Indonesia
NovelToon NovelToon
Misteri Rumah Kedelapan Di Kampung Pitu

Misteri Rumah Kedelapan Di Kampung Pitu

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Hantu / Tamat
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

Raka nekad syuting di Kampung Pitu meski dilarang Laras dan karena ia merasa ada kekuatan gaib yang memilih tempat itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan Di balik pintu tertutup

Sore itu, kabut tipis mulai turun perlahan, menyusup di sela-sela pepohonan yang rimbun dan menyelimuti tujuh rumah yang berdiri kokoh serta sakral di kawasan Kampung Pitu. Langit di atas sana mulai berubah warna, perlahan berganti dari biru cerah menjadi ungu kemerahan, seakan alam sendiri sedang bersiap menyambut kegelapan yang tak biasa. Di bawah lereng bukit yang menjulang, di sebuah penginapan sederhana yang menjadi tempat menginap seluruh kru film, suasana terasa hening dan penuh kegelisahan. Tidak ada suara tawa, tidak ada obrolan ringan seperti biasanya. Setiap orang yang ada di ruangan itu seakan merasakan beban berat yang tak kasat mata, beban yang dibawa turun dari bukit bersama mereka.

Raka duduk di tepi tempat tidur, menatap lurus ke arah jendela yang menghadap ke atas ke arah puncak bukit, ke arah rumah kedelapan itu. Pikirannya terus berputar tanpa henti, tak bisa berhenti memikirkan apa yang baru saja mereka lihat dan rasakan di sana. Setiap kali ia memejamkan mata, ia kembali melihat bayangan-bayangan samar di balik jendela lantai dua, mendengar suara langkah kaki yang pelan namun jelas, dan merasakan hawa dingin yang menusuk tulang, hawa yang tidak wajar untuk sore yang seharusnya hangat itu. Ia tahu betul bahwa apa yang mereka temui di sana bukan sekadar imajinasi atau kelelahan. Rumah itu hidup. Rumah itu menyimpan sesuatu, sesuatu yang menunggu untuk ditemukan.

Laras duduk di sebelahnya, tubuhnya sedikit meringkuk seakan kedinginan meskipun udara di dalam ruangan itu cukup hangat. Wajahnya masih tampak pucat, matanya yang biasanya cerah kini tampak lesu dan penuh kekhawatiran. Ia memeluk dirinya sendiri, kedua tangannya saling meremas di atas pangkuan, seakan masih merasakan getaran aneh yang ada di dalam rumah itu. Di benaknya terus berputar pertanyaan yang sama berulang-ulang: siapa yang mengetuk pintu itu? Siapa yang memanggil nama mereka? Dan mengapa rumah itu terasa begitu hidup, seakan menanti kedatangan mereka sejak lama sekali?

Di seberang mereka, Dimas berdiri membelakangi pintu, punggungnya tegak namun terasa kaku. Ia menatap ke lantai dengan tatapan yang sulit diartikan — campuran antara rasa bersalah, takut, dan sesuatu yang lain, sesuatu yang sejak dulu ia coba sembunyikan dari semua orang. Sebagai anak asli Kampung Pitu, ia tumbuh dengan mendengar cerita-cerita tentang larangan dan aturan leluhur. Ia tahu betul mengapa hanya boleh ada tujuh rumah. Ia tahu betul mengapa rumah kedelapan itu dilarang dibangun. Dan ia tahu betul apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga Candra Wijaya setidaknya sebagian dari kebenaran itu, sebagian yang ia dengar dari bisik-bisik warga dan cerita ibunya yang selalu berakhir dengan larangan.

"Kita tidak bisa kembali ke sana," kata Dimas tiba-tiba, suaranya rendah namun tegas, memecah keheningan yang sempat menyelimuti ruangan. "Kalian tidak paham. Rumah itu... bukan sekadar rumah kosong yang ditinggalkan penghuninya karena bosan atau pindah tempat. Rumah itu punya kekuatan, kekuatan yang sudah ada sejak dulu di tanah itu, kekuatan yang tidak boleh diganggu gugat oleh siapa pun. Keluarga Candra Wijaya tidak hanya membangun rumah di tempat yang salah mereka melanggar aturan yang sudah dijaga turun-temurun. Dan pelanggaran itu tidak pernah dibiarkan begitu saja."

Raka perlahan menoleh, alisnya berkerut dalam. "Kita sudah menandatangani kontrak, Dimas. Seluruh kru sudah datang dari Jakarta, peralatan sudah disiapkan dengan biaya yang tidak sedikit, dan jadwal syuting sudah disusun rapi berbulan-bulan sebelumnya. Bagaimana mungkin kita berhenti sekarang hanya karena perasaan tidak enak? Apa alasannya yang nyata? Hanya karena kita merasakan hawa dingin dan mendengar suara langkah kaki yang belum tentu berasal dari apa?"

"Bukan sekadar itu!" potong Dimas agak keras, suaranya sedikit meninggi namun segera ia tahan, seakan takut kata-katanya didengar oleh sesuatu yang lain. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri sebelum melanjutkan. "Kalian tidak tumbuh di sini. Kalian tidak mendengar cerita-cerita itu sejak kecil. Kalian tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah itu bertahun-tahun lalu. Keluarga Candra Wijaya... mereka bukan sekadar pindah di tengah malam seperti yang dikatakan sebagian warga. Mereka menghilang. Satu per satu, tanpa ada yang melihat ke mana mereka pergi, tanpa ada yang mendengar suara mobil, tanpa ada yang melihat barang bawaan mereka. Dan sejak saat itu, siapa pun yang mencoba tinggal di sana atau bahkan hanya masuk ke dalamnya tanpa izin, selalu mengalami hal-hal yang tidak wajar sakit tanpa sebab, mimpi buruk yang sama berulang-ulang, benda-benda yang berpindah sendiri, dan kadang... suara panggilan yang memanggil nama mereka dengan jelas."

Laras menggigit bibir bawahnya pelan, matanya menatap ke arah jendela yang sedikit terbuka, tempat angin sore mulai menyelinap masuk. "Tapi Pak Tua Suryo pernah bilang... mereka pergi tengah malam, kan? Mungkin saja mereka takut dan memilih pindah tempat lain, jauh dari sini, karena tidak tahan dengan suasana di sini?"

Dimas menggeleng pelan, tatapannya menjadi semakin berat. "Itu hanya asumsi warga yang tidak berani melihat kebenaran. Bahkan Pak Tua Suryo sendiri sebenarnya tidak yakin. Ia hanya berkata begitu agar tidak menakuti siapa pun. Yang pasti, sejak hari pertama mereka mulai membangun rumah itu rumah kedelapan yang melanggar aturan leluhur hal-hal aneh mulai terjadi. Awalnya hanya benda-benda kecil yang hilang atau berpindah tempat padahal tidak ada siapa-siapa yang menyentuhnya. Lalu terdengar suara orang berbicara di ruangan kosong, atau suara tangisan anak padahal tidak ada anak di rumah itu. Kemudian Bu Isma, ibu di keluarga itu, mulai sering sakit-sakitan tanpa sebab yang bisa dijelaskan dokter. Ia sering mengeluh merasa diawasi, merasa ada orang yang selalu berdiri di samping tempat tidurnya saat ia tidur. Dan akhirnya... mereka semua hilang, dalam satu malam, tanpa meninggalkan jejak apa pun."

Suasana hening seketika. Hanya terdengar suara angin yang berhembus pelan di luar jendela, seakan membawa bisikan-bisikan dari puncak bukit yang jauh. Raka merasakan ada sesuatu yang bergetar di dalam hatinya — bukan rasa takut yang membuatnya ingin lari, melainkan rasa penasaran yang semakin kuat, rasa ingin tahu yang justru semakin membara mendengar penjelasan Dimas. Justru karena cerita ini begitu dalam, begitu menyayat hati, ia merasa bahwa rumah itu menyimpan kisah yang luar biasa, kisah yang pantas untuk diangkat ke layar lebar dengan penuh penghormatan, bukan ditinggalkan begitu saja.

"Justru karena itu," kata Raka pelan namun mantap, matanya menatap lurus ke arah Dimas, "kita harus melanjutkan syuting. Bukan untuk menaklukkan tempat itu atau menganggap remeh larangan mereka. Sebaliknya kita datang dengan niat baik, untuk menceritakan kisah mereka dengan hormat. Siapa tahu... dengan menceritakan kembali apa yang dialami keluarga Candra Wijaya, kita bisa membantu mengungkap apa yang sebenarnya terjadi pada mereka, dan memberi mereka sedikit ketenangan yang selama ini tidak mereka miliki."

Laras menatap Raka dengan tatapan bercampur bingung dan kagum. Di sisi lain, Dimas tampak semakin gelisah. Ia tahu Raka tidak akan mundur begitu saja. Keputusan itu sudah tertanam kuat di hatinya. Dan ia juga tahu, jika mereka tetap melanjutkan, ia tidak bisa terus berdiam diri dan menyembunyikan apa yang ia ketahui. Ia harus menceritakan hal yang sebenarnya ia dengar dari ibunya, Bu Wiyati — hal yang selama ini ia simpan rapat-rapat, bahkan berani mengatakannya pun ia takut.

"Baiklah," ujar Dimas akhirnya, suaranya berat dan penuh beban. "Tapi kalau kalian tetap bersikeras, ada satu hal lagi yang harus kalian tahu. Satu hal yang tidak boleh kalian lupakan selama berada di rumah itu, apa pun yang terjadi."

Ia berhenti sejenak, menatap keduanya bergantian, memastikan bahwa mereka benar-benar mendengarkan dan mengerti betapa pentingnya hal itu. Lalu ia melanjutkan dengan suara yang bergetar pelan, seakan takut kata-kata itu sampai ke telinga yang tidak seharusnya mendengar:

"Jangan pernah menjawab panggilan yang bukan berasal dari orang yang kalian lihat secara langsung. Kalau ada suara memanggil nama kalian tapi kalian tidak melihat siapa yang memanggil diam saja, jangan menoleh, jangan menjawab, teruslah berjalan. Dan jangan pernah, dengan alasan apa pun, membuka pintu di bagian belakang rumah itu pintu kayu tua yang menghubungkan ruang tengah dengan dapur. Itu pintu yang tidak pernah dibuka sejak keluarga Candra Wijaya hilang. Dan ada alasan yang sangat kuat mengapa pintu itu tetap tertutup rapat sampai sekarang. Pintu itu bukan sekadar pintu biasa."

Suasana di dalam ruangan kembali hening, hening yang begitu dalam hingga detak jantung seakan terdengar jelas. Kabut di luar semakin tebal, perlahan menutupi pemandangan ke arah bukit, seakan menyembunyikan sesuatu yang sedang menunggu. Dan di kejauhan, di puncak bukit itu, di balik jendela lantai dua rumah kedelapan yang remang-remang, sebuah bayangan samar tampak berdiri diam menatap ke bawah, ke arah penginapan itu, seakan tahu bahwa mereka akan kembali. Seakan ia sudah menunggu sejak lama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!