Indonesia
NovelToon NovelToon
Calon Suamiku Adalah Dosenku

Calon Suamiku Adalah Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖

Seorang mahasiswa sebentar lagi akan lulus, ternyata dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan teman lama mereka. Sang anak sama sekali tidak setuju dengan perjodohan tersebut dan diam-diam berniat untuk membatalkannya.

Suatu hari, keduanya berpapasan di Universitas XXX. Sang pemuda ternyata adalah seorang dosen sekaligus pengasuh pondok pesantren yang ia dirikan sendiri. Sang siswi sama sekali belum mengetahui bahwa dosen tersebut adalah calon suami yang dipilihkan orang tuanya. Di kampus, ia justru merasa sangat muak dan benci kepada dosennya itu karena merasa tugas-tugas yang diberikan terlalu banyak dan menumpuk tanpa henti. Tanpa ia sadari, di balik rasa kesalnya itu, tersembunyi ikatan yang telah dirancang sejak lama oleh kedua belah pihak keluarga.



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9.Kita sepakat menyembunyikan segalanya

Sore itu, ketika jam perkuliahan usai dan seluruh mahasiswa telah berhamburan meninggalkan ruangan, aku masih duduk terpaku di bangkuku. Hatiku berdebar kencang, tanganku saling meremas di pangkuan, dan mataku sesekali melirik ke arah meja dosen tempat Arga berdiri sejenak lalu melangkah perlahan menuju pintu. Namun sebelum ia melangkah keluar, ia berhenti sejenak, menoleh sedikit, lalu melambaikan tangan memberi isyarat agar aku mendekat ke ruangannya setelah ruangan benar-benar kosong. Hati kecilku bergetar hebat. Jantungku seakan hendak meloncat keluar dari rongga dadaku. Ia menginginkanku datang. Ia ingin berbicara denganku.

Dengan langkah yang berat dan penuh keraguan, akhirnya aku pun melangkah. Setiap langkah yang kuambil terasa begitu jauh dan lama. Lorong yang biasanya sepi dan tenang kini terasa begitu panjang dan menegangkan. Sesampainya di depan pintu ruangan kerjanya yang terbuka sedikit, aku menarik napas panjang berusaha menenangkan diri, lalu mengetuk pintu pelan.

"Masuk," suara Arga terdengar tenang dari dalam. Suara yang sama, namun kali ini terasa berbeda—lebih lembut, tak setegas saat berada di depan kelas.

Aku melangkah masuk perlahan. Ruangan itu tertata rapi, harum wangi yang menenangkan, dan di balik meja kerja yang luas itu, Arga duduk tenang menatap ke arahku. Ia meletakkan pena di tangannya perlahan, lalu menatapku lekat-lekat seakan ingin memastikan sesuatu dari wajahku. Aku berdiri diam tak jauh dari pintu, menunduk sedikit menahan gugup, tak berani menatap matanya terlalu lama.

"Duduklah, Lisna," ucapnya pelan sambil menunjuk kursi di hadapannya.

Aku pun duduk perlahan, kedua tanganku saling bertaut erat di pangkuan. Keheningan menyelimuti ruangan itu sejenak, cukup lama hingga membuat napasku terasa tertahan. Arga menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan—ada kelembutan, namun tetap terselip ketegasan yang tak dapat dipisahkan darinya. Akhirnya, suaranya kembali terdengar memecah keheningan.

"Sepertinya... kau sudah menyadari siapa saya sebenarnya, bukan?" tanyanya pelan namun tegas.

Aku mengangguk perlahan tanpa berani mendongak. "Iya... saya baru saja menyadarinya hari ini. Sungguh... hal yang tak pernah kubayangkan akan terjadi."

Arga menghela napas panjang, lalu menatap lurus ke arahku. "Saya pun sama terkejutnya saat melihat namamu di daftar hadir kelas saya kemarin. Saya sama sekali tak menyangka bahwa calon yang dijodohkan kepada saya ternyata adalah mahasiswi yang akan saya didik setiap hari di kampus ini. Namun takdir telah mempertemukan kita dalam keadaan demikian. Dan karena itulah, saya bermaksud menyampaikan sesuatu kepadamu."

Aku mendongak perlahan, menatap matanya yang teduh namun penuh kesungguhan. "Apa itu, Kak... maksud saya, Pak?" Aku hampir saja menyapanya dengan panggilan yang lain, buru-buru kuubah agar tetap sopan dan menjaga jarak.

Arga menyadari kecanggunganku. Ia tersenyum tipis sejenak, lalu melanjutkan ucapannya. "Di dalam kampus ini, di hadapan teman-temanmu maupun rekan-rekan saya, saya adalah dosenmu dan kamu adalah mahasiswi saya. Tak ada hubungan lain di antara kita selain hubungan pengajar dan yang diajar. Hubungan pertunangan yang mengikat kita... harus kita sembunyikan sejenak. Kita sepakat untuk merahasiakannya dari siapa pun."

Ucapan itu meluncur tenang dari bibirnya, namun maknanya begitu berat menghantam hatiku. Aku terdiam sejenak, mencerna setiap kata yang keluar dari mulutnya. "Menyembunyikannya... sepenuhnya?" tanyaku pelan, suaraku sedikit bergetar.

"Ya, sepenuhnya," jawab Arga mantap. "Kita harus menyembunyikannya demi nama baik kedua keluarga, demi kehormatan kampus, dan demi masa depanmu sendiri. Jika orang lain mengetahui hubungan kita, akan timbul berbagai macam anggapan yang tak-tentu. Mereka akan menduga saya memberikan perlakuan istimewa kepadamu, atau justru sebaliknya—mereka akan meragukan kemampuanmu dan menganggap nilai-nilaimu bukan murni dari usahamu sendiri. Saya tak ingin hal-hal semacam itu menimpamu, Lisna. Dan saya pun tak ingin kehormatan profesi saya ternoda oleh dugaan-dugaan yang tak berdasar."

Penjelasannya begitu masuk akal, begitu bijaksana, dan begitu sulit untuk dibantah. Namun mendengarnya secara langsung dari mulutnya sendiri, hatiku tetap terasa sedikit perih. Seakan ikatan yang mengikat kita berdua itu sesuatu yang harus disembunyikan, sesuatu yang tak boleh diketahui siapa pun. Namun aku sadar, apa yang dikatakannya memang benar adanya. Banyak hal yang harus dijaga, banyak hal yang harus dipikirkan demi kebaikan bersama.

Aku pun perlahan mengangguk, berusaha menerima keputusan itu dengan lapang dada. "Baik... saya mengerti alasannya. Demi kebaikan bersama, saya bersedia menyembunyikannya. Di dalam kampus ini, Kak... eh, Pak Arga adalah dosen saya, dan saya hanyalah mahasiswi biasa. Tak ada hubungan lain di antara kita."

Arga menatapku lekat-lekat, seakan merasa lega sekaligus tersentuh mendengar jawabanku. Ia menatapku dengan tatapan yang sedikit melembut, jauh berbeda dari tatapan tegasnya di dalam kelas. "Terima kasih, Lisna. Terima kasih telah mengerti. Saya tahu ini tak mudah untukmu. Saya pun merasakan hal yang sama. Namun percayalah, keputusan ini saya ambil agar kita berdua dapat melangkah dengan tenang, tanpa beban pandangan orang lain. Di luar kampus, urusan kita tetap berjalan sebagaimana mestinya sesuai kesepakatan keluarga. Namun di sini... kita harus bersikap seakan kita baru pertama kali saling mengenal."

"Saya mengerti, Pak," jawabku pelan sambil menundukkan wajahku. "Saya akan berusaha menjaga sikap dan menjaga rahasia ini sebaik-baiknya."

Arga mengangguk pelan, lalu berkata dengan nada yang terdengar sedikit lebih hangat, "Kalau begitu... mulailah kita jaga kesepakatan ini mulai saat ini juga. Tetaplah menjadi mahasiswi yang tekun dan rajin seperti yang dikatakan orang-orang kepadaku. Jangan merasa segan atau takut kepadaku di dalam kelas. Perlakukan saya sebagaimana mahasiswi lain memperlakukan dosennya."

Aku kembali mengangguk mantap meski hatiku masih terasa berdebar. "Baik, Pak. Sekali lagi... saya paham dan saya setuju."

Percakapan sore itu pun berakhir dengan kesepakatan yang mengikat kami berdua. Sebuah janji untuk menyembunyikan kenyataan yang sesungguhnya. Mulai saat itu, di dalam lingkungan kampus, tak ada calon suami dan calon istri. Yang ada hanyalah dosen dan mahasiswinya. Rahasia itu tersimpan rapat di antara kita berdua, di balik dinding ruangan itu, menjadi beban sekaligus ikatan yang hanya kita berdua yang tahu. Dan entah mengapa, meski berat di awal, hatiku perlahan merasa sedikit lebih tenang. Setidaknya kini aku tahu arah yang harus kujalani. Setidaknya kini ada kesepakatan yang jelas di antara kami berdua.

bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!