"Jauhi suami saya!"
Teriakan melengking di sebuah kafe elit Manhattan itu meremukkan dunia Pearl Glow Hurt dalam sekejap.
Pria bertutur kata lembut yang dicintainya ternyata seorang penipu beristri. Demi menyelamatkan harga diri dari skandal yang memalu, Glow nekat membual bahwa kekasih aslinya bernama "Lean"—dan bersumpah akan mengelilingi New York untuk menemukan serta menikahi pria bernama Lean demi memvalidasi kebohongannya.
Pencarian impulsif itu membawa Glow ke sebuah bengkel kusam di Queens, memutuskannya berhadapan dengan Lean—seorang mekanik bersikap dingin yang mengintimidasi dan mengaku sebagai kanibal. Glow menganggap sosoknya hanyalah rakyat jelata bersikap sok misterius.
Namun, Glow tidak menyadari bahwa pria itu adalah Orion Leander Ashford, putra penguasa takhta kegelapan New York yang menjalankan bisnis senjata rahasia.
Ketika takdir bertabrakan di antara intrik dan bahaya, permainan nama Lean mendadak berubah menjadi pusaran cinta dan bahaya yang mengancam nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#31
Koridor lantai VIP Rumah Sakit Mount Sinai mendadak terasa begitu sempit dan menyesakkan. Udara beraroma antiseptik yang dingin seolah membeku di sekitar dua insan yang berdiri berhadapan.
Langkah kaki Reynal Space dan Rebelda Molloy yang menjauh tidak serta-merta membawa pergi ketegangan yang tertinggal.
Justru, badai senyap yang sesungguhnya baru saja meletus di antara Orion Leander Ashford dan Pearl Glow Hurt.
Lean mencoba meraih kembali jemari istrinya, bermaksud menuntun Glow menjauh dari lorong bernuansa kelam itu. Namun, sebelum telapak tangan kekarnya sempat menyentuh kulit mulus Glow, wanita itu menyentak tangannya dengan keras.
PLAK!
Suara tepisan tangan itu bergema tipis di koridor yang lengang. Glow melepaskan cengkeraman Lean dengan menghempaskan tangan pria itu secara kasar. Matanya yang biasanya memancarkan ketenangan seorang agen rahasia kini bergetar dipenuhi kilatan emosi, luka, dan keraguan yang mendalam.
"Siapa Shannon Matias?" tanya Glow dengan suara yang teramat dingin—dingin hingga mampu menyayat pendar-pendar kehangatan yang baru saja mereka bagi beberapa jam lalu.
Lean menarik napas panjang, mencoba menahan gejolak emosi yang membakar dadanya. Ia menatap istrinya dengan sorot mata biru yang dalam, berusaha menyalurkan ketenangan yang gagal ia ciptakan.
"Kakaknya," jawab Lean datar seraya menatap lurus ke dalam iris mata Glow. "Tidak usah dengarkan perkataannya, Pearl. Dia sedang membual. Dia hanya ingin memancing emosimu."
"Katakan padaku... siapa Shannon Matias?" tanya Glow lagi. Suaranya tidak membesar, namun setiap penekanannya menuntut kejujuran mutlak tanpa celah.
Namun, Lean tidak langsung menjawab. Pria Ashford itu hanya berdiri membisu, menatap wajah istrinya yang membeku dalam kecurigaan.
Tidak ada penjelasan tambahan, tidak ada pembelaan panjang lebar yang keluar dari bibir tegapnya. Keheningan Lean justru menjadi bensin yang menyiram kobaran api di dalam dada Glow.
"Kenapa kau mengenal Reynal?" desak Glow lagi. Rasa curiga dalam dirinya berbenturan hebat dengan identitas Reynal Space sebagai buronan internasional berstatus Angel yang selama ini diburu oleh organisasinya.
Lean mengalihkan pandangannya sebentar, menghela napas berat sebelum menjawab singkat, "Aku tidak mengenalnya. Sahabatmu Angelina sudah menunggu di dalam. Dan kumohon, jangan memikirkan hal yang tidak penting. Ayo!"
Lean kembali mengulurkan tangannya, mencoba meraih lengan Glow untuk mengakhiri perdebatan liar di koridor umum ini. Namun, benteng pertahanan Glow sudah runtuh sepenuhnya.
"Tidak! Lepaskan tanganku!" bentak Glow seraya melangkah mundur satu tapak. Suaranya menembus keheningan lorong. "Katakan padaku siapa Shannon Matias... Jawab aku, Lean!" teriak Glow, tidak peduli lagi pada martabat atau lokasi mereka saat ini.
Dada Glow bergemuruh hebat. Pikiran gila bahwa dirinya mungkin hanya dijadikan pengganti, sebuah cangkang atau bayangan dari wanita masa lalu bernama Shannon Matias, menghantam tenggorokannya hingga terasa amat perih. Ia tidak terima jika cinta dan kepasrahan yang ia serahkan pagi tadi ternyata hanya ditujukan untuk sosok wanita lain.
"Sudah kukatakan jangan dengarkan perkataannya, Honey—"
"Katakan!" teriak Glow lagi, memotong ucapan Lean dengan napas tersengal-sengal. Air mata penolakan mulai membendung di sudut matanya, menahan rasa sakit yang merebak cepat.
Lean memejamkan matanya rapat-rapat, mengusap wajahnya kasar. "Aku akan menjelaskannya nanti. Di sini bukan tempat yang tepat, Honey. Kumohon jangan berpikiran yang aneh-aneh..."
"Jelaskan sekarang..." bisik Glow dengan nada mengancam yang bergetar. "...atau aku tidak akan pernah memaafkanmu, Lean."
Ancaman itu menghantam keangkuhan Lean hingga berkeping-keping. Pria tegap itu menatap Glow dengan pandangan menatap kehancuran. Bibirnya terkatung sejenak sebelum akhirnya kalimat yang paling tidak ingin ia ucapkan lolos begitu saja dari kerongkongannya.
"Mantan tunanganku!" desis Lean rendah. "Shannon Matias adalah mantan tunanganku."
DEG.
Kalimat itu bagaikan dentuman meriam yang menghantam kesadaran Glow hingga hancur berantakan.
Dunia di sekitar Glow seolah berhenti berputar. Kata "mantan tunangan" bergema berulang kali di kepalanya, menegaskan bahwa ada wanita lain yang pernah memiliki ikatan resmi dan teramat dalam dengan pria tegap di hadapannya ini.
Tanpa mengucapkan satu kata pun lagi, Glow memutar tubuhnya. Dengan langkah-langkah lebar dan cepat, ia melangkah meninggalkan Lean, menyusuri koridor menuju kamar rawat inap Angelina. Setiap tumpuan kakinya yang masih terasa kaku dihantam rasa sakit emosional yang jauh lebih menyiksa daripada rasa sakit fisik di tubuhnya.
Lean mematung di tengah lorong, menatap punggung istrinya yang menghilang di balik belokan kamar rawat.
Pria Ashford itu mengacak rambut hitamnya secara kasar, meluapkan frustrasi yang membakar dadanya hingga ke batas maksimal. Kepal tangannya menghantam dinding marmer di sampingnya dengan ketukan pelan namun sarat akan penyiksaan batin.
"Arghhh! Sialan kau, Rey!" geram Lean rendah, matanya berkilat dipenuhi dendam membara.
...****************...
Sementara itu, di sisi lain area VIP rumah sakit, Reynal Space baru saja melangkah masuk ke dalam toilet pria yang sepi. Pria bertubuh tinggi itu melangkah mendekati wastafel porselen putih, memutar kran air, lalu membasuh wajahnya dengan kucuran air dingin secara berulang kali.
Reynal menegakkan tubuhnya. Dari jemarinya yang basah, titik-titik air menetes menyusuri garis rahangnya yang tegas. Ia menatap lurus pada pantulan dirinya sendiri di dalam cermin besar di hadapannya.
"Orion..." lirih Reynal dengan nada suara yang sukar diartikan—campuran antara benci, kerinduan, dan rasa iri yang teramat pekat.
Tidak ada yang tahu rahasia di balik hubungan rumit mereka.
Shannon Matias adalah kakak kandung Reynal Space, namun mereka berdua adalah saudara beda ayah yang dipersatukan oleh satu ibu.
Hingga hari ini, Tuan Matias—seorang penguasa berpengaruh dari Italia—terus-menerus mengganggu dan merusak beberapa jalur bisnis milik Orion Leander Ashford.
Semua serangan itu terjadi bukan tanpa alasan, melainkan karena bocoran informasi rahasia yang selalu disuplai oleh Reynal dari balik layar.
Reynal sangat membenci Orion Leander Ashford. Rasa benci itu kian membusuk karena wanita yang paling ia inginkan di dunia ini—Rebelda Molloy—begitu mencintai Orion hingga gila, bukannya dirinya.
Namun, soal ucapan Reynal tadi di depan Glow—mengenai persamaan rupa, perawakan, dan gaya rambut antara Glow dan Shannon Matias—semuanya adalah kebohongan besar.
Reynal berdusta sepenuhnya. Tidak ada satu pun kemiripan fisik maupun karakter antara Pearl Glow Hurt dan mendiang kakaknya. Itu hanyalah trik lama, sebuah manipulasi psikologis murah yang sengaja ia lemparkan untuk menghancurkan ketenangan dan kebahagiaan Pria Ashford itu.
Kenyataan pahit yang sebenarnya adalah, Shannon Matias bernasib persis sama seperti Rebelda. Mendiang kakaknya itu mencintai Orion Leander Ashford setengah mati—sebuah cinta bertepuk sebelah tangan yang tidak pernah mendapatkan balasan sedikit pun dari Lean.
Orion Leander Ashford adalah pria yang dingin, kaku, dan tak tersentuh.
Sepanjang hidupnya, Lean tidak pernah menyerahkan hatinya atau mencintai wanita mana pun. Namun, pesona dan dominasi murni milik pria Ashford itu tidak pernah gagal menyihir setiap wanita yang mendekat, termasuk Shannon Matias.
Hingga pada suatu hari, saat Shannon terbaring sekarat di RS Italia akibat penyakit kronis yang menggerogoti tubuhnya, Lean—yang sangat menghargai ikatan persahabatan masa kecilnya dengan Reynal—mengabulkan satu permintaan terakhir dari wanita itu.
Lean menyetujui pertunangan formal tanpa rasa cinta, hanya sekadar untuk memberikan kedamaian bagi Shannon sebelum wanita itu menghembuskan napas terakhirnya.
Tidak ada yang spesial dari pertunangan itu. Tidak ada cinta, tidak ada rasa memiliki. Itu hanyalah tindakan kemanusiaan seorang pria dingin demi menghormati persahabatan.
Namun, beberapa hari lalu, saat mendengar kabar bahwa Orion Leander telah menikah secara resmi dan bahkan sama sekali tidak memberitahu dirinya, ego Reynal tersentil hebat.
Reynal menganggap Lean telah benar-benar membuang dan melupakan persahabatan mereka yang terjalin sejak kecil—sebuah ikatan erat yang dulu membuat mereka saling menganggap layaknya saudara kandung.
Rasa tersinggung itu kian terbakar hebat saat mengingat bagaimana semalam Rebelda datang ke apartemennya dalam kondisi hancur dan menangis histeris.
Malam itu, Rebelda akhirnya menyerah dan mengatakan bersedia menikah dengan Reynal. Bagi Reynal, memiliki Rebelda adalah impian tertingginya, sesuatu yang terasa bagaikan mimpi yang menjadi kenyataan.
Namun, melihat bagaimana Orion Leander justru tampak jauh lebih bahagia bersama istrinya... bukankah itu teramat tidak adil?
Reynal tidak bisa menerima kenyataan itu. Mengapa Orion selalu mendapatkan segalanya dengan mudah? Mengapa pria itu selalu tampak lebih unggul, lebih berkuasa, dan lebih bahagia daripada dirinya?
Reynal lelah harus selalu menjadi pihak yang kalah di bawah bayang-bayang Orion Leander Ashford. Ia bahkan tidak mau hanya sekadar imbang.
Di depan cermin yang memantulkan mata gelapnya, Reynal menyunggingkan senyuman miring yang penuh kebusukan. Apapun caranya—dengan manipulasi, kebohongan, atau pertumpahan darah—ia akan melakukan segala cara untuk menghancurkan kebahagiaan sahabat masa kecilnya itu hingga tak tersisa.
•
Jangan lupa tinggalkan komentar 🌷
pdhl penasaran ama kelanjutannya😍😍😍