Indonesia
NovelToon NovelToon
SESALMU YANG TERLAMBAT

SESALMU YANG TERLAMBAT

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Lima tahun lalu, Larasati pergi tanpa penjelasan, meninggalkan Raka dalam kebencian yang tak pernah ia pahami alasannya. Kini takdir mempertemukan mereka kembali—bukan sebagai kekasih, tapi sebagai atasan dan bawahan. Raka yang dingin membalas luka lamanya lewat cara-cara kecil yang menyakitkan, meski diam-diam hatinya masih menyimpan rasa.
Namun ketika kebenaran akhirnya terungkap—bukan dari Laras, melainkan dari orang lain—Raka sadar betapa kejamnya ia selama ini. Sayangnya, penyesalan itu datang terlambat. Laras telah menemukan kebahagiaannya sendiri, bersama seseorang yang benar-benar memilih untuk mendengarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia berdua

Sejak malam hujan itu, sesuatu di antara mereka berubah, meski tidak satu pun dari keduanya berani menyebutnya dengan nama yang jelas. Raka mulai datang ke kedai kopi hampir setiap hari, bahkan di hari-hari ketika ia tahu jadwal kerja Laras justru libur—hanya untuk kemudian pura-pura kecewa saat mendapati kursi di pojok itu kosong.

"Kamu lagi," sapa salah satu pelayan lain, seorang perempuan bernama Sinta yang sudah hafal wajah Raka. "Laras nggak masuk hari ini, lho."

"Aku tau kok," jawab Raka, agak buru-buru. "Aku emang mau kerja di sini aja. Wifi kantor lagi error."

Sinta tersenyum simpul, tidak sepenuhnya percaya, tapi memilih tidak berkomentar lebih jauh. Ia hanya mencatat pesanan Raka, lalu berlalu sambil menahan tawa kecil.

Raka baru saja membuka laptopnya ketika ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Laras.

"Katanya nggak masuk kerja hari ini karena WiFi kantor error?"

Raka mengerutkan kening, membalas cepat. "Siapa yang bilang?"

"Sinta. Dia laporan ke aku tiap kali kamu dateng."

"Kok bisa dia lapor ke kamu?"

"Karena kita temenan. Dan karena keliatan banget kamu dateng buat nyariin aku, bukan buat WiFi."

Raka terdiam sesaat, membaca ulang pesan itu sebelum akhirnya mengetik balasan. "Ketauan ya."

"Ketauan banget. Untung Sinta orangnya bisa dipercaya."

"Kamu di mana sekarang?"

"Di rumah. Lagi bantu Ibu masak buat jualan besok."

"Jualan apa?"

"Kue basah. Ibu jualan kecil-kecilan buat tambahan."

Raka menatap layar ponselnya lama, memikirkan kalimat berikutnya. "Boleh aku ke sana?"

Balasan Laras tidak langsung datang, membuat Raka sempat berpikir ia sudah salah bicara. Namun beberapa menit kemudian, pesan itu muncul.

"Boleh. Tapi jangan kaget kalau rumahnya berantakan, lagi banyak loyang kue di mana-mana."

"Aku nggak masalah sama loyang kue."

"Ya udah, ke sini aja."

Raka menutup laptopnya, membayar kopi yang bahkan belum sempat disentuhnya, lalu bergegas keluar dari kedai. Ada semacam semangat yang tidak biasa mendorong langkahnya, sesuatu yang jarang ia rasakan bahkan ketika menghadiri rapat-rapat penting perusahaan keluarganya.

Ketika sampai di rumah Laras, aroma kue basah yang baru matang langsung menyambutnya dari halaman depan. Laras membuka pintu dengan tangan berlumur tepung, wajahnya sedikit berkeringat karena panas dapur.

"Wah, beneran dateng," katanya, setengah kaget setengah geli. "Masuk aja, lagi kacau banget di dalam."

Raka melangkah masuk, mendapati ibu Laras sedang sibuk di depan kompor sederhana, dikelilingi loyang-loyang kue yang berjajar di meja. Wanita itu menoleh sebentar, tersenyum ramah.

"Ini yang kemarin nganterin Laras pulang?" tanyanya.

"Iya, Bu. Nama saya Raka."

"Duduk aja, Nak. Maaf rumahnya berantakan, lagi banyak pesanan buat besok."

"Nggak apa-apa, Bu. Malah wangi banget dari luar sudah kecium."

Ibu Laras tertawa kecil, tampak senang dengan pujian sederhana itu. "Laras, temenin dulu tamu kamu. Ibu lanjut masak."

Laras mengangguk, mengajak Raka duduk di ruang tamu yang sempit namun rapi. Beberapa foto keluarga tergantung di dinding, salah satunya menunjukkan Laras kecil bersama seorang pria yang tampaknya adalah ayahnya, tersenyum di depan sebuah pabrik.

"Itu waktu bapak masih kerja di pabrik," jelas Laras, menyadari arah pandangan Raka. "Sebelum pabriknya tutup."

"Udah berapa lama pabriknya tutup?"

"Tiga tahun. Sejak itu bapak kerja serabutan, kadang jadi kuli bangunan, kadang bantu-bantu tetangga benerin motor."

"Berat juga ya."

"Berat, tapi ya dijalani aja. Nggak ada pilihan lain." Laras menjawab dengan nada yang berusaha terdengar ringan, meski Raka bisa menangkap sesuatu yang lebih dalam di balik kalimat itu.

"Makanya kamu kerja part time sambil kuliah?"

"Iya. Lumayan buat bantu-bantu, walau nggak seberapa."

Raka terdiam sejenak, memperhatikan Laras yang sibuk melipat kain lap di pangkuannya, seolah mencari kesibukan agar tidak perlu menatap balik.

"Kamu nggak pernah cerita soal keluargamu," kata Laras, mengalihkan topik. "Aku bahkan nggak tau nama orang tuamu."

"Nanti aja aku cerita."

"Itu lagi. 'Nanti aja.'" Laras memutar bola mata, tapi kali ini ada sedikit nada serius yang terselip. "Kamu kayak nyembunyiin sesuatu."

"Bukan nyembunyiin. Cuma..." Raka menghela napas pelan. "Keluargaku agak rumit."

"Rumit gimana?"

"Bapakku pemilik beberapa perusahaan. Ibuku yang biasanya ngatur urusan internal, termasuk urusan-urusan yang menurut dia penting buat masa depanku."

Laras menatapnya lekat-lekat. "Termasuk soal pasangan?"

Raka tidak langsung menjawab, tapi diamnya sudah cukup menjadi jawaban.

"Jadi," lanjut Laras, suaranya melembut, "kalau ibumu tau kamu deket sama aku, gimana?"

"Aku nggak tau," jawab Raka jujur. "Tapi aku nggak peduli."

"Kamu bisa bilang gitu sekarang. Tapi nanti kalau udah beneran dihadapin sama kenyataan?"

"Kenapa kamu udah mikir sejauh itu?"

"Karena aku harus realistis, Raka." Laras menatapnya dengan sorot mata yang tiba-tiba terasa berat. "Aku anak orang susah. Kamu anak orang kaya. Cerita kayak gini biasanya nggak berakhir bagus."

"Ini bukan sinetron, Laras."

"Aku tau. Tapi dunia nyata kadang nggak jauh beda."

Raka menggenggam tangan Laras yang masih memegang kain lap, membuat gadis itu terkejut dan menoleh cepat.

"Aku nggak peduli apa kata orang," katanya pelan tapi tegas. "Aku suka kamu, Laras. Bukan karena penasaran, bukan karena iseng. Aku beneran suka."

Laras terdiam, matanya berkaca-kaca meski ia berusaha menahan diri. "Kamu nggak boleh ngomong gitu kalau nggak yakin."

"Aku yakin."

"Raka..."

"Aku tau ini bakal sulit," potong Raka cepat, seolah takut kehilangan keberanian jika berhenti bicara. "Aku tau keluargaku bakal jadi masalah besar. Tapi aku pengen coba. Aku pengen kita coba, bareng-bareng."

Hening sesaat, hanya suara ibu Laras yang sesekali terdengar dari dapur, mengaduk adonan atau memindahkan loyang. Laras menatap Raka lama, seperti sedang menimbang segala kemungkinan yang bisa terjadi, segala risiko yang harus ditanggung.

"Kalau nanti ternyata beneran susah," katanya akhirnya, suaranya bergetar kecil, "kamu janji nggak akan lari?"

"Aku janji."

"Jangan asal janji, Raka. Ini bukan hal kecil."

"Aku tau ini bukan hal kecil. Makanya aku ngomong serius."

Laras menarik napas panjang, lalu perlahan tersenyum meski matanya masih berkaca-kaca. "Ya udah. Kita coba."

Raka menggenggam tangannya lebih erat, wajahnya dipenuhi kelegaan yang sulit disembunyikan. "Makasih."

"Tapi ini rahasia dulu," tambah Laras cepat. "Aku nggak mau ibumu langsung benci sama aku sebelum sempat kenal."

"Setuju. Rahasia berdua."

Mereka berdua tertawa kecil, meski di balik tawa itu ada kesadaran yang sama-sama mereka simpan diam-diam: bahwa rahasia yang dijaga terlalu lama biasanya punya cara sendiri untuk akhirnya terbongkar—dan ketika itu terjadi, tidak semua orang akan menerimanya dengan lapang dada.

Sore itu berakhir dengan Raka pulang membawa sekotak kue basah pemberian ibu Laras, dan sebuah janji yang baru saja diikrarkan tanpa saksi selain dinding-dinding rumah sederhana itu. Di sepanjang jalan pulang, ia terus memikirkan wajah Laras yang tersenyum sambil menahan air mata, dan berjanji dalam hati untuk melakukan apa pun agar senyum itu tidak pernah berubah menjadi tangisan karena dirinya.

Ia tidak tahu, janji itu akan diuji jauh lebih cepat dan jauh lebih kejam dari yang pernah ia bayangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!