Indonesia
NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Yang Kedua

Ternyata Aku Yang Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Poligami / Balas Dendam
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dunia Sasi runtuh dalam semalam. Keputusannya memutuskan Hendrik karena menolak diajak berhubungan badan justru berujung petaka—Hendrik yang gelap mata melecehkannga dan mencapnya sebagai wanita munafik. Belum sembuh rasa traumatik itu, Sasi yang tiba di rumah langsung dihadapkan pada lamaran Adrian Maheswara, putra sahabat ayahnya. Demi menghormati permohonan sang ayah, Sasi yang masih syok hanya mampu mengangguk pasrah.
Pernikahan kilat pun digelar keesokan harinya. Namun, neraka baru menyambut Sasi saat Adrian membawanya pulang. Di sana, berdiri Fitria—istri pertama Adrian. Merasa ditipu dan dijadikan alat semata demi mendapatkan keturunan bagi pasangan tersebut, Sasi harus menelan kenyataan pahit: tersiksa oleh trauma yang belum usai, kini ia terperangkap dalam ikatan poligami tanpa persetujuannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Sesampainya Adrian di rumah, pintu utama baru saja terbuka ketika Fitria langsung berlari menghampirinya.

Wajah wanita itu pucat pasi, matanya sembap, dan tanpa ragu ia langsung menjatuhkan diri, duduk bersimpuh di hadapan Adrian seraya memegang erat lutut suaminya.

"Mas, demi Tuhan, bukan aku! Aku tidak tahu apa-apa tentang lelaki itu!" ratap Fitria dengan suara bergetar ketakutan, mencoba meyakinkan Adrian bahwa tuduhan semalam hanyalah kekeliruan.

Adrian menunduk, menatap wanita yang bersimpuh di kakinya dengan kilatan mata yang begitu dingin di balik wajah sengsaranya.

Perlahan, Adrian menganggukkan kepalanya pelan, menyembunyikan amarah murka yang hampir meledak di dada.

Fitria mendongak, mendapati respon Adrian yang melunak.

"L-lalu, di mana Sasi, Mas?"

Adrian menghela napas panjang yang terdengar sangat berat dan hancur.

"Dia sudah meninggal dunia."

Mata Fitria membelalak seketika. Tubuhnya membeku di atas lantai.

"Aku sudah membayar pihak rumah sakit untuk mengurus dan memakamkannya secara tertutup," lanjut Adrian dengan suara parau yang bergetar.

"Sasi, meninggal?" bisik Fitria, mencoba mencerna kebenaran di balik kalimat itu.

Kilatan ketakutan di matanya perlahan berganti menjadi kelegaan liar yang berusaha ia sembunyikan rapat-rapat.

Ia tersenyum tipis, karena rencana Hendrik semalem berjalan lancar.

Melihat perubahan raut wajah istri pertamanya, Adrian langsung berlutut dan membawa tubuh Fitria ke dalam pelukannya.

Adrian memeluk erat tubuh wanita itu, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Fitria, lalu kembali berpura-pura menangis sesenggukan secara histeris.

Di balik sandiwara tangisannya yang memilukan, jemari Adrian mengepal begitu kuat hingga meremukkan kain baju Fitria—membayangkan bagaimana ulat berbisa di dalam pelukannya ini sebentar lagi akan masuk ke dalam perangkap pembatalan hidup yang sudah ia siapkan.

Kemudian, Adrian mengusap air mata palsunya dan mengajak istrinya untuk masuk ke dalam rumah.

Fitria bergegas melangkah ke arah dapur, memanggil asisten rumah tangga dengan nada suara yang mendadak ringan.

"Bi! Tolong siapkan sarapan untuk Mas Adrian sekarang ya!" seru Fitria, raut wajahnya tak mampu menyembunyikan kelegaan luar biasa setelah mendengar kabar kematian Sasi.

Adrian mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan, menatap kosong ke arah meja sebelum akhirnya membuka suara dengan nada berat.

"Fit, aku harus ke Kanada," ujar Adrian tiba-tiba.

Fitria yang baru saja hendak duduk seketika menghentikan gerakannya, menatap Adrian terkejut.

"Ke Kanada?"

"Klien memintaku untuk ke sana mengurus proyek penting yang tidak bisa ditinggal," jawab Adrian pelan, pandangannya meredup seolah masih tertekan oleh rasa duka.

"Sampai kapan, Mas?" cecar Fitria dengan mata berbinar penasaran.

"Dua atau tiga bulan," Adrian menatap Fitria dalam-dalam, lalu memberikan penawaran yang sebenarnya sudah ia tebak jalannya. "Atau... kamu mau ikut?"

Di dalam hatinya, Fitria tertawa puas. Keberangkatan Adrian ke luar negeri selama berbulan-bulan adalah kesempatan emas yang sangat ia harapkan.

Ia bisa bebas berduaan dengan Hendrik, merencanakan kelanjutan aksinya, sekaligus mencari wanita polos lainnya untuk dijadikan istri baru Adrian demi melancarkan skenario penukaran bayinya kelak.

"T-tidak, Mas," jawab Fitria cepat dengan ekspresi pura-pura prihatin.

"Aku di rumah saja. Lagipula, aku bisa memanfaatkan waktu ini untuk mencari calon istri lagi untuk kamu, menggantikan Sasi."

Adrian menatap Fitria sejenak, mengunci pandangannya pada wajah penuh kepalsuan wanita itu.

Tanpa menyela atau menolak tawaran licik tersebut, Adrian hanya menganggukkan kepalanya pelan, menyembunyikan senyum dingin di balik kepasrahan palsunya. Perangkapnya kini telah terbuka lebar.

Bibi menyuguhkan sepiring nasi goreng hangat dan secangkir kopi hitam kesukaan Adrian ke atas meja makan.

Tanpa banyak bicara, Adrian menyantap sarapannya dalam hening, membiarkan pikirannya yang dingin menyusun setiap langkah rencana balas dendamnya.

Sementara itu, Fitria berjalan cepat menuju kamar utama dengan perasaan membuncah gembira.

Dengan cekatan, ia membuka lemari, memilih pakaian terbaik milik suaminya, dan memasukkannya ke dalam koper besar.

Baginya, setiap helai pakaian yang masuk ke dalam koper itu adalah tiket kebebasannya untuk menghabiskan waktu bersama Hendrik tanpa gangguan.

Setelah selesai sarapan, Adrian melangkah ke kamar untuk mandi dan bersiap-siap.

Mengenakan kemeja rapi dan jas yang tergantung anggun, ia menyeret kopernya menuju pintu depan.

"Aku berangkat dulu, Fit. Jaga rumah ya," ucap Adrian datar sambil menatap wanita di hadapannya.

Fitria menganggukkan kepalanya dengan senyum manis yang dipaksakan.

"Iya, Mas. Hati-hati di jalan ya."

Ia melambaikan tangannya penuh kehangatan saat mobil Adrian perlahan bergerak meninggalkan halaman rumah mewah mereka.

Di dalam mobil yang melaju membelah jalanan, Adrian tertawa kecil—sebuah tawa dingin yang sarat akan kemenangan awal.

Fitria tidak pernah tahu bahwa saat wanita itu sibuk memasukkan pakaian ke dalam koper tadi, Adrian secara diam-diam telah memasang kamera CCTV tersembunyi berukuran mikro di sudut kamar utama.

Tidak hanya itu saja, ia juga memasang CCTV rahasia di dalam kamar mandi.

Setiap sudut pribadi rumah itu kini telah berada di bawah pengawasannya.

Apapun yang dilakukan Fitria dan Hendrik selama ia "berada di Kanada" akan terekam sempurna sebagai bukti mematikan yang siap menghancurkan mereka berdua tanpa sisa.

Mobil Adrian berhenti mulus di area parkir basemen apartemen rahasia miliknya.

Dengan langkah cepat namun tenang, ia naik menggunakan lift pribadi menuju unit eksklusif di lantai atas.

Begitu pintu apartemen terbuka, Adrian melangkah masuk dan melihat Dokter Maya bersama seorang perawat tepercaya masih berada di sana, memastikan kondisi Sasi tetap stabil setelah proses pemindahan rahasia tadi.

Dokter Maya berbalik saat mendengar langkah kaki Adrian.

Ia mengemas stetoskopnya ke dalam tas medis, lalu menatap Adrian dengan raut wajah serius namun lega.

"Adrian, jangan lupa obat dan vitamin untuk Sasi," pesan Dokter Maya sambil menyerahkan secarik resep dan beberapa botol obat di atas meja.

"Diminum teratur sesuai jadwal. Lehernya masih memar, jadi berikan makanan yang lembut dulu."

Adrian mengangguk mantap. "Terima kasih banyak, Dok. Tanpa bantuan Dokter, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada Sasi."

Kemudian mereka berpamitan untuk kembali ke rumah sakit agar tidak menimbulkan kecurigaan pihak luar.

Sebelum perawat tersebut melangkah keluar mengekor Dokter Maya, Adrian menahan langkahnya sejenak.

Ia merogoh dompetnya dan memberikan bonus amplop tebal kepada perawat yang sudah menjaga dan membantu evakuasi Sasi dengan sangat rapi.

"Terima kasih atas kerja keras dan kerahasiaan Anda," ucap Adrian tulus.

Perawat itu mengangguk penuh rasa hormat. "Terima kasih banyak, Pak Adrian. Kami akan tetap menjaga rahasia ini."

Setelah pintu apartemen tertutup rapat dan menyisakan keheningan, Adrian membalikkan badan.

Pandangannya tertuju pada pintu kamar utama yang terbuka sedikit, tempat Sasi kini terbaring aman dari jangkauan iblis-iblis yang ingin menghancurkannya.

Adrian melangkah pelan masuk ke dalam kamar. Pandangannya langsung tertuju pada Sasi yang sedang bersandar di kepala ranjang sambil menonton televisi.

Di atas meja nakas sebelah tempat tidur, semangkuk bubur dan piring nasi halus masih tertutup rapat, sama sekali belum tersentuh.

Adrian mengikis jarak, mengulas senyum tipis yang hangat seraya mendudukkan diri di tepi ranjang.

"Apakah istriku menungguku untuk makan?" goda Adrian halus, mencoba mencairkan suasana kaku di antara mereka.

Sasi memutar matanya, menoleh tipis dengan tatapan tajam yang masih menyisa kesal.

"Jangan GR, Adrian. Aku masih marah karena kamu mencambukku."

Raut wajah Adrian seketika berubah penuh penyesalan. Kilatan bayangan malam kelam itu kembali berputar di benaknya.

Tanpa ragu, Adrian mendekat, mengulurkan tangannya untuk menggenggam jemari Sasi yang dingin namun lembut.

"Sasi, aku minta maaf," bisik Adrian dengan suara parau dan amat tulus. Matanya menatap tepat ke manik mata Sasi.

"Aku benar-benar buta dan bodoh waktu itu. Tolong maafkan aku. Ayo kita mulai dari nol pernikahan ini. Bukan karena paksaan siapa pun, tapi karena aku ingin melindungimu dan membenahi semua kesalahanku."

Sasi menarik tangannya perlahan, menunduk menatap selimut dengan dada bergetar.

"Aku bukan mesin cetak anak,"

"Aku tahu," potong Adrian cepat dengan nada begitu lembut.

Ia memiringkan kepalanya, menatap Sasi penuh kehangatan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.

"Sasi, aku sudah tidak peduli lagi soal itu. Aku tidak akan pernah memaksamu untuk punya anak. Tapi,"

Adrian menghentikan kalimatnya sejenak, mengukir senyum jahil yang mengikis aura tegang di kamar itu.

"Tapi kalau nanti kamu sendiri yang mau dan hamil, aku minta sebelas anak."

Sasi membelalak kaget. Rasa kesal, canggung, dan gemas bercampur menjadi satu di dadanya mendengar kelakar absurd dari pria yang biasanya begitu dingin itu.

"Adrian!" jerit Sasi gemas.

Tanpa berpikir panjang, Sasi menyambar bantal di sampingnya dan memukulkannya kuat-kuat ke dada Adrian secara bertubi-tubi, melampiaskan seluruh rasa kesalnya hingga tawa kecil akhirnya lolos dari bibir Adrian saat menahan serangan bantal tersebut.

"Sekarang ayo waktunya makan," ucap Adrian lembut, menghentikan candaan mereka.

Dengan telaten, ia meraih mangkuk bubur yang masih hangat di atas meja nakas.

Ia mengambil satu sendok penuh, meniupnya perlahan agar tidak terlalu panas, lalu mengarahkannya tepat di depan bibir Sasi.

Sasi menatap sendok itu sejenak sebelum akhirnya membuka mulut dan menerima suapan pertama.

Rasa hangat makanan itu perlahan membasahi tenggorokannya yang masih agak perih.

Pikiran Sasi mendadak melayang. Baru beberapa hari ia menikah dengan Adrian—sebuah pernikahan yang diawali dengan siksaan, ketakutan, dan rasa benci yang teramat sangat.

Namun kini, pria yang sama sedang duduk di sampingnya, memandangnya dengan tatapan hangat yang jujur seraya menyuapinya penuh kesabaran.

"Mau bulan madu?" tanya Adrian tiba-tiba di sela suapan berikutnya, memutus lamunan Sasi.

Sasi seketika menggelengkan kepalanya cepat. "Bulan madu di tengah situasi seperti ini? Yang benar saja, Adrian."

Adrian terkekeh pelan melihat reaksi spontan istrinya.

"Aku serius. Nanti, setelah semua benang kusut ini selesai dan dua ular itu membusuk di penjara, aku akan membawamu ke mana pun kamu mau."

Sasi menghela napas panjang. Mengingat ancaman Fitria dan Hendrik, ingatan Sasi mendadak tertuju pada satu orang yang paling berharga dalam hidupnya.

"Adrian, bagaimana dengan Ayah?" tanya Sasi, matanya memancarkan kecemasan yang mendalam.

"Kalau Fitria dan Hendrik tahu aku masih hidup, atau kalau mereka berniat jahat, Ayah dalam bahaya, Adrian."

Adrian meletakkan mangkuk buburnya kembali ke atas meja nakas, lalu menggenggam kedua tangan Sasi dengan erat untuk menyalurkan rasa aman.

"Kamu tenang saja, Sasi. Semuanya aman," ujar Adrian dengan nada mantap dan penuh keyakinan.

"Anak buahku sudah menjaga ayahmu dua puluh empat jam penuh dari jarak dekat. Tempat tinggalnya sudah kuperketat pengamanannya, dan tak seorang pun dari orang-orang Hendrik yang bisa menyentuhnya."

Sasi menatap mata Adrian lurus-lurus, mencari kebenaran di sana.

Melihat ketegasan dan kepedulian yang terpancar jelas dari raut wajah suaminya, perlahan-lahan ketakutan di dada Sasi mulai mengendur, digantikan oleh kepasrahan dan rasa percaya yang mulai tumbuh sedikit demi sedikit.

"Kenapa kamu sampai kecolongan dengan niat istrimu?" tanya Sasi lirih, tatapannya menyipit penuh rasa heran sekaligus kepahitan yang belum sepenuhnya sirna.

"Dia merencanakan semua ini tepat di bawah hidungmu, Adrian."

Adrian menunduk dalam-dalam, menatap jemarinya sendiri yang bertautan kaku di atas selimut.

Suasana kamar mendadak hening, hanya terisi oleh dengung halus pendingin udara.

"Aku bodoh, Sasi." bisik Adrian, suaranya parau dan bergetar hebat dihantam rasa malu yang teramat sangat.

"Aku benar-benar bodoh."

Ia mengangkat wajahnya kembali, menatap Sasi dengan mata yang memerah berkaca-kaca.

"Aku tidak tahu jika dia masih berhubungan dengan Hendrik," lanjut Adrian dengan napas memburu, berusaha melampiaskan penyesalan yang menyiksa dadanya.

"Selama berbulan-bulan, Fitria bersikap begitu sempurna di depanku. Dia berpura-pura menjadi istri yang terluka, yang meratapi ketidakmampuannya memberiku keturunan.

Rasa bersalahku padanya membuat mataku buta total, Sasi. Aku terlalu percaya padanya sampai tak pernah terlintas sedikit pun di pikiranku kalau dia sanggup merancang skenario sekeji ini."

Adrian mengepal erat jemarinya hingga rahangnya mengeras.

"Dia memanfaatkan rasa bersalahku untuk menjebak kita berdua. Tapi aku bersumpah, kebodohanku berhenti hari ini. Aku tidak akan membiarkan mereka melangkah lebih jauh lagi." ucap Adrian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!