sama dia!"
Hazel memutar matanya malas, menghentakkan kaki dengan kesal. "Kenapa sih, Ma? Kenapa Hazel harus ngalah sama anak udik itu? Bikin gedek tahu nggak!"
"Pakai otakmu, Hazel!" semprot Anggun dengan bisikan tegas. "Ayahmu sedang mengurus hal besar dengan Tuan Jafar demi menyelamatkan bisnis keluarga ini. Selugu-lugunya gadis desa, kalau dia terus-terusan kamu sudutkan dan ditekan, dia pasti bakal nangis dan milih kabur kembali ke desanya! Kalau dia kabur, rencana kita hancur, dan kita bakal jatuh miskin! Kamu mau?"
"Apa kamu mau yang menjadi tawanan Jafar?"
Hazel bungkam seketika. Mencebikkan bibir, ia akhirnya mengangguk terpaksa meski dadanya makin bergemuruh menahan kekesalan pada adik tirinya itu.
" Cih... laki-laki kejam seperti itu, bahkan wajahnya yang buruk saja tidak pernah di tampakkan ke publik, bisa-bisa setiap hari aku di cabik-cabik oleh serigala itu".
"beruntung Fariz bisa membawa putrinya ke sini, setidaknya, dia bisa menggantikanmu" anggun kini bisa bernapas dengan lega, setidaknya ia tidak harus mengorbankan putri kandungnya dari kekejaman jafar.
Sementara itu, ancaman sesungguhnya bagi Nina justru datang dari arah yang tak terduga. Perhatian Hadin belakangan ini terasa kian gila dan makin berani. Pria itu memanfaatkan predikatnya sebagai kakak tiri yang baik untuk terus menempel dan mendekati Nina setiap ada kesempatan.
Sore itu, suasana lorong lantai dua rumah sedang sepi. Nina baru saja selesai sholat ashar , mukena atasannya masih ia pakai untuk menutupi rambutnya, Nina berniat ingin mengambil minum di dapur, Tiba-tiba, sosok Hadin sudah berdiri menghadang jalannya di dekat tangga.
"Selesai Sholat, Nina?" tanya Hadin dengan suara berat dan senyum ramah buatan yang terasa begitu pekat akan intrik.
"I-iya, Kak Hadin..." jawab Nina pelan, langsung menundukkan kepala dan berniat berjalan melewati pria itu.
Namun, Hadin tidak bergeser sedikit pun. Malah sebaliknya, ia memotong jarak, melangkah sangat dekat hingga aroma parfumnya menusuk hidung Nina. Sebelum Nina sempat mundur, tangan Hadin terangkat, mendarat di punggung Nina dan mengelusnya perlahan, sebuah sentuhan yang sudah benar-benar melewati batas.
Bulu kuduk Nina meremang seketika. Rasa jijik yang teramat sangat menjalar cepat ke seluruh tubuhnya. Di dalam hatinya, ajaran keras Paman Juan dan ingatan latihan bela dirinya berteriak untuk langsung memelintir pergelangan tangan Hadin hingga patah. Namun, Nina dengan cepat mengendalikan emosi dan reflek bertarungnya.
Dengan gerakan penuh kehati-hatian yang dibungkus kepura-puraan canggung, Nina menggeser tubuhnya menyamping, menepis pelan tangan Hadin agar terlepas dari punggungnya.
"M-maaf, Kak Hadin..." bisik Nina dengan suara gemetar, menunduk kian dalam sembari merapatkan kedua tangannya di depan dada. "Tolong jangan menyentuh Nina seperti itu..."
Hadin menaikkan sebelah alisnya, terkekeh tipis seolah tak merasa bersalah sama sekali. "Lho, kenapa? Kakak cuma mau perhatian sama adiknya sendiri."
"Kita... kita bukan saudara kandung, Kak. Tidak ada hubungan darah sama sekali," tegas Nina pelan namun mengandung penolakan yang kuat, mengutip batas hukum agamanya dengan raut wajah polos ketakutan. "Dalam agama Nina, kita ini bukan mahram. Tidak boleh bersentuhan..."
Hadin menatap jemari Nina yang gemetar di depan dada, lalu tertawa pelan, sebuah tawa yang menyembunyikan hasrat liar di kepalanya. Di mata Hadin, penolakan halus dan sikap santun Nina bukannya membuat pria itu mundur, melainkan justru makin membakar rasa penasarannya untuk menaklukkan gadis desa tersebut.
"Begitu, ya?" gumam Hadin dengan senyum penuh arti, melangkah mundur satu tapak memberikan jalan. "Maaf kalau begitu, Nina. Kakak cuma lupa."
Nina segera berjalan cepat melewati Hadin tanpa menoleh lagi. Ia tidak jadi ke dapur karena sudah malas , Pintu kamar langsung ia kunci rapat dari dalam. Begitu sendirian, raut ketakutan di wajah Nina runtuh seketika. Ia mengusap punggungnya dengan jijik, lalu menatap pantulan dirinya di cermin dengan mata membara.
"Sekali lagi tangan kotor itu menyentuhku", batin Nina dingin, "aku pastikan dia tidak akan pernah bisa menggunakannya lagi."
sungguh terlalu kamu Faris
gantung banget cerita nya Thorrrr
next 💪💪🥰🥰