"Budget nya ini terlalu berlebihan, harus lebih efisien!"
Kenzo Swara, memberikan revisi untuk Rain Edelweis tak terhitung jumlahnya.
Lelah dan ingin marah, tapi nasib sial Rain memang ada di tangan Teman Rival kantornya itu. Kepala Tim Marketing vs Kepala Tim Perencanaan memang sering bentrok.
Di sisi lain, ada Divisi Humas yang selalu jadi penengah.
Apa jadinya kalau rival kantor Rain malah diam diam suka sama Rain?
Padahal setiap hari Rain selalu mencacinya.
Simak kisah mereka disini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peri Bumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pindah ke surabaya
Sebulan setelah drama besar di kantor akhirnya mereda, kabar bahagia datang dari arah yang tidak terduga. Suatu sore, ponsel Rain berdering dengan panggilan video dari Tiyu, yang tampak sangat bersemangat begitu panggilan itu tersambung.
"Kak Rain! Aku diterima magang!" seru Tiyu, hampir berteriak saking senangnya.
"Serius? Di mana?" tanya Rain, ikut bersemangat mendengar kabar itu.
"Di pabrik manufaktur otomotif, Kak, tapi cabangnya ada di Surabaya!" jawab Tiyu, senyumnya tidak bisa disembunyikan lagi. "Aku bakal jadi magang dulu jadi staf engineering di sana, mulai bulan depan."
Rain hampir tidak bisa menahan air matanya mendengar kabar itu. "Beneran, Tiyu? Itu artinya kamu bakal pindah ke sini?"
"Iya, Kak! Akhirnya kita bisa deketan lagi," jawab Tiyu, matanya juga mulai berkaca-kaca menahan haru.
Kenzo, yang kebetulan berada di sebelah Rain saat panggilan itu berlangsung, ikut tersenyum lebar. "Selamat, Tiyu! Ini kabar bagus banget."
"Makasih, Kak Kenzo," jawab Tiyu, tersenyum malu-malu. "Ngomong-ngomong, kalau aku pindah ke Surabaya, boleh nggak sementara aku numpang dulu di tempat kalian, sambil cari kontrakan sendiri?"
"Tentu aja boleh," jawab Rain cepat, tanpa ragu sedikit pun. "Rumahku, rumah kamu juga, Tiyu."
---
Sebulan kemudian, Tiyu tiba di Surabaya dengan membawa dua koper besar berisi seluruh barang-barangnya, disambut hangat oleh Rain dan Kenzo di stasiun kereta.
"Akhirnya sampai juga!" seru Tiyu, langsung memeluk kakaknya erat begitu turun dari kereta.
"Perjalanan lancar?" tanya Rain, membantu membawakan salah satu koper adiknya.
"Lancar banget, Kak. Cuma agak pegel aja duduk lama," jawab Tiyu, meregangkan badannya sejenak.
Kenzo, yang sejak tadi menunggu di dekat mobil, langsung membantu memasukkan barang-barang Tiyu ke bagasi. "Selamat datang di Surabaya, Tiyu."
"Makasih, Kak Kenzo," jawab Tiyu, tersenyum lebar. "Akhirnya aku bisa lihat langsung kota yang selama ini bikin Kak Rain betah banget di sini."
Perjalanan menuju apartemen berlangsung dengan obrolan hangat dan penuh canda tawa, mengingatkan Rain pada masa-masa kecil mereka dulu, ketika Tiyu masih menjadi adik kecil yang selalu dia jaga dengan penuh kasih sayang.
"Semoga nanti maganngku lancar ka, kalau evaluasi bagus, bisa langsung jadi staf disana hehe..."
"Amin..." Jawab Kenzo dan Rain serempak.
---
Malam pertama Tiyu di Surabaya dihabiskan dengan makan malam sederhana di apartemen Rain, Kenzo juga ikut hadir tentu saja. Merayakan awal babak baru dalam kehidupan mereka bertiga di kota yang sama.
"Rasanya masih nggak percaya, akhirnya kita bisa deketan lagi kayak dulu," kata Rain, menatap adiknya dengan penuh syukur.
"Aku juga, Kak. Udah kangen banget masak bareng, atau sekadar nonton drakor bareng kayak dulu," jawab Tiyu, tertawa kecil mengenang kebiasaan lama mereka.
"Ngomong-ngomong, gimana perasaan kamu soal kerjaan baru?" tanya Kenzo, penasaran dengan persiapan Tiyu menghadapi dunia kerja yang sesungguhnya untuk pertama kalinya.
"Gugup, tapi juga excited banget, Kak," jawab Tiyu jujur. "Ini kan pengalaman kerja formal pertama aku. Semoga aku bisa ngebuktiin diri, kayak Kak Rain dulu waktu awal-awal kerja."
"Kamu pasti bisa," Rain menyemangati, menepuk pundak adiknya penuh keyakinan. "Kamu udah tumbuh jadi orang yang tangguh, Tiyu. Aku yakin kamu bakal sukses di jalan kamu sendiri."
---
Hari-hari berikutnya, kehidupan mereka bertiga di Surabaya mulai menemukan ritme baru yang menyenangkan. Tiyu mulai beradaptasi dengan pekerjaan barunya, sering kali pulang dengan cerita-cerita lucu tentang rekan-rekan kerjanya yang baru dia kenal, mengingatkan Rain pada masa-masa awal kariernya sendiri yang penuh dengan pembelajaran dan penyesuaian.
"Ada juga atasanku yang ngeselin kak, cewek tapi aslinya dia jago banget sih, cuma judesnya itu nggak nguatin!"
"Awas lama lama kamu naksir Tiyu!" Kata Rain memperingatkan adiknya.
"Dihhh!!"
Kalau dipikir-pikir, dulu Rain pun begitu, selalu kesal dengan Kenzo yang tiap rapat nyanggah argumennya, ngasih kritik terus dan bikin dongkol. Benci banget setengah mampus, eh malah sekarang jadi pacarnya.
***
Suatu malam, saat mereka bertiga berkumpul untuk makan malam bersama, Tiyu bercerita dengan penuh semangat tentang hari pertamanya di lapangan pabrik.
"Kak, tadi ada kejadian lucu banget," cerita Tiyu, sambil tertawa mengenang kejadian siang tadi. "Aku salah pencet tombol mesin, gara-gara masih belum hafal semua prosedur. Untung supervisor aku baik banget, malah ketawa bareng, bukannya marah."
Supervisor yang dimaksud Tiyu adalah Mas Adi. Atasan di kantornya yang baik dan pengayom, beda banget sama Angel, senior yang Tiyu bilang judes banget.
"Namanya juga masih belajar," Rain menanggapi, ikut tertawa mendengar cerita adiknya. "Dulu aku juga sering banget bikin kesalahan konyol waktu awal-awal kerja."
"Serius, Kak? Kayak apa?" tanya Tiyu penasaran.
Rain tertawa mengenang masa lalunya. "Dulu, waktu masih staf baru, aku pernah salah kirim email penting ke seluruh divisi, padahal harusnya cuma buat tim internal. Isinya draft proposal yang masih berantakan banget."
Kenzo, yang duduk di sebelah Rain, ikut menambahkan dengan nada jenaka. "Untung waktu itu bukan aku yang jadi penerima emailnya. Kalau iya, mungkin ceritanya bakal beda."
Mereka bertiga tertawa lepas, menikmati kehangatan momen sederhana yang jauh dari kerumitan drama kantor yang sempat mereka hadapi sebelumnya.
---
Akhir pekan ini, mereka bertiga memutuskan untuk menjelajahi beberapa tempat wisata di sekitar Surabaya yang belum sempat mereka kunjungi sebelumnya, menikmati waktu bersama sebagai keluarga kecil yang perlahan mulai terbentuk di kota baru ini.
"Ini pertama kalinya aku ngerasa hidup lebih seimbang," kata Rain, duduk santai di tepi pantai sambil menikmati semilir angin sore. "Ada kerjaan yang stabil, ada Kenzo, dan sekarang ada Tiyu juga di sini. Rasanya lengkap banget."
"Aku juga seneng banget bisa jadi bagian dari momen ini," jawab Kenzo, menggenggam tangan Rain lembut. "Ngeliat kamu bahagia kayak gini, itu jadi salah satu hal paling berharga buat aku."
Tiyu, yang duduk tidak jauh dari mereka sambil menikmati es kelapa muda, tersenyum melihat kebahagiaan kakaknya. "Kalian berdua tuh manis banget, deh. Kadang bikin aku pengen cepet-cepet punya pasangan juga."
"Sabar, Tiyu. Waktunya bakal dateng sendiri," Rain menggoda adiknya, tertawa kecil.
Tiyu cuma merasa sering jadi obat nyamuk aja, kalau punya pasangan kan minimal bisa double date.
Sore itu, di tengah keindahan pantai Surabaya yang mulai berubah warna jingga keemasan, Rain merasakan kebahagiaan yang mendalam, sebuah pengingat bahwa perjuangan panjang yang telah dia lalui sejak awal karier, hubungan yang dia bangun dengan penuh kesabaran bersama Kenzo, hingga pengorbanan yang dia berikan untuk keluarganya sendiri, kini semuanya bermuara pada momen sederhana namun begitu berharga ini, kebersamaan dengan orang-orang yang dia cintai, di kota yang perlahan mulai terasa seperti rumah sesungguhnya.
Atas badai badai yang pernah dia lalui, dia merasa bersyukur bisa dan sanggup melewati itu semua.
se mistery apa dia...
biasany kalo rival gitu kan harus deket buat saling cekcok 🤭 tpi nyatanya ada hati disana...