"Musuh kalian bukanlah orang asing, tapi orang terdekat kalian sendiri"
Suara itu terdengar begitu jelas di telinga tiga pemuda yang berada di sebuah kampung penuh misteri.
Akankah mereka bisa menemukan siapa musuh terdekat mereka itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepuluh murid
"Alhamdulillah, sekolah di buka dengan sepuluh orang murid anak anak, sebelas dengan Kenanga" ungkap Lintang
Siang itu setelah Liam melaksanakan ijab kabul dan mampir ke rumah Karna sebentar, mereka langsung ke sekolah untuk menyambut para murid yang hari itu akan Perdana belajar di sekolah baca yang di dirikan Liam, Lintang dan Hamka.
"Anak anak, apa di antara kalian ada yang pernah sekolah?" tanya Hamka karena usia anak anak itu berbeda beda, sekitar tujuh sampai sembilan tahun. Bahkan ada balita yang semangat di antar oleh Dirman, dia adalah anak dari seorang buruh pemetik kopi dari kampung Mahoni.
"Belum kak" jawab semuanya
"Karena semuanya belum pernah bersekolah, dan belum tahu bagaimana cara membaca dan menulis, kita tidak akan mulai dari pelajaran membaca atau menghafal, kita akan melenturkan tangan kalian dulu" ucap Liam
"Pakai apa kak?" tanya seorang anak
"Kalian tidak perlu khawatir, buku dan alat tulis akan di berikan pihak sekolah kalian akan mendapatkan masing-masing dua buah buku, untuk catatan di sekolah dan untuk tugas di rumah, bisa di bawa pulang dan di perlihatkan pada orang tua kalian saat pulang" jawab Liam
Hamka mulai membagikan buku dan juga alat tulis yang sudah di bawa ke sana, Kenanga juga dapat dan dia terlihat senang. Awalnya mereka tidak terlalu tertarik melihat buku dan pensil itu, tapi saat Lintang menggambar sesuatu di papan tulis, mereka jadi antusias.
"Kami juga ingin bisa menggambar kuda itu kak" ucap seorang murid
"Untuk bisa menggambar ini, kalian harus belajar dulu, tidak bisa langsung jadi, ada langkah langkahnya, kalian mau?" tanya Lintang.
"Mau" jawab semuanya semangat
"Kakak, kakak sudah besal, halusnya mengalah dengan Fatih, gesel sedikit, Fatih mau dekat pak gulu" ucap anak balita yang bernama Fatih tapi Kenanga tidak mau mengalah dan justru menghalangi Fatih mendekat pada Liam.
"Kelakuan istri Lo Liam, sama anak balita aja dia nggak mau kalah" bisik Hamka
"Ini tugas Lo kan, urus Kenanga" jawab Liam
"Kenanga, coret buku ini sampai penuh, hanya satu lembar saja, jangan di tekan terlalu kuat" ucap Hamka
Srak.
"Kenanga jangan di sobek bukunya, ini berharga, belajar untuk menghargai sesuatu, coba kamu ulangi coretan kamu, tidak apa apa berantakan, namanya juga corat coret" bujuk Liam saat Kenanga kesal dan merobek bukunya karena dia tidak bisa membuat apa yang buat anak anak lain.
"Perhatikan"
Liam menuntun tangan Kenanga untuk memegang pensil dengan benar, dia juga mencontohkan coretan coretan di buku Kenanga yang sudah dia robek.
"Gampang kan, sekarang kamu lakukan sendiri" ucap Liam
"Kenanga khusus Lo yang pegang deh, dia nggak mungkin gue pegang kaya tadi Lo pegang dia kan, nanti Lo cemburu" ucap Hamka
"Lebay Lo" sinis Liam
Mereka kembali mengawasi murid murid di sana, kamera handphone mereka juga terus mereka arahkan pada anak anak itu yang semangat belajar, tak hanya belajar melenturkan tangan, ada beberapa cerita juga yang dibacakan Lintang pada anak anak itu di akhir jam pelajaran.
"Selesai, untuk besok, kalian bisa kan bawa benda yang bentuknya bulat, bisa apa saja, mau itu gelas, piring kecil, ataupun uang koin, besok kita akan belajar tentang lingkaran dan apa saya yang bisa di gambar dari bentuk lingkaran itu" ucap Lintang
"Iya pak guru" jawab semuanya
Panca, Prama dan Dirman memperhatikan anak anak itu di teras sekolah yang tersedia cukup luas untuk para orang tua yang ingin melihat anak anak mereka belajar, agar mereka juga bisa tahu kalau anak anak mereka belajar dengan semangat di dalam.
"Ini hadiah dari Mbah Panca, permen untuk kalian dan juga beberapa kue yang di beli di pasar kampung cadas, kalian bilang apa?" tanya Liam
"Terima kasih Mbah Panca" ungkap semuanya karena meski Panca masih muda, panggilan para anak anak desa itu tetap Mbah, mengingat Panca adalah salah satu tetua di kampung itu.
"Sama sama, kalian belajar yang rajin ya" jawab Panca
"Fatih ayo pulang nak, besok di antar Bu Lilis ya" panggil Dirman
"Iya pak" jawab Fatih berlari dan di gendong Dirman
"Nggak iri kak? Lihat pak Dirman sudah punya anak angkat?" Tanya Liam
"Iri sih, tapi mau bagaimana lagi, belum ada perempuan yang cocok dengan kak Panca" jawab Panca
"Mungkin di kota banyak kak" ucap Hamka
"Memang banyak, tapi kan mereka belum tentu mau tinggal di sini, di sini sangat berbeda dengan di kota, dia tidak akan betah" jawab Panca
"Belum di coba kak" celetuk Prama
"Nah kak Prama saja setuju" ucap Lintang
"Segera lamar nak" ucap Dirman
"Iiii.."
"Apa?"
Kenanga langsung menunjuk lututnya yang terluka dan minta di gendong oleh Liam lagi.
"Mau tidak kak sama yang ini? Ajaib kak, bisa tiba tiba nempel di punggung" ucap Liam terkekeh dan segera menggendong Kenanga
"Cicak kali nempel" ledek Lintang
"Kenanga terlalu ajaib, kakak tidak sanggup" jawab Panca
"Sekelas tetua saja tidak sanggup, memang hanya Liam yang bisa" ledek Hamka.
"Iii.. An"
Liam dan yang lain terkejut karena tiba tiba Kenanga bergumam seperti sedang menyebut namanya.
"Coba sekali lagi" bujuk Liam
"Iii.... An"
"Masya Allah Lintang, Hamka, Kenanga mulai belajar berbicara" ungkap Liam senang
#######
Plak.
"Kenapa kamu berikan Kenanga padanya Karman!" bentak Dahlia saat dia selesai bersemedi dan kembali dalam keadaan yang semakin segar.
Dahlia yang datang untuk melihat calon wadahnya harus berakhir dengan kemarahan karena Kenanga sudah tidak ada di sana, bahkan sudah terikat dengan Liam. Dia marah dan menampar Karman hingga bibir Karman robek.
"Kenanga sakit NYI, dan Sagara bilang Kenanga adalah pasangan penjaga yang terpilih" jawab Karman
"Dan karena kebohongan itu kamu percaya! Sagara itu berbohong Karman!" bentak Dahlia
"Saya percaya karena memang Kenanga hampir meninggal NYI, saya terpaksa ke sana sendiri bersama Karna mengantarkan Kenanga, dan di sana secara ajaib Kenanga sembuh NYI" jawab Karman menunduk takut.
"Akkkh.. Dasar sial! Aku sudah mempersiapkan Kenanga untuk aku berikan ilmu yang tinggi, tapi setahun lagi rencanaku berhasil, Kenanga malah kamu berikan pada musuh Kita! Mereka pasti senang karena sekarang wadahku sudah tidak bisa lagi aku miliki!" kesal Dahlia