Arga Danendra, CEO muda pemegang kendali kerajaan bisnis terbesar, memiliki hati sedingin es. Dikhianati dan dicampakkan oleh wanita yang sangat dicintainya di masa lalu saat ia belum bergelimang harta, Arga kini memandang sinis semua wanita. Baginya, mereka hanyalah makhluk serakah yang memuja kekayaan.
Namun, takdir berkata lain ketika sebuah insiden penyerangan memaksanya bersembunyi di permukiman pinggiran kota. Dalam kondisi terluka parah dan kehilangan memori sementaranya, ia diselamatkan oleh Senja Kirana, gadis yatim piatu yang hidup miskin namun memiliki senyum secerah matahari. Tanpa memandang status atau harta, Senja merawat pria asing itu dengan tulus dan penuh kasih sayang. Kepolosan, keluguan, dan kehangatan Senja perlahan meruntuhkan dinding es di hati Arga, mengembalikan warna hidupnya yang telah lama sirna.
Ketika ingatan Arga kembali dan mantan kekasihnya muncul lagi demi mengincar posisi nyonya besar, sang CEO muda bersumpah akan menggunakan seluruh kekuasaannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Dua Dunia yang Berputar, Menanti Titik Temu
Aroma mentega yang dipanggang, vanila, dan kopi pekat menguar hangat memenuhi udara, bertabrakan dengan hawa dingin yang menyusup dari sela-sela pintu kaca. Di balik etalase kaca yang menampilkan deretan roti dan kue yang mulai menipis, Senja Kirana berdiri dengan celemek cokelat yang sedikit berdebu oleh tepung.
Hari sudah beranjak petang. Langit di luar sana mulai kehilangan semburat jingganya, digantikan oleh awan abu-abu pekat yang menggantung rendah di atas kota metropolitan. Rintik hujan mulai turun, mengetuk-ngetuk kaca jendela kedai roti tempatnya bekerja.
"Terima kasih, Bibi Marta! Hati-hati di jalan, ya! Jangan lupa rotinya dihangatkan sebentar sebelum dimakan!" seru Senja dengan senyum semringah yang membuat matanya menyipit membentuk bulan sabit. Ia melambaikan tangan pada seorang wanita paruh baya yang baru saja keluar dari kedai.
Bibi Marta, pelanggan setia kedai itu, menoleh dan membalas senyumnya. "Tentu, Senja sayang. Kau juga, jangan pulang terlalu malam. Cuaca sedang tidak bersahabat."
Setelah pintu berdering pelan dan tertutup rapat, Senja mengembuskan napas panjang. Ia mengusap peluh di dahinya dengan punggung tangan, lalu memutar bahunya yang terasa pegal. Sudah sepuluh jam ia berdiri melayani pelanggan, memanggang adonan, dan mengepel lantai. Kakinya terasa seperti mati rasa, namun senyum di bibir mungilnya tak sedikit pun pudar.
Senja berbalik menuju meja kasir. Ia menarik sebuah buku catatan kecil yang sudah lecek dari saku celemeknya. Dengan pensil yang ujungnya sudah tumpul, ia mulai menghitung deretan angka. Gajinya bulan ini, dipotong untuk biaya sewa rumah petaknya, tagihan listrik yang menunggak bulan lalu, air, dan sedikit sisa untuk makan sehari-hari.
"Masih kurang sedikit untuk membeli obat vitamin harian," gumamnya pelan pada diri sendiri.
Senja menghela napas, tatapannya melembut saat ia merogoh saku bagian dalam kemejanya. Ia mengeluarkan sebuah kalung usang dengan bandul locket perak yang sudah pudar warnanya. Saat locket itu dibuka, terpampang foto ukuran kecil yang pinggirannya mulai menguning. Itu adalah foto ayah dan ibunya, tersenyum bahagia sambil menggendong Senja yang masih bayi.
"Ayah, Ibu... Senja hari ini bekerja sangat keras," bisiknya lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh derai hujan di luar. "Senja berhasil membuat resep roti baru yang disukai pemilik kedai. Bos bilang, kalau penjualannya stabil, Senja akan diangkat jadi kepala pembuat roti bulan depan. Bukankah itu hebat?"
Air mata merembes di pelupuk matanya, namun Senja buru-buru mengerjapkannya dan tersenyum lebar menatap foto itu. Ia teringat janjinya di depan pusara mereka bertahun-tahun yang lalu. Tidak peduli seberapa lelah tubuhnya, seberapa keras dunia menamparnya, ia tidak akan pernah menyerah pada kegelapan. Ia telah tumbuh menjadi gadis yang memegang teguh prinsip itu. Meskipun hidup sebatang kara, ia tidak pernah membiarkan hatinya membatu. Ia tetap mencintai dunia, dengan segala lukanya.
"Senja! Waktunya tutup!" seru Pak Yanto, pemilik kedai yang keluar dari dapur belakang sambil membawa kantong sampah.
"Baik, Pak!" Senja buru-buru memasukkan kalungnya kembali ke balik baju. Ia meraih lap basah dan mulai membersihkan meja-meja dengan cekatan.
Tiga puluh menit kemudian, kedai telah bersih dan gelap. Senja melangkah keluar, mengunci pintu rolling door, lalu membuka payung lipatnya yang sudah patah satu jari-jarinya. Udara malam yang basah langsung menusuk tulang. Ia merapatkan jaket rajutnya yang tipis, mulai berjalan menembus gang-gang sempit permukiman padat penduduk yang jauh dari gemerlap pusat kota. Ia tidak tahu, bahwa di malam yang dingin ini, putaran roda takdirnya akan segera bergesekan dengan seseorang dari dunia yang sama sekali tidak pernah bisa ia sentuh.
Di belahan kota yang lain, jauh dari gang sempit dan aroma roti panggang, menjulang sebuah gedung pencakar langit dengan fasad kaca elegan yang memantulkan kilat di langit malam. Di lantai enam puluh—lantai eksklusif yang hanya bisa diakses dengan kartu VIP berlapis emas—suasana terasa sedingin kutub utara.
Ruang rapat utama Danendra Group, yang diisi oleh meja marmer panjang dari Italia dan kursi-kursi kulit mewah, kini terasa seperti ruang eksekusi mati. Belasan direktur divisi dan manajer senior duduk membeku, tak berani mengeluarkan suara lebih dari sekadar tarikan napas tertahan. Keringat dingin sebesar biji jagung mengalir di pelipis pria-pria berjas mahal tersebut, berbanding terbalik dengan suhu AC ruangan yang diatur pada titik terendah.
Di ujung meja kekuasaan, duduk Arga Danendra.
Pria berusia dua puluh delapan tahun itu tampak seperti dewa kehancuran yang turun ke bumi. Setelan jas three-piece berwarna obsidian black melekat sempurna di tubuhnya yang tegap dan atletis. Wajahnya luar biasa tampan, dengan rahang tegas dan hidung mancung bak pahatan patung Yunani. Namun, sepasang mata elang yang segelap malam tanpa bintang itu memancarkan aura membunuh yang membuat siapa saja menunduk ngeri.
Brak!
Sebuah bundel dokumen setebal lima sentimeter dilemparkan dengan kasar ke tengah meja. Suara bantingannya menggema, membuat beberapa direktur tersentak kaget di kursi mereka.
"Siapa yang berani bertanggung jawab atas omong kosong ini?" Suara Arga rendah, dingin, dan nyaris seperti bisikan, namun ketajamannya menyayat gendang telinga semua orang di ruangan itu.
Tidak ada yang berani menjawab. Keheningan terasa mencekik.
"Laporan audit internal kuartal ketiga," Arga mencondongkan tubuhnya ke depan, menautkan jemarinya dengan gestur predator yang sedang bersiap menerkam. "Ada lubang dana sebesar lima puluh miliar rupiah di proyek properti pesisir selatan. Dan kalian, para eksekutif yang kubayar dengan gaji miliaran setiap bulan, membawa laporan palsu ini ke mejaku dan berharap aku hanya menanda tanganinya tanpa membaca?"
Direktur Keuangan, seorang pria paruh baya yang kepalanya mulai botak, memberanikan diri membuka mulut dengan bibir bergetar. "P-Pak Arga... m-maafkan kami. A-ada kesalahan perhitungan dalam estimasi bahan baku. V-vendor utama tiba-tiba menaikkan harga—"
"Berhenti membual, Pak Haris," potong Arga dengan suara mematikan. Matanya menatap tajam bak pisau bedah yang sedang menguliti kebohongan pria itu. "Aku tahu betul siapa vendor tersebut. Perusahaan cangkang yang kau dirikan atas nama adik iparmu enam bulan yang lalu. Kau menggelapkan dana perusahaanku untuk menutup utang judimu di Makau."
Wajah Direktur Haris memucat pasi seketika. "P-Pak, itu fitnah! Saya tidak mungkin—"
"Aku tidak butuh pembelaanmu. Tim humasku sudah menyusun draf pemecatanmu dengan tidak hormat, dan tim legalku sudah menunggu di lantai bawah bersama pihak kepolisian," ucap Arga tanpa nada, sama sekali tidak peduli pada pria tua yang kini merosot dari kursinya sambil memohon ampun.
"Rapat selesai. Kalian semua, keluar dari ruanganku sebelum aku memecat kalian secara massal."
Bagai gerombolan tikus yang melihat jalan keluar, belasan petinggi perusahaan itu langsung membereskan barang-barang mereka dan berhamburan keluar ruangan, meninggalkan Arga sendirian dalam keheningan yang menyesakkan.
Arga menyandarkan punggungnya ke kursi, memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Danendra Group adalah kerajaan yang ia bangun dengan darah, keringat, dan air mata. Ia memulainya dari bawah, dari sebuah ruko sewaan yang atapnya bocor, saat ia masih menjadi pemuda miskin yang direndahkan oleh wanita yang paling ia cintai. Tujuh tahun. Hanya butuh tujuh tahun baginya untuk menelan perusahaan-perusahaan besar dan berdiri di puncak rantai makanan.
Ia tidak akan membiarkan siapa pun, sekecil apa pun, merusak kerajaannya.
Tiba-tiba, suara tepuk tangan yang pelan namun berirama terdengar dari arah pintu.
Prok... Prok... Prok...
Arga bahkan tidak membuka matanya. Ia sudah tahu persis siapa pemilik langkah kaki yang santai dan sama sekali tidak memiliki sopan santun di gedung ini selain satu orang.
"Pertunjukan yang luar biasa, Yang Mulia. Kalau aku merekam ekspresi si tua Haris tadi lalu mengunggahnya ke TikTok, aku yakin videonya bakal FYP (For You Page) dalam hitungan jam," suara bariton yang diiringi nada jenaka itu menggema di ruangan.
Seorang pria jangkung melangkah masuk, mengabaikan segala formalitas. Ia mengenakan kemeja marun yang dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka, tanpa dasi, dan jas yang hanya disampirkan sembarangan di bahu kirinya. Wajahnya tampan dengan aura playboy yang kental, senyum miring selalu menghiasi bibirnya.
Dia adalah Raka Narendra. Sahabat masa kecil Arga, asisten pribadi, tangan kanan, sekaligus satu-satunya manusia di muka bumi (selain kedua orang tua Arga) yang berani masuk ke sarang singa tanpa mengetuk pintu.
"Kukira kau sedang berada di Singapura untuk mengurus akuisisi hotel itu, Rak," gumam Arga, akhirnya membuka mata menatap sahabatnya yang kini dengan santai menduduki ujung meja rapat, menyingkirkan dokumen miliaran rupiah seolah itu hanya brosur diskon minimarket.
Raka mendengus geli, mengambil sebuah pena mahal dari meja dan memutar-mutarnya di antara jemarinya. "Aku mengambil penerbangan pertama pagi tadi karena instingku mengatakan temanku yang kaku seperti kanebo kering ini akan meledakkan kepalanya sendiri karena laporan audit sialan itu."
"Kau tahu soal penggelapan itu?" mata Arga memicing tajam.
"Tentu saja aku tahu. Aku yang diam-diam menyuruh tim intelijen kita untuk menggali rekening adik ipar Haris," Raka mengedipkan sebelah matanya, menyeringai jenaka. Namun, sedetik kemudian, ekspresi sengklek-nya berubah menjadi serius dan tajam—sebuah sisi yang membuat Raka dijuluki 'Bayangan Iblis' di dunia bisnis. Sifatnya tak jauh berbeda dengan Arga, sama-sama brilian dan tanpa ampun jika sudah menyangkut pekerjaan, hanya saja Raka membungkusnya dengan humor sarkas.
"Ini bukan hanya sekadar utang judi, Ga," lanjut Raka, mencondongkan tubuhnya ke arah Arga. "Haris disokong oleh seseorang. Vendor cangkang itu tidak berdiri sendiri. Ada suntikan dana segar dari luar yang mengalir ke sana sebelum uang kita disedot masuk. Aku curiga ini sabotase dari Grup Wijaya."
Rahang Arga mengeras, matanya berkilat membunuh. "Wijaya... bajingan tua itu tidak pernah belajar dari kekalahan tahun lalu."
"Hei, rileks, Bro," Raka menepuk pundak Arga dengan keras, membuat Arga menatapnya jengkel. "Biar urusan tikus-tikus Wijaya aku yang urus. Kau sudah bekerja tiga hari tiga malam tanpa pulang ke rumah. Orang tuamu kemarin meneleponku, Tante Rini mengomel panjang lebar mengira aku menculik anak kesayangannya dan menjadikannya budak korporat."
Mendengar nama ibunya, ekspresi dingin Arga sedikit melembut, meski hanya sesaat. Berbeda dengan pandangan orang-orang yang mengira ia lahir dari sendok emas, orang tua Arga hanyalah pensiunan guru biasa yang selalu hidup sederhana. Saat Arga hancur tujuh tahun lalu karena kemiskinan dan pengkhianatan, Raka-lah yang menemaninya minum di pinggir jalan sampai muntah. Keluarga Raka juga yang dulu memberikan pinjaman pertama tanpa bunga untuk Arga merintis usaha rintisannya. Bagi Arga, Raka lebih dari sekadar karyawan atau sahabat; ia adalah saudara sedarah.
"Aku akan pulang malam ini," ucap Arga dingin, membereskan laptopnya.
Raka tersenyum miring, menahan lengan Arga. "Pulang ke mana? Ke penthouse mewahmu yang sepi seperti kuburan itu? Ga, kau sudah punya segalanya sekarang. Semua harta yang dulu membuat si penyihir Natasha itu membuangmu, kini ada di bawah telapak kakimu. Tapi lihat dirimu. Kau tidak hidup, kau hanya bertahan."
Arga menepis tangan Raka, wajahnya kembali mengeras. "Jangan bawa-bawa nama wanita itu, Raka."
"Aku harus membawanya, karena bayangan masa lalu itu yang membuatmu menjadi robot emosi seperti sekarang!" Raka balas menatap tanpa gentar. Di seluruh dunia ini, hanya Raka yang berani menentang tatapan membunuh Arga. "Kita merintis ini dari nol. Dari ruko berdebu tempat kita makan mie instan dibagi dua setiap malam. Aku tahu seberapa hancurnya kau dulu. Tapi sekarang kau menang, Ga! Berhentilah menghukum dirimu sendiri. Carilah seseorang. Nikmati hidupmu."
"Cinta itu omong kosong. Hanya alat tawar-menawar bagi mereka yang menginginkan hartaku," desis Arga sinis. Ia memakai jasnya dengan gerakan kasar. "Aku tidak butuh siapa pun. Aku bisa hidup sendiri."
Raka menghela napas, menggelengkan kepalanya pasrah melihat keras kepalanya sang sahabat. "Terserah kau saja, Tuan Es. Tapi ingat kata-kataku, suatu hari nanti, karma akan menampar wajah tampanmu itu. Kau akan jatuh cinta pada seseorang, sampai kau rela merangkak memohon padanya."
"Itu tidak akan pernah terjadi, bahkan jika neraka membeku," balas Arga arogan, berjalan melewati Raka menuju pintu.
"Kau mau ke mana? Perlu kupanggilkan supir? Hujan badai di luar," tawar Raka, kembali ke mode asisten meski nadanya masih santai.
"Tidak perlu. Aku mau menyetir sendiri. Otakku butuh udara segar. Kau bereskan kekacauan si Haris dan selidiki Grup Wijaya sampai ke akar-akarnya," perintah Arga mutlak sambil membuka pintu ruangannya.
"Siap, Bos Besar! Hati-hati di jalan, jangan sampai menabrak tiang listrik karena melamun!" seru Raka sambil tertawa kecil, melambaikan tangan sebelum menjatuhkan dirinya ke kursi kebesaran Arga dan mengangkat kaki ke atas meja, mulai menelepon jaringan informannya dengan sigap.
Arga hanya mendengus merespons kelakuan sahabat sintingnya itu. Ia berjalan menyusuri lorong eksklusif menuju lift pribadinya. Pikirannya berkecamuk. Kemarahan pada direktur yang berkhianat, kecurigaan pada manuver musuh bisnisnya, dan rasa hampa yang tiba-tiba menggerogoti dadanya setelah perkataan Raka tadi berbaur menjadi satu kekacauan di kepalanya.
Arga menekan tombol basement. Saat pintu lift perlahan tertutup, matanya menatap pantulan dirinya sendiri di pintu baja yang mengilap. Kaya raya, tampan, tak tersentuh, berkuasa. Ia memiliki segalanya, namun di matanya yang memantul di kaca, ia tak melihat apa pun selain kekosongan yang gelap gulita.
Malam itu, dengan mengendarai sport car Aston Martin hitam kesayangannya, Arga membelah jalanan ibu kota yang diguyur hujan badai. Tanpa pengawal. Tanpa supir. Hanya dirinya dan raungan mesin V8 yang memekakkan telinga.
Ia berniat mencari ketenangan di pinggiran kota yang sepi, jauh dari hiruk-pikuk pusat bisnis. Ia ingin mendinginkan kepalanya. Namun, ia tidak menyadari bahwa ada dua buah SUV hitam pekat tanpa pelat nomor yang sejak tadi mengintainya dari luar area parkir gedung. Begitu Aston Martin Arga melaju keluar, kedua mobil misterius itu perlahan bergerak dari dalam bayang-bayang kegelapan, mengikuti jejak sang CEO muda bagai malaikat pencabut nyawa yang siap menjemput mangsanya.
Di sisi lain, di bawah payung rusaknya yang diguyur hujan lebat, Senja baru saja berbelok memasuki gang sepi menuju rumah kontrakannya, mendekati titik takdir yang akan membalikkan dunia kedua insan yang saling bertolak belakang ini.