Meski telah 10 tahun saling mengenal dan sempat hidup bersama dalam pernikahan, nyatanya Rastadira dan Farhan harus menyerah pada takdir perpisahan. Berbagai kemelut hadir sejak ia memutuskan pergi dari kehidupan Farhan dan keluarga. Namun, siapa yang menyangka banyaknya kemelut malah mengantarkannya pada kisah yang lebih hangat dan nyaris sempurna? Sanggupkah ia beralih rasa tanpa ada bayangan masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pandutmia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sadar dan Kecewa
Aku memutuskan pulang ke Jombang sore ini. Meski batal naik kereta api, tapi jarak Surabaya-Jombang tidaklah seberapa jauh. Setelah merasa nyaman di dalam bus, aku mengirim pesan kepada Mas Tomo untuk menjemputku di terminal saja, bukan di stasiun.
Kusandarkan kepalaku di jendela, menatap kosong pada pemandangan jalan raya di luar kaca. Lagi, aku terngiang pengakuan Farhan. Bagaimana bisa aku buta tentang perselingkuhannya selama setahun belakangan? Jika diingat, di momen menjelang pernikahan Febi aku masih sibuk menemani ibu mertua terapi, karena cara berjalan beliau masih menyeret. Bahkan saat resepsi pun aku yang selalu berada di samping beliau. Ayah mertua sibuk mendatangi para tamu, Mas Fariq hanya datang sebentar lalu pergi lagi. Sementara Farhan kupikir juga turut membantu kelengkapan makanan di meja konsumsi atau lainnya, namun ternyata.....
Kuhirup nafas dalam-dalam, membuang semua kekecewaan yang baru saja aku terima. Satu hal yang kusyukuri, aku berpisah dari Farhan saat usiaku masih muda dan Allah juga tidak menitipkan keturunan kepada kami. Pengkhianatan ini membuatku semakin bersemangat menghadapi hariku berikutnya.
Aku mengusap perut, bagaimana kondisi calon bayiku di dalam sana? Apakah dia turut terluka saat aku seperti ini? Aku bisa saja memaki atau bahkan mencakar dua pria kurang ajar itu hari ini. Mereka berdua seakan kompak merendahkan posisiku. Tapi komitmen untuk menyudahi perang batin itu memang tujuan utamaku datang ke Surabaya. Meski pertanyaan besar mengenai maksud Farhan tadi masih mengganjal.
“Apakah orang itu Mas Fariq?” Tanya Farhan tiba-tiba.
“Hah? Maksud kamu?”
“Ada hubungan apa kamu sama Mas Fariq?” Farhan masih bertanya penuh selidik.
“Aku nggak ngerti maksud kamu.” Jawabku apa adanya.
“Kamu pergi dari rumah lalu Mas Fariq jemput kamu ke Madiun. Ada apa diantara kalian?”
Ke Madiun? Apa benar Mas Fariq mencariku kesana? Untuk apa? Lalu mengapa Ibu tidak memberitahuku? Padahal hari pertama aku di rumah Indah, ibu adalah orang pertama yang kuberitahu.
“Aku benar-benar tidak mengerti maksud kamu, Farhan.” Jujur, aku baru mendengar informasi ini, setelah hampir 2 bulan kejadian itu kenapa baru sekarang aku mengetahuinya. Pantas saja tadi Mas Fariq berkata telah mencariku kemana-mana, ternyata dia tidak berbohong.
“Dira, kenapa harus berbohong? Ibu yang meneleponku waktu itu karena Mas Fariq kesana nyariin kamu. Jangan pura-pura nggak tahu, aku yakin diantara kalian ada sesuatu."
Aku mengerti sekarang, mungkin Mas Fariq langsung mencariku saat terbangun dari tidurnya. Pantas ibu terdengar lega saat kuberitahu keberadaanku. Mungkin awalnya beliau juga kaget saat Mas Fariq ke rumah lalu mulai menelepon Farhan untuk memastikan.
Jika begini, apa ibu juga berpikir sesuatu yang sama seperti yang dipikirkan Farhan? Menganggapku bermain hati dengan kakak iparku sendiri? Semoga tidak.
"I’m fine, Dir. Kita sudah proses cerai, aku nggak akan mencegah kamu berhubungan dengan siapapun, sekalipun itu kakak kandungku nggak masalah.” Lagi-lagi Farhan berkata begitu lancar, ia hanya tidak tahu apa yang telah diperbuat kakaknya.
“Terserah kamu menyimpulkan apa, yang jelas aku sama sekali tidak membenarkan pernyataan kamu.” Kuucapkan kalimat itu tanpa memandang ke arah Farhan. Aku takut Farhan mengetahui hal besar yang sedang kusembunyikan.
Bagaimanapun jangan sampai ia tahu fakta sebenarnya, aku sangat paham wataknya. Bisa saja dia menghajar kakaknya atau melaporkan kakaknya itu ke pihak berwajib. Dan satu-satunya yang kupikirkan adalah kondisi ibu mertua. Ibu mana yang tak remuk perasaannya ketika mengetahui anak yang ia banggakan melakukan hal tercela? Ditambah riwayat penyakit beliau yang bisa saja kambuh jika mendengar berita buruk.
“Kamu mau apa lagi? Kenapa masih disini?" Farhan bergeming, menatapku dengan wajah yang aku sendiri bingung mengartikannya.
"Ya sudah tetap saja disini, biar aku yang pergi.” Kukemas tasku lalu bersiap melangkah melewati Farhan.
“Jika benar ada sesuatu di antara kalian. Aku nggak akan maafin kamu, Dir.” Ucap Farhan dingin. Dasar plin plan, tadi mempersilakan sekarang mengancam.
“Lalu kamu pikir aku akan maafin kamu? Semua tentang kita sudah selesai mulai detik ini, Han. Kamu sudah bukan prioritasku, tidak akan ada yang bisa ditolerir dari sebuah perselingkuhan. Aku dan kamu, selesai.” Ucapku tanpa menghiraukan respon Farhan. Kakiku lurus berjalan keluar dari kedai kopi, berlari kecil menaiki angkutan berwarna kuning lalu turut lenyap dari pandangan mata para manusia di depan kedai. Selesai, sampai jumpa di status baru kita nanti, Han.
Kini ingatanku kembali berkelana di kejadian 2 bulan lalu, saat aku keluar dari kamar Mas Fariq dan mengunci pintu kamarnya dari luar. Aku takut luar biasa saat itu, bahkan untuk membersihkan diri pun aku tidak sempat. Yang aku pikirkan hanya satu, pergi selamanya dari rumah itu. Ya, selamanya. Sehingga seluruh pakaian dan barang-barang pribadiku langsung kukemas dalam tas besar dan kutinggalkan rumah tanpa berpamitan pada siapapun.
Persetan dengan Farhan, pikirku kala itu. Aku benar-benar marah padanya, bagaimana bisa seorang suami tega meninggalkan istrinya berhari-hari tanpa kabar sampai akhirnya sang istri mengalami peristiwa yang tidak akan dapat dilupakan seumur hidup.
Aku membenci malam itu. Aku juga membenci segala kebodohanku di malam itu. Membiarkan diri masuk ke kamar seorang pemabuk hanya karena penasaran pria itu tidak berada di tempatnya. Seharusnya aku masa bodoh saja dengan keberadaan Mas Fariq, lalu langsung masuk ke kamar dan mengunci kamarku rapat-rapat. Tinggal sesal yang kini terasa, sekaligus rasa penasaran untuk apa Mas Fariq mencariku ke Madiun.
Hari setelah kejadian itu aku berada di rumah Indah, aku menumpang disana selama beberapa hari. Jangan kira aku bisa mudah sampai di rumah Indah. Banyak pertimbangan yang aku buat saat itu mengingat hari sudah lewat tengah malam. Beruntung rumah keluarga Farhan berada dekat dengan jalan utama provinsi sehingga aku dapat memperoleh taksi dengan mudah meski saat itu sudah hampir jam satu dini hari. Saat sopir bertanya kemana tujuanku, aku sempat bingung menjawabnya karena selama 3 tahun menikah aku belum pernah singgah ke rumah teman di Surabaya. Jika pulang ke Madiun, tentu akan membuat ibu khawatir.
“Lurus saja dulu Pak, nanti kita putar ke arah barat.” Jawabku sesaat setelah aku duduk di kursi penumpang.
Sempat terpikir untuk masuk ke sebuah hotel dan menginap disana sementara, tapi bayangan kejadian beberapa menit lalu membuatku enggan memasuki tempat asing seorang diri.
Di tengah kebingunganku, tiba-tiba benda pipihku berbunyi. Bukan karena ada telepon atau chat masuk, melainkan notifikasi dari aplikasi facebook yang memberitahu bahwa Indah, sahabatku semasa kuliah, berulang tahun. Seketika kebingunganku terpecahkan, kukatakan pada sopir untuk melaju ke luar kota, tepatnya Jombang. Sempat si sopir ragu, dengan cepat kuberikan lima lembar uang seratus ribu supaya ia tidak mengira aku sedang iseng.
“Kurangnya nanti pas sampai di lokasi ya, Pak.” Ucapku setelah menyerahkan uang.
“Baik, mbak. Terima kasih banyak.” Jawab Pak Sopir sumringah.
Jam 2 lewat 10 menit taksi yang kutumpangi berhenti di depan rumah Indah. Saat dalam perjalanan aku sudah menghubunginya, memberi ucapan ulang tahun dan mengatakan bahwa aku sedang dalam perjalanan menuju rumahnya. Sebab itulah lampu rumahnya kini tampak menyala, dan seorang perempuan muda seusiaku terlihat keluar dari rumah menyambutku yang baru keluar dari taksi.
“Dira!” Indah memelukku, sudah lama memang kami tidak berjumpa. Terakhir bertemu dengannya saat ayahku berpulang dua tahun lalu. Indah dan suaminya rela datang ke Madiun untuk bertakziah langsung.
Terlihat Mas Irwan, suami Indah, turut keluar dari rumah dan menghampiri kami berdua. Sebenarnya ini bukan waktunya Mas Irwan pulang, tapi karena Indah ulang tahun maka ia sempatkan pulang. Namun, sayangnya keromantisan yang mungkin akan diciptakan sepasang suami istri itu batal terjadi karena kehadiranku. Sebab itulah kuucap maaf berulang kali pada mereka.
“Ya ampun, Dir. Nggak usah lebay gitu ah, kita udah ngerayainnya tadi rame-rame sama anak-anak juga. Aku malah seneng karena kamu kesini, surprise banget buat aku, Dir.” Ucap Indah sambil menggandengku masuk ke dalam rumah.
Indah mempersilakanku duduk di kursi tamu, di atas meja sudah tersedia teh hangat. Ia dan suaminya turut duduk di kursi tamu, bersiap mendengar alasanku datang kemari.
Mungkin Indah bertanya-tanya dalam hati karena wajahku sangat pucat, belum lagi rambutku yang kukucir asal tanpa kusisir terlebih dahulu. Aku mengatur nafas, lalu kukatakan bahwa Farhan pergi dari rumah berhari-hari, aku takut berada di rumah sendirian jadi kuputuskan untuk menuju rumah mereka saja.
Terdengar konyol memang, tapi aku tidak mungkin menjelaskan secara gamblang peristiwa yang baru saja aku alami di depan Mas Irwan. Pekerjaannya sebagai polisi membuatku takut mengatakan fakta yang sebenarnya. Ya, aku masih sangat takut dengan peristiwa yang baru aku alami, sekaligus aku masih enggan jika peristiwa tadi harus diperpanjang dengan beragam proses hukum. Setidaknya jika aku menepi dan menyimpan rahasia ini sendiri, aku masih memiliki nyali untuk menampakkan wajahku pada orang lain. Aku tidak ingin semua berbuntut panjang, banyak orang yang ingin kujaga perasaannya.
Kami bertiga berbincang sebentar, lalu Mas Irwan memerintah Indah untuk mengantarku ke kamar. Aku pun setuju lalu mengekor di belakang Indah. Sesampainya di kamar, barulah kucurahkan semua yang kualami pada Indah. Jangan tanya bagaimana reaksi Indah, dia terkejut sekaligus marah.
Dan momen kedatanganku ke rumah Indah adalah bagian yang paling aku syukuri sampai detik ini. Dengan Indah aku bangkit dan memiliki semangat melanjutkan kehidupanku kembali. Pendampingan Indah juga membuatku sadar akan banyaknya hikmah dalam peristiwa itu.