Indonesia
NovelToon NovelToon
The Lazy Emperor: Rise Of The Undying Demon King

The Lazy Emperor: Rise Of The Undying Demon King

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Reinkarnasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: BAGERAAA

Kaisar Iyan: Kebangkitan Raja Iblis Abadi

Kaisar Iyan hanyalah seorang pemuda pemalas yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur dan menghindari masalah.

Namun suatu hari, ia terbangun di dunia yang sama sekali berbeda.

Tanpa mengetahui bagaimana dirinya bisa sampai di sana, Iyan menemukan bahwa tubuhnya memiliki kemampuan yang tidak pernah dimiliki manusia biasa.

Ia dapat menciptakan clone dirinya sendiri.

Ia dapat memanggil pahlawan dan monster dari dunia lain.

Ia bahkan mampu membangkitkan mayat dan tulang menjadi pasukan undead yang tidak mengenal kematian.

Namun kemampuan paling mengerikan yang dimilikinya adalah sebuah kekuatan yang memungkinkan pasukannya bangkit kembali setiap kali terbunuh—selama mana miliknya masih tersisa.

Awalnya, Iyan hanya ingin hidup tenang.

Sayangnya, dunia baru ini tidak memberinya kesempatan.

Perang, kerajaan, bangsawan, monster, pahlawan, dan pengkhianatan perlahan menyeretnya ke dalam konflik yang jauh lebih besar.

Sampai akhir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BAGERAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERSIAPAN MEREBUT BENTENG KETIGA

Aku memperhatikan percakapan Josep dan Serof dari kejauhan.

Aku kemudian bertanya kepada Serof,

“Serof, bagaimana kau bisa tahu kalau yang berada di sini hanyalah Clone-ku?”

Serof menjawab dengan santai.

“Saya hanya diberi tahu oleh Bob.”

Ia kemudian menunjuk ke ujung tenda.

Di sana, Bob sedang asyik membakar seekor kelinci.

Ketika menyadari dirinya sedang ditunjuk, Bob menoleh ke arah kami dan melambaikan tangan dengan ceria, seolah tidak merasa bersalah sedikit pun.

Aku mengerutkan kening.

Huff... dasar gumpalan otot.

Bisa-bisanya sesuatu yang ingin kusembunyikan dari publik justru diketahui secepat ini.

Serof kemudian melanjutkan ceritanya kepada Josep.

Ia menceritakan berbagai kejadian yang terjadi di benteng kedua, mulai dari kemunculan Bob, pasukan Skeleton, hingga berbagai kemampuan yang kumiliki.

Sementara itu, 1.000 prajurit yang dibawa Josep mulai terbiasa dengan keberadaan Bob dan para prajurit Skeleton.

Sepertinya mereka perlahan mulai menganggap semua keanehan yang ada di benteng kedua sebagai sesuatu yang normal.

Aku kemudian kembali ke tenda dan duduk di tempat berbagai dokumen dikumpulkan.

Aku mulai membaca laporan terbaru.

Menurut laporan, benteng kedua sekarang sudah aman dari invasi pasukan Orc.

Dengan kondisi seperti ini, dalam tujuh hari ke depan pasukan seharusnya sudah bisa bergerak menuju benteng ketiga.

Aku kemudian membuka sebuah peta besar.

Dari peta tersebut, aku kembali mempelajari wilayah tempatku berada.

Benua ini bernama Benua Salamander.

Ukurannya sangat besar.

Aku bahkan sempat membandingkannya dengan benua yang ada di dunia asalku.

Kalau dibandingkan dengan Eropa...

Benua ini bahkan jauh lebih besar.

Aku juga sempat membaca mengenai berbagai ras yang hidup di dunia ini.

Ternyata manusia bukanlah satu-satunya ras yang menghuni benua ini.

Ada Elf, Orc, Goblin, Beastman, dan masih banyak ras lainnya.

Aku mulai berpikir.

Sepertinya masih banyak misteri yang harus kupecahkan.

Sementara itu, pembangunan benteng kedua hampir selesai.

Bahkan setelah diperbaiki, benteng tersebut terlihat jauh lebih kuat dibandingkan sebelumnya.

Aku kemudian memeriksa Ruang Dimensi milikku.

Jumlah mayat dan tulang belulang yang telah kukumpulkan mencapai 1.232.

Dengan jumlah sebanyak ini, aku bisa membuat pasukan Skeleton yang jauh lebih besar.

Namun, sebelum bergerak menuju benteng ketiga, aku harus mengadakan rapat militer.

Aku perlu menyiapkan strategi dengan matang.

Rapat Militer

Keesokan harinya, pagi yang cerah menyelimuti benteng kedua.

Aku dan seluruh pasukanku mulai berkumpul di depan tenda.

Aku berdiri di hadapan mereka.

Di sampingku berdiri Serof dan Josep.

Aku mulai menyampaikan rencana.

“Untuk merebut kembali benteng ketiga, kita akan membagi pasukan menjadi dua kelompok.”

Semua orang memperhatikan perkataanku.

“Pasukan pertama akan dipimpin oleh Serof.”

Aku menoleh kepadanya.

“Serof, kau akan berangkat dua hari lagi bersama pasukan kavalerimu.”

“Baik, Tuan.”

“Aku ingin pasukan utama bergerak menuju bukit di dekat sungai besar yang berada tidak jauh dari benteng ketiga.”

Aku menunjuk lokasi tersebut pada peta.

“Di sana, kalian akan membangun jembatan agar pasukan dapat menyeberangi sungai dengan mudah.”

Serof mengangguk dan memperhatikan peta dengan serius.

Aku kemudian beralih kepada Josep.

“Pasukan kedua akan dipimpin oleh Josep dan Bob.”

Josep langsung berdiri lebih tegak.

“Aku ingin kalian bergerak menuju gerbang belakang benteng ketiga.”

“Kita akan melakukan serangan pada malam hari.”

Josep mengangguk.

“Baik, Tuan.”

Aku kemudian memanggil Kael dan Kaela.

“Kael dan Kaela akan ikut bersama pasukan Serof.”

Aku menatap Kaela.

“Kaela memiliki kemampuan untuk mengendalikan alam. Kemampuan itu mungkin akan sangat berguna selama perjalanan.”

Aku kemudian melihat Kael.

“Jika di sekitar sana terdapat banyak hewan liar, terutama beruang cokelat, kemampuan Kael sebagai pengendali binatang juga dapat membantu.”

Kael dan Kaela saling memandang.

“Baik, Tuan.”

Aku kemudian melanjutkan.

“Sementara itu, pasukan yang tersisa akan tetap berada di benteng kedua.”

“Sepuluh prajurit summon dan seluruh pasukan Skeleton akan tetap bertugas menjaga benteng.”

“Dengan keberadaan mereka, aku yakin keamanan benteng kedua tidak perlu diragukan lagi.”

Setelah semua rencana selesai dijelaskan, aku membubarkan rapat.

Para prajurit kemudian mulai mempersiapkan perlengkapan perang, makanan, senjata, dan berbagai kebutuhan untuk ekspedisi berikutnya.

Aku kembali ke dalam tenda.

Aku tidak akan ikut secara langsung dalam ekspedisi untuk merebut benteng ketiga.

Lagipula, berdasarkan laporan para pengintai, benteng ketiga saat ini dikuasai oleh gerombolan besar ras Goblin.

Aku mulai menggali lebih banyak informasi.

Ternyata Orc dan Goblin bekerja sama dalam invasi mereka terhadap wilayah Kekaisaran.

Bahkan, aku mendengar rumor mengenai keberadaan Orge yang konon tidak bisa mati dan hanya muncul pada malam hari.

Aku menghela napas.

Sepertinya wilayah ini semakin aneh saja.

Namun, aku cukup yakin Josep dan Serof mampu menjalankan rencana ini.

Mereka juga tidak sendirian.

Ada Bob, Kael, dan Kaela.

Tiga Pahlawan Rank S.

Seharusnya tidak ada masalah.

Skeleton Orc

Aku membuka hologram sistem.

Hari ini aku kembali mendapatkan kesempatan untuk melakukan summon.

Selain itu, aku juga bisa membangkitkan sepuluh Skeleton baru.

Aku memutuskan menggunakan mayat Orc yang telah kukumpulkan.

Aku membutuhkan lebih banyak tenaga untuk membantu memperkuat benteng kedua.

Aku mulai melakukan ritual.

Asap hitam perlahan memenuhi ruangan.

Beberapa saat kemudian, sepuluh Skeleton Orc muncul dari dalam asap tersebut.

Tubuh mereka masih mempertahankan bentuk seperti Orc, tetapi kini hanya tersisa tulang belulang.

Aku memberikan perintah kepada mereka.

“Pergilah ke benteng kedua dan bergabunglah dengan pasukan lainnya.”

“Bantu mereka dalam pembangunan benteng.”

Sepuluh Skeleton Orc langsung menundukkan kepala.

“Baik, Tuan.”

Mereka kemudian meninggalkan tempat itu untuk menjalankan perintahku.

Aku tersenyum kecil.

Kalau terus seperti ini, aku bisa membangun benteng sekaligus membuat pasukan tanpa mengeluarkan terlalu banyak biaya.

Aku kemudian kembali menggunakan tubuh utamaku.

Clone-ku yang berada di benteng kedua tetap menjalankan tugasnya sendiri.

Pahlawan Penyembuh

Setelah kembali ke benteng utama, aku duduk dan menutup mata.

Aku mulai membayangkan Pahlawan yang memiliki kemampuan penyembuhan luar biasa.

Aku membutuhkan seseorang yang mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit dan luka.

Terutama karena dalam dua hari ke depan, Sebas dan Elisa akan kembali dari ibu kota membawa budak - budak yang membutuhkan pertolongan.

Aku mulai melakukan ritual pemanggilan.

Asap hitam perlahan berkumpul di dalam ruangan.

Namun kali ini, asap tersebut tidak hanya membentuk tubuh seseorang.

Asap hitam mulai membentuk sebuah gerbang besar.

Gerbang itu terlihat sangat pekat dan misterius.

Aku menatapnya dengan penuh perhatian.

Kemudian...

Tap.

Terdengar suara langkah kaki dari dalam gerbang.

Seseorang mulai keluar.

Ia adalah seorang pria yang mengenakan topeng menyerupai paruh burung gagak.

Seluruh pakaiannya berwarna hitam.

Jubah panjangnya membuatnya terlihat seperti seorang pengikut kematian.

Di tangannya terdapat sebuah buku yang terlihat sangat tua dan misterius.

Pria itu berjalan mendekatiku.

Kemudian ia berlutut dan memberikan hormat.

“Hormat kepada Yang Mulia, Raja Iblis Agung.”

“Nama saya Elarion, sang Dokter Iblis Gila Legendaris.”

Aku hanya menatapnya dengan wajah datar.

Dokter Iblis Gila...?

Tiba-tiba hologram sistem muncul.

[Informasi Pahlawan]

[Elarion adalah seorang dokter legendaris yang terkenal karena eksperimennya yang mengerikan terhadap manusia dan berbagai makhluk hidup.]

Aku mulai memahami siapa orang yang baru saja kupanggil.

Jadi dia seorang dokter yang terkenal kejam dan gila.

Aku kemudian membuka statusnya.

[STATUS]

Nama: Elarion

Gelar: Dokter Iblis Gila Legendaris

Usia: 430 Tahun

Rank: S

Level: 100

Keahlian: Penyembuhan Tingkat Tinggi, Rahasia

Aku mengangguk.

Setidaknya kemampuannya sesuai dengan yang kubutuhkan.

“Berdirilah, Elarion.”

Elarion bangkit.

Aku kemudian memberikan perintah kepadanya.

“Dua hari lagi, Sebas dan Elisa akan kembali dari ibu kota.”

“Mereka akan membawa banyak orang yang berada dalam kondisi sakit dan sekarat.”

“Aku ingin kau menyembuhkan mereka.”

Elarion langsung mengangguk.

“Baik, Yang Mulia.”

Aku kemudian memanggil Lou Yi.

Tidak lama kemudian, Lou Yi datang.

Aku memperkenalkan Elarion kepadanya.

“Lou Yi, ini adalah Elarion. Dia Pahlawan baru yang baru saja kupanggil.”

“Dia akan membantu mengobati orang-orang yang akan tiba dua hari lagi.”

Lou Yi mengangguk.

“Baik, Tuan.”

Aku kemudian memberikan tugas kepadanya.

“Antarkan Elarion ke ruangan pengobatan.”

“Baik.”

Lou Yi kemudian membawa Elarion pergi.

Aku memperhatikan mereka sampai menghilang dari pandangan.

Aku merasa sedikit lega.

Sedikit demi sedikit, semuanya mulai berjalan sesuai rencana.

Aku kemudian pergi menuju balkon kastil.

Dari atas sana, aku memandang wilayah luas yang berada di bawah kekuasaanku.

Angin pagi bertiup melewati wajahku.

Aku menarik napas dalam-dalam.

“Huff...”

“Anginnya sangat segar.”

Aku memandang pegunungan hijau yang membentang di kejauhan.

Pemandangan dari atas kastil benar-benar indah.

Aku kemudian tersenyum kecil.

Sepertinya kehidupan kali ini jauh lebih baik.

Sekarang aku memiliki banyak orang di sisiku.

Aku menatap langit.

Untuk pertama kalinya...

Aku tidak sendirian lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!