Nabila tidak pernah menyangka jika putri yang selama enam tahun ia besarkan dengan kemewahan ternyata adalah anak palsu. Darah dagingnya yang asli, Luna Wegan, diam-diam ditukar saat lahir oleh keluarga suaminya sendiri dan terpaksa hidup menderita sebagai pengemis jalanan. Takdir akhirnya mempertemukan Nabila dengan seorang gadis kecil penuh luka memar di depan mall, di mana sebuah tahi lalat di balik telinga membongkar pengkhianatan keji masa lalu. Bersama suaminya, sang CEO kejam Leon Wegan, Nabila kini siap menghancurkan siapa pun yang telah berani menyiksa putri kandung mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Nafas Luna sedikit memburu dan mata bulatnya mulai berkaca-kaca.
Bayangan pukulan sapu lidi dan rotan yang sering dia terima dari Siska kembali berputar di kepalanya bagaikan kaset rusak.
"Mama, Luna janji akan belajar cuci piring yang bersih di rumah ini," bujuk Luna memegang erat tangan Nabila.
"Luna tidak usah sekolah ya Mama? Nanti tangan Luna berdarah dipukul penggaris besi sama guru," mohon gadis kecil itu sampai meneteskan air mata.
Hati Nabila terasa seperti diremas kuat melihat putrinya ketakutan setengah mati hanya karena mendengar kata guru dan sekolah.
Nabila langsung menarik Luna ke dalam pelukannya dan mengusap punggung kecil itu dengan sangat lembut.
"Sstt, jangan menangis sayang. Sekolah yang Papa pilihkan tidak ada guru jahat seperti itu," bisik Nabila menenangkan putrinya.
"Ibu Siska sengaja menakut-nakutimu agar kamu terus jadi pengemis dan mencari uang untuknya," jelas Nabila membongkar kebohongan wanita iblis tersebut.
Leon yang masih berdiri di ruang makan menghela nafas panjang dan berjongkok di samping kursi Luna.
"Luna sayang, coba lihat Papa sebentar," panggil Leon dengan suara baritonnya yang paling lembut.
Luna mendongak dari pelukan ibunya dan menatap wajah ayahnya dengan mata yang masih basah oleh air mata.
"Apakah Papa pernah memukulmu selama kamu tinggal di sini?" tanya Leon menatap langsung ke mata putrinya.
Luna menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak pernah, Papa selalu memeluk dan menggendong Luna," jawab gadis kecil itu jujur.
"Apakah Mama pernah memarahimu saat kamu tidak sengaja menumpahkan susu kemarin?" tanya Leon lagi memberikan contoh kejadian nyata.
Luna kembali menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Mama malah tertawa dan menyuruh pelayan membersihkannya," jawab Luna suaranya mulai tenang.
"Nah, guru yang akan datang ke rumah ini nanti adalah teman Papa dan Mama," ucap Leon memberikan pemahaman sederhana.
"Karena dia teman Papa, dia tidak akan pernah berani memukulmu apalagi membentakmu," lanjut Leon tersenyum meyakinkan.
"Kalau dia sampai membuatmu menangis satu tetes saja, Papa jamin dia tidak akan pernah bisa mengajar di sekolah mana pun seumur hidupnya," tambah Leon dengan nada yang cukup mengerikan bagi orang dewasa, tapi terdengar seperti jaminan keamanan super bagi anak berumur enam tahun.
Mendengar jaminan perlindungan mutlak dari pria bertubuh besar di depannya itu, keraguan di hati Luna mulai menghilang.
"Benar ya Papa? Gurunya tidak bawa penggaris besi?" tanya Luna masih memastikan sekali lagi.
"Papa berani janji potong jari kalau dia berani bawa penggaris besi ke rumah ini," jawab Leon bercanda membuat Luna terkikik pelan.
"Jangan potong jari Papa, nanti Papa tidak bisa peluk Luna lagi," balas gadis kecil itu memeluk leher Leon.
Tepat pada pukul satu siang, sebuah mobil sedan putih sederhana memasuki pelataran rumah mewah keluarga Wegan.
Seorang wanita muda berpakaian sangat rapi namun sederhana turun dari mobil tersebut.
Rambutnya diikat ekor kuda dan wajahnya memancarkan aura keibuan yang sangat hangat meskipun umurnya baru menginjak akhir dua puluhan.
"Selamat siang, Nona Sarah. Tuan Leon sudah menunggu Anda di ruang keluarga," sapa kepala pelayan membukakan pintu utama.
Sarah mengangguk sopan dan mengikuti langkah kepala pelayan itu dengan jantung sedikit berdebar.
Ini adalah pertama kalinya dia diminta mengajar putri dari CEO Wegan Group yang sangat terkenal kejam di dunia bisnis tersebut.
"Selamat siang Tuan Leon, Nyonya Nabila. Saya Sarah, guru privat yang Anda panggil," sapa Sarah menundukkan kepalanya dengan hormat saat tiba di ruang keluarga.
Leon dan Nabila yang sedang duduk di sofa bersama Luna langsung berdiri menyambut kedatangan guru muda tersebut.
"Silakan duduk Nona Sarah, terima kasih sudah menerima tawaran mendadak ini," balas Leon mempersilakan tamunya duduk.
Sarah duduk di sofa tunggal dan matanya langsung tertuju pada gadis kecil yang sedang bersembunyi di balik punggung Nabila.
"Halo gadis cantik, namamu siapa?" sapa Sarah dengan suara yang sangat lembut dan bersahabat.
Luna mengintip dari balik gaun ibunya dan menatap wanita itu dengan pandangan menilai.
Sesuai janji ayahnya, wanita ini tidak terlihat menyeramkan dan sama sekali tidak membawa penggaris besi panjang di tangannya.
"Nama saya Luna, Nyonya Guru," jawab Luna dengan suara pelan namun cukup jelas.
"Panggil saja Ibu Sarah, tidak usah pakai nyonya ya," balas Sarah tersenyum manis memamerkan lesung pipinya.
Sarah sengaja mengeluarkan beberapa buku cerita bergambar yang sangat berwarna-warni dari dalam tasnya.
Buku-buku itu sengaja diletakkan di atas meja kaca untuk memancing rasa penasaran anak berumur enam tahun tersebut.
Taktik itu berhasil dengan sangat sempurna, mata bulat Luna langsung terpaku pada gambar putri duyung di sampul salah satu buku.
"Wah! Ikannya punya rambut panjang seperti Mama!" seru Luna tanpa sadar melangkah maju mendekati meja kaca.
"Ini namanya putri duyung sayang, kamu mau ibu bacakan ceritanya?" tawar Sarah menggeser buku itu mendekati Luna.
Luna menoleh menatap Leon dan Nabila untuk meminta izin seperti biasanya.
Kedua orang tuanya mengangguk serempak memberikan senyum persetujuan.
Pelajaran pertama hari itu dimulai bukan dengan menghafal huruf alfabet yang membosankan, tapi dengan mendengarkan cerita dongeng.
Luna duduk di samping Sarah dan mendengarkan cerita itu dengan mulut terbuka saking takjubnya.
Anak jalanan itu tidak pernah dibacakan buku cerita bergambar seumur hidupnya, jadi ini adalah pengalaman yang sangat luar biasa baginya.
Leon dan Nabila memperhatikan interaksi mereka dari jauh dengan perasaan yang sangat lega.
"Pilihanmu sangat tepat Leon, guru Sarah ini tahu cara mengambil hati anak kecil," bisik Nabila menyandarkan kepalanya di bahu Leon.
"Tentu saja sayang, aku menyewa agen investigasi terbaik untuk mencari guru paling sabar di seluruh ibu kota," jawab Leon memeluk pinggang istrinya.
Dalam waktu dua jam, Luna tidak hanya mendengarkan cerita, tapi dia juga mulai belajar mengenali bentuk huruf dari buku bergambar tersebut.
"Ini huruf A seperti atap rumah, dan ini huruf B seperti perut badut yang buncit," jelas Sarah menunjuk gambar di buku.
"Ooh, berarti perut Bapak gembul di film kartun itu mirip huruf B ya Ibu Sarah?" tanya Luna menunjuk perut tokoh kartun di televisi.
Sarah tertawa pelan dan mengangguk.
"Iya benar sekali, Luna pintar sekali cepat hafal bentuknya," puji Sarah mengelus rambut Luna.
Pujian sederhana itu membuat pipi Luna merona merah karena senang, dia merasa belajar ternyata sangat menyenangkan.
Hari-hari berikutnya dihabiskan Luna dengan belajar bersama Ibu Sarah dari pagi hingga siang hari.
Kecerdasan Luna yang menurun dari gen jenius Leon Wegan mulai terlihat sangat menonjol.
Anak yang tidak pernah mengenal huruf itu berhasil membaca kata-kata sederhana hanya dalam waktu empat hari berturut-turut.
"Pa-pa... Ma-ma... Lu-na," eja Luna membaca tulisan di papan tulis kecilnya dengan lancar.
Prok prok prok!
Leon dan Nabila yang baru saja pulang dari luar bertepuk tangan sangat meriah dari ambang pintu ruang belajar.
"Wah! Putri Papa sudah bisa membaca namanya sendiri! Hebat sekali!" puji Leon berjalan masuk dan menggendong Luna berputar-putar.
"Terima kasih Papa! Ibu Sarah yang mengajari Luna bernyanyi lagu huruf setiap hari," jawab Luna tertawa riang di gendongan ayahnya.
Sarah yang sedang membereskan buku-bukunya tersenyum melihat kehangatan keluarga konglomerat tersebut.
"Nona Luna memang sangat cerdas Tuan, daya tangkapnya jauh di atas rata-rata anak seusianya," puji Sarah jujur tanpa melebih-lebihkan.
"Saya rasa dia sudah sangat siap untuk masuk ke kelas satu di sekolah dasar minggu depan," tambah Sarah memberikan laporan akhirnya.
Leon menurunkan Luna dan mengangguk puas mendengar laporan dari guru privat tersebut.
"Terima kasih atas kerja kerasmu Nona Sarah, asistenku sudah mentransfer bonus dua kali lipat ke rekeningmu pagi ini," ucap Leon sebagai tanda terima kasih.
"Ah, Tuan tidak perlu repot-repot, mengajar Nona Luna adalah pengalaman yang menyenangkan bagi saya," balas Sarah membungkuk sopan bersiap pulang.
Setelah kepergian Sarah, Leon mengajak istri dan anaknya duduk di ruang keluarga.
"Nah sayang, karena kamu sudah pintar membaca, besok Papa akan membelikan tas sekolah dan sepatu baru untukmu," ucap Leon memulai pembicaraan serius.
"Besok lusa kamu akan mulai masuk ke sekolah Royal Star, Papa sudah mengurus semua pendaftarannya," lanjut Leon.
Meskipun sudah tidak terlalu takut pada guru, tapi Luna masih merasa sedikit gugup membayangkan sekolah yang sesungguhnya.
"Apakah di sekolah itu teman-temannya baik seperti Ibu Sarah, Papa?" tanya Luna memainkan jari tangannya di pangkuan Nabila.
"Mereka semua anak dari teman-teman bisnis Papa, mereka pasti akan baik padamu sayang," jawab Nabila menenangkan.
"Kalau ada yang berani nakal padamu, langsung laporkan pada guru atau pengawal pribadimu yang berjaga di luar kelas," tambah Leon memberikan instruksi ala mafia.
"Iya Papa, Luna tidak akan takut lagi sekarang," jawab Luna mengangguk mantap.
Keesokan harinya, Leon harus pergi ke kantor pusat Wegan Group karena ada masalah mendesak yang membutuhkan persetujuannya.
Nabila akhirnya pergi berdua saja dengan Luna ke mall untuk membeli perlengkapan sekolah putrinya.
Mereka dikawal oleh empat orang pria berjas hitam yang berjalan tidak jauh di belakang mereka.
"Luna mau tas ransel warna merah muda yang ada gambar putri duyungnya Mama!" tunjuk Luna ke arah sebuah toko tas anak-anak di mall.
"Boleh sayang, kita masuk dan coba tasnya di dalam," ajak Nabila menggandeng tangan Luna masuk ke toko mewah tersebut.
Di saat Luna sedang sibuk mencoba berbagai macam tas punggung di depan cermin, Nabila melihat-lihat kotak bekal makanan di rak sebelah.
baru mulai baca
Cerita nya bagus banget