Bagaimana jadinya jika jiwa seorang remaja cewek tomboi modern yang hobi tawuran, bermulut tajam, dan ceplas-ceplos terlempar ke masa lalu? Sialnya lagi, dia bangun di dalam tubuh permaisuri Xia Ruo, wanita paling rapuh dan tertindas di Kekaisaran Han yang baru saja mencoba bunuh diri karena tidak tahan diabaikan oleh kaisar yang penguasa berdarah dingin yang terkenal kejam.
Kini, tidak ada lagi Permaisuri Xia Ruo yang hobi menangis terisak. Yang ada hanyalah permaisuri baru yang berani duduk bersila di atas ranjang sutra sambil memanggil sang Kaisar kejam dengan sebutan "Mas Bro". Didampingi oleh Yuan er, pelayan setianya yang selalu menangis histeris dan berusaha keras mendidik sang permaisuri agar bisa berbicara lembut, Xia Ruo harus memutar otak untuk bertahan hidup. Mulai dari melabrak dapur istana demi makanan enak, melatih fisiknya yang selemah triplek basah, hingga menghadapi Kaisar kejam yang anehnya... justru mulai terobsesi dengan perubahan barbar dirinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2 : kaca ajaib dan pelayan yang mau pingsan
"Yuan-er? Nama lu kayak merek vitamin," ceplos Ara sambil bangkit berdiri, walau kakinya masih agak gemetar. Dia menepis pelan tangan gadis itu yang mau memegangnya. "Udah, gak usah pegang-pegang. Gua bisa berdiri sendiri."
Gadis bernama Yuan-er itu makin melotot. Dia buru-buru bersujud kembali sampai dahinya menempel ke lantai marmer yang dingin. "Permaisuri! Tolong ampuni hamba! Hamba tahu Permaisuri sedang sangat sedih karena diabaikan oleh Kaisar, tapi tolong jangan berbicara aneh seperti ini. Hamba takut... hamba takut jiwa Permaisuri belum sepenuhnya kembali setelah meminum racun itu!"
"Racun? Kaisar? Permaisuri?" Ara memegangi kepalanya yang makin berdenyut.
Tiba-tiba, sekelebat ingatan asing berputar cepat di otaknya seperti cuplikan film rusak. Nama tubuh ini adalah Xia Ruo. Dia adalah Permaisuri resmi dari Kekaisaran Han. Sialnya, Xia Ruo ini adalah tipe cewek melankolis yang hobi menangis, rapuh, dan selalu ditindas oleh selir-selir lain di istana belakang. Lebih parah lagi, suaminya, sang Kaisar bernama Kaisar Yan, adalah penguasa berdarah dingin yang terkenal kejam dan sama sekali gak pernah melirik Xia Ruo. Karena frustrasi diabaikan dan difitnah sana-sini, Xia Ruo yang asli nekat minum racun buat bunuh diri.
"Lah, si anying... malah gua yang ketiban sial masuk ke badan nih cewek lemah!" Ara menggerutu dalam hati.
"Woi, vitamin! Eh, Yuan-er! Mana kaca? Gua mau ngaca!" perintah Ara ketus.
"Ka-kaca? Maksud Permaisuri cermin perunggu?" Yuan-er mendongak dengan wajah bingung, tapi buru-buru berdiri dan mengambil sebuah cermin bundar dari meja rias. Dengan tangan gemetar, dia menyodorkannya ke depan wajah Ara.
Begitu melihat pantulan di cermin, Ara hampir saja melompat mundur. Wajah di cermin itu luar biasa cantik. Matanya bulat besar, hidungnya mancung kecil, dan bibirnya merah alami. Tapi penampilannya bener-bener menyedihkan, pucat pasi, rambutnya acak-acakan, dan ada bekas air mata yang mengering di pipinya. Kelihatan banget kayak tipe cewek tertindas yang minta di kasihanin.
Ara memegang pipi mulus itu, lalu mencoba membuat komat-kamit muka sangar ala preman pasar. Dia menaikkan satu alisnya dan tersenyum miring. "Wah, aslinya cakep sih. Tapi sayang, komuknya lemes banget. Gak ada sangar-sangarnya pisan!" batin Ara kecewa.
"Permaisuri... Anda tidak apa-apa?" tanya Yuan-er dengan suara mencicit, ngeri melihat bosnya senyum-senyum sendiri sambil pasang muka nantang di depan cermin.
Ara menurunkan cermin itu, lalu menatap Yuan-er lurus-lurus. "Dengerin gua ya, bocah. Mulai hari ini, lu gak usah nangis-nangis lagi di depan gua. Berisik, tahu gak? Dan satu lagi... siapa tadi namanya? Kaisar Yan? Siapa pun dialah, kalau dia gak sudi ke sini, ya bagus! Gak usah dateng sekalian! Gua juga gak doyan!"
Krieeek...
Tepat setelah Ara menyelesaikan kalimatnya, pintu paviliun utama terbuka lebar dari luar. Seorang kasim tua masuk dengan wajah tegang, disusul oleh aura dingin yang mendadak mencekam seluruh ruangan. Di ambang pintu, berdiri seorang pria tinggi tegap mengenakan jubah sutra hitam sulaman naga emas. Wajahnya tampan, rahangnya tegas, tapi tatapan matanya setajam silet dan sedingin es kutub utara.
Yuan-er yang melihat sosok itu langsung lemas dan jatuh terduduk, wajahnya putih pucat seperti kertas. "Ka-Kaisar..."
Pria itu Kaisar Yan melangkah masuk dengan perlahan. Tatapan matanya yang meremehkan langsung tertuju pada Ara yang masih berdiri santai memegang cermin. Setiap langkah kakinya terasa berat, seolah membawa beban ribuan nyawa yang pernah dia habisi di medan perang. Kamar yang tadinya terasa hangat mendadak berubah mencekam layaknya ruang interogasi.
"Kau belum mati, Xia Ruo?" suara Kaisar Yan terdengar berat, dingin, dan penuh dengan intimidasi. "Meminum racun hanya untuk menarik perhatianku? Sungguh trik yang murahan."
Kasim tua di belakang Kaisar Yan langsung menunduk dalam-dalam, mengira Permaisuri akan langsung bersujud sambil menangis histeris memohon ampunan seperti biasanya. Namun, yang terjadi selanjutnya justru membuat atmosfer di ruangan itu membeku.
Ara tidak gemetar ketakutan seperti Xia Ruo yang asli. Dia malah menatap balik pria di depannya dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan menilai. Dalam hati, Ara sempat membatin, Boleh juga nih cowok, tinggi, tegap, mukanya mirip artis-artis drakor tapi versi galak. Sambil menaikkan satu alisnya, Ara melipat kedua tangannya di depan dada dengan santai.
"Yo, Mas Bro! Baru kelihatan?" sapa Ara dengan nada santai tanpa dosa.
Kaisar Yan langsung menghentikan langkahnya. Matanya yang tajam menyipit, menatap Ara dengan tatapan tidak percaya sekaligus tersinggung. Di kekaisaran ini, bahkan para menteri senior pun gemetar jika mendengar namanya, tapi wanita lemah di depannya ini justru menyapanya dengan sebutan aneh sambil berdiri tegak berkacak pinggang.
"Apa yang baru saja kau katakan?" desis Kaisar Yan, suaranya merendah, tanda bahwa amarahnya mulai terpancing.
Paksu Kaisar berharap banget pada ibu negara 🤣🤣🤣
ketawa mulu mah gue
kok nggak ada yg komen ya?
apakah para pembaca pada terhipnotis krn novel ini enakn dibaca ya?
Kayaknya Kaisar Yan akan mendapatkan lawan seimbang
Gue suka mulut Permaisuri yg badas... yg bikin para pejabat pada setrok berjemaah ketika Permaisuri memberikan kuliah subuh 🤣🤣🤣🤣