Pernikahan Anne Avantie Anderson dan pria yang dicintainya batal secara sepihak setelah keluarga sang kekasih menolak hubungan mereka. Di tengah keputusasaan, Anne mengikuti rencana adik sepupunya untuk membuat Davin datang menjemputnya. Ia sengaja pergi ke sebuah bar dalam keadaan mabuk, berharap pria yang masih dicintainya itu akan membawanya pulang dan kembali melanjutkan pernikahan mereka.
Namun, malam yang seharusnya menjadi jalan untuk menyelamatkan hubungannya justru berubah menjadi awal dari kehancuran hidupnya.
Anne terjebak dalam rencana adik sepupunya sendiri dan mendapati dirinya harus menghabiskan malam bersama seorang pria yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Saat itulah ia menyadari bahwa selama ini dirinya telah menjadi korban dari kejahatan dan tipu daya sang adik sepupu.
Fitnah, kesalahpahaman, dan berbagai masalah yang menimpanya perlahan berubah menjadi aib yang membuat Anne memilih meninggalkan kota dan memutus semua hal yang mengingatkannya pada malam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julian_06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Kembali
Anne kembali ke pantry setelah tugas nya selesai di ruang meeting, dia membawa baki dengan cara ia remas demi meredam perasaan tak menentu akibat pertemuannya kembali dengan Davin, mengapa pria itu tak mau melihatnya tadi?
Apakah karena melihatnya bekerja seperti tadi membuat dia tak mau memandangnya? la jadi ketus, karena hukuman yang di berikan Viktor ia jadi bertemu dengan Davin.
Di dalam hati ia merutuki dua pria itu sekaligus.
Davin yang brengsek, dan Viktor yang
kurang ajar.
Anne tiba di pantry dan duduk di sebuah
kursi dengan pikiran yang meratapi seluruh kejadian tadi, pertemuannya kembali dengan Davin terus saja mengiang-ngiang.
***
Sementara itu di dalam ruangan meeting, meeting pun berjalan dengan lancar, seperti agenda hari ini jika Viktor sendirilah yang akan memimpin pertemuan, semua jajaran yang mengisi kursi rapat ini tak meragukan lagi kemampuan Viktor, pria itu di kenal sangat hebat dalam berbisnis, terbukti saat perusahaannya berkembang dengan pesat, setelah berhasil menciptakan inovasi baru dan produk-produk kreativitas lainnya yang mampu mempermudah seluruh kehidupan manusia.
Begitu melihat keberhasilannya maka banyak yang ingin bekerja sama dengannya dengan berinvestasi untuk mendapatkan keuntungan lebih.
Selain itu reputasi perusahaan mereka pun kian meningkat dengan adanya kerja sama ini, hingga kemudian mendongkrak kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan mereka juga.
Viktor menjelaskan di depan, ia menerangkan beberapa poin-poin penting tentang pendistribusian produk yang akan ia luncurkan.
Semua anggota meeting pun setuju dengan apa yang Viktor jelaskan, namun
kala ia menatap Davin, ia melihat ekspresi pria itu sedikit dingin, mungkinkah karena pertemuannya dengan Anne tadi.
"Direktur Davin apakah anda setuju dengan usul saya ini?" Viktor meminta persetujuan ulang untuk memancing ingatan Davin, sebab sejak tadi ia merasa jika fokus Davin sedikit hilang dengan hanya melamun.
"Ah, ten-tentu saja saya setuju, apapun
yang anda lakukan selalu memiliki tingkat keberhasilan mendekati seratus persen, jadi kami tidak perlu meragukannya lagi." balas Davin sedikit gugup.
Namun ia segera menegakkan punggungnya dan menatap Viktor dengan wajah ramah.
Viktor menaikan sebelah alisnya dan berbalik badan lalu duduk di kursinya,
"baiklah meeting hari ini kita tutup, saya anggap semua nya setuju dengan usul saya, kalau begitu sampai bertemu di pertemuan berikutnya."
Vin bergegas membantu membereskan berkas-berkas Viktor, hingga tak lama Viktor pun keluar dahulu dari sana diikuti Vin dan anggota meeting lainnya.
Viktor sengaja melintas di depan pintu
pantry ingin melihat Anne.
Ketika itu ia melihat Anne tengah sibuk dengan tubuh membelakanginya hingga ia tak melihat dirinya yang tengah lewat.
Viktor hanya berlalu dengan senyum dinginnya.
Anne mengusap bulir peluh kala baru saja selesai membereskan barang-barang yang di pakai di ruangan ini, ketika ia duduk dan beristirahat ponselnya berdering.
Dia melihat guru sekolah anaknya menghubunginya.
"Halo ibu Anne," sapa guru itu dalam telepon.
"Ya, bu. Ada apa ya?"
"Maaf bu sebelumnya kami ingin memberi tahu, bahwa Matteo dan Marco baru saja terlibat perkelahian, kami harap ibu mau datang ke sekolah, karena mereka berdua telah melukai murid lain dan orang tuanya menuntut ganti rugi." terangnya.
Anne membeliak kaget, "apa?"
"Bagaimana hal ini bisa terjadi?" Anne bertanya-tanya, anaknya bukan anak yang nakal jadi dia sedikit ragu saat ia mengetahui anaknya bertengkar.
Namun guru dari pihak sekolah tidak mau menjelaskan, "'sebaiknya ibu segera datang kesini dan mendengar penjelasan dari anak-anak secara langsung."
"Ah, yasudah kalau begitu, tunggu aku,
aku akan segera kesana." ucap Anne, lalu
menutup panggilan itu.
Kini hati Anne menjadi tak tenang, mendengar anak-anaknya di terpa masalah membuat sayap-sayap malaikat dalam dirinya mengepak jika ia ingin melindungi anaknya, mereka di sana pasti tertekan.
Anne pun melepas apron yang melekat di tubuh dan berlalu menemui managernya.
"Miss, saya ingin izin saudara saya ada
yang kecelakaan apa boleh?" ucap Anne dengan wajah memohon, tapi tentu saja ia tak mengatakan bahwa ia akan memenuhi panggilan ke sekolah, ini untuk menghindari jika ia ternyata telah memiliki anak.
Wanita itu tampak menatap dengan ragu
untuk memberinya izin, ia menatap Anne dari atas hingga bawah untuk memastikan kebenaran dari ekspresinya, dan ia melihat Anne kini sangat khawatir, tentu saja Anne sangat khawatir jika ini menyangkut masalah anak-anaknya.
"Jika anda tidak mau mengizinkan saya,
saya akan menemui tuan Viktor saat ini, jika dia marah saya juga tidak takut jika saya akan di pecat, karena masalah ini sangat penting menurut saya, saya tidak bisa menunggu lebih lama karena ini menyangkut nyawa seseorang, dan anda adalah orang yang paling jahat miss jika tak mengizinkan saya." Anne tampak sekali memelas, matanya telah memerah.
Mengundang rasa iba wanita itu.
Hingga wanita itu pun merasa iba ia
kemudian mengangguk, "baiklah saya izinkan kamu, saya akan bilang pada tuan Viktor nanti, pergilah sekarang," ujarnya.
Anne bersorai girang dalam hati, ia mengulurkan tangannya secara refleks
menarik tangan wanita di depannya itu dan berkata, "makasih miss, anda sangat baik, semoga hari anda beruntung, kalau begitu saya pergi."
Tak menunggu lama lagi Anne pun berlari ia menuruni gedung ini dan mencari taksi yang kebetulan melintas di depan untuk pergi kesana.
***
Setibanya di sekolah Anne bergegas memasuki ruangan kepala sekolah, sebelum itu ia samar samar melihat seorang wanita dengan pakaian mahal dan tas branded duduk di depan meja kepala sekolah dengan tubuh membelakanginya, sementara itu seorang anak pria dengan pakaian yang sama mahalnya juga duduk di sebelahnya.
"Dimana orang tuanya kenapa tidak datang-datang juga, aku ingin berbicara
dengannya, bagaimana cara dia mendidik
anaknya hingga melukai anak saya seperti ini?!" seru wanita itu dengan nada kemarahan.
"Tenang nyonya, sebaiknya kita tunggu saja." ibu kepala sekolah it mencoba menenangkan.
Tidak lama dari arah pintu Anne muncul
dengan rambut berantakan akibat berlari dari gerbang sekolah hingga kesini, dan membuat rambutnya yang panjang harus di terpa angin.
"Oh itu dia, orang tuanya." ucap guru wali
kelas menunjuk ke arah Anne.
Wanita itu menolehkan kepalanya ke belakang bersiap untuk memaki Anne.
Namun di saat itu wanita itu segera membeliakan matanya, begitupun juga Anne yang langsung terkejut dengannya.
"Selina?" gumam Anne.
"Anne!" wanita itu tercengang sambil mengamati Anne yang berjalan mendekat, ia memerhatikan penampilan tubuhnya dari atas hingga bawah.
"Mami!" teriak Marco yang berdiri di dalam ruangan itu saat melihat Anne datang bagaikan malaikat yang akan menyelamatkannya.
Tidak lama mendengar panggilan itu Selina pun tersadar lalu terkejut dengan fakta yang baru saja dia lihat, bahwa anak itu memanggil Anne dengan sebutan mami.
Jadi apakah anak itu adalah anaknya?
Oh Selina tahu, dia tersenyum dalam hati setelah memiliki dugaan bahwa anaknya itu pasti hasil one night standnya malam itu.
"Tidak menyangka jika kita akan bertemu kembali disini." ucap Selina dengan angkuh.