Indonesia
NovelToon NovelToon
Terpikat Suami Sahabatku

Terpikat Suami Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Saling selingkuh
Popularitas:887
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

**Lima tahun menikah, yang tersisa dari Larasati cuma satu: lelah.**

Suaminya miskin. Keluarga suaminya menguras habis uang dan tenaganya demi biaya rumah sakit sang mertua—sampai untuk sekadar mencoba baju di toko pun, Laras tak pernah berani. Ia menyimpan foto rumah contoh di laci, memimpikan satu rumah kecil yang benar-benar miliknya. Tapi setelah lima tahun, ia tak punya apa-apa selain rasa capek yang tak berujung.

Sampai ia datang ke Jakarta, menumpang di apartemen mewah sahabat lamanya, **Tiara**. Di sanalah ia bertemu **Bram**—suami Tiara. Pria dari keluarga konglomerat Adiwangsa, berwajah dingin, angkuh, katanya suka main perempuan. Tapi entah kenapa, di depan Laras… pria itu memujanya seolah tak ada perempuan lain di dunia.

Satu malam nekat mengubah segalanya.

Transfer Rp200 juta tanpa diminta. Skincare mahal satu meja penuh, disusun rapi karena ia ingat Laras pernah dihina cuma pakai skincare murah. Diterbangkan sebelas jam ke luar negeri hanya untuk menjaganya semalam.

*"Kamu kurang apa, aku kasih. Jangan nangis buat hal begini—aku nggak tega."*

Masalahnya: Bram adalah suami sahabatnya sendiri.

Saat seluruh dunia menyebutnya **pelakor**, saat mantan suaminya mengacungkan pisau, saat Tiara bersumpah takkan pernah memaafkannya—Laras harus memilih. Tetap jadi "perempuan baik-baik" yang tenggelam pelan-pelan… atau untuk pertama kalinya, merebut kebahagiaan yang bahkan tak berani ia impikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 021

Pengakuan

“Karena aku masih menganggap kamu sahabatku,” jawab Laras.

Tiara menunduk pada mangkuk kosong. “Gue nggak tahu masih bisa menganggap lo sahabat atau nggak.”

“Kamu nggak harus putuskan malam ini.”

Hujan membesar. Mereka kembali ke kos setelah Laras membayar makanan. Di minimarket dekat gang, Tiara berhenti dan mengambil beberapa kaleng bir dari lemari pendingin.

“Lo ikut minum.”

“Aku nggak biasa.”

“Bagus. Biar malam ini semua kebiasaan buruk keluar sekalian.”

Laras mengambil air mineral dan obat maag. Tiara mendengus saat melihat obat itu, tetapi tidak melarang.

Ibu pengelola sudah tidur ketika mereka naik. Laras menegakkan meja, mengumpulkan bantal, lalu membentangkan handuk di atas sofa yang basah. Tiara duduk di lantai seolah kerusakan itu dibuat orang lain.

Kaleng pertama dibuka dengan bunyi tajam.

“Gue sebenarnya iri sama lo sejak kuliah,” kata Tiara setelah meneguk.

Laras yang sedang memeras kain berhenti. “Iri apa?”

“Semuanya. Lo cantik tanpa makeup, nilai bagus, disukai dosen. Cowok-cowok antre bantu bawain buku lo.”

“Nggak ada yang antre.”

“Ada. Lo aja terlalu sibuk belajar buat sadar.” Tiara tertawa pahit. “Gue dandan dua jam supaya dilihat. Lo datang pakai kemeja murah, semua kepala nengok.”

Tiara mengingat acara kampus ketika tiga orang menawarkan Laras pulang bersama. Ia mengingat dosen tamu yang memuji pengucapan Inggris Laras di depan kelas, lalu teman-teman mengerubunginya untuk meminjam catatan.

“Waktu ulang tahun gue, semua orang tetap nanya lo datang atau nggak,” katanya. “Itu pesta gue, tapi lo yang ditunggu.”

“Aku nggak pernah tahu kamu merasa begitu.”

“Karena gue selalu ketawa. Lebih gampang pura-pura bangga punya sahabat cantik daripada mengaku iri.”

“Kenapa tetap berteman denganku?”

Tiara menatap kalengnya. “Karena lo satu-satunya orang yang nggak pernah bikin gue merasa harus bersaing. Saat gue dapat nilai lebih tinggi, lo benar-benar senang. Saat gue punya barang baru, lo puji tanpa minta pinjam. Itu malah bikin gue makin kesal.”

Laras tersenyum sedih. Persahabatan mereka memang selalu berisi dua hal yang bertentangan: kasih sayang dan perbandingan yang tak pernah diucapkan.

“Aku justru selalu iri sama kamu.”

“Sama apa?”

“Kamu berani. Tahu cara masuk ke tempat mahal tanpa takut. Keluargamu cukup. Kamu nggak perlu menghitung makan sampai beasiswa cair.”

Tiara membuka kaleng kedua. “Makanya gue janji bakal nikah sama orang kaya. Gue mau semua orang lihat gue menang.”

“Terus kamu menikah dengan Bram.”

“Iya. Gue pikir gue menang.” Ia menatap Laras. “Gue malah kira lo yang bakal nikahin om-om kaya. Ternyata nikah sama... apaan itu.”

“Namanya Wahyu.”

“Iya, Wahyu. Maaf.” Tiara menyandarkan kepala ke dinding. “Gue jijik sama diri sendiri karena waktu tahu lo hidup susah, sebagian diri gue senang. Akhirnya ada satu hal di mana gue lebih baik.”

Laras duduk di depannya dengan kaleng pertama yang belum habis. “Mungkin kita sama-sama nggak pernah benar-benar jujur.”

“Sekarang jujur.” Tiara mengangkat wajah. “Gimana awalnya?”

Laras tahu yang dimaksud.

“Tiara...”

“Gue berhak tahu.”

Bir membuat kepala Laras ringan, tetapi ingatannya tetap jelas. Ia menceritakan telepon Wahyu, uang, dan malam ketika ia turun tanpa ponsel. Ia menceritakan sky lounge, minuman Rp250.000, serta laki-laki asing yang duduk di sebelahnya.

“Dia paksa lo?”

“Nggak. Aku yang minta dia cium.”

Wajah Tiara menegang.

“Dia sempat tanya aku yakin atau nggak. Aku bilang iya. Kalau Bram nggak datang, mungkin aku bahkan ikut laki-laki itu ke kamar. Aku benar-benar ingin menghancurkan sesuatu malam itu.”

“Terus Bram lihat?”

“Dia memisahkan kami. Setelah itu dia bilang aku nggak mabuk, dia tahu aku memang cari laki-laki.”

“Dan lo malah pindah ke dia.”

Laras meneguk bir sampai habis. “Nggak langsung.”

Ia menceritakan makanan di dapur, cara Bram meminta tambah nasi, belanja gaun, parfum, dan transfer dua ratus juta. Ia tidak menyembunyikan ciuman di kamar mandi atau kebohongan ketika Wahyu menelepon dari gudang olahraga.

“Kalian tidur bersama?” Tiara bertanya datar.

“Nggak.”

“Jangan bohong lagi.”

“Kami berciuman. Dia menyentuhku. Tapi kami nggak melakukan lebih dari itu.” Laras memegang kaleng dengan dua tangan. “Bukan karena aku lebih bermoral. Kejadiannya terlalu cepat, dan aku pergi sebelum semuanya lebih jauh.”

“Tapi lo mau?”

Laras menutup mata. “Iya.”

Jawaban itu membuat Tiara menenggak minuman panjang.

“Apa yang bikin lo jatuh cinta? Duitnya?”

“Awalnya aku bahkan nggak tahu dia sekaya itu.”

“Terus apa?”

“Dia lihat aku malu, tapi nggak membuatku merasa kecil. Waktu kamu mau transfer uang untukku, dia bilang aku punya harga diri. Waktu Wahyu menelepon, dia melihat aku takut bahkan sebelum aku menangis.”

“Jadi karena dia kasihan.”

“Bukan. Karena dia memperhatikanku.”

Tiara tertawa pahit. “Sementara gue tinggal serumah sama dia dan nggak pernah memperhatikan.”

Laras tidak menjawab. Tidak ada jawaban yang tidak terdengar seperti kemenangan.

“Di sekolah dia bilang aku belum jadi istrinya. Belum saja,” lanjut Laras. “Saat itu aku tahu semuanya sudah terlalu jauh.”

“Tapi lo masih pulang ke rumah gue.”

“Iya.”

“Masih makan sama gue, tidur di kamar gue, sambil nyimpan kalimat itu?”

“Iya.”

Laras membiarkan setiap pengakuan menelanjangi dirinya. Tiara berhak melihat seluruh bagian buruknya, bukan versi yang sudah dibersihkan agar mudah dimaafkan.

Setiap detail membuat Tiara semakin diam.

“Bekas jari itu dari kamar mandi gue?” tanyanya.

“Iya.”

“Saat gue ada di luar?”

“Iya.”

Tiara mengambil satu kaleng lagi. Tangannya gemetar saat membuka.

“Kacamata itu benar dari dia.”

“Iya.”

“Dan bekal yang dia bilang buatan istri...”

“Aku yang masak.”

Tiara menutup mata. Air mata mengalir tanpa isak.

“Gue bodoh banget.”

“Kamu percaya sama kami.”

“Itu definisi bodoh.”

Laras meraih obat maag. “Minum ini dulu.”

Tiara menepis tangannya. “Jangan jadi Laras yang baik sekarang.”

“Perutmu selalu sakit kalau minum tanpa makan cukup.”

“Biar.”

Laras meletakkan obat di meja.

Tiara menatapnya dengan mata kabur. “Jangan pikir dia akan selalu begini. Bram campakkan gue, nanti dia bakal campakkan lo juga.”

Kalimat itu menembus mabuk Laras.

“Dia bosan sama semua perempuan,” lanjut Tiara. “Lo cuma baru. Begitu lo nggak menarik lagi, dia cari yang lain.”

Tiara menghabiskan kalengnya dan meremas aluminium kosong sampai penyok. Laras ingin membantah, tetapi ketakutan yang sama sudah lebih dulu hidup di dalam dirinya dan diam-diam membuat kedua telapak tangannya dingin.

Ketukan terdengar dari pintu.

Laras berdiri terlalu cepat. Ruangan berputar. Ia berpegangan pada dinding dan berjalan terhuyung ke pintu.

“Siapa?”

Tidak ada jawaban, hanya ketukan kedua.

Laras membuka pintu. Tubuhnya langsung ditangkap sepasang lengan kuat sebelum ia jatuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!