**Tiga belas tahun lalu, dia membantai seluruh keluargaku.**
**Sepuluh tahun lalu, tanpa tahu siapa aku sebenarnya, dia mengangkatku menjadi anak angkatnya.**
**Dua tahun lalu, pria yang seharusnya kupanggil "Ayah" itu... jatuh cinta padaku.**
**Lalu, saat aku paling hancur, dia mencampakkanku begitu saja.**
**Dan malam ini—dua tahun berlalu—kami bertemu lagi.**
Larasati sudah bukan gadis yang dulu. Dengan nama panggung **Nirmala**, dia menjelma menjadi pianis misterius yang namanya menggema tanpa pernah menunjukkan wajahnya. Malam itu, di pesta megah pewaris Mahendra, sebuah cek bernilai fantastis diantarkan ke hadapannya—dari **Arkana Wardhana**. Sang bos mafia yang ditakuti seantero kota itu hendak "membeli" satu malam bersamanya, hanya untuk memastikan satu hal: *dia tak akan pernah lagi memberikan hatinya.*
Larasati tersenyum. Lalu membalasnya dengan selembar uang receh.
Karena tak ada seorang pun yang lebih tahu daripada dirinya—pria itu adalah musuh yang membantai keluarganya, ayah angkat yang membesarkannya dengan tangannya sendiri, sekaligus satu-satunya lelaki yang pernah ia cintai sampai tak bisa lepas. Di antara dendam yang membeku di tulang dan cinta yang menolak padam, Larasati pernah mengangkat pisau ke arah jantungnya... dan tak sanggup menurunkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5
Nirmala
Pukul enam pagi, ponsel bergetar di atas meja samping ranjang.
Aku membuka mata dan langsung menyesalinya. Pergelangan kaki kanan berdenyut, tengkukku pegal, dan bekas sentuhan Arkana semalam masih tinggal di kulit seperti tuduhan.
Tirai kamar 2708 belum dibuka. Lampu jingga di sudut ruangan menyala sepanjang malam.
Aku hanya tidur tiga jam.
Pesan dari Raka memenuhi layar.
`Kamu sudah bangun?`
`Kakimu bagaimana?`
`Video semalam sudah beredar di dua grup. Aksara sedang menahannya agar tidak naik ke akun gosip.`
Pesan terakhir masuk lima menit lalu.
`Aku tidak akan bertanya siapa dia. Tapi kabari aku kalau kamu butuh bantuan.`
Aku mengetik `Aku baik-baik saja`, lalu menghapusnya. Kalimat itu terlalu sering kupakai sampai tidak lagi terdengar seperti jawaban.
Pintu kamar terbuka pelan.
Vania masuk membawa kantong es, perban elastis, dan secangkir kopi tanpa gula. Rambutnya tersisir rapi meski gaun kerja semalam sudah diganti dengan kemeja putih.
"Mbak Laras sudah bangun?"
Aku pura-pura memejamkan mata.
Vania meletakkan barang-barang di meja. Ponselnya bergetar. Dia melihat ke arah ranjang, lalu berjalan ke balkon dan menutup pintu kaca.
Suaranya tetap terdengar melalui celah tirai.
"Baru tidur sekitar pukul tiga."
Hening.
"Pergelangan kaki kanannya bengkak, tapi dia menolak dokter semalam."
Jantungku berdetak lebih lambat, lebih waspada.
"Iya. Pagi ini dia berniat menghubungi pengacara soal gugatan."
Vania mendengarkan orang di ujung telepon. Bahunya turun sedikit.
"Mobilnya masih di bawah, Pak."
Aku membuka mata.
Pak.
Hanya ada satu pria yang membutuhkan laporan tentang jam tidurku, kakiku, dan pengacara yang hendak kuhubungi.
Vania masuk kembali. Dia terkejut melihatku sudah duduk.
"Bicara dengan siapa?" tanyaku.
"Tim manajemen."
"Tim manajemen Aksara tidak perlu tahu mobil siapa yang parkir di bawah hotelku."
Wajahnya tetap tenang, tetapi jemarinya menekan ponsel terlalu kuat. "Maksud saya mobil tim keamanan, Mbak."
"Begitu."
Aku menurunkan kaki dari ranjang. Nyeri langsung menyambar. Vania bergerak hendak membantu, tetapi aku mengangkat tangan.
"Saya bisa sendiri."
Bahasa formal membuatnya berhenti. Selama dua tahun bersama, aku hanya memakai `saya` ketika sedang menjaga jarak.
"Pasang esnya dua puluh menit," katanya. "Kalau bengkaknya tidak turun, kita ke rumah sakit."
"Siapa yang mempekerjakanmu, Vania?"
Dia menatapku tepat di mata. "Aksara Entertainment."
Jawaban yang benar belum tentu jawaban yang lengkap.
"Kalau begitu tunjukkan daftar panggilanmu."
Wajah Vania berubah. Sangat tipis, tetapi aku melihatnya.
"Itu ponsel pribadi saya."
"Dan kakiku urusan pribadi saya. Jam tidur saya juga."
Dia tidak menjawab. Kantong es di atas meja mulai berembun, meninggalkan lingkaran air di permukaan kayu.
"Aku tidak akan memaksamu," kataku. "Tapi mulai hari ini, jangan laporkan apa pun tentangku tanpa izin. Kepada siapa pun."
"Baik, Mbak Laras."
Jawabannya datang terlalu cepat. Bukan pengakuan, bukan pula penolakan. Aku menyimpan kecurigaan itu seperti serpihan kaca di dalam saku, kecil tetapi cukup tajam untuk melukai saat disentuh.
Dua tahun lalu, saat aku tiba di London dengan satu koper dan kaki yang belum pulih, Raka mengenalkanku kepada seorang asisten yang tahu cara mengurus jadwal kuliah, visa, terapi, serta kontrak pertunjukan. Vania tidak pernah banyak bertanya. Dia hanya memastikan aku makan sebelum latihan dan lampu jingga menyala sebelum aku tidur.
Kebiasaan kecil yang seharusnya tidak diketahui siapa pun.
Kecuali Arkana.
Di London, aku mengubur Larasati di balik nama Nirmala. Aku belajar sampai jari-jariku kapalan, bermain di aula kecil, lalu panggung yang lebih besar. Raka membuat satu keputusan pemasaran yang mengubah segalanya: Nirmala tidak pernah menunjukkan wajah.
Video tanganku memainkan piano menyebar lebih cepat daripada foto wajah mana pun. Orang-orang menebak umur, asal, dan kisah cintaku. Mereka membeli tiket untuk melihat perempuan bertopeng yang memainkan kesedihan seolah nada-nada itu keluar dari tulangnya.
Tidak ada yang tahu aku tidak sedang berakting.
Aku bangkit dan berjalan ke balkon.
"Mbak Laras, sepatunya jangan dipakai dulu."
"Aku tahu."
Pagi Jakarta berwarna kelabu setelah hujan. Kendaraan mulai memenuhi jalan. Petugas hotel menyiram tanaman di depan lobi, sementara pengemudi ojek online berhenti di seberang untuk memeriksa ponsel.
Di antara semua gerakan itu, satu benda tetap diam.
Mobil hitam Arkana.
Masih di tempat yang sama.
Kaca belakangnya gelap. Aku tidak bisa melihat apakah dia tidur, merokok, atau hanya duduk menatap pintu hotel sepanjang malam.
Ponselku berdering. Nama Pengacara Reno muncul di layar.
Aku mengangkatnya tanpa mengalihkan pandangan dari mobil.
"Pagi, Pak Reno. Saya ingin melanjutkan gugatan cerai yang pernah kita bahas."
"Pagi, Mbak Larasati. Saya sudah menyiapkan rancangan awal. Tapi saya harus mengingatkan, pihak Pak Arkana belum pernah bersedia hadir dalam mediasi informal."
"Ajukan secara resmi."
"Baik. Apakah ada perubahan keadaan yang perlu saya catat?"
Di bawah sana, pintu mobil terbuka.
Arkana turun dengan kemeja gading yang masih kusut. Dia mengangkat wajah ke lantai dua puluh tujuh, tepat ke arah balkonkku, seolah kaca dan jarak tidak berarti apa-apa.
"Tidak ada," jawabku.
Uang seribu rupiah masih terlihat di saku dadanya.
"Sama sekali tidak ada yang berubah."
Arkana mengambil ponsel. Satu detik kemudian, ponsel Vania bergetar di dalam kamar.
Vania tidak bergerak untuk mengambilnya.
Aku menoleh kepadanya.
Dia menunduk.
Saat aku kembali melihat ke jalan, Arkana masih berdiri di sana.
Semalaman dia tidak pergi.
Dan kini aku mulai curiga, mungkin selama dua tahun terakhir dia tidak pernah benar-benar melepaskanku dari pengawasannya.