Indonesia
NovelToon NovelToon
ADX Florence

ADX Florence

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Perperangan
Popularitas:641
Nilai: 5
Nama Author: @_Mastura

Alesya Seraphina dijatuhi hukuman seumur hidup setelah dituduh membunuh sahabatnya secara brutal. Bukti video menunjukkan dirinya sebagai pelaku, tetapi Alesya sama sekali tidak mengingat kejadian itu.

Di ADX Florence, penjara paling mematikan, ia justru bertemu kembali dengan Kael Jendral Kanagara—sahabat masa lalunya yang kini menjadi ketua mafia paling ditakuti.

Kael tidak tahu sisi berbahaya Alesya. Alesya pun tidak tahu alasan Kael berada di sana.

Di balik dinding penjara, rahasia, pengkhianatan, dan cinta berbahaya mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @_Mastura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SISI LAIN JESSICA

Siang itu, Alesya, Reana, dan Jessica sedang berada di taman lapas. Entah sejak kapan, mereka bertiga mulai menjadi cukup dekat.

Meski begitu, kedekatan tersebut sama sekali tidak membuat sifat asli Jessica menghilang. Gadis itu tetap mudah tersulut emosi.

Terutama saat berhadapan dengan Alesya.

“Bukan begitu kakinya.”

Alesya berdiri di hadapan Jessica dengan kedua tangan bertolak pinggang. Wajahnya terlihat begitu serius, persis seperti seorang guru yang sedang mengajari murid paling bandel di kelas.

Jessica menatapnya tajam.

“Terus bagaimana?”

“Tekuk sedikit.”

Jessica menurut.

“Sedikit lagi.”

Jessica kembali menekuk lututnya.

“Ulang dari awal.”

Jessica menarik napas panjang.

“Alesya...”

“Kenapa?”

“Dari tadi aku sudah mengikuti semua yang kamu bilang.”

“Iya.”

“Terus salahnya di mana?”

Alesya memiringkan kepala, kemudian tersenyum kecil.

“Ekspresimu”

“Ekspresiku?”

“kau kelihatan seperti ingin mebunuhku.”

Jessica mendengus.

“Karena aku memang mau.”

Reana yang sejak tadi duduk di tidak jauh dari mereka langsung menutup mulut, menahan tawa.

Alesya justru terlihat semakin puas, Ia memang sengaja menggoda Jessica.

Bukan karena gadis itu tidak mengikuti arahannya. Jessica sebenarnya sudah melakukan hampir semuanya dengan benar. Hanya saja, Alesya terlalu menikmati setiap kali melihat wajah Jessica yang semakin kesal.

“Ayo,” katanya santai.

“Sekali lagi.”

Jessica mengepalkan tangan.

Namun pada akhirnya ia tetap mengikuti arahan Alesya.

Satu gerakan, Kemudian gerakan berikutnya.

Berulang kali, Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya Alesya mengangkat tangan.

“Istirahat sebentar"

Jessica langsung menjatuhkan tubuhnya ke kursi panjang di dekat mereka.

“Huff... capek banget.”

Ia terlentang begitu saja, membiarkan kedua tangannya menjuntai di sisi kursi, Reana terkekeh.

“Kamu baru latihan sebentar.”

“Sebentar apanya? Rasanya kayak disiksa.”

Alesya duduk santai di sampingnya.

“Lebay.”

Jessica melirik tajam.

“Kalau aku mati, kamu yang tanggung jawab.”

“Tenang... Aku kubur yang rapi.”

“ALESYA!”

Tawa Reana langsung pecah. Suasana taman kembali dipenuhi suara mereka. Namun beberapa saat kemudian, seorang wanita datang menghampiri.

Langkahnya perlahan dan berat.

Tangannya sesekali mengusap perutnya yang sudah membesar. Tubuhnya terlihat jauh lebih kurus dibandingkan saat terakhir Alesya melihatnya.

Alesya yang pertama kali menyadarinya segera menghentikan tawanya.

Ia menatap wanita itu beberapa detik.

Sepertinya ia mengenalnya. Wanita hamil yang beberapa waktu lalu pernah ia selamatkan di toilet.

Tatapan mereka bertemu. Wanita itu tersenyum kecil.

“Permisi...”

Alesya bangkit dari duduknya.

“Kamu...”

Wanita itu mengangguk pelan.

“Bisakah kita berbicara sebentar?”

Alesya menunjuk dirinya sendiri.

“Aku?”

Wanita itu kembali mengangguk, Alesya sempat melirik Reana dan Jessica. Keduanya juga terlihat memperhatikan mereka. Alesya kemudian mengangguk.

“Ya sudah.”

Ia mengikuti wanita tersebut meninggalkan lapas.

Mereka berjalan menyusuri lorong yang cukup sepi.

Beberapa kali wanita itu harus berhenti untuk menarik napas. Kehamilannya membuat langkahnya semakin berat. Ditambah lagi dengan kondisi tubuhnya yang semakin kurus dan lemah, membuat perjalanan singkat itu terasa cukup melelahkan baginya.

Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah lorong yang benar-benar sepi, Wanita itu berhenti. Ia menghela napas panjang. Wajahnya terlihat pucat dan lesu. Matanya juga tampak menyimpan kelelahan yang sulit disembunyikan.

Di salah satu sisi lorong terdapat sebuah kursi tua yang sudah usang. Alesya menunjuk kursi tersebut.

“Duduk dulu.”

Wanita itu menurut, Ia duduk perlahan sambil memegangi perutnya, Alesya berdiri di hadapannya.

Keadaan wanita di depannya benar-benar memprihatinkan.

“Apa yang ingin kau bicarakan?”

Wanita itu terdiam, Bibirnya bergerak-gerak seolah kesulitan menemukan kata yang tepat.

“A... aku ingin berterima kasih....”

Alesya mengangkat alis.

“Untuk kejadian waktu itu" Lanjut wanita itu.

Alesya hanya menganggukkan kepalanya pelan.

“Nggak masalah. Yang penting kau dan bayimu selamat.”

Alesya tersenyum samar. Namun wanita itu justru menundukkan kepala.

“Bayiku...”

Gumamannya begitu pelan, hampir tidak terdengar.

Alesya tidak menyadarinya.

“Iya. Yang penting keselamatannya.”

Wanita itu menatap perutnya. Tatapannya kosong.

Tidak ada kebahagiaan seperti seorang ibu yang menantikan kelahiran anaknya. Yang terlihat justru rasa takut, lelah, dan sesuatu yang menyerupai penolakan.

Seolah-olah ia sendiri masih belum mampu menerima kehidupan yang tumbuh di dalam tubuhnya. Alesya memperhatikannya beberapa saat.

“Sudah berapa bulan?”

Wanita itu menggeleng pelan.

“Entahlah... aku tidak mengingatnya.”

Alesya terdiam, Kemudian tangannya terangkat dan menepuk pundak wanita itu perlahan.

Tidak ada kata-kata yang keluar. Hanya sebuah gestur kecil untuk menenangkannya. Namun beberapa detik kemudian, sebuah pertanyaan lain terlintas di benaknya.

“Ayahnya siapa?”

Seketika wanita itu tersenyum kecut.

“Ayahnya?”

Alesya hanya mengangguk, Wanita itu menatap kosong ke depan.

“Aku tidak yakin...”

Ia tertawa kecil, Namun tawa itu sama sekali tidak terdengar bahagia.

“Siapa, ya?”

Wanita itu mengangkat bahu dengan lemah.

“Entah sipir yang mana... atau tahanan berapa.”

Alesya sontak terdiam, Senyumnya menghilang.

Untuk beberapa saat, ia tidak tahu harus mengatakan apa.

“Seharusnya aku tidak bertanya"

Alesya menggeleng pelan.

Wanita itu masi menunduk,Tatapannya justru kembali jatuh pada perutnya yang sudah sangat besar. Perasaannya hampa, seperti hidup nya di dalam penjara ini di cabik-cabik, terus di paksa untuk tetap kuat.

Alesya hanya bisa menatapnya, ia tidak tahu harus berkata apa. Wanita itu menarik napas panjang.

“Aku sungguh berterima kasih kepadamu, Alesya.”

Perlahan, ia bangkit dari kursinya.

“Setidaknya... di neraka ini masih ada malaikat seperti dirimu.”

Alesya terdiam, Wanita itu tersenyum tipis

“Dan kau adalah wanita paling beruntung di sini..."

Alesya masi menyimak pembicaraan wanita itu.

"Karena baru hari pertama kau disini, kau sudah membuat orang yang paling ditakuti disini, jatuh kepada mu" Lanjut wanita itu.

Ia kemudian berjalan pergi, Langkahnya perlahan dan berat. Alesya tau siapa yang wanita itu maksud, Namun hanya mengabaikan nya. kemudian ia kembali menatap punggung wanita itu yang semakin jauh.

Entah kenapa, percakapan tadi terus terngiang di kepalanya.

Namun ia juga tahu bahwa dirinya tidak bisa menjaga semua orang di tempat ini.

Ia bahkan belum tentu mampu menjaga dirinya sendiri. Alesya menundukkan kepala sebentar.

“Kasihan...”

Gumamannya nyaris tidak terdengar.

Tatapannya masih mengikuti wanita itu sampai sosoknya menghilang di ujung lorong.

Untuk beberapa saat, Alesya hanya berdiri diam.

Kemudian ia berbalik dan berjalan kembali menuju taman lapas.

Wajahnya sudah kembali seperti biasa.

Namun pikirannya tidak. Ada sesuatu dari percakapan tadi yang meninggalkan rasa tidak nyaman di dalam dadanya.

Dan untuk pertama kalinya, Alesya mulai bertanya-tanya...

sebenarnya, apa yang akan terjadi pada bayi itu ketika akhirnya lahir di tempat seperti ini?

***

Alesya kembali ke lapas dengan langkah yang jauh lebih lambat dari sebelumnya.

Tidak ada lagi senyum jahil yang tadi menghiasi wajahnya. Gadis itu berjalan dengan pandangan tertunduk, seolah pikirannya masih tertinggal di lorong sepi tempat ia meninggalkan wanita hamil tadi.

Sampai akhirnya, langkahnya berhenti di hadapan Reana dan Jessica, Alesya tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berdiri di sana dengan wajah murung, tatapannya terpaku pada ujung sepatunya.

Reana yang menyadari perubahan itu segera menatapnya penuh perhatian.

“Kamu kenapa, Al?”

Alesya mengembuskan napas panjang.

“Gapapa.”

Ia terdiam sebentar.

“Cuma... kasihan aja sama wanita tadi.”

Reana menunduk.

“Aku juga merasa begitu.”

Keduanya terdiam.

Jessica masih berbaring di tempatnya. Kedua matanya terpejam, seolah tidak tertarik dengan percakapan mereka.

Namun dari caranya tetap diam, jelas bahwa tidak satu pun perkataan mereka yang terlewat dari pendengarannya.

Alesya mengangkat wajahnya perlahan.

“Kalau bayinya lahir... gimana, ya?”

Tidak ada jawaban segera.

Reana hanya menggeleng kecil.

“Aku juga nggak tahu.”

Suaranya terdengar lirih.

“Kasihan banget, ya...”

Ia menarik napas.

“Kenapa orang-orang bisa sejahat itu, sih?”

Kalimat itu menggantung di antara mereka, Untuk sesaat, taman kembali sunyi. Sampai akhirnya terdengar suara gesekan kursi.

Jessica bangkit.

Gerakannya tenang, Tidak terburu-buru. Ia membuka matanya dan menatap kedua gadis di hadapannya dengan ekspresi datar.

“Tidak ada tempat yang baik untuk penjahat.”

Alesya dan Reana serempak menoleh. Keduanya tampak bingung. Jessica memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.

“Kalian terlalu mudah merasa kasihan.”

Alesya mengernyit.

“Maksudmu?”

Jessica tidak langsung menjawab.

Tatapannya beralih ke arah lain.

“Memangnya kalian pikir semua orang yang berada di sini baik?”

Alesya terdiam.

“Orang yang berakhir di sini bukan cuma pembunuh,” lanjut Jessica.

“Ada pemerkosa, Ada orang yang melakukan hal-hal yang bahkan lebih buruk.”

Nada suaranya tetap datar.

Tidak ada kebencian.

Tidak ada emosi berlebihan.

Justru ketenangan itulah yang membuat perkataannya terasa lebih berat.

Jessica kembali menatap Alesya.

“Jadi jangan mudah tertipu hanya karena melihat raut wajah seseorang.”

Ia berhenti sejenak.

“Apalagi hanya karena melihat seseorang dalam keadaan menyedihkan.”

Alesya tidak menjawab.

Jessica melanjutkan dengan suara rendah.

“Kita nggak tahu apa yang sudah mereka lakukan sebelum sampai di sini.”

Reana menelan ludah.

“Jadi menurutmu... wanita tadi juga penjahat?”

Jessica menggeleng.

“Aku nggak bilang begitu.”

“Lalu?”

“Aku cuma bilang kita nggak tahu.”

Jessica berjalan beberapa langkah, kemudian berhenti.

“Rasa kasihan itu nggak salah.”

Ia menoleh sedikit.

“Tapi kalau rasa kasihan membuat kalian berhenti berpikir... itu yang berbahaya.”

Alesya terdiam.

Tatapannya perlahan turun, Entah kenapa, perkataan Jessica terasa menempel di kepalanya. Bukan karena ia sepenuhnya setuju. Melainkan karena ia tahu Jessica benar dalam satu hal.

Di tempat ini, wajah seseorang tidak pernah cukup untuk menceritakan siapa dirinya. Alesya kembali teringat wanita tadi.

Tubuhnya yang kurus.

Wajahnya yang pucat.

Tangannya yang terus melindungi perutnya.

Dan tatapan kosong yang sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan seorang ibu.

Alesya menggigit bibir bawahnya pelan.

“Tapi tetap aja...”

Jessica menatapnya.

Alesya mengangkat wajah.

“Dia kelihatan benar-benar menderita.”

Jessica diam.

Untuk pertama kalinya, tidak ada bantahan yang keluar dari mulutnya.

Hanya tatapan datar yang perlahan melembut, meski nyaris tidak terlihat.

“Aku tahu.”

Dua kata.

Singkat.

Namun cukup untuk membuat Alesya menatapnya.

Jessica kemudian kembali memalingkan wajah.

“Makanya aku bilang, kasihan boleh.”

Ia berjalan meninggalkan mereka.

“Tapi jangan pernah lupa untuk berhati-hati.”

Alesya dan Reana hanya terdiam.

Mereka saling berpandangan.

Baru kali ini mereka melihat sisi lain dari Jessica.

Gadis itu memang keras, Bahkan pernah waktu lalu membuly para tahanan wanita. Dan nada bicaranya pun sering kali terdengar dingin.

Namun mungkin, di balik semua itu, Jessica hanya sudah terlalu lama belajar satu hal:

di tempat seperti ini, mempercayai seseorang tanpa mengetahui siapa dirinya adalah kesalahan yang bisa berakibat fatal.

"Jangan percaya pada apa yang terlihat di tempat seperti ini, orang yang paling pandai menyembunyikan keburukan justru terlihat paling pantas di kasihani"

***

1
Tuan Tuan
💪😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!