Sophia hanyalah seorang pembersih di hotel mewah milik keluarga Wisbech—perempuan imigran Brasil yang setiap hari dihancurkan oleh tunangan yang kejam dan keluarga yang menganggapnya beban. Dunianya adalah neraka sunyi, sampai suatu hari tatapannya bersinggungan dengan pria paling berbahaya di New York.
Eros Wisbech, sang Don Cosa Nostra Amerika. Dingin. Tanpa ampun. Terbiasa membuat pria berkuasa memohon nyawa. Ia memulai permainan kejam untuk mematahkan pembersih bermata kosong yang anehnya tak pernah gentar itu—tapi semakin ia mencoba, semakin ia terobsesi. Karena di balik ketegaran Sophia tersembunyi luka yang bahkan seorang Don pun ingin lindungi mati-matian.
Sebuah kontrak. Tiga tahun. Seorang pengantin palsu untuk menyelamatkan takhtanya.
Itu seharusnya hanya bisnis. Namun bagi pria yang tak pernah menyerahkan apa pun yang menjadi miliknya, Sophia perlahan berubah dari sekadar bidak menjadi satu-satunya kelemahan—dan satu-satunya hal yang tak akan pernah ia lepaskan.
Dari perempuan yang diinjak-injak menjadi ratu yang ditakuti. Dari mangsa menjadi pemburu. Sementara rahasia berdarah masa lalu mulai terkuak—tentang darah, pengkhianatan, dan identitas yang bisa meruntuhkan dua imperium sekaligus—Sophia harus memilih: tetap menjadi korban, atau bangkit dan membalas semuanya dengan tangannya sendiri.
"Kamu milikku, dan sang Don tidak pernah melepaskan apa yang menjadi miliknya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Ferrer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Sebuah Mahkota
Kaca tempered di penthouse Wisbech Manhattan yang baru menyuguhkan panorama seluruh New York, tetapi bagi Eros, itu hanya pengingat bahwa segala sesuatu di sana adalah miliknya. Di usia tiga puluh tahun, ia telah menyulap jaringan hotel keluarganya menjadi imperium bernilai miliaran dolar. Namun, di balik setelan jas yang dijahit khusus itu tersembunyi tato dan bekas luka dari sebuah imperium lain yang jauh lebih berdarah.
Eros membetulkan kancing manset peraknya, tatapannya yang dingin terpaku pada garis cakrawala. Peresmian tinggal beberapa hari lagi. Semuanya sempurna, diperhitungkan sampai ke milimeter terkecil. Ia benci kegagalan. Wanita hanyalah hiburan semalam; bisnis adalah hidupnya. Dan kekuasaan... kekuasaan adalah oksigennya.
Tetapi malam itu menuntut jenis busana yang berbeda.
Dua jam kemudian, latarnya berubah dari kemewahan modern kaca dan baja menjadi ruang bawah tanah sebuah kilang anggur tua di Long Island. Di sanalah Cosa Nostra Americana berkumpul, mafia Amerika. Meja bundar dari kayu ek gelap dikelilingi para lelaki tua yang berbau cerutu dan keserakahan. Eros berjalan menuju ujung meja dan duduk. Ia sudah menjadi Don selama lima tahun, tetapi bagi para dinosaurus itu, ia tetaplah pewaris muda belaka.
"Langsung ke intinya saja," Eros memecah keheningan, suara bariton yang membuat seluruh ruangan membeku. "Apa yang begitu mendesak sampai menuntut pertemuan Dewan?"
Salah satu anggota Dewan tertua berdeham.
"Don Eros, stabilitas famiglia bergantung pada aliansi yang kokoh. Dewan telah memutuskan. Anda harus menikah."
Eros tertawa pendek, penuh cemooh, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Menikah? Umurku tiga puluh tahun. Aku sedang berada di puncak kekuasaanku. Aku tidak butuh kalung di leher untuk memerintah New York. Jawabannya tidak."
Di sudut meja, Albert, seorang anggota Dewan yang sangat dibenci Eros karena kesombongan dan usaha-usaha manipulasinya yang murahan, membetulkan posisi duduknya dengan senyum congkak.
"Anda tidak punya pilihan, Eros. Aturan lama sudah jelas. Seorang Don tanpa istri adalah Don yang tidak stabil. Dan kami sudah menyelesaikannya untukmu. Putriku, Pietra, adalah yang terpilih. Dia akan menjadi istrimu dan Ratu yang baru."
Keheningan yang menyusul terasa mencekik.
Eros tidak berkedip. Darah di pembuluhnya mengalir dingin, membeku menjadi es murni. Perlahan, ia bangkit. Setiap gerakannya diperhitungkan, perwujudan seorang predator yang siap menerkam. Ia berjalan memutari meja, langkahnya bergema di lantai batu. Albert mempertahankan senyumnya, mengira kedudukannya melindunginya.
Kesalahan besar.
Ketika Eros berhenti di belakang kursi Albert, ketegangan di ruangan itu nyaris bisa disentuh. Tanpa peringatan, tangan kiri Eros mencengkeram rambut anggota Dewan itu, menarik kepalanya ke belakang dan memperlihatkan tenggorokan lelaki itu. Sebelum siapa pun sempat bereaksi, tangan kanan Eros mencabut sebilah pisau bedah yang tersembunyi di lengan bajunya.
Sayatannya bersih, dalam, dan presisi.
Senyum Albert lenyap bersama nyawanya. Darah menyembur ke atas meja kayu ek. Eros melepaskan tubuh yang sudah tak bernyawa itu, yang ambruk ke lantai dengan bunyi gedebuk tumpul. Ia membersihkan bilah pisaunya dengan tenang menggunakan sapu tangan sutra putih yang ditariknya dari saku.
"Aku tidak akan menikah," ujar Eros, suaranya berupa bisikan berbahaya yang menggema di dinding. "Kalaupun suatu hari aku menikah, akulah yang memilih. Bukan kalian."
Ia melemparkan sapu tangan berlumur darah itu ke atas mayat Albert dan menatap para lelaki lain yang wajahnya sudah pucat pasi di meja.
"Ada lagi yang menentang keputusanku?"
Tak seorang pun berani bernapas. Eros memutar badan dan pergi, meninggalkan jejak kekejamannya di belakang.
Adrenalin dari pembunuhan itu masih mengalir di nadinya ketika ia memasuki mansion keluarga Wisbech. Namun neraka malam itu masih jauh dari selesai. Di perpustakaan, komite penyambutan sudah menunggunya: kedua orang tuanya, Peter dan Mary, serta kakeknya, Charles, sang Patriark keluarga.
"Kau sudah kehilangan akal sehatmu, Eros?!" Peter, ayahnya, meraung begitu ia melewati pintu. "Membunuh anggota Dewan di meja pertemuan?!"
"Dia mencoba mengatur-aturku," jawab Eros sambil menuang segelas wiski murni untuk dirinya. "Tak seorang pun berhak menyuruhku."
Charles, sang kakek, mengetukkan tongkat kayu eboninya ke lantai, menuntut keheningan. Matanya yang tua namun tajam menatap sang cucu.
"Dewan benar dalam satu hal, Eros. Kau butuh seorang istri. Dan karena kau baru saja memenggal diplomasi mafia, aku akan memberimu ultimatum langsung. Kau punya waktu tepat satu setengah tahun untuk menikah."
Rahang Eros mengeras, gelas di tangannya nyaris pecah.
"Sudah kubilang aku tidak akan menikah hanya karena keinginan orang-orang tua pikun."
"Ini bukan keinginan!" Mary, ibunya, menyela, suaranya sarat kekhawatiran sekaligus ketegasan. "Kalau kau tidak memenuhi tenggat itu, hak anak sulung akan jatuh ke tangan Rael."
Nama sepupu yang kejam dan pendengki itu menggema seperti kutukan di ruangan. Rael akan menghancurkan segala yang telah dibangun Eros. Ia akan mengubah jaringan hotel itu menjadi sarang pencucian uang murahan dan meruntuhkan martabat Cosa Nostra.
"Rael tidak akan mewarisi apa pun. Akulah Don," geram Eros.
Peter melangkah maju, menatap lurus ke mata putranya.
"Kakekmu masih Patriark keluarga ini, Eros. Kau harus menikah. Seorang Don sejati butuh stabilitas, butuh pewaris. Kau Don yang luar biasa, kau mengambil alih kendali dengan tangan besi dan sudah memegang jabatan itu selama lima tahun, tetapi kau belum memberi kami seorang pewaris pun! Kau akan menikah. Entah dengan memilih wanitanya sendiri, atau Dewan yang akan menyeret perempuan lain ke altarmu. Kau punya waktu delapan belas bulan."
Eros mendengus, amarah berdenyut di lehernya. Ia menatap keluarganya sendiri, merasa terpojok untuk pertama kali dalam hidupnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, ia menenggak wiskinya sekali teguk, membanting gelas ke meja, dan keluar dari mansion sambil membanting pintu.
Ia masuk ke mobilnya dan melaju kencang menyusuri jalanan yang gelap. Amarah di dadanya butuh pelampiasan. Ia tak ingin memikirkan mafia, kontrak, atau Rael terkutuk itu.
Ia butuh melepaskan tekanan. Ia butuh seorang pelacur mahal, seks tanpa nama dan tanpa hari esok, tempat ia bisa melampiaskan segala kekerasan itu sebelum akhirnya ia benar-benar membunuh orang lain lagi. Ia hanya tak menyangka bahwa, selagi ia mencari kekacauan, takdir sudah menjahit kehancurannya di tangan seorang pembersih yang telah remuk.