Alesia Fiore mengira hidupnya di Korea Selatan sudah berada di titik paling damai. Demi memperbaiki ekonomi keluarga yang ironisnya hanya peduli pada uang kirimannya Alesia rela bekerja keras bagai kuda selama satu tahun sebagai admin pemasaran di Aetheris Games. Biarpun sering lembur, ia bahagia karena memiliki lingkungan kerja yang sehat dan sahabat-sahabat yang suportif.
Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat takdir membawa Dante Luca Alessio masuk ke hidupnya.
Dimulailah hari-hari penuh kesialan, kejengkelan, dan kesalahpahaman kocak bagi Alesia yang harus melayani segala tuntutan ajaib dari bos barunya yang ruthless. Sanggupkah Alesia bertahan demi pundi-pundi won, atau justru benci di antara mereka berubah menjadi benih-benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22
Dante menurunkan tabletnya, menatap pergelangan kaki Alesia yang masih terbalut perban tipis.
"Pulang? Dengan kaki pincang seperti itu?"
"Apartemen saya dekat kok dari stasiun terdekat dari sini, Pak. Saya bisa naik taksi atau bus malam," jawab Alesia bersikeras.
Baru saja Dante bersiap membalas ucapan Alesia, tiba-tiba sebuah suara gemuruh petir yang sangat kencang menggelegar dari luar rumah, membuat kaca-kaca besar di ruang tengah bergetar hebat.
JEDARRR!
Alesia refleks memekik kaget dan mundur satu langkah. Tak berselang lama setelah suara petir itu, suara hantaman air hujan yang sangat deras langsung terdengar menghantam atap rumah.
Hujan badai musim gugur mendadak turun dengan intensitas yang sangat ekstrem.
Dante berdiri dari sofanya, berjalan menuju jendela kaca besar dan menatap keluar. Di luar sana, jarak pandang hampir nol karena pekatnya air hujan dan angin kencang yang menumbangkan beberapa ranting pohon di taman.
"Kamu tidak akan bisa pulang malam ini, Fiore. Hujan badainya terlalu berbahaya untuk berkendara," ucap Dante, membalikkan badannya menghadap Alesia.
"Tapi Pak, saya tidak mungkin menginap di rumah Bapak! Bagaimana kalau besok pagi ada rumor aneh di kantor? Lagipula saya tidak bawa baju ganti selain..." Alesia melirik kaus kebesaran Dante yang masih melekat di tubuhnya.
"Saya pemilik perusahaan, tidak akan ada yang berani menyebarkan rumor tentang saya," sahut Dante dengan arogansi mutlaknya.
"Kamu tidur di kamar tamu di lantai atas."
Melihat kondisi cuaca di luar yang semakin menggila, Alesia akhirnya mengalah dengan pasrah.
"Baiklah, Pak. Terima kasih atas tumpangannya."
Rey kemudian menuntun Alesia menuju sebuah kamar tamu yang sangat luas di lantai dua. Kamar itu memiliki ranjang berukuran king size yang tampak sangat empuk dengan selimut bulu angsa tebal.
Setelah mengucapkan selamat malam, Rey turun kembali ke lantai dasar, meninggalkan Alesia sendirian di dalam kamar mewah tersebut.
Karena tubuhnya yang sudah benar-benar remuk, Alesia langsung merebahkan diri di atas ranjang yang super empuk.
Belum sempat ia memikirkan betapa anehnya situasi hidupnya malam ini, kesadarannya langsung menguap dan ia tertidur pulas dalam waktu kurang dari satu menit.
Tiga jam berlalu. Jam digital di samping ranjang menunjukkan pukul 02.45 dini hari. Hujan di luar masih menyisakan rintik-rintik basah, namun badai petir sudah mereda.
Di tengah tidurnya yang nyenyak, perut Alesia kembali bergejolak hebat. Efek dari kombinasi makan yang tidak teratur, stres pekerjaan seminggu penuh, dan tahu goreng tepung yang berminyak malam ini akhirnya mencapai puncaknya.
Rasa mulas yang luar biasa tajam melilit lambungnya, memaksa Alesia terbangun dengan sentakan panik.
"Aduh... perutku... sakit banget!" rintih Alesia sambil memegangi perutnya yang melilit.
Dengan mata yang masih setengah terpejam karena kantuk dan tubuh yang lemas, Alesia buru-buru turun dari ranjang.
Di dalam kegelapan kamar tamu yang asing, ia mencoba mencari pintu kamar mandi dalam. Namun, karena nyawanya belum terkumpul sepenuhnya dan suasana kamar yang gelap gulita, otak Alesia mendadak eror.
Ia meraba-raba dinding kamar, menemukan sebuah gagang pintu besi, dan langsung mendorongnya terbuka.
Tanpa memeriksa area sekitar karena matanya sudah berkunang-kunang menahan perih di perut, Alesia langsung melangkah masuk dengan terburu-buru.
"Loh... kok kamar mandinya luas banget? Dan... kenapa tidak ada klosetnya?" gumam Alesia bingung saat tangannya meraba-raba dinding mencari sakelar lampu.
Begitu jemarinya berhasil menekan sakelar, lampu ruangan menyala dengan temaram hangat. Alesia mengerjapkan matanya yang silau, dan sedetik kemudian, pemandangan di hadapannya sukses membuat seluruh rasa mulas di perutnya hilang terbang entah ke mana, berganti dengan rasa syok yang luar biasa.
Tempat yang ia masuki sama sekali bukan kamar mandi. Ia salah membuka pintu pembatas balkon dalam dan tidak sengaja menyusup masuk ke dalam kamar tidur utama milik Dante Luca Alessio!
Kamar itu didominasi warna hitam dan abu-abu gelap yang sangat maskulin. Dan tepat di tengah ranjang besar berdesain minimalis, Dante sedang berbaring tidur dengan posisi telentang.
Pria itu tampak tidak mengenakan atasan kemejanya, hanya selimut hitam yang menutupi sebatas pinggangnya, menampilkan dada bidangnya yang atletis dan kokoh yang terekspos bebas di udara.
Wajah tidur Dante tampak sangat tenang, jauh dari ekspresi galak yang biasa ia tunjukkan di kantor.
Alesia mematung di dekat pintu, mulutnya menganga lebar seperti orang bodoh. Jantungnya berdegup gila-gilaan, seratus kali lebih kencang daripada saat ia hampir jatuh di panggung tadi malam.
Mati aku! Utangku belum lunas, sekarang aku malah dituduh jadi penyusup mesum! batin Alesia berteriak histeris dalam kepanikan tingkat tinggi.
Dengan gerakan super lambat dan hati-hati, Alesia mulai menarik kaki kanannya mundur, bersiap menutup pintu kembali seolah-olah kejadian ini tidak pernah terjadi.
Namun, nasib sial tampaknya memang sudah menjadi nama tengah Alesia Fiore.
Saat kakinya mundur satu langkah, ujung celana training hitam panjang milik Dante yang kedodoran di tubuhnya tidak sengaja menginjak lantai marmer yang licin. Keseimbangan Alesia yang memang sudah buruk sejak awal malam langsung hilang total.
Bruk!
"Aaaah!" Alesia tidak bisa menahan pekikan kagetnya saat tubuhnya terjerembap ke depan.
Dan seolah takdir sedang menulis naskah komedi terbaiknya, tubuh Alesia jatuh meluncur ke depan dan mendarat dengan telak tepat di atas tubuh Dante yang sedang tertidur lebat.
OOF!
Suara embusan napas berat langsung lolos dari mulut Dante saat dadanya dihantam oleh beban tubuh Alesia.
Mata abu-abu Dante langsung terbuka lebar seketika. Dalam hitungan detik, insting kewaspadaannya bangkit.
Sebelum Alesia sempat mengangkat tubuhnya untuk meminta maaf, tangan kekar Dante dengan gerakan refleks yang sangat cepat langsung mengunci pinggang Alesia, membalikkan posisi tubuh mereka dalam satu gerakan memutar yang kuat.
Sret!
Hanya dalam waktu satu kedipan mata, posisi mereka kini sudah berbalik.
Dante kini berada di atas, mengungkung tubuh kecil Alesia di bawahnya di atas ranjang besarnya. Kedua tangan kekar Dante menumpu di sisi kiri dan kanan kepala Alesia, sementara matanya yang tajam menatap lurus ke dalam manik mata bulat gadis itu dengan kilatan keterkejutan bercampur amarah yang samar.

Napas mereka berdua memburu, saling berembus di wajah satu sama lain karena jarak yang teramat dekat. Alesia bisa merasakan kehangatan kulit dada bidang Dante yang langsung bersentuhan dengan lengannya, membuat otaknya benar-benar meledak karena malu.
"Nona Fiore..." ucap Dante, suaranya terdengar sangat rendah, serak khas bangun tidur, dan penuh dengan penekanan yang berbahaya.
"Bisa jelaskan pada saya... apa yang sedang kamu lakukan di dalam kamar saya, di atas ranjang saya, pada jam tiga dini hari?"
Alesia menelan ludah dengan susah payah, wajahnya sudah memerah sempurna hingga ke ujung telinga. Ia meremas ujung kaus putih milik Dante yang ia kenakan, menatap bosnya dengan pandangan melas yang super pasrah.
"Pak... demi apa pun, saya... saya cuma mau cari toilet karena perut saya mulas, Pak! Saya bersumpah saya gak sengaja menyusup!" cicit Alesia dengan suara bergetar, bersiap menerima amukan terdahsyat dari sang bos singa dalam sejarah hidupnya.
Malam itu, di dalam kamar yang sunyi, babak komedi penuh kesalahpahaman di antara mereka resmi mencapai puncak tertingginya.