Indonesia
NovelToon NovelToon
Penghuni Loteng Rumah Lawas

Penghuni Loteng Rumah Lawas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kumpulan Cerita Horror / Rumahhantu
Popularitas:48.8k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

“Bu, mimpi-mimpi itu seperti nyata. Ada yang menunggu kedatangan kita disana, tapi bukan manusia.”

Hamima memberi pengertian kepada putranya, dengan mengatakan jika tidak semua mimpi akan menjadi nyata, bisa jadi bunga tidur semata.

Namun, kepindahannya ke sebuah desa demi mengikuti sang suami yang dipindahtugaskan, membuat ketenangan hidup hilang seketika, tergantikan hal-hal tak pernah terbayangkan, dan belum pernah dialami sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gangguan mulai sering : 13

“Guntur! Bangun, Nak!!” pundak putranya diguncang sampai badannya bergeser.

“Kenapa, Bu?” Guntur mengusap mata dengan punggung tangan, barulah penglihatannya jelas.

“Tadi kamu ngomong apa? Loteng mana? Siapa yang minjemin buku bacaan?” cecar Hamima, deru napasnya tersengal-sengal.

Ekspresi Guntur kebingungan, diusap-usapnya lagi kelopak mata, dengan masih berbaring terlentang, dia menjawab. “Aku gak ada ngomong apa-apa. Terus loteng sama minjemin buku, maksudnya apa, Bu?”

“Jangan bohong, Nak! Jujur ke Ibu!” Hamima menekankan kalimatnya, sorot mata mengeras mencari kejujuran pada pancaran netra sendu.

Guntur bangun, diperhatikan sebentar kamarnya seraya berpikir keras. “Aku gak ngerti yang Ibu bilang.”

Hamima mengganti topik demi mencari jawaban atas rasa penasaran sewaktu di dapur. “Tadi kamu yang nuang air panas dari panci ke termos, ‘kan?”

Remaja berkaos gambar kartun itu termenung, lalu menggeleng yakin. “Aku baru saja bangun pas Ibu bangunin.”

“Jangan nakutin Ibu, Guntur!” dia tidak bisa menyembunyikan rasa takut yang semakin membumbung tinggi.

“Aku gak bohong, Bu. Ini baru mau ke kamar mandi, kebelet pipis.” Kakinya menjejak lantai, terburu-buru berlari ke belakang.

Tubuh Hamima lemas, terduduk di atas tilam ber sprei polos.

Aduh!

Ia lupa kalau baru saja mengalami keguguran, perutnya masih sakit, kewanitaannya juga terasa sedikit perih.

“Dimulai dari sosok misterius menggendong bayi, lalu wangi bunga Melati, setelahnya suara Guntur mengatakan air mendidih, lanjut bunyi derap kaki — semua seperti saling terhubung,” Hamima menyambungkan potongan kejadian barusan dialaminya.

Kali ini Hamima dalam keadaan sepenuhnya sadar, ingatannya pun tajam, dan dia dapat berpikir jernih meski diserang panik.

“Bongkar loteng!” kalimat bu Desita kembali bergema di kepalanya, seperti titah wajib dituruti.

Hamima mendongak, memandang lekat plafon bersih terlihat kokoh, lalu netranya bergerak liar mencari celah kecacatan yang bisa dijadikan alasan supaya dia memiliki keberanian melaksanakan perintah wanita dicap sakit mental.

“Dimana ada loteng? Rumah ini saja hanya tingkat satu, setiap sisinya tertutup rapat?” monolognya seorang diri di dalam kamar putranya.

Hihihihi … hahahaha ….

“Pujiara!” badannya terlonjak, suara tawa tersebut jelas milik putrinya, namun ada yang berbeda — terasa menyeramkan sampai ia bergidik.

Hamima berjalan sedikit tergesa. Titik keringat dingin membasahi kening — “Tolong jangan ganggu putriku, dia masih bayi.”

Kalimat tersebut terlontar begitu saja, Hamima terseok-seok berjalan ke kamarnya.

Ketika tiba di batas ambang pintu, jeritannya pun menggema ke seluruh ruangan lenggang.

Akhhhh!

“Mas Galih! Tolong Ara!” persendian Mima lemah, tubuhnya merosot ke lantai dengan, sepasang tangan menggapai-gapai.

Bayi sudah genap sebelas bulan — melompat-lompat di atas lemari pakaian yang tingginya mencapai dua meter.

Pujiara belum bisa berjalan, berdiri saja masih sering terjatuh dikarenakan keseimbangan tubuh belum kokoh.

“Itu, tu …!” suara Pujiara dingin, terdengar asing, dia menunjuk plafon.

“Jangan maju-maju, Ara! Tetap disitu, Nak!” Hamima mengesot mendekati lemari, jantungnya bertalu-talu.

“Bu … hihihihi, Ibuuuuu.” Pujiara membungkuk, tangannya berpegangan pada pinggiran lemari, ia menunduk memandangi ibunya yang berusaha berdiri.

“Iya, Ara, ini Ibu. Tetap disitu, ya? Jangan melompat, jangan berdiri, jangan merangkak,” bujuknya gemeteran, suaranya pun nyaris berbisik.

Hamima meraih dingklik (bangku), berusaha bersikap tenang disaat sekujur tubuh gemetaran, air mata bercucuran. Kakinya naik sempurna menjejak kursi pendek, ia pun mendongak berusaha menggapai sang putri.

Pujiara bukan tertawa melainkan sudut bibir kirinya naik keatas menciptakan seringai menyeramkan, lalu sepasang pupil hitam membalik tersisa warna putih pucat.

Hahhhh!

Pekikan terkejut Hamima disertai suara jatuh berdentum. Dia kehilangan keseimbangan, kepalanya terantuk pinggiran dipan.

Pandangan mulai memburam, telinga berdenging, Hamima pingsan diatas lantai dingin.

Tak ada yang menolong, seakan teriakannya tidak terdengar oleh pria yang sedari tadi olahraga di halaman depan rumah mewahnya.

Setelah jogging melewati rumah warga, Galih pulang dan berolahraga di halaman rumahnya.

Selain menyehatkan tubuh, dia juga berjuang menyegarkan otak yang sempat berpikiran sempit, menuduh istrinya berzina dengan pria lain sampai mengandung dan berakhir keguguran.

Tenggorokannya kering, dia kehausan, lalu menyudahi latihan jasmani, melangkah masuk ke dalam rumah yang terasa sunyi.

Tak ada yang aneh, menurutnya rumah ini sangat nyaman — luas, memiliki kamar banyak, dan sirkulasi udara bagus.

“Ibu dan adikmu kemana, Guntur?” tanyanya.

Remaja yang hanya mengenakan handuk melilit di perut, menjawab singkat, tak ada keramahan, terkesan datar, pun enggan memandang. “Gak tau.”

Guntur masuk ke dalam kamarnya, mengunci pintunya.

Emosi Galih terpancing, tidak terima diperlakukan kurang sopan oleh putranya sendiri. Ia menggedor-gedor pintu kamar terkunci. “Jangan kurang ajar kamu, Guntur! Buka sekarang juga pintunya ini!”

Duk!

Duk!

Sepatu olahraga yang dikenakannya menendang-nendang pintu. “Cepat buka atau Ayah dobrak!”

“Ayah ngapain di depan kamarku? Teriak-teriak gak jelas gitu?”

Tangannya menggantung dan kaki terangkat, gerakan memalingkan muka ke belakang sangat pelan.

Tarikan napas Galih tertahan, ia terperanjat seraya memandang tak percaya pada putranya yang berdiri di tengah-tengah ruangan. “Kamu keluar dari mana? Dari jendela, kan? Mau nakuti Ayah, iya?!”

Guntur mengencangkan handuk yang terasa mengendur, barulah menjawab pertanyaan aneh ayahnya. “Aku dari kamar mandi.”

“Gak mungkin! Tadi kamu sudah masuk ke kamar!” bentak Galih, mematahkan perkataan putranya.

“Coba Ayah masuk kamarku, terus periksa jendelanya masih terkunci atau tidak, tadi belum ada kubuka,” sekarang dia bisa membela diri, teringat jendela kamar memang belum ada dibukanya.

Demi menuntaskan rasa penasaran, Galih menekan handle pintu, dan langsung terbuka. Jelas-jelas tadi terkunci.

Guntur mengikuti ayahnya, berdiri tepat dibelakang pria yang terkejut dan sukar percaya.

“Itu jendelanya masih tertutup, kan?”

“Tertutup bukan berarti terkunci!” ia masih saja keras kepala, enggan mempercayai perkataan darah dagingnya sendiri.

Kali ini Guntur tidak berbohong, grendel belum ditarik, masih mengunci sepasang jendela kayu.

Seketika detak jantung Galih tak beraturan, ia kesulitan menelan ludah. Mau menampik, namun bukti itu tepat di depan matanya.

“Bu, Bu ….”

“Pujiara!”

Hampir bersamaan ayah dan anak menyebut nama balita yang menangis sambil memanggil ibunya.

Kleeekkk ….

Jendela kayu terbuka sendiri, suaranya berderit pelan nan panjang.

Guntur bersembunyi di belakang badan ayahnya yang mulai ketakutan.

Dari posisi mereka berdiri, dapat melihat langit kelabu dan pepohonan nan jauh.

🎶 Lingsir wengi (Saat menjelang tengah malam)

Sepi durung biso nendro (Sepi tidak bisa tidur)

Kagodho mring wewayang (Tergoda bayanganmu)

Angreridu ati (Di dalam hatiku)

‘Suara merdu mendayu-dayu itu terdengar nyata bukan seperti yang diputar di radio,’ Galih berdiri kaku, tangisan Pujiara memanggil ibunya tak terdengar lagi olehnya.

Di belakang badan pria gagah, lelaki remaja menyeringai culas, matanya berkilat.

Guntur mundur tenang, sorot matanya hampa, dia melangkah tegak memasuki kamar sang ibu ….

.

.

Bersambung.

1
AFPA
penghuni loteng ga muncul nih..😁
Damn Nwtch
perwujudan dari siapa asap putih yg sering nolong guntur
Dibalik Senja
sdh ada korban tumbal ini mah
Dibalik Senja
Bpk laknat bersekutu dngn iblis ,guntur ada yg menjaga ,kapoook meledak
Rahel Patria
Nemu cerita e pas malem Jum'at...berani lanjut ato nyerah ni bacanya
jekey
alhamdullilah meskipun guntur gk eling tp ada penolong
jekey
bacanya pas bulan hantu jd merinding 😏
jekey
kenapa q ketinggalan kamu mak 😡,, tetiba udah ada yg baru 2 lagi 😭
jekey: 😭🤭🤭 gak tidor ini maraton
total 2 replies
Aisyah 🐾
pasti galih ini berhubungan dengan masalalu tuh rumah dan sifat yg sekarang adalah sifat aslin🤭
Dibalik Senja
Guntuk pny keistimewaan, tp krn masih kecil dia blom mengerti
Humaira
kalian yang bedebah, setan jahannammm 😡😡

👻👻👻👻👻
Secret Admire
astaghfirullah aku masih belum bisa memecahkan teka-teki ini
Humaira
berarti ada jin sesat, ada juga jin sehat di rumah itu 🤔🤔
Humaira
yang satu mau ke sungai, yang satu lagi mau ke sumur, bentar lagi emaknya ke samping, seramnyaaa 😱😱😱😱
🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️
Humaira
banyak kali hantunya, di sana sini masing2 beraksi, jangan sampai ada nyawa melayang 😭😭🤧🤧
neni nuraeni
apa galih nyugih ya atau nyembah iblis,,, dan target utamanya sebagai tumbal adalah anaknya yg bungsu, untung dirmh itu ada makhluk yg baik tapi kira2 siapa yg sudah merasuki guntur,, soalnya dia baik mau menolong dan guntur serta ibu dan adeknya,,, ih seruu lnjut lagi atuh kak🤭
neni nuraeni
jgn sampai tidur kamu Mima biar tau apa yg dilakukan suamimu slnjutnya,,, lnjuttt kak😉
Y.S Meliana
waduh ada apa ini sbnr' y, si juragan mencari tumbal kah biar ttp kaya 🤨🤔
Betri Betmawati
guntur siapa yg merasuki ya tapi sukur lh baik
aku yakin Ara mau dijdikan tumbal tu
Krang ajar skli bapak nya
itu pasti tu kumpulan juragan sarkam yg mengamuk karna gagal
Betri Betmawati
orang yang kita percayai bahkan sandaran hidup bisa membohongi seperti itu hati2 Mima jg anak2 mu
nth apa yg ada di otak Sigalih itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!