Aku menikahi dia, tapi justru pamannya yang membuatku kehilangan akal. Setiap kali pria itu menatapku, ada bara yang tak bisa kupadamkan. Di mata keluarga, pria itu hanyalah paman dari suamiku. Di hatiku, dia adalah pria yang tak pernah boleh kusentuh. Namun, semakin aku menghindar, semakin dekat dia datang, membawa bisikan-bisikan yang memecah pertahananku. Bagaimana jika cinta ini terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TUAN MUDA XANDER
Eric tiba-tiba memegangi dadanya. Ada sesak yang tidak bisa dia artikan. Sebuang panggilan memecah lamunannya. “Kak Eric!” panggil Riana dari dalam kamar rawat.
“Aku haus, ingin minum!” pinta Riana.
Eric langsung masuk kembali ke dalam, mengambil pitcher berisi air dan menuangkannya. lalu, memberikannya kepada Riana. “Apa mau minum yang lain, aku bisa membelikannya untukmu!”
Riana menggeleng, “Tidak, temani aku saja di sini!”
Riana baru saja diberitahu bahwa Seline baru saja pergi dengan ambulan yang membawa relawan dari rumah sakit mereka. Karena itu, Riana sebisa mungkin harus mengalihkan perhatian Eric.
Pada saat ini, Sirene ambulans langsung dinyalakan begitu kendaraan memasuki jalan utama. Beberapa kendaraan di depan mereka menepi untuk memberi jalan. Di dalam ambulans pertama, Seline duduk di samping tumpukan kotak medis sambil sekali lagi memeriksa daftar perlengkapan di tangannya.
“Semua aman?” gumam pelannya sambil menutup berkas daftar yang ada di tangannya.
Ambulan mereka mulai mendekati area terdampak bencana. Di luar jendela, hujan masih turun cukup deras. Jalanan mulai dipenuhi genangan air. Semakin jauh mereka meninggalkan pusat kota, semakin sedikit kendaraan yang terlihat.
Radio komunikasi di bagian depan ambulans tiba-tiba berbunyi. “Tim satu, bagaimana kondisi jalan?”
Pengemudi menekan tombol radio. “Masih bisa dilalui. Tapi beberapa titik mulai tergenang.”
“Ok. Hati-hati. Kami mendapat laporan ada pohon tumbang sekitar lima kilometer sebelum Desa Qinghe.”
Pengemudi ambulan itu menghela napas lalu menjawab. “Siap.”
Perjalanan yang awalnya berjalan lancar mulai berubah ketika mereka memasuki daerah perbukitan. Air hujan mengalir dari lereng menuju jalan. Beberapa bagian aspal bahkan sudah tertutup lumpur tipis. Pengemudi ambulans mengurangi kecepatan.
“Kalau terus begini, apakah kita akan bisa sampai ke sana?” gumam salah seorang perawat.
“Kita lebih baik terlambat daripada terjebak di tengah jalan,” jawab Seline.
Beberapa menit kemudian, rombongan berhenti. Sebuah pohon besar tumbang melintang di tengah jalan. “Bagaimana?” tanya Seline saat turun dari ambulans.
Pengemudi mobil operasional yang berada di depan sudah memeriksa keadaan. “Tidak bisa lewat dengan kendaraan. Tapi masih ada celah di sisi kiri.”
Seline melihat ke arah celah tersebut. Jalannya sempit dan sebagian sudah berubah menjadi tanah berlumpur. “Apa menurutmu kita bisa lewat?” tanya Seline sambil bersedekap tangan.
“Untuk mobil mungkin tidak aman.” Kata si pengemudi sambil mengangkat kedua bahunya.
Belum sempat mereka mengambil keputusan, terdengar suara gemuruh dari arah bukit. Semua orang spontan menoleh. Suara itu hanya berlangsung beberapa detik, tetapi cukup membuat mereka terdiam.
“Apa itu suara longsor lagi?” tanya seorang perawat.
Pengemudi menggeleng pelan. “Entahlah.”
Radio kembali berbunyi. “Tim medis, jangan lanjut dulu. Ada laporan longsor susulan di jalur menuju Qinghe.”
Seline segera mengambil radio. “Seberapa jauh dari posisi kami?”
“Sekitar dua kilometer. Tim penyelamat sedang mengecek jalur.”
Seline menghela napas. “Baik. Kami menunggu.”
Mereka pun kembali masuk ke kendaraan. Hampir dua puluh menit mereka tertahan di sana. Hujan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Air mulai mengalir semakin deras di sisi jalan.
Kemudian radio berbunyi lagi. “Jalur sudah dinyatakan bisa dilewati. Tapi hanya satu arah. Ikuti kendaraan petugas penyelamat.”
“Ok, kami paham.” Kata si pengemudi menjawab dengan sigap.
Rombongan kembali bergerak.
Kali ini sebuah kendaraan petugas penyelamat berada di depan mereka. Kecepatan mereka jauh lebih lambat. Sesekali kendaraan di depan berhenti untuk memeriksa kondisi jalan sebelum melanjutkan perjalanan. Ketika mereka semakin dekat dengan Desa Qinghe, pemandangan di sekitar mulai berubah.
Beberapa rumah terlihat dikelilingi air. Ada warga yang berdiri di depan rumah sambil membawa barang-barang mereka. Sebagian menggunakan perahu kecil untuk memindahkan anggota keluarga ke tempat yang lebih tinggi.
“Ya Tuhan...” bisik seorang perawat.
Seline hanya menatap keluar jendela. Mereka belum sampai ke pusat desa, tetapi dampak banjir sudah terlihat jelas. Beberapa ratus meter kemudian, kendaraan kembali berhenti. Kali ini bukan karena pohon tumbang. Jalan di depan mereka benar-benar tertutup material longsor. Tanah, batu, dan batang pohon memenuhi badan jalan. Sebuah alat berat sedang bekerja membersihkan sebagian material, tetapi jalur untuk kendaraan belum bisa dibuka.
Seorang petugas penyelamat menghampiri mereka. “Dokter?”
“Ya.” Jawab Seline
“Untuk sementara, ambulans tidak bisa masuk. Dari sini kalian harus berjalan kaki.”
Seline melihat ke arah tumpukan tanah di depan. “Berapa jauh dari sini ke posko?”
“Kurang lebih satu setengah kilometer.” Jawab petugas penyelamat itu.
Seline mengangguk lalu bertanya. “Pasien sudah banyak?”
“Belum ada data pasti. Tapi warga yang terluka mulai berdatangan ke sekolah di utara desa.”
Seline langsung menoleh kepada timnya. “Ok, Kita bawa tas medis dulu. Barang yang paling penting ikut. Sisanya nanti menyusul kalau jalan sudah terbuka.”
Para perawat dan beberaa dokter segera turun dri ambulan dan mobil operasional. Kotak-kotak medis dikeluarkan dari ambulans. Beberapa orang membawa tas medis di punggung, sementara yang lain mengangkat kotak berisi cairan infus dan perlengkapan pertolongan pertama.
Seline mengingatkan“Jangan ada yang membawa terlalu banyak. Kita harus tetap bisa bergerak cepat.”
Mereka mulai berjalan melewati sisi jalan yang tertutup longsor. Sepatu mereka beberapa kali terperosok ke dalam lumpur. Hujan membasahi pakaian dan membuat medan semakin licin.Di kejauhan, suara tangisan dan teriakan warga mulai terdengar. Desa Qinghe sudah berada di depan mata.
Pada saat ini di rumah sakit, Simon yang sedari tadi sedang sibuk membaca laporan kasus-kasus pasien langsung turun begitu mendengar Xander sudah berada di lobi Rumah Sakit Sayap Suci.
Xander berdiri sendirian di tengah lobi rumah sakit. Tubuhnya tinggi dan tegap, mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung sampai siku. Wajahnya sangat tampan, dengan rahang tegas dan tatapan tajam yang membuat beberapa orang tanpa sadar melirik ke arahnya.
Namun, pria itu sama sekali tidak memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Matanya justru terus bergerak mengamati setiap sudut lobi. Dia memperhatikan pintu masuk utama, meja resepsionis, deretan kursi tunggu, hingga lorong yang mengarah ke ruang pemeriksaan. Sesekali pandangannya berhenti beberapa detik, seolah sedang mencocokkan apa yang dilihatnya dengan sesuatu yang ada di pikirannya. Dia kemudian berjalan perlahan.
Langkahnya tenang, tetapi sorot matanya serius. Ketika melewati meja resepsionis, Xander sempat melirik layar komputer yang sedang digunakan seorang petugas. Setelah itu, dia kembali mengamati keadaan sekitar.
Seorang perawat yang sedang mendorong troli obat bahkan sempat menoleh dua kali karena penasaran. Xander berhenti di dekat salah satu pilar lobi. DIa memasukkan kedua tangannya ke saku celana, lalu mengamati lantai dua dari tempatnya berdiri.
Tidak ada yang tahu apa yang sedang dicarinya. Wajahnya terlihat seperti seseorang yang sedang melakukan penyelidikan, bukan seperti pasien atau keluarga pasien yang sedang menunggu kabar.
Beberapa saat kemudian, Dia mengeluarkan ponsel dari sakunya dan melihat sebuah foto di layar. Tatapannya kembali terangkat. Lalu menoleh ketika namanya dipanggil dengan kencang.
“Tuan Muda Xander!” panggil Simon.
seline kamu polos bed
thor pengen visuaaaaalllllll
biar halu ny enak🤭
semoga si pelakor kena jebakan Batman..niat hati menjebak Selin malah dia yg terbukti bersalah
suka banget dg ketegasan tuan Mo..tapi lebih suka lagi kalau mereka di izinkan berpisah biar Selin jadi adik ipar saja 🤭
pph you the best,,,tp maaf bentar lg bkal jd istri paman
xender aku mau satuuuu