Indonesia
NovelToon NovelToon
Warisan Hati & Si Kecil Berbakat

Warisan Hati & Si Kecil Berbakat

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Anak Genius / Cintapertama
Popularitas:223
Nilai: 5
Nama Author: Andi diana Nana anggrini

CEO dingin Lin Yicheng meninggalkan Su Wan lima tahun lalu tanpa tahu ia mengandung anaknya. Kini Su Wan kembali membawa Lin Xiaoqi, putra jenius berusia lima tahun yang bertekad menyatukan orang tuanya. Si kecil perlahan mencairkan hati batu sang ayah, namun ancaman bisnis dan penolakan keluarga menguji cinta mereka. Warisan terbesar bukanlah harta, tapi keluarga yang akhirnya bersatu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Xiaoqi Menjadi Penghubung Diam-Diam

Pagi itu, sinar matahari masuk lebih lebar dari biasanya, menyapu lantai ruang tamu yang dipenuhi mainan Xiaoqi yang tersusun rapi. Yicheng sudah duduk di meja makan sejak tadi, namun tangannya sesekali berhenti bergerak saat melihat Su Wan bergerak di antara dapur dan ruang makan — menuang teh, menata piring, menyeka meja dengan gerakan yang halus dan terbiasa. Ia ingin membantu, ingin mengambil alih, ingin melakukan sesuatu agar terasa lebih berguna, lebih menjadi bagian dari rumah ini — tapi ia selalu ragu, takut salah, takut mengganggu ritme yang sudah mereka jalani berdua selama lima tahun tanpa dirinya. Ia merasa seperti tamu yang terlalu lama menetap, bukan tuan rumah yang seharusnya berdiri di sini bersama mereka.

Xiaoqi memperhatikan itu semua dari kursi kecilnya, matanya bergerak bolak-balik antara Ayah yang diam menatap Ibu, dan Ibu yang sibuk namun sesekali melirik Ayah dengan senyum tipis yang tak sampai di mata. Anak itu merasakan keanehan yang halus — mereka berada di ruangan yang sama, duduk di meja yang sama, namun seolah ada dinding tak kasat mata yang memisahkan mereka. Yicheng berusaha terlalu keras untuk tidak mengganggu, Su Wan berusaha terlalu lembut untuk tidak menekan, dan keduanya berbicara dengan nada sopan dan hati-hati, seolah mereka baru saja saling mengenal kemarin sore, bukan orang yang pernah berjanji menghabiskan hidup bersama. Xiaoqi mengerutkan kening kecilnya, lalu tersenyum — ia tahu apa yang harus dilakukan.

"Ayah," panggilnya tiba-tiba, suaranya jernih dan penuh keyakinan. "Boleh tolong ambilkan susu di meja dapur? Saya tidak bisa menjangkaunya."

Yicheng langsung berdiri, seakan diberi tugas paling penting di dunia. "Tentu, Nak. Ayah ambilkan sekarang." Ia berjalan ke dapur, mengambil botol susu dari tangan Su Wan yang baru saja akan mengambilnya, jari-jarinya hampir menyentuh jari-jarinya, dan keduanya sama-sama menarik tangan sedikit karena canggung. "Maaf, aku… Xiaoqi menyuruhku mengambilnya."

Su Wan tersenyum lembut, menyembunyikan kegugupannya di balik gerakan menyusun sendok. "Tidak apa-apa. Terima kasih. Dia memang pintar mencari alasan."

Yicheng kembali ke meja dengan hati yang sedikit lebih ringan — setidaknya ia punya alasan untuk bergerak, untuk berinteraksi, untuk tidak hanya duduk dan menonton. Xiaoqi tersenyum puas melihat keberhasilannya, lalu merencanakan langkah berikutnya.

Setelah sarapan, Xiaoqi menarik tangan Yicheng ke ruang tengah, lalu menyerahkan selembar kertas gambar dan dua krayon — biru untuk Ayah, merah untuk Ibu. "Kalian berdua harus menggambar bersama! Gambar rumah kita! Dan harus berdampingan! Tidak boleh duduk jauh-jauh!"

Yicheng menatap krayon di tangannya, lalu menatap Su Wan yang duduk di sebelahnya di lantai, jarak di antara mereka hanya selebar telapak tangan, namun terasa begitu jauh. Ia ingin duduk lebih dekat, ingin melihat bagaimana Su Wan menggambar, ingin bertanya apakah garis atapnya sudah benar — tapi ia takut terlalu dekat, takut napasnya terdengar, takut tangannya tak sengaja menyentuh tangan Su Wan. Ia menggambar rumah dengan garis yang kaku dan rapi, persis seperti gedung kantornya, sementara Su Wan menggambar dengan garis yang lembut dan melengkung, menambahkan bunga di halaman dan awan di langit. Xiaoqi duduk di depan mereka, menatap gambar mereka bergantian, lalu menyusun kedua kertas itu menjadi berdampingan.

"Lihat!" katanya dengan bangga. "Rumah Ayah dan rumah Ibu sama! Jadi kita tinggal di rumah yang sama! Kalian harus duduk berdekatan supaya rumahnya tidak terpisah!"

Yicheng tersenyum melihat logika sederhana namun menyentuh hati anak itu. Ia menggeser duduknya sedikit ke arah Su Wan, jarak di antara mereka menyusut, bahu mereka hampir bersentuhan. Ia bisa mencium aroma sabun yang sama dengan yang ia kenang bertahun-tahun lalu, lembut dan menenangkan, membuat jantungnya berdetak lebih cepat namun lebih tenang sekaligus. "Benar," katanya pelan, hanya untuk Su Wan. "Rumah yang sama. Kita tidak perlu terpisah lagi."

Su Wan menatapnya sekilas, senyumnya lebih tulus dari sebelumnya, matanya berbinar lembut. "Ya. Tidak perlu terpisah lagi."

Sejak pagi itu, Xiaoqi mulai menjalankan rencananya setiap hari — tanpa terlihat memaksa, tanpa terlihat mengatur, ia selalu menemukan cara untuk menyatukan mereka. Saat ingin dibacakan cerita, ia meminta Ayah duduk di sebelah kanan dan Ibu di sebelah kiri, lalu menarik kedua tangan mereka melingkar di tubuh kecilnya, sehingga Yicheng dan Su Wan terpaksa bersentuhan di belakang punggung anak itu, merasakan kehangatan satu sama lain melalui tekanan lembut bahu dan lengan. Saat bermain di taman, ia memegang tangan Ayah dengan tangan kanan dan tangan Ibu dengan tangan kiri, lalu berlari kecil di antara mereka, menarik mereka berdua agar berjalan berdekatan, bergerak dengan irama yang sama, seolah anak itu adalah jembatan yang tak bisa diputus.

Sore itu, angin bertiup sejuk di halaman depan. Xiaoqi duduk di atas ayunan kecil yang Yicheng pasang pagi tadi, tertawa saat Yicheng mendorongnya perlahan dari belakang. Su Wan berdiri tak jauh dari sana, memandang mereka dengan senyum lembut, namun matanya sesekali menunduk seakan menyembunyikan sesuatu. Xiaoqi memperhatikannya, lalu berteriak sambil melambaikan tangan.

"Ibu! Ayo ikut naik! Ayah bisa mendorong kita berdua! Ayah kuat, kan, Ayah?"

Yicheng berhenti mendorong, menatap Su Wan dengan tatapan penuh harap sekaligus takut ditolak. "Ya, Ayah kuat. Cukup untuk kalian berdua. Mau, Su Wan?"

Su Wan ragu sejenak, melangkah maju perlahan, lalu duduk hati-hati di samping Xiaoqi di ayunan yang agak sempit. Bahunya menyentuh lengan Yicheng setiap kali ayunan bergerak, dan setiap sentuhan itu terasa seperti aliran listrik lembut yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Yicheng mendorong ayunan itu perlahan, berusaha menjaga jarak agar tidak menyentuhnya terlalu banyak, namun Xiaoqi segera membetulkan hal itu — ia memeluk lengan Su Wan dan menariknya lebih dekat ke arah dirinya, sehingga tubuh Su Wan sedikit condong ke depan, dan punggungnya hampir bersandar pada dada Yicheng.

"Lihat," bisik Xiaoqi dengan suara yang sengaja dibuat terdengar seolah hanya berbicara pada dirinya sendiri, "kalau kita berdekatan, anginnya terasa lebih hangat."

Yicheng tersenyum di belakang mereka, tangannya yang mendorong ayunan bergerak lebih lembut, lebih tenang. Ia tidak lagi merasa canggung. Ia bisa merasakan keberadaan Su Wan di dekatnya, mendengar napasnya yang berirama sama dengan ayunan, merasakan kehangatan tubuhnya yang begitu dekat — dan untuk pertama kalinya, ia tidak takut. Ia merasa di rumah. Benar-benar di rumah.

Malam itu, setelah Xiaoqi tertidur, Yicheng dan Su Wan duduk di teras depan, ditemani cahaya bulan yang lembut dan suara jangkrik di semak-semak. Mereka duduk di bangku kayu yang sama, tidak terlalu dekat, namun tidak terlalu jauh — jarak di antara mereka cukup untuk merasakan kehangatan satu sama lain, cukup untuk menyadari bahwa mereka tidak sendirian lagi.

"Xiaoqi pintar sekali, ya," kata Su Wan pelan, memecah keheningan. "Dia tahu lebih banyak dari yang kita kira."

Yicheng menatap bayangan pohon di halaman, tersenyum lembut. "Dia bukan hanya pintar. Dia adalah penghubung kita. Dia tahu kita berdua masih ragu, masih takut, masih berjalan di atas kulit telur satu sama lain. Jadi dia membantu kita melangkah. Tanpa kata-kata, tanpa tuntutan — hanya dengan menjadi dirinya sendiri." Ia menoleh ke arah Su Wan, menatap profil wajahnya yang disinari bulan, hatinya dipenuhi rasa syukur yang begitu dalam hingga terasa menyakitkan. "Terima kasih, Su Wan. Terima kasih telah membesarkan anak yang begitu tulus, begitu penuh kasih, begitu tahu cara menyatukan hati yang terpisah. Dia adalah anugerah terindah yang pernah kau berikan padaku — bahkan sebelum aku kembali."

Su Wan menatapnya, matanya berkaca-kaca namun senyumnya damai dan lembut. "Dia rindu ayahnya selama lima tahun, Yicheng. Dia belajar mencintaimu dari cerita, dari foto, dari setiap doa yang aku ucapkan bersamanya setiap malam. Jadi saat kau kembali, dia tidak perlu belajar mencintaimu — dia sudah melakukannya sepanjang hidupnya. Dia hanya berusaha membantu kita untuk kembali belajar mencintai satu sama lain."

Yicheng mengulurkan tangannya perlahan, ragu sejenak di udara, lalu meletakkannya di atas tangan Su Wan yang tergeletak di atas paha. Tangannya terasa hangat, sedikit bergetar, namun tidak menarik diri. "Apakah kau juga masih takut?" tanyanya pelan, jujur, tanpa menyembunyikan keraguannya. "Takut kita sudah terlalu lama terpisah, takut kita tidak lagi mengenal satu sama lain, takut waktu yang hilang tidak bisa dikembalikan?"

Su Wan membalikkan tangannya, menggenggam tangan Yicheng, jari-jarinya menyusup di sela jari-jarinya, genggaman yang lembut namun penuh kekuatan. "Aku takut, Yicheng. Setiap hari. Tapi saat melihat Xiaoqi tersenyum saat bersamamu, saat melihat kau berusaha begitu keras untuk menjadi bagian dari kami… aku tahu, ketakutan itu tidak lebih kuat dari keinginan kita untuk bersama. Waktu yang hilang tidak bisa kita kembalikan — tapi kita bisa membuat waktu yang baru. Bersama-sama. Pelan-pelan. Seperti yang Xiaoqi ajarkan pada kita."

Yicheng mengangkat tangan mereka yang bergenggaman, mencium punggung tangan Su Wan dengan lembut, menghirup aroma yang selalu ia rindukan. "Pelan-pelan. Tidak perlu terburu-buru. Tidak perlu menjadi sempurna. Cukup bersama. Cukup ada."

Di dalam rumah, di balik tirai jendela kamar, Xiaoqi tersenyum dalam tidurnya, seakan bisa merasakan bahwa dinding di antara Ayah dan Ibu akhirnya mulai runtuh, digantikan oleh jembatan yang ia bangun dengan tawa dan keinginan sederhananya — agar mereka bisa bersama, utuh, sebagai satu keluarga. Dan di teras, di bawah cahaya bulan, dua orang yang pernah terpisah oleh waktu dan kesalahpahaman, akhirnya menyadari satu hal yang paling penting: mereka tidak perlu berjalan sendirian. Xiaoqi telah menjadi jembatan mereka, dan sekarang, giliran mereka untuk berjalan melintasi jembatan itu — bersama-sama, bergandengan tangan, menuju rumah yang akhirnya terasa seperti rumah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!