Handoko Priambodo dan Mellisa Ariani pernah saling mencintai saat masih kuliah. Namun, impian mereka kandas ketika Handoko melanjutkan studi S2 ke luar negeri, memaksa mereka berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.
Puluhan tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di acara lamaran putra Handoko dengan putri Mellisa. Pertemuan itu membangkitkan kembali cinta lama yang seharusnya telah terkubur.
Di balik status mereka sebagai calon besan, terjalin kembali hubungan terlarang yang mengancam menghancurkan rumah tangga, melukai anak-anak mereka, dan mengoyak dua keluarga sekaligus.
Akankah mereka memilih cinta masa lalu, atau mempertahankan kebahagiaan anak-anak mereka?
Karena terkadang, **besan adalah maut**.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Terpaksa Menerima Lamarannya
Raungan Mellisa terdengar begitu keras dari dalam kamar hingga membuat kedua orang tuanya yang sedang berada di ruang tengah sontak terkejut. Tidak biasanya putri mereka menangis seperti itu. Apalagi beberapa saat sebelumnya Mellisa masih terlihat begitu ceria, bahkan dengan penuh semangat menceritakan tentang Handoko.
Pak Ilham dan Bu Tina segera bergegas menuju kamar putrinya. "Mel, buka, Sayang. Ada apa?” Bu Tina mengetuk pintu berkali-kali. “Mel?”
Tidak ada jawaban. Yang terdengar justru tangisan Mellisa yang semakin menjadi-jadi. Suaranya bercampur dengan isak dan raungan yang membuat hati Bu Tina terasa ikut diremas.
"Mel, Nak, buka pintunya!”Tetap tidak ada jawaban.
Akhirnya, dengan tangan gemetar, Bu Tina mencoba mendorong gagang pintu. Pintu itu ternyata tidak terkunci.
"Ya Allah…”Bu Tina tertegun.
Pak Ilham yang berdiri di belakangnya pun ikut membeku melihat keadaan kamar putrinya. Kamar yang sebelumnya begitu rapi kini berubah berantakan. Bantal berserakan di lantai, beberapa buku terlempar dari rak, pakaian yang semula tersusun di kursi kini jatuh berserakan. Bahkan sebuah vas kecil pecah di sudut kamar.
Sepertinya Mellisa telah melampiaskan seluruh kemarahannya dengan melemparkan apa pun yang berada di dekatnya. Dan di tengah kekacauan itu, Mellisa duduk di lantai sambil memeluk lutut. Rambutnya berantakan, wajahnya basah oleh air mata.
"Mel…” Bu Tina mendekat perlahan.
Mellisa mengangkat wajahnya. Tatapannya kosong, tetapi air mata masih terus mengalir.
"Ada apa, Nak?” Bu Tina duduk di sampingnya. "Kamu kenapa? Barusan masih ceria. Kamu masih cerita tentang Handoko. Kok sekarang malah begini?”
Mellisa langsung memalingkan wajah.“Jangan sebut nama itu lagi di hadapanku, Bu.”
Suara Mellisa bergetar. Ada luka yang begitu dalam di balik kalimat sederhana itu.
Bu Tina dan Pak Ilham saling berpandangan. "Lho, kenapa?” tanya Bu Tina hati-hati. “Katanya kalian saling mencintai?”
Mellisa tertawa getir di sela tangisnya.“Aku salah, Bu.”
"Apa maksudmu?”
"Ternyata dia sudah punya wanita lain.”
Bu Tina terdiam.
"Dan hari ini…” Mellisa menarik napas panjang, tetapi suaranya kembali pecah. “Hari ini dia sedang melamar wanita itu.”
Pak Ilham mengernyitkan dahi. "Apa?”
Bu Tina ikut terkejut. "Kamu tahu dari mana, Mel?”
"Dari ART-nya, Bu.”
Mellisa menundukkan kepala. Kedua tangannya mengepal erat. "Jadi selama ini aku ini apa?” gumamnya. “Aku yang bodoh. Aku yang percaya kalau dia masih mencintaiku. Aku yang berharap kami masih punya kesempatan.”
"Mel…” Bu Tina mencoba memegang bahunya.
Namun Mellisa segera menggeleng. Sudah, Bu. Aku tidak mau membicarakan dia lagi.”
Pak Ilham yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara. Jangan mengambil keputusan dalam keadaan seperti ini, Mel. Kamu sedang emosi!”
Mellisa menghapus air matanya dengan kasar.
"Aku sudah memutuskan.”
"Memutuskan apa?” tanya Bu Tina.
Mellisa terdiam beberapa detik. Lalu, dengan suara yang jauh lebih tenang meskipun matanya masih sembap, dia berkata,
"Kalau Mas Riza datang ke sini dan dia mau melamarku…”Mellisa menatap kedua orang tuanya bergantian.“Katakan kalau aku mau menikah dengannya.”
Bu Tina langsung tertegun. "Tapi, Mel…”
"Katakan saja itu, Bu.”
"Tapi kamu yakin?”
"Aku yakin.”
Pak Ilham menghela napas panjang.
"Mel, menikah bukan perkara sederhana. Jangan karena kamu sedang terluka—”
"Aku tidak peduli, Pak.”
Mellisa memotong perkataan ayahnya. "Kalau perlu, bulan ini juga aku bisa menikah dengannya.”
Bu Tina menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca. Dia tahu, keputusan itu bukan lahir dari hati seorang perempuan yang sedang jatuh cinta. Itu adalah keputusan seorang perempuan yang sedang patah hati dan ingin segera mengubur rasa sakitnya.
Namun Mellisa sudah terlalu hancur untuk menyadarinya. Di dalam kepalanya hanya ada satu keinginan: jika Handoko memilih perempuan lain, maka dia pun harus berhenti menunggunya.
Sekalipun untuk itu, Mellisa harus menikah dengan lelaki lain yang belum tentu benar-benar dicintainya.
***
Empat hari berlalu sejak kejadian itu. Selama empat hari tersebut, Mellisa berusaha menjalani hari-harinya seperti biasa. Dia tidak lagi menangis meraung-raung seperti malam pertama mengetahui kabar tentang Handoko. Namun, bukan berarti hatinya sudah baik-baik saja.
Dia hanya mulai belajar menyimpan rasa sakit itu sendiri. Kepada kedua orang tuanya pun Mellisa tidak pernah lagi membicarakan Handoko.
Pak Ilham dan Bu Tina juga memilih memberikan ruang. Mereka tidak ingin terus-menerus menanyakan keadaan putrinya, apalagi memaksanya untuk segera mengambil keputusan.
Sampai sore itu, Riza datang ke rumah.
"Assalamu'alaikum.”
"Wa'alaikumussalam.”
Bu Tina yang sedang berada di ruang keluarga langsung menyambutnya.
"Nak Riza? Masuk, Nak!”
"Maaf mengganggu, Bu!”
"Tidak mengganggu. Kebetulan Pak Ilham juga ada.”
Riza kemudian duduk di ruang tamu bersama Pak Ilham. Setelah berbasa-basi sebentar, Riza akhirnya menyampaikan maksud kedatangannya.
"Pak, Bu…”
"Iya.”
"Beberapa waktu lalu saya sudah menyampaikan niat saya kepada Bapak dan Ibu.”
Pak Ilham mengangguk. Riza memang pernah datang dan mengutarakan keinginannya untuk melamar Mellisa.
"Saya sebenarnya ingin menanyakan… apakah Bapak dan Ibu sudah membicarakan hal itu dengan Mellisa?”
Pak Ilham dan Bu Tina saling pandang. "Belum lama ini kami memang sudah membicarakannya,” jawab Pak Ilham.
"Bagaimana jawabannya, Pak?”
Riza tampak sedikit gugup meskipun berusaha menyembunyikannya. Selama beberapa hari terakhir, dia memang terus memikirkan hal itu. Bukan ingin mendesak, tetapi dia ingin mendapatkan kepastian agar tidak terus menebak-nebak.
Bu Tina tersenyum tipis. "Kalau begitu, lebih baik kamu dengar langsung dari Mellisa.”
Riza mengangguk. "Boleh saya bertemu dengannya, Bu?”
"Tentu.”
Bu Tina kemudian berdiri dan berjalan menuju kamar Mellisa. Mellisa sedang duduk di kamarnya ketika ibunya masuk.
"Mel.”
Mellisa menoleh. "Riza datang.”
Mellisa terdiam. Sudah beberapa hari ini dia berusaha tidak memikirkan apa pun tentang pernikahan. Tetapi mendengar nama Riza, keputusan yang pernah dia ucapkan malam itu kembali terlintas di kepalanya.
Kalau Mas Riza ke sini dan dia mau melamarku, katakan aku mau menikah dengannya.
"Dia mau ketemu aku?”
"Iya.”
Bu Tina duduk di samping putrinya. "Kalau kamu belum siap, Ibu bisa bilang kamu sedang istirahat.”
Mellisa menggeleng. "Tidak usah, Bu.”
"Kamu yakin?”
Mellisa menarik napas panjang. "Aku mau menemuinya.”
Dia kemudian bangkit dari tempat duduknya.
Beberapa saat kemudian, Mellisa keluar dari kamar. Riza yang sedang duduk bersama Pak Ilham langsung berdiri.
"Mellisa.”
"Hai, Mas.”
Riza tersenyum. "Maaf mengganggu!”
"Tidak apa-apa.”
Mellisa duduk di sofa. Riza kembali duduk berhadapan dengannya. Sesaat keduanya terdiam.
Riza kemudian membuka pembicaraan. "Aku datang sebenarnya ingin menanyakan sesuatu.”
"Apa?”
"Beberapa waktu lalu aku sudah menyampaikan niatku kepada Ayah dan Ibumu.”
Mellisa mengangguk pelan.
"Aku ingin tahu… apakah mereka sudah menyampaikannya kepadamu?”
"Iya.”
"Lalu?”Riza berhenti sejenak. "Kamu bagaimana?”
Mellisa menatap wajah Riza. Lelaki itu terlihat begitu tulus. Tidak ada paksaan dalam tatapannya. Tidak ada tuntutan agar Mellisa segera memberikan jawaban.
Hanya sebuah pertanyaan sederhana dari seseorang yang sedang menunggu kepastian.
Mellisa menarik napas panjang. "Kalau Mas masih serius…”Riza menunggu. "Aku menerima.”
Riza terdiam. Seolah dia perlu beberapa detik untuk memastikan bahwa dirinya tidak salah dengar.
"Kamu menerima?”
Mellisa mengangguk. "Iya.”
Wajah Riza seketika berubah cerah.
"Alhamdulillah…”Senyumnya merekah. Terima kasih, Mel!”
Mellisa membalas senyum itu. Namun di dalam hatinya, ada sesuatu yang terasa ganjil.
Dia tahu, seharusnya dia merasa bahagia karena baru saja menerima lamaran seorang lelaki yang baik.
Tetapi di sudut hatinya yang paling dalam, masih ada nama lain yang belum benar-benar bisa dia lepaskan. Nama yang selama empat hari ini mati-matian dia coba hapus dari pikirannya.
Handoko. Dan mungkin, justru karena itulah Mellisa menerima Riza. Bukan karena hatinya telah selesai dengan masa lalu. Melainkan karena dia ingin memaksa dirinya untuk memulai masa depan.