Indonesia
NovelToon NovelToon
ADX Florence

ADX Florence

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Perperangan
Popularitas:641
Nilai: 5
Nama Author: @_Mastura

Alesya Seraphina dijatuhi hukuman seumur hidup setelah dituduh membunuh sahabatnya secara brutal. Bukti video menunjukkan dirinya sebagai pelaku, tetapi Alesya sama sekali tidak mengingat kejadian itu.

Di ADX Florence, penjara paling mematikan, ia justru bertemu kembali dengan Kael Jendral Kanagara—sahabat masa lalunya yang kini menjadi ketua mafia paling ditakuti.

Kael tidak tahu sisi berbahaya Alesya. Alesya pun tidak tahu alasan Kael berada di sana.

Di balik dinding penjara, rahasia, pengkhianatan, dan cinta berbahaya mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @_Mastura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BLOK_D

Pagi hari.

Toilet blok tahanan masih cukup sepi.

Alesya berdiri di depan wastafel sambil menggosok giginya. Rambutnya diikat seadanya, wajahnya masih terlihat tenang meskipun lingkungannya jauh dari kata nyaman.

Pintu toilet terbuka.

Jessica masuk.

Gadis itu berhenti beberapa langkah dari Alesya, lalu menatapnya melalui pantulan cermin.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

“Jadi sekarang kau sudah menjadi wanita Kael?”

Gerakan tangan Alesya tidak berhenti, Ia hanya melirik sekilas. Jessica mendekat ke wastafel sebelah.

“Hebat juga.”

Alesya kembali menatap cermin.

Jessica terkekeh kecil.

“Baru masuk, sudah berhasil membuat pria paling ditakuti di tempat ini berdiri di belakangmu.”

Alesya tidak menjawab.

“Dan Dante malah ikut membelamu” gumamnya kecil tidak terdengar oleh Alesya.

Lalu Jessica memiringkan kepalanya, Nada suaranya semakin sinis.

“Sekarang semua orang seolah-olah harus tunduk hanya karena kau dekat dengan nya"

Alesya mematikan keran, Ia mengambil handuk kecil, mengusap wajahnya, lalu menatap Jessica.

“Aku tidak pernah meminta siapa pun membelaku.”

Jessica langsung mencibir.

“Ah, tentu saja.”

Alesya tidak tertarik melanjutkan perdebatan. Namun Jessica masih belum selesai.

“Kau pikir karena Kael ada di belakangmu, kau bisa—”

Tiba-tiba terdengar suara dari luar.

“Jangan... kumohon!”

Suara seorang wanita, Alesya dan Jessica sama-sama menoleh ke arah pintu.

Suara langkah kaki terdengar semakin dekat.

“Lepaskan aku!”

Seorang tahanan wanita berlari masuk ke dalam toilet, Tubuhnya gemetar. Wajahnya sembab dan pucat, napasnya tersengal seperti baru saja melarikan diri dari sesuatu yang sangat menakutkan.

Namun ada satu hal yang langsung menarik perhatian Alesya, Perut wanita itu tampak membesar. Alesya menatapnya beberapa detik.

Hamil?

Wanita itu memandang Alesya dan Jessica dengan mata berkaca-kaca.

“Tolong aku...” ucapnya lirih, tangannya berada pada perutnya yang membesar.

Belum sempat Alesya bertanya, pintu toilet kembali terbuka dengan keras, Seorang sipir masuk. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah.

“Kemari kau!”

Wanita itu langsung mundur ketakutan.

“Kumohon... lepaskan aku.”

Sipir tersebut melangkah maju.

Alesya berdiri diam.

Matanya berubah.

“Tunggu.”

Langkah sipir itu terhenti.

Ia menoleh kepada Alesya.

“Apa?”

Alesya berdiri di antara sipir dan wanita tersebut. Jessica yang berada di belakangnya langsung mencibir.

“Kau mau jadi pahlawan?”

Alesya tidak menoleh, Jessica melipat kedua tangannya.

“Kau pikir dengan Kael di belakangmu, kau bisa melakukan segalanya?”

Alesya tetap diam.

“Kalau para sipir itu memasukkan Kael ke dalam sel isolasi,” lanjut Jessica dengan senyum mengejek,

“kau juga akan habis di tangan mereka, Alesya.”

Jessica masih terus mencemooh.

“Jangan merasa terlalu kuat hanya karena ada seseorang yang melindungimu.”

Sipir itu kemudian menatap Alesya dari atas ke bawah.

“Kau juga jangan ikut campur.”

“Aaaa.... aku sudah terlalu ikut, gimana dong”

Jawaban Alesya begitu tenang, Sipir tersebut mengerutkan kening.

“Menjauh.”

“Emm...tidak bisa, aku paling tidak bisa melihat wanita hamil di perlakukan seperti ini" Ucap Alesya, dia mengubah ekspresi wajahnya menjadi konyol.

Suasana toilet mendadak hening.

Pria itu maju satu langkah.

“Aku bilang men—”

Alesya bergerak lebih cepat, Satu pukulan menghantam wajahnya. Tubuh sipir itu terhuyung ke belakang.

Jessica membelalak.

Alesya tidak berhenti, Sipir tersebut mencoba menyerang balik, tetapi Alesya menghindar dan menghantam bagian tubuhnya dengan gerakan cepat dan tepat.

Bruk!

Tubuh pria itu jatuh menghantam lantai, Ia mencoba bangkit, tetapi pandangannya sudah tidak fokus. Setengah sadar.

Jessica hanya mampu menatap Alesya.

Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi lain gadis yang selama ini dianggapnya hanya berlindung di balik Kael.

Namun suara langkah kaki kembali terdengar.

Banyak.

Dari luar toilet.

Jessica menoleh.

Beberapa sipir muncul di ambang pintu. Tatapan mereka langsung jatuh pada rekan mereka yang tergeletak di lantai.

Kemudian berpindah kepada Alesya. Salah satu sipir mengangkat alat kejutnya.

“Bawa dia.”

Alesya menatap mereka satu per satu, Ia tahu. Ini bukan lagi persoalan wanita tadi. Sekarang dirinya yang menjadi sasaran, Beberapa sipir langsung mengepungnya. Alesya sempat melawan, tetapi jumlah mereka terlalu banyak.

Dan pagi itu...

nama Alesya akhirnya masuk ke daftar yang paling tidak ingin disentuh oleh siapa pun di ADX Florence.

Sel khusus tahanan berbahaya.

***

Langkah kaki Alesya terdengar di sepanjang koridor yang semakin sepi, Kedua tangannya masih diborgol.

Di belakangnya, beberapa sipir berjalan dengan wajah dingin. Tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara kepada Alesya.

Namun semakin jauh mereka berjalan, suasana semakin berbeda. Tidak ada suara para napi, Tidak ada teriakan. Tidak ada suara gaduh seperti yang biasa terdengar di blok lainnya.

Hanya kesunyian.

Alesya melirik ke kanan dan kiri, Hingga akhirnya mereka berhenti di depan sebuah pintu besi besar. Di atasnya terdapat tulisan sederhana.

BLOK D

Alesya mengangkat wajah, Salah seorang sipir membuka pintu.

“Masuk.”

Alesya tidak bergerak, Sipir itu mendorong tubuhnya dengan kasar hingga gadis itu terhuyung masuk.

“Selamat menikmati tempat barumu.”

Pintu belum ditutup.

Sipir itu tersenyum mengejek.

“Di dalam sana ada monster.”

Alesya menatapnya dingin.

“Dan sebentar lagi kau akan mati di tangannya.”

Sipir lain terkekeh.

“Tidak ada yang pernah bertahan lama di sel itu.”

Alesya tetap diam.

Sipir itu kemudian menambahkan dengan nada merendahkan,

"Semoga kau beruntung"

Alesya hanya menatap mereka tanpa ekspresi, Pintu besi mulai tertutup otomatis.

Brak!

Alesya berdiri seorang diri, Ia menghela napas pelan.

Matanya mulai menyesuaikan diri dengan ruangan yang remang-remang. Sel itu jauh lebih luas dibanding sel tahanan biasa.

Namun hanya ada satu ranjang, Satu meja. Dan beberapa benda lain yang tampak sudah rusak. Alesya mengernyit, Di sudut ruangan, terlihat rangka ranjang besi yang hancur dan tergeletak begitu saja.

Seolah seseorang sengaja menghancurkannya, Alesya berjalan mendekat. Jadi memang benar, Sel ini sebenarnya memiliki dua ranjang. Tetapi salah satunya sudah tidak bisa digunakan, Alesya mengalihkan pandangan.

“Orang di sini benar-benar tidak suka berbagi ruangan...”

Ia kemudian berbalik.

Tatapannya jatuh pada satu-satunya ranjang yang masih utuh. Dan tubuhnya mendadak berhenti.

Di sana...

Seseorang sedang tertidur.

Seorang pria dengan tubuh tegap terbaring terlentang. dengan kedua lengannya berada di bawah kepala, sementara rambut putih abu-abu yang di ikat sedikit berantakan menutupi sebagian wajah.

Alesya menatapnya.

Kael.

Alesya justru dilemparkan ke dalam satu-satunya sel yang dihuni pria itu, Gadis itu berdiri diam. Menatap Kael yang masih tertidur, Lalu sudut bibirnya perlahan terangkat.

“Jadi...”

Alesya berbisik sangat pelan.

“Ini monster nya?”

Kael masih belum bergerak, Alesya melangkah mendekati ranjang. Untuk pertama kalinya sejak memasuki Blok D...

wajah dinginnya sedikit melunak.

“Kael...”

Jari Alesya perlahan menyentuh bahu pria itu.

Dalam hitungan detik—

Tangan Kael bergerak, Pergelangan tangan Alesya langsung ditangkap dan ditarik dengan gerakan spontan. Tubuh Alesya kehilangan keseimbangan.

“Ah—!”

Dalam sekejap, tubuhnya sudah berada di bawah Kael, Satu tangan pria itu menahan pergelangan tangannya, sementara tubuhnya berada di atas Alesya. Mata Alesya membesar karena terkejut.

“Kaell...”

Suara itu membuat Kael membeku, Matanya yang semula tajam perlahan berubah. Ia menatap wajah di bawahnya.

Alesya.Untuk beberapa detik, tidak ada suara di antara mereka.

Kael akhirnya menyadari apa yang baru saja dilakukannya.

Refleks.

Ia selalu tidur dalam keadaan setengah waspada. Sedikit gerakan saja cukup untuk membuat tubuhnya bereaksi sebelum pikirannya sempat bekerja.

Kael melepaskan tangan Alesya.

Kemudian bangkit dan duduk di tepi ranjang.

Wajahnya kembali datar.

“Kau.”

Kael masih menatap Alesya dengan wajah datarnya. Tatapannya turun sekilas pada tangan gadis itu yang masih berada di dekatnya, lalu kembali pada wajahnya.

“Kenapa kau bisa ada di sini?”

Alesya mengerjapkan mata.

“Di sini?”

“Block D.” Suara Kael tetap dingin.

“Buat masalah apa?”

Alesya menghela napas kecil, lalu duduk di tepi ranjang.

“nggak ngapa-ngapain.”

Kael menatapnya tajam.

"Alesya"

Gadis itu terkekeh pelan.

“Iyaa... aku cuma membanting teman si sipir itu, tapi malah aku yang diseret ke sini.”

Kael terdiam beberapa detik.

“Jangan suka mencari masalah.”

“Bukan aku,” bantah Alesya cepat.

“Tapi mereka.”

“Belajar dari mana?”

Alesya mengernyit.

“Apanya?”

“Membanting orang.”

Alesya langsung tersenyum kecil.

“Dari kamu.”

Tatapan Kael seketika berubah sedikit.

“Aku serius.”

“Emm.... Aku juga"

Alesya menahan tawanya, lalu berkata santai.

“Hehee... paman yang ajarin.”

“Stevan?”

Alesya mengangguk.

“Kau masih ingat?”

“Sedikit.”

Senyum Alesya semakin lebar.

“Emm... paman ku baik banget.”

Kael hanya diam. Wajahnya masih terlihat dingin seperti biasa, tetapi sorot matanya sedikit melunak saat mendengar nama itu.

“Dia yang ngajarinmu membanting orang?”

Alesya mengangguk polos.

“Iya.”

Kael menghela napas pendek.

“Pantas.”

Alesya langsung menoleh.

“Pantas apa?”

“Tidak heran kau masuk ke sini.”

“Kael!”

Untuk pertama kalinya sejak Alesya masuk ke dalam sel itu, sudut bibir Kael terangkat tipis, Sangat tipis.

Namun cukup untuk membuat Alesya tahu bahwa pria itu sebenarnya sedang menahan senyum.

...***...

1
Tuan Tuan
💪😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!