Indonesia
NovelToon NovelToon
ZHOO, SANG PENAKLUK EST

ZHOO, SANG PENAKLUK EST

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: zai_zuk

Di benua Est, tujuh kerajaan hidup dalam keseimbangan rapuh. Selama ratusan tahun, tidak ada satu pun penguasa yang mampu menyatukan seluruh wilayah. Perang, perebutan takhta, dan dendam antarkerajaan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zai_zuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 3, BAYANGAN DI ATAS PUNCAK.

Berita tentang tiga pengembara telah menjelma menjadi legenda sebelum mereka sempat mencapai Lythandar. Di desa-desa, orang-orang berbisik tentang pemuda misterius yang berjalan tanpa takut, disertai penasihat bijak dan penyanyi ber suara emas. Beberapa mengatakan ia adalah utusan para dewa; yang lain menganggapnya penipu yang akan membawa malapetaka.

Zhoo menyadari hal ini, dan hal itu membebani pikirannya. Setiap kali orang menunduk atau membungkuk saat ia lewat, ia merasa semakin kecil, bukan semakin besar.

“Mereka tidak melihatku,” katanya pada Kael saat mereka berkemah di kaki hutan purba. “Mereka melihat apa yang mereka inginkan: seseorang yang akan menyelamatkan mereka. Tapi aku tidak memiliki kekuatan ajaib. Aku hanya Zhoo, pemuda yang dulu tidur di gudang dan memotong kayu.”

“Dan itulah sebabnya mereka akan mempercayaimu,” jawab Kael. “Karena kau pernah menjadi salah satu dari mereka. Raja-raja tidak pernah mengerti rakyatnya. Tapi kau—kau tahu rasanya lapar, rasanya takut, rasanya tidak berdaya. Itu kekuatan yang tidak bisa dibeli dengan emas atau diambil dengan pedang.”

Saat mereka melangkah masuk ke wilayah Lythandar, udara berubah menjadi sejuk dan lembap. Pohon-pohonnya begitu tinggi hingga puncaknya menghilang di awan, dan cahayanya menembus daun-daun seperti jarum emas. Mereka tidak berjalan jauh sebelum dikepung oleh puluhan penjaga hutan—berpakaian kulit kayu, memegang busur panah yang sudah ditarik, mata mereka tajam dan waspada.

“Tidak ada orang asing yang boleh melangkah lebih jauh,” ujar pemimpin mereka, suaranya berat dan tenang. “Kembalilah, atau jadilah makanan akar pohon.”

Zhoo melangkah maju, meletakkan tangannya di atas dada, tidak meraih pedang. “Kami tidak datang untuk merampok atau menaklukkan. Kami datang untuk mendengarkan. Benua Est sedang sakit, dan kami mencari obatnya. Kami percaya pengetahuan kalian dapat membantu kami.”

Pemimpin penjaga hutan menatapnya lama, lalu menurunkan busurnya perlahan. “Kau berbicara dengan rendah hati, namun matamu penuh tekad. Ikutlah. Tetapi ingat: di sini, setiap kata dan langkah memiliki berat. Berhati-hatilah agar tidak menabrak kebenaran yang belum siap kau terima.”

Di jantung hutan purba, di atas platform raksasa yang terbuat dari batang pohon hidup, tinggal para Tetua Lythandar. Mereka mendengarkan cerita Zhoo—tentang penderitaan rakyat, rencana perang Raja Vereon, dan impiannya untuk menyatukan benua dalam perdamaian, bukan penaklukan.

Ketika Zhoo selesai berbicara, keheningan menyelimuti ruangan selama lama. Kemudian Tetua tertua berbicara: “Impianmu indah, anak muda. Namun benua Est tidak dibangun di atas kebaikan hati. Ia dibangun di atas kekuasaan dan ketakutan. Untuk menyatukan tujuh kerajaan, kau harus menjadi lebih kejam daripada raja-raja itu sendiri. Dan jika kau melakukan itu, siapa yang akan menjamin kau tidak akan menjadi seperti mereka?”

Zhoo terdiam, pertanyaan itu menembus jantungnya. “Aku tidak tahu,” jawabnya jujur. “Aku hanya tahu bahwa membiarkan keadaan seperti sekarang berarti membiarkan jutaan orang mati. Jika aku harus berjuang setiap hari agar tidak menjadi kejam, maka aku akan berjuang. Selama ada orang-orang di sampingku yang mengingatkanku siapa aku sebenarnya, aku tidak akan tersesat.”

Para Tetua saling berpandangan, lalu pemimpin mereka berkata: “Kami tidak akan memberikan pasukan kepadamu. Tapi kami akan memberikan sesuatu yang lebih berharga: Pengetahuan tentang tujuh Segel Kekuasaan—benda-benda kuno yang tersebar di setiap kerajaan. Katanya, siapa pun yang menguasai ketujuh segel itu, akan memiliki kekuatan untuk mengubah tatanan dunia. Namun peringatan kami: segel itu tidak memberikan kekuatan—ia hanya mencerminkan kekuatan yang sudah ada di dalam dirimu. Jika hatimu penuh ambisi, ia akan menghancurkanmu. Jika hatimu penuh kebijaksanaan… mungkin, hanya mungkin, ia akan membantumu.”

Mereka menerima peta kuno yang digambar di atas kulit pohon purba, menandakan lokasi setiap segel. Saat Zhoo memegangnya, ia merasakan getaran halus—seperti denyut jantung bumi itu sendiri.

Namun kebahagiaan mereka terhenti ketika Elara berlari masuk, wajahnya pucat ketakutan. “Pasukan Ironhold ada di sini! Ribuan prajurit mengepung hutan! Mereka dipimpin oleh… oleh Arvin!”

Darah Zhoo membeku. Ia berlari ke tepi hutan, dan di sana, di padang rumput yang luas, melihat barisan pasukan baja yang tak berujung. Dan di barisan depan, menunggangi kuda perang hitam, berdiri Arvin—sekarang mengenakan zirah ksatria yang berkilauan, pedang di pinggangnya, dan tatapan yang sudah berubah—keras, dingin, dan tanpa keraguan.

Arvin melihat Zhoo, dan untuk sesaat, waktu berhenti berputar. Sahabat yang dulu berbagi roti dan mimpi kini berdiri di sisi berlawanan dari tembakan panah.

“Zhoo!” teriak Arvin, suaranya terdengar di antara deru angin. “Menyerahlah! Raja Vereon menawarkan ampunan! Jangan biarkan persahabatan kita berakhir dengan darah!”

Zhoo melangkah maju, berdiri sendirian di batas hutan dan padang terbuka. “Arvin, pulanglah. Jangan lakukan ini. Kita tidak perlu saling membunuh untuk memiliki arti di dunia ini.”

“Dunia tidak peduli pada apa yang kita butuhkan!” jawab Arvin, tangannya mencengkeram kendali kuda hingga buku jarinya memutih. “Kau tahu berapa banyak yang kulewati untuk sampai ke sini? Kau tahu berapa kali aku hampir mati? Aku tidak bisa berbalik sekarang. Jika kau tidak mau menyerah… aku akan menembak.”

Mereka menatap satu sama lain—dua sahabat yang menempuh jalan berbeda, menyadari bahwa tidak peduli seberapa jauh mereka berjalan, mereka akhirnya harus berhadapan.

“Kalau begitu tembaklah,” kata Zhoo pelan namun tegas. “Tapi ketahuilah: pedang yang kau pegang pada akhirnya akan memotong tanganmu sendiri.”

Arvin mengangkat busurnya. Tali ditarik kencang. Panah diarahkan tepat ke dada sahabatnya. Namun saat ia melihat mata Zhoo—mata yang tidak pernah berubah sejak mereka kecil—tangannya gemetar. Panah melesat ke atas, menghilang ke langit.

“Mundur!” teriak Arvin pada pasukannya, suaranya pecah. “Kita pergi!”

Saat pasukan baja berbalik dan pergi, Zhoo berdiri diam, air mata menetes di pipinya. Ia memenangkan pertempuran itu, namun hatinya terasa hancur. Karena ia tahu: Arvin tidak kalah—ia hanya menunda pertarungan itu. Dan suatu hari nanti, mereka tidak akan seberuntung ini lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!