demi mendukung karier suaminya Arga Prasetyo, Ariana rela menikah selama delapan tahun secara diam-diam. Ariana menemani Arga berjuang di perusahaan nya tapi balasan yang didapatnya adalah perselingkuhan, bahkan pelakor itu terang-terangan menantang nya.
setelah menyiapkan perceraian dan pergi dengan tenang ternyata Arga menolak untuk melepaskan nya. hingga seorang laki-laki lain datang membuka babak baru untuk nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Arga menghempas kasar mantel itu hingga terjatuh.
"kamu gila yah". kesal Ariana ingin mengambil mantel yang dijatuhkan oleh Arga tadi.
Tapi Arga menahan Ariana, tangannya mencengkram lengan istrinya dengan kuat. Kemudian menarik nya hingga masuk dalam mobil.
"pulang sekarang".
Mantel itu hanya ditinggal begitu saja sebab Ariana tidak bisa berbuat apa-apa karena Arga sudah mengunci mobil nya.
Arga menancapkan gas meninggalkan parkiran rumah sakit menuju pulang kerumahnya, ketika sudah sampai Ariana langsung keluar dari dalam mobil tanpa menunggu Arga membukakan pintu nya.
Melihat itu Arga hanya mampu menghela nafas nya dalam. "kamu berubah Ariana". gumamnya menatap Ariana yang sudah masuk dalam rumah.
Entah kenapa Arga tidak sadar jika perubahan istrinya berasal dari dirinya sendiri. pernikahan yang tidak pernah dipublish, terang-terangan selingkuh tapi tak pernah diakui nya.
Ariana yang sudah masuk dalam rumah langsung saja menuju ke ruang kerja nya dan mengunci pintu nya. Yah mereka memiliki ruang kerja masing-masing.
"padahal aku akan mencuci mantel itu kemudian mengembalikan nya, tapi sekarang tidak bisa karena Arga b*ngsat membuangnya". kesal Ariana sambil mendengus.
Ariana mengigit kukunya berfikir, bagaimana mengganti mantel itu. "apa aku belikan pakaian kantor satu stel saja yah".
Setelah berpikir matang-matang, Ariana mengambil ponsel yang berada disampingnya, untuk menelpon seseorang.
"halo...maaf boleh tanya ? tinggi dan berat badan tuan anda berapa yah ? Ah ukuran badan nya juga berapa ?". Tanya Ariana menunggu jawaban diseberang telepon.
"halo...". Ariana kembali berbicara sebab yang di telepon tidak lekas menjawab nya.
"ha ? ah iya maaf...nanti saya kirimkan melalui pesan". Jawab nya sedikit terbata-bata.
"ah baiklah..". Ariana langsung mematikan ponsel nya menatap lurus kedepan sambil menggenggam ponsel itu didepan dadanya.
"apa ada yang salah, aku bertanya seperti itu ?". Tanya Ariana pada dirinya sendiri, karena merasa bingung dengan asisten tuan Adrian.
"haaaaa". Ariana menyandarkan tubuhnya pada kursi hitam, hembusan nafas keluar dari mulutnya sedikit pelan. "mungkin saja asisten nya Ingin bertanya dulu sama tuannya, yahhh pasti seperti itu karena dia tidak tau". Pikir Ariana meyakinkan diri nya sendiri.
* * *
Waktu terasa cepat, kini sudah malam hari dan Ariana sudah berada ditempat tidur. Wanita itu terdiam cukup lama, kemudian mengambil ponsel nya yang terletak diatas meja samping tempat tidur, dimana ada foto nya bersama dengan Arga disana.
"kenapa belum juga ada pesan nya yah ?". Ariana memanyunkan bibirnya ambil berpikir. "apa dia lupa ?".
Saat sedang berpikir, tiba-tiba Arga masuk dengan membawa sebuah mangkuk sup, sambil tersenyum pada Ariana.
Ariana langsung menyimpan ponsel nya dan memperbaiki tempat duduk nya menatap Arga yang sudah duduk disampingnya.
"kehujanan dan terluka jadi demam kan, jangan menggunakan cara ini lagi untuk marah padaku, bukan demi siapapun tapi pikirkan juga dirimu sendiri". Arga menyendok bubur yang hangat itu kemudian menyuapkan nya pada Ariana.
Bukannya membuka mulut, Ariana malah memalingkan wajahnya.
"buka mulut mu dan makan bubur nya". Arga terus mendekatkan sendok yang berisi bubur itu di depan mulut istrinya.
"biar aku saja, aku bisa makan sendiri". Tolak Ariana tapi Arga tetap kekeh ingin menyuapi, dengan terpaksa Ariana memakan bubur itu dengan Arga menyuapinya.
"jangan keras kepala sayang, kamu sedang demam". Arga tersenyum menatap istrinya.
Baru saja Arga ingin menyuapi lagi tapi getaran pada ponsel nya terdengar, Ariana terdiam menatap Arga karena tidak menjawab telepon itu.
"tidak menjawabnya ?". tanya Ariana membuat Arga jadi salah tingkah.
Arga segera meletakkan bubur nya di meja samping tempat tidur, kemudian mengambil ponsel nya dalam saku celananya nya, ternyata putri yang menelpon.
Karena tidak mau membuat mood istrinya rusak, Arga menggeser tombol merah kemudian menonaktifkan ponsel nya.
"istirahatlah dulu, kamu harus banyak istirahat supaya cepat sembuh, aku akan menemani mu disini". Kata Arga dengan suara lembut.
dengan cepat Ariana berbaring sambil membelakangi Arga dan memperbaiki selimut nya, Arga membantunya dan tetap duduk disamping sang istri.
Sebenarnya Ariana ingin sekali mengusir Arga tapi tenaganya tidak cukup untuk berbicara karena saat ini masih demam.
Mata Ariana terpejam dengan Arga menepuk-nepuk bahu nya pelan, setelah beberapa menit, Arga beranjak dari sana.
Ponsel nya di aktifkan kembali sebab ingin menelpon putri. Sebelum menelpon, Arga memastikan jika Ariana memang sudah tidur.
ketika sambungan telepon terhubung. "aku tidak jadi ke tempat mu, istirahatlah cepat malam ini. Besok aku pasti akan menemui mu". Setelahnya Arga mematikan ponsel nya.
Ariana membuka matanya. 'hatinya selalu berubah-ubah, dasar busuk hati, semakin hari akan semakin busuk saja'. Batin Ariana kembali memejamkan matanya.
Arga kembali berjalan menuju ke tempat tidur disamping Ariana, senyum merekah ditampilkan Arga ketika menatap istrinya yang tertidur.
tangannya terangkat mengelus wajah istrinya, sambil terus tersenyum. "jika tidur seperti ini, kamu terlihat penurut. Tapi kalau sudah bangun rasanya kamu sangat berbeda sayang".
Tak ingin berlarut, akhirnya Arga juga berbaring disamping Ariana kemudian memejamkan matanya.
Pagi menyingsing, cahaya sinar matahari masuk melalui celah gorden kamar Ariana. Dengan pelan, mata wanita itu terbuka dengan nafas panjang.
Ternyata Arga sudah tidak ada disana, Ariana bangun tapi masih duduk ditempat tidur sambil memegang kepalanya, ternyata demam nya sudah turun, walau perasaan nya masih agak tidak enak.
dengan pelan, Ariana turun dari tempat tidur dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi ingin membersihkan diri.
Hingga tiga puluh menit lamanya didalam kamar mandi, Ariana keluar dengan wajah segar dan segera mengganti pakaian tidur nya.
langkahnya membawa ke lantai satu, kemudian keluar disamping rumah karena ingin membakar sesuatu.
ternyata disana sudah Arga yang sedang duduk sambil menikmati secangkir kopi, saat menggeser pintu kaca itu, Arga berbalik menatap Ariana dengan senyum.
"sayang..duduk disini". Arga menunjuk kursi didepannya.
"aku ingin membakar sampah dulu". Ariana langsung berjalan ke belakang Arga, dimana ada sebuah tempat pembakaran sampah disana.
"ah baiklah...". Arga kembali fokus pada ponsel nya, tanpa menghiraukan Ariana lagi.
Dengan cepat Ariana menyalakan api, tak lama sampah yang memang sudah disiapkan sebelumnya langsung dilempar didalam sana satu persatu.
'setiap hari aku memindahkan barang-barang ku kerumah baruku, bahkan lemari pakaian sudah kosong dan sangat jelas terlihat. Tapi kamu seakan tidak sadar dengan perubahan dilemari itu karena tidak ada peduli mu sama sekali'. batin Ariana menatap Arga yang terus fokus pada ponsel nya.
Ariana menatap Poto pernikahan mereka yang ada ditangannya, senyum Arga dan Ariana merekah dalam Poto itu, tapi semua itu sudah berlalu, semuanya sudah tidak seperti dulu, dan semuanya akan berakhir.
Poto itu dilempar ke pembakaran sampah, dengan cepat api melahap nya.
'bahkan aku membakar semua kenangan kita dibelakang mu, tapi kamu sibuk berbalas pesan dengan selingkuhan mu'. Batin Ariana menatap Poto pernikahan nya sudah habis dilahap api.
sampah yang dimaksud Ariana adalah semua barang-barang dan Poto kenangan mereka selama menikah. Semua Ariana kumpulkan dan dibakar supaya tidak ada kenangan lagi tersisa dirumah mereka.
Ariana menatap semuanya dengan air mata yang menggenang, ternyata pernikahan nya yang begitu diidamkan dengan Arga harus berakhir karena orang ketiga.
"uhhuk uhhuk". Arga terbatuk-batuk karena asap api itu mengarah kepadanya.
"kamu membakar apa ?". Tanya Arga berbalik menatap istrinya.
Senyum miring muncul pada mulut Ariana. "bukan apa-apa, haya sampah yang tidak berguna".
Bersambung...