Sungguh tidak menyangka bagi dokter Rembulan. Ia akan mendengar permintaan aneh dari Mentari sahabat sekaligus pasiennya yang sudah dia tangani selama satu tahun. Mentari meminta untuk menjadi ibu bagi Talita. Menjadi ibu tiri anak Mentari berarti Rembulan harus menikah dengan Bintang suami sahabatnya.
Jelas Bintang suami Mentari menolak dengan tegas.
"Tolonglah Mas, Demi anak kita, aku sudah tidak kuat lagi."
"Sayang... jangan berpikir yang aneh-aneh, kamu akan sembuh dan kita akan hidup bahagia selamanya."
Apakah Bulan akhirnya menyanggupi permintaan Mentari? Lalu bagaimana tanggapan Bintang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Di pintu ruang rawat, Kenan kaget saat tatapannya tertuju ke arah pernikahan yang tidak biasa. Dalam hatinya muncul beberapa pertanyaan. Rembulan menikah dengan Bintang? Berarti Bulan rela menjadi istri kedua.
Tangan Kenan mengepal kuat, ia tidak percaya Rembulan akan menjatuhkan harga dirinya seperti itu. Banyak pria yang antri ingin menjadi pendamping Bulan termasuk dirinya, tapi kenapa wanita itu harus menikah dengan Bintang? Dengan perasaan campur aduk, Kenan menarik kakinya mundur lalu balik badan meninggalkan tempat itu.
Bayangan jika Rembulan terjebak cinta segitiga sejak dulu mengisi pikirannya, setelah Mentari tidak berdaya lalu menyerahkan suaminya kepada Bulan hanya ingin dijadikan perawat anak.
"Kenapa kamu akhirnya jatuh kepada Bintang yang attitude baiknya lebih kecil darimu Bulan," gumamnya dengan dada sesak.
Kenan selama ini mengira bahwa Bulan kelak akan menjadi sinar dalam hatinya seiring berjalannya waktu, tapi ternyata cahaya yang indah itu masuk ke rumah pria yang sudah beristri.
Kenan masuk keruangan hendak menandatangani berkas yang sudah menumpuk di atas meja, tapi tiba-tiba mood nya hilang, lalu keluar meninggalkan rumah sakit.
.*********
Sementara di ruang dokter yang tidak jauh dari ruangan Kenan, Bulan duduk di kursi memandangi cincin yang melingkar di jari itu membuat tangisnya pecah.
Ia menumpahkan air mata agar dadanya yang sesak sedikit lega sebelum para dokter yang sedang bertugas kembali ke tempat itu.
Seharusnya cincin yang melingkar di jari manisnya bukan diselipkan oleh Bintang, yakni suami sahabatnya sendiri.
Apakah salah jika ia bermimpi untuk menikah dengan pria lajang dan mempunyai segudang harapan bersamanya? Demi masa depannya dengan anak-anak yang kelak akan lahir dari rahimnya sendiri. Namun, takdir berkata lain.
Rembulan tidak pernah menyangka jika pernikahan terpaksa seperti ini akan terjadi. Rumah tangga bahagia yang ia cita-citakan kedepannya sama sekali tidak ada harapan.
Bulan tidak menyangkal melakukan semua ini demi sahabatnya. Namun, di saat yang sama menghantam hati nurani nya karena merasa telah mengkhianati sahabatnya sendiri. Bulan baru menyadari ternyata menolong seseorang dengan cara seperti ini tidak bisa ia lakukan dengan ikhlas seperti ketika menolong orang lain dalam bentuk apapun.
"Bulan..." ucap seorang wanita yang baru saja masuk melangkah ke arahnya.
Bulan segera mengusap air matanya, lalu menoleh ke arah mami Renata. Beliau berada di rumah sakit ini karena harus menyaksikan pernikahannya satu jam yang lalu.
"Sayang... jangan bersedih lagi ya, Nak. Ini pilihan kamu, keputusan kamu, Mami hanya merestui karena jiwa kedokteran yang kamu sandang membuatmu rela berkorban hingga sejauh ini," nasehat mami merangkul tubuh putrinya yang masih terisak-isak.
"Aku tidak apa-apa kok, Mi... Aku akan menjalani kehidupan yang sudah aku pilih, doakan anakmu Mami..." Bulan yang tetap di posisi duduk memutar kursi lalu menenggelamkan wajahnya di perut mami.
"Jelas Mami akan selalu mendoakan kamu dan Kakakmu anak-anak Mami," tulus mami, tangannya mengusap rambut Rembulan seperti ketika kecil dulu. Ia berusaha untuk mendukung langkah Rembulan walaupun hatinya tidak kalah hancur. Orang tua mana yang rela putrinya menjadi istri kedua.
"Mami pulang dulu ya, Nak..." pamit mami setelah putrinya sedikit tenang.
"Iya Mami... hati-hati," jawab Bulan serak, ia sebenarnya ingin izin atasan untuk pulang karena tidak mungkin menjalankan tugas dalam keadaan seperti ini, tapi Rembulan masih harus menyelesaikan urusannya dengan Bintang.
Bulan mengantar mami Renata hingga pintu, kemudian kembali ke dalam ambil selembar kertas, duduk di depan komputer, mengetik sesuatu, begitu selesai langsung mengirim pesan kepada Bintang.
"Tunggu saya di ruang rawat sebelah kamar Mentari, Pak."
Begitulah pesan yang Bulan ketik. Sebelum keluar dari ruangan itu untuk menemui Bintang, Bulan membasuh wajahnya terlebih dahulu untuk mengurangi sembab di kelopak mata
Sepuluh menit kemudian, di ruang rawat yang kosong, Bulan memberikan selembar kertas itu kepada Bintang.
"Apa itu?" Tanya Bintang hanya memandangi kertas putih di tangan Rembulan tanpa berniat mengambil.
"Ambil makanya, lalu baca," tegas Rembulan.
Tangan Bintang menyambar kertas itu, lalu membetulkan posisi kaca mata, tatapannya menyapu barisan tulisan yang Rembulan ketik rapi. Entah apa isi dari surat tersebut hanya mereka yang tahu. Sesaat Bintang menatap Bulan, sebelum akhirnya mengangguk cepat.
"Baik," ucapnya singkat, lalu menandatangani lembar itu tanpa ragu.
Setelah Bintang menandatangani surat tersebut, hari-hari Bulan tetap merawat Mentari selayaknya pasien yang lain. Bahkan mempunyai tugas ganda, bukan hanya sebagai dokter, tapi juga menjadi ibu bagi Talita.
"Terima kasih sahabku..." lirih Mentari menatap Rembulan sedikit cerah. Ia sudah pasrah jika hari ini, esok atau lusa Tuhan memanggilnya.
"Sama-sama... sekarang jangan pikirkan Lita lagi karena aku sudah tinggal di rumahmu untuk menjaganya," papar Bulan sebelum akhirnya pamit pulang.
"Mas, antar Bulan ya," Mentari menggapai lengan Bintang yang duduk di sebelahnya.
"Oh, tidak usah pikirkan aku Mentari, aku membawa kendaraan sendiri kok, biar Pak Bintang menjagamu di sini."
Pungkas Rembulan lalu pergi, setiap sore ia tidak pulang ke rumahnya seperti sebelum menikah, lebih tepatnya menginap di kediaman Bintang karena menjaga Lita seperti yang Mentari inginkan.
Seringkali Bulan membuat video bersama Lita di setiap momen kebersamaan mereka, lalu mengirimkan kepada Bintang agar diperlihatkan kepada Mentari.
Sementara Bintang sendiri selalu menginap di rumah sakit menemani Mentari, hingga membuat istrinya itu curiga bahwa Bintang tidak memperhatikan Bulan.
"Mas, sebaiknya kamu pulang gih, istrimu bukan hanya aku loh, tapi Bulan di rumah juga menunggumu," ucap Mentari. Wanita itu kini menyadari jika suaminya tidak memperhatikan Bulan karena setiap malam menemaninya di rumah sakit.
"Tidak apa-apa sayang... Bulan mengerti kok," Bintang mencium kening istrinya.
"Bulan itu baik sekali Mas, jelas dia tidak akan minta hak nya jika bukan kamu yang memberi lebih dulu."
"Baiklah, untuk malam ini aku tetap di sini bersama kamu, sebentar lagi kan kamu sudah boleh pulang, kita akan tinggal di rumah bersama-sama. Nah, sekarang sudah malam, sebaiknya kamu tidur ya..." kata Bintang lalu membetulkan selimut istrinya.
Bintang menatap wanita yang ia cintai itu kini lebih cerah, rupanya setelah ia menikahi Rembulan membuat istrinya menjadi lebih tenang.
Bintang menggeleng pelan, di luar sana banyak istri jatuh sakit karena diduakan oleh suami, tapi istrinya itu justru sebaliknya.
Bintang tidak tahu jika di balik hatinya yang mulai memetik hasil dari pernikahannya dengan Rembulan, banding terbalik dengan hari-hari Bulan yang menjalankan tugasnya sebagai istri di atas kertas seperti sedang mimpi buruk.
Hari-hari berjalan penuh kebekuan antara Bulan dan Bintang, tiap pagi hari Bintang pulang hendak ganti pakaian sebelum berangkat lagi ke rumah sakit tapi hanya menganggap Bulan sebagai tamu, bahkan berangkat masing-masing seperti tidak saling mengenal.
Sementara Bulan sendiri tidak mempedulikan hal itu, memilih sibuk dengan Lita dan juga tugasnya sebagai dokter. Tidak ada interaksi selayaknya pengantin baru.
Suatu hari, kondisi Mentari perlahan membaik dan dokter akhirnya mengizinkannya pulang.
"Bunda... Tante Dokter kan menginap di sini, terus bobo sama Lita," celoteh lita ketika Mentari tiba di rumah. Anak itupun tampak ceria.
"Iya, mulai sekarang Talita tidak boleh memanggil Tante lagi ya, tapi harus panggil, Mama," titah Mentari.
Mendengar ucapan Mentari, Bulan kaget tapi terburu-buru biasa saja begitu Mentari tersenyum kepadanya.
Mulai saat itu mereka tinggal dalam satu atap, tapi Bulan tidur sendirian, sementara Bintang tetap tidur bersama Mentari di kamar utama hingga menjadi perhatian Mentari.
"Mas, mulai malam ini kamu harus adil, tidurlah bersama Rembulan," tegas Mentari.
"Kamu kan masih sakit sayang... mana mungkin aku bisa ninggalin kamu tidur sendirian," jawab Bintang, dalam hal ini ia tidak bohong juga.
"Aku sudah lebih baik Mas, kamu tidak boleh egois, temani Bulan," desak Mentari.
"Iya, iya..." Bintang pun akhirnya menuju kamar tamu yang Bulan tempati. Di depan pintu, ia berhenti hingga beberapa saat mengamati kamar tersebut. Tangannya naik turun berulang kali hendak mengetuk tapi masih saja ragu.
Tok tok tok.
...~Bersambung~...
hrus nya mentari juga jujur dari awal klau bulan istri ke dua binta⭐biar tu mulut duo keong racun diem 😡
Gak abis² beritanya sampe sekarang juga, udah berapa bulan itu berlangsung
Kamu jangan meremehkan jagat maya Bintang karena efek psikologisnya mengena pisan terutama ke korban
Meremehkan netizen, menganggap sepele udah dihapus, selesai dalam pikiran Bintang yang masa bodo
Gak mikir efek psikologis Bulan, Mentari, anaknya & ibu kandung Bintang sendiri
Pret lah Bintang, kau anggap remeh kekuatan nitezen tanpa memikirkan psikologisnya
Secara Bintang tuan rumah, mudah baginya untuk mengusir mertua & afik ipar meski masih berstatus suami Mentari
Tapi gimana lagi 🤷♀️
memang dibuat bodoh & masa bodo agar tetep salah paham antara mertua, ipar, istri kedua & orang tua kandung Bintang sendiri
Sabar aja nunggu episode selanjutnya yang bikin viral nama Bulan ancur karena narasi kejelekan² dari Sherly & Ratih
dimata siapapun bukan diposisi yg salah. orang awam gk akan percaya kalo semua itu istri pertama yg meminta.. mau dijelaskan gimanapun dimata netizen Bulan seorang pelakor..
kasian juga sich sebenarnya.. 😌😌