Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Pembawa Sial, Tapi Waktu Tunduk Padaku

Aku Pembawa Sial, Tapi Waktu Tunduk Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: lizzy Bae

Sepanjang hidupnya, Bayu Rahaja selalu dijuluki si pembawa sial hingga puncaknya kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah tragedi yang memaksanya pulang ke rumah tua keluarganya. Di tengah keputusasaan saat ditagih hutang dan membereskan barang-barang usang peninggalan kakeknya, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah batu hitam kehijauan yang diam-diam mengaktifkan sebuah pusaka kuno. Waktu di sekitarnya mendadak berhenti, dan Bayu menyadari bahwa kesialannya selama ini adalah harga yang harus dibayar untuk membangkitkan Batu Waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Matahari sore mulai condong ke ufuk barat saat Bayu sampai di depan rumah tuanya.

Ia membawa dua kantong plastik besar berisi sembako dan beberapa pakaian baru yang dibelinya di pasar.

Kriet.

Suara engsel pintu yang berkarat berbunyi nyaring saat Bayu mendorongnya terbuka.

"Akhirnya sampai rumah juga, hari ini benar-benar melelahkan," keluh Bayu sambil meletakkan belanjaannya di atas meja kayu.

Ia menghempaskan tubuhnya ke kursi rotan yang sudah berderit-derit menahan bebannya.

Bayu menatap langit-langit rumahnya yang penuh debu dan sarang laba-laba.

Pikirannya kembali terngiang pada rentetan ucapan Anya di kedai es kelapa tadi siang.

"Gadis itu terlalu tajam analisanya, aku tidak boleh gegabah lagi meninggalkan jejak fisika yang aneh," batin Bayu memperingatkan dirinya sendiri.

Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan Batu Waktu yang berwarna hitam kehijauan itu.

Batu itu terasa dingin, namun berdenyut seirama dengan detak jantungnya.

"Aku harus tahu batas pasti dari kekuatan ini sebelum menggunakannya lagi untuk hal yang berisiko," ucap Bayu pada ruangan kosong.

Sebuah layar biru transparan langsung muncul merespons ucapannya.

[Sistem Batu Waktu aktif.]

[Energi Waktu: 8/10]

[Saran Sistem: Pengguna dapat melakukan uji coba terukur untuk memahami skala area Jeda Waktu.]

"Nah, kebetulan sekali kamu muncul memberikan saran," kata Bayu sambil menunjuk layar bercahaya itu.

"Apakah waktu yang berhenti itu hanya di sekitarku saja atau mencakup seluruh dunia?"

[Jawaban Sistem: Jeda Waktu bersifat absolut dan mencakup seluruh dimensi ruang yang terhubung dengan pengguna.]

[Namun, inersia yang tertahan akan memberikan beban mental sesuai dengan jarak pergerakan pengguna dari titik awal.]

Bayu mengerutkan keningnya membaca penjelasan yang lumayan rumit itu.

"Intinya seluruh dunia berhenti, tapi kepalaku bisa pecah kalau aku banyak bergerak menjauh," simpul Bayu dengan bahasanya sendiri.

"Ayo kita buktikan seberapa jauh aku bisa berjalan tanpa pingsan."

Bayu mengambil sebuah kelereng kaca kusam dari laci meja peninggalan kakeknya.

Ia melangkah keluar rumah dan berdiri di halaman depan yang dipenuhi rumput ilalang tinggi.

Suara jangkrik mulai terdengar bersahutan dari balik semak-semak menyambut datangnya senja.

Di kejauhan, terlihat sebuah pesawat terbang komersial yang sedang melintas pelan di langit jingga.

Bayu melemparkan kelereng kaca itu tinggi-tinggi ke udara.

"Hentikan waktu," perintah Bayu dengan tegas di dalam hatinya.

Wusss.

Seketika itu juga keheningan mutlak menyergap dunia tanpa ampun.

[Jeda Waktu diaktifkan.]

[Energi Waktu: 7/10]

Kelereng kaca itu membeku tepat di titik tertingginya di udara.

Bayu mendongak menatap langit dan melihat pesawat komersial itu juga berhenti total seolah tertempel di awan.

"Benar-benar luar biasa, bahkan mesin jet sebesar itu bisa kuhentikan dengan mudah," decak Bayu kagum.

Ia kemudian mencoba melangkahkan kakinya keluar dari area pagar halamannya.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Setiap langkah yang ia ambil terasa semakin berat dari biasanya seolah ada magnet raksasa yang menahannya.

"Ugh, rasanya seperti berjalan menembus dinding air lumpur," keluh Bayu sambil memegangi dadanya yang mulai sesak.

Udara di sekitarnya terasa sangat padat menolak untuk dibelah oleh pergerakan tubuhnya.

[Peringatan: Pengguna bergerak menjauhi titik koordinat awal pengaktifan.]

[Beban entropi meningkat drastis. Energi Waktu terkuras lebih cepat.]

Layar biru itu berkedip dengan cepat menunjukkan angka energi yang berubah berurutan.

[Energi Waktu: 6/10]

[Energi Waktu: 5/10]

"Sial, baru berjalan sepuluh meter saja energinya turun secepat ini," umpat Bayu mulai panik.

Ia buru-buru berbalik badan dan berjalan susah payah kembali ke posisinya semula di dekat pintu rumah.

Keringat dingin mulai bercucuran deras membasahi kaus hitam barunya.

Kepalanya terasa seperti ditusuk-tusuk oleh ribuan jarum kecil yang tak kasat mata.

"Lanjutkan waktu," batin Bayu membatalkan kekuatannya dengan sisa kesadarannya.

Wusss.

Keheningan absolut itu pecah seketika digantikan oleh suara bising alam yang kembali berputar normal.

Tuk.

Kelereng kaca yang tadi melayang kini jatuh menabrak tanah dan menggelinding menabrak ujung sepatunya.

Bayu langsung jatuh berlutut di tanah sambil terengah-engah mencari udara segar sebanyak-banyaknya.

"Hah... hah... gila, eksperimen ini nyaris membunuhku dari dalam," gumam Bayu menahan rasa mual di perutnya.

[Jeda Waktu dinonaktifkan.]

[Energi Waktu tersisa: 4/10]

[Saran Sistem: Jangan memaksakan pergerakan spasial jarak jauh selama kemampuan masih di level pemula.]

"Kamu baru bilang sekarang setelah kepalaku nyaris meledak," rutuk Bayu kesal pada layar sistem yang tak berdosa itu.

Ia mengusap keringat kotor di dahinya dan berusaha berdiri bertumpu pada kedua lututnya.

Brum.Brum.Cit.

Tiba-tiba suara deru mesin kasar terdengar mendekat dan suara rem berdecit melengking tepat di depan rumah Bayu.

Dua buah sepeda motor modifikasi yang knalpotnya berisik berhenti menghalangi jalan keluar gang.

Disusul oleh sebuah mobil sedan hitam kusam yang parkir sembarangan hingga menabrak tong sampah plastik.

Bayu menyipitkan matanya menatap tajam tamu-tamu tak diundang yang merusak waktu istirahatnya itu.

Pintu sedan perlahan terbuka dan keluarlah pria berbadan gempal yang sangat Bayu kenal.

"Itu dia rumahnya, Bos," ucap Riko sambil menunjuk ke arah Bayu menggunakan tangannya yang masih diperban.

"Anak itu yang semalam pakai ilmu hitam buat menghajar saya dan Bang Bagas sampai babak belur."

Dari kursi penumpang bagian depan, turun seorang pria tinggi kurus dengan rambut gondrong yang dikuncir kuda.

Pria gondrong itu memakai jaket kulit hitam kumal dengan sablon logo ular kobra melingkar di punggungnya.

Bayu langsung teringat pada percakapan dua petugas polisi di lobi siang tadi.

"Bos Cobra dari geng utara," batin Bayu menyadari siapa sosok yang datang bertamu ke rumahnya ini.

Pria gondrong itu meludah ke rumput dan berjalan santai memasuki halaman rumah Bayu tanpa permisi.

Ada sekitar lima orang preman berwajah sangar yang mengikuti patuh di belakang punggungnya.

"Jadi kamu bocah yang namanya Bayu?" sapa pria gondrong itu dengan suara serak yang sangat berat.

1
lizzy Bae
Bagus banget ceritanya lanjutkan!!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!