Indonesia
NovelToon NovelToon
Mantan Oh Mantan

Mantan Oh Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eureka Irene

Valerie menyukai kakak sahabatnya Tiara sejak awal semester 1 semasa kuliah. membutuhkan 1 tahun usaha akhirnya meluluhkan hati Dean yang selalu bersikap kaku dan dingin. Akhirnya setahun sudah mereka berpacaran namun tidak ada dari sikap Dean yang berubah tetap dingin, kaku, tidak romantis, tidak inisiatif namun tidak pernah menolak perlakuan dan permintaan Valerie. masalah mulai muncul setelah setahun hubungan mereka. Dania adik sahabat Dean timoty hadir di tengah hubungan mereka. Bagaimana akhir kisah mereka? Apakah badai sanggup meruntuhkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai Perjodohan dan Bayang-Bayang Sarah

Kebahagiaan yang baru saja dikecap Valerie bersama Carlo terasa begitu manis, layaknya oase di tengah padang gurun yang gersang. Beberapa bulan pertama hubungan mereka berjalan dengan penuh romantisme, penghargaan, dan kehangatan yang konstan. Bersama Carlo, Valerie tidak perlu lagi menebak-nebak perasaan pasangannya. Carlo selalu berinisiatif, selalu memberi kabar, dan selalu menaruh eksistensi Valerie di atas prioritas segalanya. Valerie merasa luka masa lalunya akibat kepicikan Dean benar-benar telah mengering tanpa bekas.

Namun, di duniakah takdir yang penuh misteri ini, sebuah kebahagiaan yang terlalu sempurna sering kali mengundang badai besar berikutnya yang tidak pernah terduga.

Sore itu, Carlo baru saja menyelesaikan makan siang bersama Valerie di kantin kampus [local]. Setelah mengantarkan Valerie kembali ke kelas laboratorium biologi untuk melanjutkan sisa praktikum, ponsel pribadi Carlo bergetar hebat di dalam saku celana jinsnya. Layar ponsel menampilkan nama sang ayah, Dirgantara, sebuah panggilan yang jarang terjadi kecuali jika ada urusan keluarga yang sangat krusial.

"Ya, Papa?" sapa Carlo setelah menggeser tombol hijau, melangkah menjauh menuju area taman kampus yang lebih sepi.

"Carlo, malam ini pulanglah ke rumah utama di Menteng," suara Dirgantara terdengar sangat berat, sarat akan otoritas mutlak seorang pengusaha senior yang tidak suka dibantah. "Ada perwakilan dari keluarga Wijaya yang akan datang untuk makan malam bersama. Papa sudah menjadwalkan ini sejak sebulan lalu. Jangan membuat alasan sibuk dengan urusan kampusmu."

Carlo mengernyitkan keningnya, mendeteksi ada nada yang tidak biasa dari instruksi ayahnya. "Keluarga Wijaya? Keluarga pemilik Wijaya Group yang bergerak di bidang properti itu, Pa? Ada urusan bisnis apa sampai harus melibatkan makan malam keluarga?"

"Bukan sekadar urusan bisnis, Carlo. Ini tentang masa depan perusahan kita dan masa depanmu sendiri. Datang saja tepat pukul tujuh malam. Jangan terlambat," potong Dirgantara dingin sebelum memutuskan sambungan telepon secara sepihak.

Carlo menurunkan ponselnya dari telinga dengan perasaan yang mendadak tidak nyaman. Sebuah firasat buruk merayap di dadanya, memicu debar cemas yang samar yang kian hari kian menebal seiring jarum jam yang terus bergerak menuju malam.

Pukul tujuh malam tepat, Carlo melangkah memasuki ruang makan mewah rumah utama keluarganya di kawasan Menteng. Ruangan berarsitektur klasik modern itu tampak begitu megah dengan lampu kristal yang memancarkan cahaya kekuningan yang anggun. Di tengah ruangan, sebuah meja panjang telah dihias rapi, dipenuhi oleh hidangan fine dining kelas atas.

Di sana sudah duduk kedua orang tuanya, bersama seorang pria paruh baya berwibawa yang merupakan kepala keluarga Wijaya. Namun, yang membuat langkah kaki Carlo terhenti sempurna adalah sosok wanita muda yang duduk di sebelah ibunya. Wanita itu mengenakan gaun malam berwarna hitam elegan, dengan riasan wajah yang sangat rapi dan senyum manis yang dipasang dengan begitu teratur. Sarah. Dia adalah putri tunggal keluarga Wijaya, seorang sosialita muda lulusan luar negeri yang terkenal anggun namun memiliki sifat yang ambisius.

"Ah, Carlo. Akhirnya kamu datang juga. Duduk di sana, di sebelah Sarah," ucap Ratih, sang ibu, dengan senyum lebar penuh kebanggaan yang dipamerkan di depan tamu terhormat mereka.

Carlo menekan rasa tidak nyamannya, membungkuk sopan memberi salam, lalu mengambil posisi duduk di hadapan Sarah. "Selamat malam, Om Wijaya. Malam, Sarah."

"Selamat malam, Carlo. Wah, Dirgantara, putramu ini tumbuh menjadi pria yang sangat gagah dan berwibawa, ya. Persis sepertimu saat muda dulu," puji Wijaya dengan tawa renyah yang sarat akan maksud tersembunyi.

Makan malam pun dimulai dengan ritme obrolan yang awalnya membahas seputar perkembangan ekonomi makro dan ekspansi bisnis bersama antara Dirgantara Group dan Wijaya Group. Carlo hanya mendengarkan sambil menyantap makanannya dengan lambat, sesekali menanggapi pertanyaan formal dari Wijaya secara sopan.

Namun, tepat saat hidangan penutup dikeluarkan, Dirgantara meletakkan sendok garpunya, berdeham pendek menguasai atmosfer ruangan dining yang mendadak senyap.

"Carlo, alasan utama Papa memanggilmu pulang malam ini adalah untuk menyampaikan keputusan penting keluarga," ucap Dirgantara, matanya yang tajam menatap lurus ke dalam manik mata putranya dengan ketegasan mutlak. "Papa dan Om Wijaya sudah sepakat untuk menyatukan dua keluarga kita melalui sebuah ikatan suci. Kamu dan Sarah telah resmi kami jodohkan. Rencana pertunangan kalian akan digelar tiga bulan lagi, tepat setelah kamu menyelesaikan prosesi wisuda kampusmu."

Mendengar keputusan sepihak yang keluar dari mulut ayahnya, seluruh tubuh Carlo mendadak kaku bagai tersengat aliran listrik dingin. Sendok di tangannya berdentang pelan di atas piring porselen. Wajahnya berubah drastis menjadi sangat tegang dan mengeras.

"Dijodohkan, Pa?" tanya Carlo, suaranya rendah namun bergetar hebat menahan badai penolakan yang membubung tinggi di dalam dadanya. Dia melirik ke arah Sarah, dan wanita itu hanya menundukkan kepalanya dengan seulas senyuman manis yang tampak seolah dia sudah mengetahui seluruh rencana ini sejak awal. "Papa tidak bisa memutuskan hal sepenting ini secara sepihak tanpa meminta persetujuanku terlebih dahulu. Aku menolak perjodohan ini, Pa."

Atmosfer ruang makan mewah itu seketika membeku drastis. Senyum di wajah Wijaya memudar, sementara wajah Dirgantara langsung berubah memerah, mengeras menahan amarah yang luar biasa besar karena harga dirinya merasa diinjak-injak oleh pembangkangan anaknya di depan relasi bisnis utamanya.

"Carlo! Jaga bicaramu di depan meja makan!" tegur Dirgantara dengan suara berat yang menggelegar sarat akan otoritas mutlak. "Perjodohan ini bukan sekadar urusan perasaan anak muda yang naif! Ini tentang aliansi bisnis strategis senilai ratusan miliar yang akan mengamankan posisi perusahaan keluarga kita untuk satu dekade ke depan! Sarah adalah wanita yang paling sepadan dan jelas kualitas keluarganya untuk mendampingimu memimpin perusahaan nanti!"

"Aku tidak peduli dengan aliansi bisnis atau ratusan miliar itu, Pa!" seru Carlo, berdiri dari kursinya dengan napas memburu cepat, menolak untuk gentar di depan dominasi ayahnya. "Aku sudah memiliki kekasih, namanya Valerie. Aku sangat mencintainya, dan aku sudah berjanji untuk menjaganya dan berjalan di sampingnya. Aku tidak akan pernah mengorbankan perasaanku dan mengorbankan wanita yang kucintai hanya demi menjadi bidak catur bisnis keluarga!"

"Kekasih?!" Dirgantara tertawa sinis, sebuah tawa dingin yang merendahkan. "Gadis kuliah dari keluarga biasa yang hobi membuat keributan di kantor pengusaha itu? Papa sudah menyelidiki latar belakangnya, Carlo! Dia bukan wanita yang selevel dengan duniakeluarga kita! Dia hanya akan menjadi beban emosional yang menghambat kariermu! Putuskan dia hari ini juga, atau Papa sendiri yang akan menggunakan cara keras untuk menendangnya dari kota ini!"

"Jangan berani-berani menyentuh atau mengusik Valerie, Pa!" bentak Carlo, untuk pertama kalinya dia kehilangan kendali atas kesopanannya di depan orang tuanya sendiri demi membela kehormatan Valerie. Matanya berkilat penuh amarah yang pekat. "Aku tetap pada keputusanku. Aku menolak dijodohkan dengan Sarah, dan aku tidak akan pernah meninggalkan Valerie sampai kapan pun!"

Tanpa menunggu balasan kata atau izin dari ayahnya, Carlo memutar tubuhnya dengan gerakan kasar, melangkah lebar meninggalkan ruang makan mewah tersebut mengabaikan teriakan amarah Dirgantara yang terus menggema memanggil namanya.

Sarah yang duduk di meja makan menatap punggung jangkung Carlo yang menjauh dengan binar mata yang kian menajam, menyembunyikan rasa egois dan ambisi yang terluka karena penolakan telak barusan. Di balik keanggunannya, Sarah bersumpah tidak akan membiarkan seorang gadis kampus seperti Valerie merebut posisi sebagai nyonya Dirgantara yang seharusnya menjadi hak mutlaknya.

Carlo mengendarai mobilnya membelah malam Jakarta dengan kecepatan tinggi menuju gedung apartemen Valerie. Jantungnya berdegup begitu kencang penuh dengan kecemasan yang pekat. Dia mencengkeram kemudi begitu erat, menyugar rambutnya dengan frustrasi yang luar biasa hebat.

Carlo memilih untuk merahasiakan badai perjodohan ini dari Valerie malam ini. Dia tahu betul betapa rapuhnya hati Valerie yang baru saja sembuh dari trauma masa lalu bersama Dean. Jika dia menceritakan tentang penolakan keluarganya dan rencana perjodohan bersama Sarah sekarang, dia sangat takut Valerie akan kembali menarik diri, ketakutan, dan merasa dirinya kembali menjadi pembawa masalah bagi orang lain.

“Aku akan menyelesaikan masalah ini sendiri. Aku akan menentang Papa sampai akhir, demi mempertahankan kebahagiaan kita, Val,” batin Carlo penuh dengan tekad bulat yang putus asa.

Setibanya di depan unit apartemen nomor 1502, Carlo menarik napas dalam-dalam, memaksakan wajah tegangnya berubah menjadi sehangat biasanya sebelum mengetuk pintu. Ketika pintu terbuka menampilkan wajah manis Valerie yang tersenyum ceria menyambutnya, Carlo langsung menghambur memeluk tubuh kekasihnya itu dengan sangat erat, menyembunyikan wajah lelahnya di ceruk leher Valerie.

Valerie sedikit terkejut namun membalas pelukan itu dengan kehangatan tulus yang menenangkan, tanpa menyadari bahwa di balik pelukan erat kekasihnya malam ini, sebuah badai konspirasi licik dari keluarga Carlo dan Sarah sudah mulai merayap di kegelapan, bersiap menjebak mereka dalam sebuah malam terkutuk yang akan menghancurkan hubungan manis mereka hingga tak bersisa sama sekali di masa depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!