Indonesia
NovelToon NovelToon
The Mafia’S Possession

The Mafia’S Possession

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Roman-Angst Mafia / Cinta setelah menikah
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Jauhi suami saya!"

Teriakan melengking di sebuah kafe elit Manhattan itu meremukkan dunia Pearl Glow Hurt dalam sekejap.

Pria bertutur kata lembut yang dicintainya ternyata seorang penipu beristri. Demi menyelamatkan harga diri dari skandal yang memalu, Glow nekat membual bahwa kekasih aslinya bernama "Lean"—dan bersumpah akan mengelilingi New York untuk menemukan serta menikahi pria bernama Lean demi memvalidasi kebohongannya.

Pencarian impulsif itu membawa Glow ke sebuah bengkel kusam di Queens, memutuskannya berhadapan dengan Lean—seorang mekanik bersikap dingin yang mengintimidasi dan mengaku sebagai kanibal. Glow menganggap sosoknya hanyalah rakyat jelata bersikap sok misterius.
Namun, Glow tidak menyadari bahwa pria itu adalah Orion Leander Ashford, putra penguasa takhta kegelapan New York yang menjalankan bisnis senjata rahasia.
Ketika takdir bertabrakan di antara intrik dan bahaya, permainan nama Lean mendadak berubah menjadi pusaran cinta dan bahaya yang mengancam nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#29

...🔞...

...PERINGATAN!!!...

Napas Orion Leander Ashford berembun di atas permukaan kulit leher Pearl Glow Hurt. Setiap inci tubuh Lean menegang, menantikan jawaban dari mulut wanita yang kini terlentang pasrah di bawah kukungannya.

Suasana kamar bernuansa merah muda itu mendadak menjadi begitu kedap, hanya diisi oleh detak jantung mereka yang berkejaran liar.

Glow menatap iris mata biru es suaminya. Di balik keseriusan dan rona merah di wajah tampan Lean, Glow bisa melihat gejolak gairah yang begitu pekat namun ditahan dengan amat hati-hati. Sudut bibir Glow perlahan terangkat, menyunggingkan senyuman manis nan menantang.

"Untuk apa menunggu nanti malam?" bisik Glow seraya jemari lentiknya merayap naik, mengusap rahang tegap Lean yang mengeras. "Kenapa tidak pagi ini saja?"

DEG.

Gemuruh di dada pria bernama lengkap Orion Leander Ashford itu meledak seketika. Tegukan ludah di tenggorokannya terasa begitu berat dan sulit. Darahnya berdesir panas, memompa pasokan adrenalin hingga ke ujung jarinya.

"Sekarang...?" gumam Lean gagap, matanya berkedip beberapa kali seakan tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.

Pria tegap yang biasanya sanggup menembak musuh tanpa mengecap ragu itu kini mendadak tampak kehilangan arah. Ini adalah pengalaman pertama sepanjang hidupnya bertatap muka begitu dekat dengan ketelanjangan gairah seorang wanita.

"Kita... kita harus mulai dari mana?" tanya Lean polos dengan kecanggungan murni.

Selama ini ia selalu menolak mentah-mentah puluhan wanita yang mencoba mendekatinya, menjadikan tubuhnya steril dari sentuhan fisik apa pun hingga hari ini.

Glow terkekeh pelan di sela desahan napasnya. Berbeda dengan Lean yang benar-benar "buta" dalam urusan teknis, Glow bukanlah wanita polos atau remaja lugu. Semasa kuliah dulu, bersama Angelina, mereka sering menjelajahi literatur dewasa hingga dijuluki wanita berotak mesum oleh lingkaran teman-teman dekat mereka.

Dengan keanggunan yang sarat godaan, Glow meraih telapak tangan kekar Lean yang gemetar di atas dadanya. Ia menuntun tangan berkapalan itu merayap turun, menyusuri lekuk pinggangnya hingga berhenti tepat di atas paha dalam yang terbalut kain sutra.

Melihat dirinya dituntun bagaikan murid awam, gengsi seorang penguasa Ashford di dalam diri Lean mendadak terpekik. Pria itu menyipitkan matanya, menahan kekehan tipis saat menangkap kilat meremehkan dari mata istrinya.

Lean menundukkan kepalanya, mendekatkan bibirnya ke daun telinga Glow hingga napas panasnya berbisik hangat di sana.

"Hey, Honey..." bisik Lean rendah, suaranya mendadak berubah serak dan begitu intim. "Bukan berarti aku tidak mengerti cara melakukannya. Aku hanya sedang memahami situasi... agar tidak membuatmu pingsan siang nanti."

Glow tersentak pelan, rona merah di pipinya kian terbakar.

"Bantu aku menghentikannya kalau kau kesakitan nanti," tambah Lean lagi seraya mengecup lembut ceruk leher Glow.

"Hah?" tanyanya bodoh.

Glow mengira Lean adalah pria polos yang bisa ia kendalikan sepenuhnya, namun nada bicara Lean baru saja mengembuskan sinyal bahaya yang amat nyata.

Sebelum Glow sempat mencerna situasi, Lean bergerak dengan lihai. Kain piyama sutra krem yang melekat di tubuh Glow disingkirkan tanpa hambatan. Dengan perlahan namun pasti, Lean menyibak lipatan paha Glow, memposisikan dirinya berlutut di antara kedua kaki ramping istrinya.

Jemari kekar Lean mulai menyentuh dan memainkan area sensitif di pusat kehangatan Glow.

"Ngggh!"

Desahan hebat lolos begitu saja dari tenggorokan Glow. Matanya membelalak sempurna, jemarinya mencengkeram erat seprai sutra di bawah tubuhnya. Sensasi tersengat listrik menyergap seluruh jaringan sarafnya saat sentuhan Lihai Lean bekerja di sana.

"K-kenapa harus... di sana?" desis Glow terengah-engah, dadanya naik-turun memburu. "Ahh... Lean... hentikan..."

Lean tidak mendengarkan keluhan itu. Pria tegap itu menunduk, mendaratkan ciuman-ciuman panas di sepanjang perut datar Glow, menaik menuju tulang selangka, dan meninggalkan bercak kemerahan yang pekat di kulit mulus istrinya sebagai tanda kepemilikan mutlak.

Setiap kali Glow mencoba protes, Lean akan kembali memfokuskan aksinya pada bagian inti di antara kedua kaki Glow. Sentuhan, kecupan, dan permainan lidahnya di sana membuat seluruh persendian Glow meleleh bagaikan lilin tersiram api. Kedua kaki Glow bergetar hebat, terasa lemas tak berdaya bagaikan jelly.

"Ah... berhenti, Lean... aku benar-benar tidak kuat..." rintih Glow seraya menyembunyikan wajahnya di balik bantal, matanya mulai berair karena intensitas kenikmatan asing yang membanjiri dirinya.

Lean hanya terkekeh pelan di atas tubuh istrinya. Iris mata birunya berkilat dipenuhi dominasi murni seorang suami. Ia menegakkan tubuhnya kembali, memposisikan panggulnya rapat di depan penyatuan mereka.

Tanpa membiarkan ketakutan Glow mengambil alih, Lean menggenggam erat jemari Glow, lalu menekan tubuhnya maju untuk melakukan penyatuan mutlak.

"A-AAGHHH!"

Jeritan kesakitan pecah menyayat keheningan kamar.

Penyatuan pertama itu terasa begitu sulit dan tertahan rapat. Dinding pertahanan Glow yang masih suci mencengkeram kuat jalan masuk Lean, memberikan perlawanan hebat yang membuat Lean sendiri memejamkan mata dan menahan napas seraya merintih halus.

Lean menghentikan gerakannya seketika. Tubuhnya membeku di atas Glow. Saat ia menunduk menatap ke bawah, iris matanya menangkap jejak noda darah segar yang merembes pelan di atas kain seprai merah muda di bawah mereka.

Penampakan bercak darah itu memukul dada Lean dengan dorongan rasa haru dan kebahagiaan yang teramat sangat. Pria Ashford itu menunduk perlahan, menciumi seluruh wajah Glow—mulai dari kening, kelopak mata, hingga pipinya yang dibasahi air mata.

"Leon pembohong besar..." bisik Lean lirih di atas bibir Glow, suaranya bergetar penuh rasa syukur yang mendalam. "Aku orang pertamanya... Kau sepenuhnya milikku. Terima kasih, My Wife..."

Glow menggigit bibirnya erat-erat, air mata menetes deras menyusuri pelipisnya. Rasa panas dan robekan tajam di bagian bawah tubuhnya benar-benar di luar bayangannya selama ini.

"K-kenapa... rasanya sesakit ini?" rintih Glow dengan suara parau dan kecil yang memilukan. "Angelina berbohong... dia bilang ini nikmat..."

Mendengar kepolosan dan rintihan manja istrinya di tengah tangisan, Lean tak sanggup menahan kekehan lembutnya. Pria itu menyapu dan mencium setiap bulir air mata yang menetes di pipi Glow dengan penuh kehangatan dan kasih sayang.

"Sebentar lagi, Honey..." bisik Lean lembut, mengusap lembut rambut Glow seraya mulai bergerak pelan dan perlahan untuk mengikis rasa sakit tersebut. "Tahan ya... maafkan aku..."

Gelombang rasa sakit yang semula meremukkan seluruh saraf Glow perlahan menguap, berganti dengan pusaran sensasi hangat yang merayapi setiap inci tubuhnya.

Pergerakan Lean yang semula lambat dan penuh kehati-hatian kini secara bertahap menemukan ritmenya yang presisi. Setiap dorongan lembut namun dalam yang dilancarkan pria Ashford itu mengirimkan getaran elektrik yang melelehkan seluruh pertahanan Glow.

Di dalam kamar berornamen merah muda lembut itu, keheningan pagi sepenuhnya hancur, berganti dengan simfoni desahan dan lenguhan napas yang saling memburu.

"Ngggh... A-ah... Lean..." racau Glow terengah-engah. Jemari lentiknya meremas bahu tegap Lean yang berpeluh, menancapkan kuku-kukunya di sana saat rasa nikmat yang asing menyergap puncaknya. "H-hentikan... ahh... cukup, Lean... ini terlalu... ngh!"

Lean hanya tersenyum di atas ceruk leher istrinya. Sentuhan bibir dan napas panasnya yang menghantam kulit mulus Glow terasa membakar. Tubuh tegapnya yang dipenuhi otot kekar tidak menunjukkan sedikit pun tanda- kelelahan.

Justru sebaliknya, binar mata biru es milik sang penguasa kegelapan itu makin pekat dipenuhi dominasi murni.

"Aku tidak pernah belajar untuk menghentikannya, Sayang," bisik Lean serak, suaranya terdengar begitu seksi dan pekat di sela-sela pergerakan panggulnya yang makin teratur. "Aku hanya ingin Lean Junior segera berada di sini..."

Tangan kekar Lean yang hangat merayap turun, mengusap lembut permukaan perut datar Glow yang kencang, menekan pelan di sana seolah menandai benih kehidupannya yang siap tertanam.

Glow membelalakkan matanya yang berembun, mendongak menatap wajah tampan suaminya yang bersimbah peluh. Rasa panas menyebar hingga ke ujung telinganya mendengar ucapan gila pria itu.

"K-kau gila... Pria Kanibal!" pekik Glow parau, suaranya bergetar di antara desahan yang tak sanggup ia tahan. "Aku... ahh! Aku tidak mungkin hamil hanya dalam Sehari!!"

Namun, tubuh Glow sendiri mengkhianati kata-katanya. Otak dan naluri keagenan nya yang biasanya rasional kini lumpuh total di bawah cengkeraman gairah sang suami. Saat Lean sedikit memperlambat temponya untuk memberikan jeda, Glow justru merintih kencang, pinggulnya refleks terangkat menuntut lebih.

"A-ah... lebih cepat, Lean! Jangan berhenti... lebih dalam!" racau Glow lagi tanpa sadar.

Kata-katanya saling bertabrakan secara absurd. Kadang mulutnya memohon seraya menangis kecil meminta berhenti karena tak kuat menahan sensasi yang terlalu intens, namun beberapa detik kemudian jemarinya akan menarik rambut Lean, menuntut dorongan yang lebih cepat dan menembus lebih dalam.

Rasa nikmat berbalut kepemilikan mutlak ini membuat Glow menyerahkan seluruh akal sehatnya pada sang suami.

Lean menyunggingkan senyuman tipis yang teramat puas. Setiap racauan dan desahan pasrah yang keluar dari bibir merah muda istrinya adalah bahan bakar yang membakar gairahnya hingga ke puncaknya.

Pria Ashford itu tidak memberikan ampun sedikit pun. Penyatuan panas itu berlanjut terus, memburu klimaks demi klimaks yang membuat tubuh Glow gemetar hebat bagaikan dihantam gelombang pasang.

Waktu seolah kehilangan artinya di dalam kamar bernuansa merah muda tersebut. Sinar matahari pagi yang semula membias lembut perlahan bergeser semakin tinggi, menandakan siang hari telah tiba.

TOK! TOK! TOK!

Ketukan pelan pada pintu kamar utama bergema dari luar, memotong suara sengal napas di dalam ruangan.

"Nyonya Glow... Tuan Lean..." suara seorang pelayan wanita terdengar sopan dari balik pintu. "Makan siang sudah disiapkan di ruang makan bawah. Apakah Nyonya dan Tuan ingin makan siang sekarang?"

Glow tersentak di dalam dekapan Lean, matanya membelalak panik. Ia mencoba menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan desahan yang hampir saja lolos saat Lean—tanpa peduli pada suara di luar—justru makin menghantamkan tubuhnya dengan dorongan yang teramat dalam dan panas.

"Mmph!" jerit Glow tertahan di balik telapak tangannya sendiri. Matanya menatap Lean dengan pandangan memohon agar pria itu berhenti sejenak.

Lean hanya memiringkan kepalanya, terkekeh tanpa suara dengan kilatan jahil di mata birunya. Ia sama sekali tidak menghentikan pergerakannya.

"Lean... Oh Shit... ada pelayan..." bisik Glow parau, dadanya naik-turun memburu hebat.

"Biarkan saja," gumam Lean rendah, mencium bibir bengkak Glow untuk menyumbat suaranya.

Tanpa menjawab panggilan pelayan di luar, Lean kembali membawa istrinya tenggelam dalam lautan gairah yang tak bertepi. Pelayan di luar yang tidak mendengar jawaban akhirnya melangkah pergi dengan keheningan yang dipahami.

Pergulatan panas itu tidak berhenti di situ. Hari berganti, pendar matahari siang yang terik perlahan memudar, menggantikannya dengan nuansa jingga kemerahan di langit New York saat sore hari merayap masuk.

Cahaya temaram sore menembus celah gorden, menyinari dua tubuh yang saling membelit di atas kasur yang kini acak-acakan. Seprai sutra telah bergeser ke lantai, dan kelelahan fisik menyelimuti mereka berdua. Namun, gairah di antara pasangan suami istri baru itu seolah tidak pernah padam.

Glow—yang semula adalah gadis angkuh, mandiri, dan berdarah dingin sebagai agen polisi—kini telah bertransformasi sepenuhnya.

Di atas ranjang ini, di bawah kukungan pria yang disangkanya hanya seorang pemilik bengkel miskin, Glow menjadi wanita gila yang mendambakan setiap sentuhan suaminya.

"Lean..." panggil Glow lirih, suaranya sudah sangat serak. Tangan mulusnya merayap di dada bidang Lean yang basah oleh keringat, menarik tengkuk pria itu agar kembali mendekatkan wajahnya.

"Lagi... peluk aku lagi..."

Lean menatap istrinya dengan pendar cinta dan kebanggaan yang tak tertandingi. Pria tegap itu tersenyum manis, mengecup kening Glow dengan kehangatan yang luar biasa sebelum kembali memposisikan tubuhnya.

"Sesuai perintahmu, My Wife," bisik Lean lembut.

Di balik dinding kamar yang terkunci rapat, penyatuan panas itu kembali berlanjut hingga senja menyapa, mengukir sejarah baru dalam hubungan pernikahan mereka yang tak akan pernah sama lagi.

1
Astrid Kucrit
gek sat set pria kanibal 🤣🤣
Astrid Kucrit: wkwkwkwowk 😂😂
total 2 replies
Astrid Kucrit
geli nggak glow 🤣🤣
Rosdianah 🌷: hahah 🤣
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan khawatir glow,suamimu sangat mencintaimu
Astrid Kucrit
seru nihh
Astrid Kucrit
hajar le 😂😂
Astrid Kucrit
siap2 pisah kamar 😂
Rosdianah 🌷: wkwkkw🤣
total 1 replies
Yusry Ajay
makin dag dig dug bacanya...keren Thor /Good/
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
hu... semangat 2 kk Thor 💪💪💪🤗
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii ma'aciww 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
di hajar kamu glow 🤣🤣
Astrid Kucrit
selamat berbuka puasa 🤣🤣
Rosdianah 🌷: wkwkw 🤣
total 1 replies
Yusry Ajay
gpp up dikit kk..yg penting tetap semangat 💪 berkarya 🤗🤗
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
Bu Dewi
hari ini gak update tah kak..? bolak balik liat tapi belum ada update an/Smile//Smile//Smile/
pdhl penasaran ama kelanjutannya😍😍😍
Rosdianah 🌷: huhu author minta maaf ya kak 🙏🏻 author sedikit sibuk dunia nyata hari ini. besok up banyak 🫠
total 1 replies
Nita Nita
pada hal gampang buat glow tau siapa lean 😎
Rosdianah 🌷: wkwkw 🤭
total 1 replies
Hotmayanti Yanti
kayak Mr and Mrs Smith Thor😜😜😜
Rosdianah 🌷: ow iya kak, wkwk🤭
total 3 replies
Bu Dewi
update lagi dunkz kak😍😍😍😍😍
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Nita Nita
Glow bkn bisa nembak ya
safaana
cerita othor emang gak pernah gagal meskipun ada sedikit typo tapi ke tutup sama jln ceritanya semangat Thor semoga sehat selalu
Rosdianah 🌷: Ma'aciww banget kak🫶
total 1 replies
safaana
aku penasaran itu Leon Ama kakaknya di banting kemana Thor,,gak ada jejak
Rosdianah 🌷: nanti di bab selanjutnya kak 🙏🏻
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat 2 up Thor 💪💪
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
keren bgt🤗🤗orion...
Rosdianah 🌷: anak siapa itu🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!