Indonesia
NovelToon NovelToon
Where Your Heart Stays

Where Your Heart Stays

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: Kiara L

Seo Tae-jun telah hidup selama 34 tahun dengan keyakinan bahwa cinta hanya membuat seseorang lemah.
Han Ji-eun justru hidup dengan keyakinan sebaliknya.
Bagi Ji-eun, kehilangan orang yang dicintai memang menyakitkan, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti mencintai.
Pertemuan mereka dimulai dari hubungan profesional.
Tae-jun adalah pewaris sekaligus pemegang kendali jaringan hotel Seo Group.
Ji-eun adalah manager hotel yang telah bekerja keras selama lima tahun untuk mendapatkan posisinya.
Tae-jun awalnya hanya tertarik pada keberanian Ji-eun.
Namun perhatian itu berubah menjadi ketertarikan.
Ketertarikan berubah menjadi kebutuhan.
Dan kebutuhan perlahan berubah menjadi cinta yang membuat Tae-jun mempertanyakan seluruh hidupnya.
Masalahnya, keluarga Seo menyimpan rahasia yang berkaitan dengan kematian orang tua Ji-eun.

Semakin dekat mereka, semakin besar kemungkinan cinta mereka menghancurkan keluarga Tae-jun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiara L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Sejak kantor direktur utama resmi dipindahkan ke lantai eksekutif Hanseong Grand Hotel, keberadaan Seo Tae-jun tidak lagi sekadar rumor. Pria itu kini benar-benar ada di sana, berjalan melewati koridor utama, menghadiri rapat divisi, dan memantau operasional harian secara langsung.

Hari pertama Seo Tae-jun resmi berkantor di Hanseong Grand Hotel membuat seluruh atmosfer kerja berubah drastis. Bukan karena pria itu banyak bicaranya, justru sebaliknya. Tae-jun hampir tidak pernah berbicara jika memang tidak diperlukan, tetapi keberadaannya yang dominan terasa di setiap sudut hotel.

Pukul delapan tepat, ia sudah berada di ruang kantor barunya di lantai dua puluh lima. Pukul delapan lewat lima, rapat pertama dimulai. Pukul sembilan, ia turun memeriksa area restoran. Pukul sepuluh, ia melakukan inspeksi kamar, dan pukul sebelas ia kembali ke ruangannya untuk memeriksa laporan keuangan. Tidak ada satu pun pekerjaan yang dilakukannya setengah hati.

Di situlah Ji-eun baru menyadari satu hal. Tae-jun ternyata jauh lebih profesional dari yang pernah ia bayangkan. Bahkan ketika mereka saling bertatap muka.

Pagi itu, Ji-eun sedang melintasi lobi bersama dua stafnya ketika Tae-jun muncul dari arah berlawanan. Mata mereka bertabrakan sejenak. Ji-eun secara refleks menyunggingkan senyum kecil. Namun, Tae-jun hanya mengangguk formal.

"Manajer Han."

"Selamat pagi, Pak Direktur."

"Pastikan laporan okupansi kamar VIP sebelum pukul sepuluh sudah ada di meja saya."

"Baik, Pak."

Tae-jun berlalu begitu saja. Begitu sosok pria itu menjauh, salah seorang staf menatap Ji-eun kagum. "Direktur Seo memang luar biasa tampan, ya."

Ji-eun hanya tersenyum tipis. Namun di dalam hati, ada sedikit rasa kecewa yang menyelusup. Mereka baru saja bertemu, tidak bisakah pria itu sekadar tersenyum?

Jawabannya datang beberapa jam kemudian. Saat Ji-eun masuk menyerahkan dokumen ke ruang direktur, Tae-jun bahkan tidak mengangkat wajah dari berkasnya.

"Letakkan di sana."

Ji-eun meletakkannya di meja. "Laporannya sudah selesai saya periksa."

"Baik."

"Lalu untuk rapat sore nanti..."

"Manajer Han," potong Tae-jun pelan.

Ji-eun menghentikan ucapannya. "Ya?"

Tae-jun akhirnya mendongak. "Jika ada hal penting yang berkaitan dengan pekerjaan, silakan sampaikan."

Ji-eun mengangguk. "Baik."

"Kalau tidak ada..." Tae-jun kembali mengalihkan pandangannya pada dokumen di meja, "...kau boleh kembali bekerja."

Ji-eun menatapnya sejenak sebelum berbalik pergi. Begitu pintu ruang kerja tertutup rapat, gerakan tangan Tae-jun terhenti. Ia menyandarkan punggungnya lalu menghela napas berat.

Sangat sulit. Melihat Ji-eun berdiri di hadapannya dengan raut seformal itu, lalu dipaksa berpura-pura bahwa perempuan itu hanyalah salah satu manajernya, ternyata jauh lebih menyiksa dari yang ia bayangkan. Namun, Tae-jun ingat alasan Ji-eun meminta jarak. Karena itulah ia menghormatinya, setidaknya selama mereka berada di lingkungan kerja.

Dua minggu pertama berlalu relatif tenang. Pertemuan mereka semakin intensif, tetapi seluruhnya murni berada dalam ranah profesionalitas. Rapat, inspeksi, presentasi, dan evaluasi. Bahkan saat terjebak berdua di dalam lift, Tae-jun tetap hanya membahas perihal operasional hotel. Tidak ada percakapan pribadi, tidak ada sentuhan, dan tidak ada tatapan yang tertahan terlalu lama.

Anehnya, ketegasan Tae-jun dalam menjaga batasan itu justru membuat Ji-eun makin tersentuh.

Sore harinya, sebuah masalah krusial terjadi.

Hanseong Grand Hotel menjadi tuan rumah acara gala dinner dan presentasi proyek investasi bersama puluhan investor asing papan atas, acara penting yang disiapkan Tae-jun selama berbulan-bulan demi ekspansi bisnis hotel.

Namun tepat sepuluh menit sebelum presentasi utama Tae-jun dimulai, bencana terjadi di Grand Ballroom.

Sistem pendingin udara di seluruh ruangan mendadak mati total, disusul dengan padamnya aliran listrik utama di panggung yang mematikan seluruh layar presentasi. Suasana ballroom langsung riuh oleh keluhan para investor yang mulai kegerahan dan merasa tidak nyaman.

Penyebabnya fatal, staf teknisi dan tim operasional lapangan melewatkan verifikasi jadwal maintenance rutin dan lupa melakukan pengujian daya cadangan (generator) khusus untuk acara besar tersebut.

Ji-eun bersama tim operasional langsung berlari ke lokasi, menginstruksikan penanganan darurat dengan wajah pucat pasi. Namun nasi sudah menjadi bubur. Acara terhenti selama belasan menit, mempermalukan nama Hanseong Grand Hotel di hadapan para mitra bisnis paling berpengaruh.

Begitu acara selesai diselamatkan secara darurat, Tae-jun mengumpulkan seluruh jajaran manajemen di ruang rapat lantai dua puluh lima.

Atmosfer ruangan terasa mencekam, dingin, dan kaku.

"Manajer Han," panggil Tae-jun dengan suara rendah yang amat menekan. Pria itu berdiri di ujung meja rapat, menatap Ji-eun lurus tanpa belas kasihan.

Ji-eun berdiri tegap di posisinya. "Ya, Pak Direktur."

Tae-jun menghempaskan berkas laporan operasional ke atas meja hingga menimbulkan suara keras. Beberapa manajer lain di ruangan itu mendadak menahan napas ketakutan.

"Bagaimana bisa pengujian sistem kelistrikan dan pendingin ruangan untuk acara seluas ini lolos dari pengawasan tim operasional?" cecar Tae-jun tajam. Matanya menusuk dingin. "Apakah Anda tahu siapa saja yang duduk di ruangan itu tadi? Investor utama yang menentukan masa depan hotel ini!"

"Kesalahan terjadi karena keteledoran verifikasi teknis harian di divisi operasional, Pak," jawab Ji-eun dengan nada bergetar, namun berusaha tetap tegar. "Saya bertanggung jawab penuh atas kelalaian pengawasan ini."

"Bertanggung jawab?" Tae-jun tertawa sinis, suara tawa yang begitu dingin tanpa sedikit pun rasa humor. "Bagaimana cara Anda bertanggung jawab jika kredibilitas yang kita bangun bertahun-tahun hancur hanya dalam sepuluh menit? Bagaimana Anda mengganti potensi kerugian investasi puluhan miliar hanya dengan kata 'bertanggung jawab'?"

Ruangan menjadi sunyi senyap. Tidak ada seorang pun yang berani berkutik.

Ji-eun mengepalkan tangannya rapat-rapat di samping tubuhnya, menundukkan kepala saat harga dirinya diinjak-injak di hadapan belasan rekan kerjanya. "Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya..."

"Saya tidak butuh permohonan maaf Anda!" potong Tae-jun keras, suaranya menggema tegas. "Saya tidak butuh manajer yang hanya pandai mengusung kata tanggung jawab setelah kekacauan terjadi. Saya butuh seseorang yang kompeten, yang memastikan timnya tidak membuat kelalaian konyol yang mempermalukan hotel ini!"

Wajah Ji-eun memucat pasi. Bibirnya digigit rapat-rapat untuk menahan air mata yang mendadak mendesak keluar.

Tae-jun sebenarnya tahu ia sudah melampaui batas. Emosinya membumbung tinggi bukan hanya karena tekanan investor, melainkan karena ia tahu Ji-eun selalu memikul semua beban timnya sendirian. Namun, cara yang digunakannya saat ini sangat salah.

"Besok pagi, saya ingin laporan evaluasi menyeluruh dan kepastian bahwa seluruh sistem operasional diaudit ulang," pungkas Tae-jun dingin. "Rapat selesai."

"Baik, Pak." Ji-eun membungkuk dalam-dalam lalu berbalik keluar ruangan dengan langkah cepat.

Tidak ada yang melihat matanya yang sudah basah oleh air mata, kecuali Tae-jun.

Begitu pintu rapat tertutup rapat, Tae-jun mematung di tempatnya. Rasa penyesalan yang teramat sangat langsung menghantam dadanya.

Sepanjang sisa hari itu, Tae-jun tidak bisa fokus. Dokumen di depannya tak terbaca dan pikirannya terus terbayang pada raut terluka Ji-eun saat berdiri di hadapannya. Ia mengusap wajahnya kasar. "Brengsek..."

Ia sadar tindakannya memarahi Ji-eun di depan publik sangat keterlaluan. Namun ia tidak bisa begitu saja mendatangi Ji-eun di kantor untuk meminta maaf tanpa memicu rumor baru. Maka, ia memilih menunggu hingga jam kerja berakhir.

-----

Pukul sembilan malam, Ji-eun melangkah keluar dari gedung hotel dengan tas menggantung di bahunya. Langkahnya pelan menyusuri trotoar menuju halte bus. Pikirannya masih dipenuhi rasa bersalah dan sakit hati atas kejadian sore tadi.

Namun langkahnya terhenti tatkala melihat sebuah mobil sedan hitam yang sangat familier terparkir tak jauh dari halte. Pintu pengemudi terbuka dan Tae-jun melangkah turun. Pria itu tidak lagi memakai jas kerjanya, menyisakan kemeja yang lengan bajunya tergulung rapi.

Ji-eun mematung. "Pak Direktur?"

Tae-jun menatapnya hangat. Tidak ada raut direktur yang dingin maupun gestur profesional yang kaku.

"Aku menunggumu," ujar Tae-jun pelan sambil berjalan mendekat.

Ji-eun mengerutkan kening. "Kenapa?"

"Aku ingin minta maaf."

Ji-eun tertegun sejenak. "Untuk apa? Anda hanya menjalankan tugas sebagai direktur."

"Aku tahu," Tae-jun berhenti tepat di hadapan Ji-eun. "Tapi caraku sangat salah. Aku tidak seharusnya melampiaskan tekanan itu padamu, apalagi memarahimu di depan banyak orang."

Ji-eun menundukkan pandangannya. "Anda berhak marah. Kesalahannya memang besar."

"Tidak dengan cara seperti itu," sahut Tae-jun lembut. "Aku tahu kamu pasang badan untuk timmu. Dan aku tahu kau sudah melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan acaranya hingga selesai."

Ji-eun perlahan mendongak. "Kenapa harus minta maaf ke sini?"

"Karena aku tidak bisa mengatakannya di kantor," Tae-jun menarik napas dalam-dalam. "Dan aku tidak sanggup jika harus menunggu sampai besok."

Ji-eun terdiam memandangi pria di hadapannya. Perlahan, senyum tipis terukir di bibirnya. "Direktur Seo ternyata bisa merasa bersalah juga."

Tae-jun menatapnya lekat. "Jangan mengejekku."

Ji-eun terkekeh pelan. Untuk pertama kalinya sejak sore tadi, raut wajahnya kembali cerah. "Aku tidak marah."

"Aku tahu. Kalau kau benar-benar marah, kau tidak akan tersenyum seperti sekarang."

Ji-eun menggelengkan kepala. "Kau terlalu percaya diri."

Tae-jun tersenyum tipis lalu membukakan pintu mobil untuknya. "Ayo, aku antar pulang."

"Aku biasanya naik bus."

"Aku tahu. Tapi malam ini aku ingin mengantarmu sebagai pria yang datang meminta maaf."

Ji-eun menatap pintu mobil yang terbuka, lalu perlahan melangkah masuk. Tae-jun menutup pintu dengan lembut sebelum berputar menuju kursi pengemudi.

Begitu mesin menyala, atmosfer di dalam mobil terasa begitu berbeda.

Sebelum mobil melaju, Ji-eun berbisik pelan, "Terima kasih."

Tae-jun menoleh. "Untuk apa?"

"Karena sudah datang."

Tae-jun menatap Ji-eun cukup lama sebelum membalas dengan nada dalam, "Aku akan selalu datang setiap kali kau membutuhkanku."

Ji-eun tertegun, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke luar jendela untuk menyembunyikan rona merah dan senyum yang tak sanggup ditahannya. Sementara Tae-jun kembali fokus memandangi jalanan malam dengan perasaan yang jauh lebih ringan.

Besok mereka memang harus kembali berperan sebagai direktur dan manajer. Namun malam ini, di sepanjang perjalanan pulang, mereka hanyalah Tae-jun dan Ji-eun, dua orang yang perlahan menyadari bahwa seberapa keras pun mereka membangun jarak, perasaan itu tak pernah benar-benar bisa dipisahkan.

...****************...

1
Bintang star_nurul22
Semangat author
Kiara L: terimakasih☺️🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!