Indonesia
NovelToon NovelToon
ILA ( Si Gadis Permata Biru)

ILA ( Si Gadis Permata Biru)

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Action / Fantasi / Light Novel
Popularitas:528
Nilai: 5
Nama Author: Arrosyad

Seorang santri barusaja bertemu dengan gadis mengerikan ketika menaiki bis, dia tidak jahat. tapi satu negara akan memburunya, tentu dengan sebuah tujuan. dan santri tersebut, dia akan menolong, meskipun tidak tahu apa yang akan dia hadapi selanjutnya. hidup lelaki itu akan berubah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrosyad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tangis sebenarnya..

Change pov: third person.

“Bagaimana bisa kau hampir kalah dengan bocah itu, Ubas” Ucap orang membawa palu besar –ya setidaknya itu terlihat seperti palu yang di jadikan senjata pada kebanyakan film.

Tapi sebenarnya, benda itu adalah senjata berteknologi tinggi.

Lorong lengang dengan deru hujan. Tiga orang berdiri di sana, mengelilingi Ubas yang terluka parah setelah di hajar Aro sebelumnya. Wajahnya tampak hancur, tulang hidung patah, gigi-gigi pecah karena tinjuan terakhir, dan yang lebih parah lagi, lutut pria itu pecah juga pecah karena tinjuan Aro –yang sekarang juga terkapar sebelas meter dari mereka.

Bahkan untuk sekedar menjawab pertanyaan barusan, Ubas harus menahan sakit. Mulutnya mengeluarkan banyak darah. “Ce-pat bantu a-ku, Nilam” pintanya kepada orang di samping pria berpalu.

“Hahaha” Pria pemegang palu terbahak. Dia pria terbesar di antara tiga orang temannya. Cocok dengan senjata besar yang ia bawa. Pria itu bernama Drawen.

Sementara Nilam yang berdiri di sampingnya, hanya berhembus. Dia bernama Salam. “Ini dia” Tangan orang itu memberi isyarat –sama seperti pemuda kubus.

Seketika jutaan robot mikroba tumpah dari balik pakaian pria tersebut, bergerak layaknya slime hidup, berwarna silver mengkilap, segera merayap di permukaan celana Ubas, sampai di lutut, robot-robot itu mulai mengeluarkan cahaya jingga yang redup. Pertolongan pertama sedang berlangsung, jutaan robot sedang memberi sinyal untuk memicu Osteoblas dan sel punca agar segera meregenerasi luka tulang di lutut, aslinya hampir dibilang mustahil membuat pulih tulang tersebut secara instan, robot-robot hanya menjadikan zat-zat asli dan nutrisi dalam tubuh agar lebih cepat dan efisien meregenerasi kerusakan.

Mungkin butuh hampir seminggu agar pulih secara total.

“Tampaknya kau tidak akan mendapat misi lagi besok” Kali ini lain orang, bukan Drawen dan Nilam. Satu orang lagi, perawakannya tinggi ramping, tampak lebih muda. Kisaran sembilan belas tahunan, dia meminggang katana. Dia bernama Fio.

Tiga orang di sana mengenakan pakaian formal, seperti pekerja kantoran, memakai jas dengan kemeja di dalam dan dasi.

“Yang penting tugas kita selesai” lanjut Fio.

“Eh kemana gadis itu?!” yang ini justru terkejut, Drawen tidak menemukan Ila di lorong –di tempat gadis itu terbanting juga hilang.

Seketika orang-orang di sana tertoleh ke sembarang arah. Sedikit terkejut, idak ada gadis itu di lorong, melirik ke tempat Aro, sial. Anak laki-laki itu juga tidak di tempatnya terkapar, hanya menyisakan darah di atas tanah.

Sementara di atap gedung yang tinggi di atas mereka. Ila berhasil melarikan diri, sekaligus membopong Aro yang tidak sadarkan diri. Hebat, setelah menerima serangan telak dari palu besar, kepala lelaki itu hanya cidera ringan, hanya luka gores di bawah mata sebab belati Ubas.

Ini sangat ganjil, mereka masiih dalam style cosplay hijaunya, make up tidak luntur sama sekali. Lihatlah, di tengah hujan deras, Ila yang tubuhnya lebih kecil justru membopong Aro yang lebih besar, itu pun sambil berlari cepat dan lompat pindah gedung berkali-kali.

Tapi itulah hebatnya, Ila lagi-lagi mengejutkan dunia. Gadis itu tampak jauh lebih segar –setelah sebelumnya juga tak sadarkan diri. Bukan karena dia akhirnya sadar dan menahan semua rasa sakit di tubuhnya, melainkan dia benar-benar pulih, luka di perutnya hilang, sel-sel dan tulang dalam tubuh juga kembali normal. Ila baru saja meregenerasi luka-luka di tubuhnya.

Semuanya sembuh, namun sesuatu mulai menekan perasaannya.

Baru beberapa detik terlewati, gadis itu sudah sangat jauh dari tempat empat pria sebelumnya, ini sudah ke-sebelas kali ia melompati gedung, deru hujan membungkam suasananya, dia khawatir dengan Aro.

Anak itu kembali melompat, sejenak tampak melayang di udara, puluhan meter di atas jalan raya yang lengang. Dia tidak ke atap gedung yang lain, arahnya persis akan menerobos dinding kaca sebuah gedung hotel.

PYARR!!!! Dinding itu pecah, Ila masuk ke dalamnya, ia memperosok lantai, lantas berdiri di tengah sebuah kamar kosong, tidak ada penghuninya. Ila segera membaringkan tubuh Aro di atas ranjang. Darah masih mengalir dari luka di wajahnya.

“Aku tidak bisa menggunakan kekuatan regenerasi pada tubuhmu, Aro. Maafkan aku” Ila menatap wajah itu sejenak. Lantas berlari kecil menuju kotak P3K di pojokan, mengambil gulungan plester, alkohol, dan kapas. Tangan gadis itu lanjut cekatan membersihkan luka dan menutupnya dengan plester.

Selesai, lengang kemudian, di luar deru hujan masih membungkam suasana. Namun di sini Ila terhening. Air matanya mulai keluar. “Aku tahu kau ingin ini selesai, aku juga senang karena kau satu-satunya orang yang ingin aku hidup di dunia ini setelah ibuku”

Ila mulai terisak. Tangannya mengepal. “Sekarang aku mau jujur. Asal kamu tahu, bahkan satu keluargaku tidak ingin aku hidup”

Hujan mengisi suasana. Ila mulai membuka semuanya.

“Beberapa cerita yang kamu dengar, aku mengarangnya. Tepat setelah kejadian itu, saat ibuku terbaring tidak bernyawa, kakak dan adikku justru menyalahkanku, mereka tidak melawan, tapi langsung menganggap diriku monster. Beberapa hari pasca pemakaman aku akhirnya pergi. Itu kejadian tiga tahun lalu. Dan dua laki-laki bersamaku yang juga kamu lihat di masjid bukan saudaraku, mereka sama sepertimu, baru kenal saat itu juga”

Ila tersendat, mengelap ingusnya. “Ayahku.. juga sama seperti ayahmu, sama-sama meghilang tanpa kabar. Tapi ada yang memberitahuku, jika ayah akan memburuku demi kekuatan”

Ila tertahan lagi, menghirup ingusnya. “Tapi maaf, sepertinya aku akan membuatmu kecewa. Harapanmu, ingin menyelamatkanku, kan?”

Di keadaan hening tersebut, tiba-tiba saja pintu kamar hotel tersebut terbuka. Seorang pria masuk, dia adalah security. Pria itu langsung terkejut.

“Apa yang kalian lakukan?!” Teriak security. “semua orang harus meniggalkan kota karena ada bahaya”

Ila menatap balik security di hadapannya –masih dengan wajah sembab. “Bahaya itu adalah aku”

Security di ambang pintu tersentak, sekujur tubuhnya mendesir panik. Tangan bergetar menarik baton stick (tongkat setrum)  di saku belakang celana.

“Eh jangan... aku tidak akan menyakitimu. Aku justru butuh bantuanmu sekarang” Ila menyergah.

“Tugasku menjaga keamanan customer hotel, bukan melindungimu” Balas security bergetar.

“Bukan aku yang butuh, tapi tolong temanku ini” Ila menatap Aro. “Dia seharusnya tidak terlibat”

Security mengeluarkan tongkat setrumnya. Menodongkan ke arah Ila. “Apa yang bisa ku percaya dari buronan negara sekarang?”

“Kau tidak akan percaya padaku, tapi temanku bisa membuatmu percaya sesuatu” balas Ila. “Aku mohon, jika bisa di kabulkan, aku ingin dia selamat”

Lengang, security mulai tertegun.

Ila terisak lagi. “Aku mohon, bawa dia evakuasi ke luar kota” Matanya berlinang hebat, air mata di sana memohon.

Security menurunkan tongkat setrum, tetap sedikit waspada. Setidaknya dia tidak ikut campur urusan buronan itu. “Baik, tapi aku tidak bisa menyertakan dirimu”

“Finnaly” Ila berseru, wajahnya... terang kembali.

Lengang sejenak, security kembali terperangah melihat perubahan gestur Ila yang drastis. Ia mendekat dan langsung membopong Aro dari ranjang. “Begini tidak masalah?” untuk seorang security perfesional, kekatan tubuhnya cukup mumpuni.

“Gak papa” Ila tersenyum.

Security mulai beranjak mendekati pintu keluar.

Eh Ila teringat sesuatu. “Pak”

Security tertoleh. “Ada lagi”

Ila menghirup ingusnya. “E.. anu” sekarang rasanya gugup sekali mengatakan hal itu.

Security menunggu. “Katakan padanya ketika sadar. Bahwa aku mencintainya, minta do’akan aku agar terbebas dari masalah ini”

Demi itu security sedikit tercengang, tidak menyangka. Apalah basa-basi seperti itu? “Dasar anak zaman sekarang”

Ila menyeringai tipis. “Lopyu buat om juga deh karena sudah mau bantu” Ila memberikan sarangheo lewat jarinya.

Melihat itu security seketika tersentak, salah tingkah. “be..be..beraninya kau seperti itu padaku, aku sudah berisitri hey!!”

Ila terbahak, membiarkan pria tersebut hilang membopong Aro di balik pintu. Lengang kemudian, di luar masih hujan. Sejenak akhirnya dia lega. Tapi anak itu harus melakukan sesuatu.

“Mungkin kau selalu tenang karena sangat yakin pada Dzat Maha Pelindung. Baiklah, aku juga harus mengikutimu” Tangan mengepal. Serasa paling se tobat itu...

*******

1
Marina
keran, keren bgt
Arrosyad: makasih ibu'
total 1 replies
Kiritsugu Emiya
Harus jam berapa baru bisa update ya thor? Jangan sampai terlalu malam~
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!