Sebagai anak dari selir rendahan, Xiu Ying Nona Ke-9 dari Kediaman Utama selalu hidup tertindas, pasrah, dan dianggap sebagai "sampah" oleh ayah serta saudara-saudaranya. Namun, sebuah insiden di kolam teratai mengubah segalanya. Xiu Ying yang terperosok ke dalam air dingin bangkit sebagai sosok yang sama sekali baru: dingin, cerdik, dan tak lagi sudi diinjak-injak.
Guna menyingkirkan Xiu Ying yang mulai sulit dikendalikan dan demi menyelamatkan putri-putri kesayangannya dari pernikahan politik yang merugikan, sang ayah dengan tega menikahkan Xiu Ying dengan Zhen Yu—Pangeran Ke-7 yang dituduh "idiot" dan kerap dijadikan bahan tertawaan di seluruh istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 12
Malam semakin larut di Istana Zhen. Angin dingin musim gugur berembus perlahan, menggoyangkan dedaunan bambu di luar jendela kayu yang tertutup rapat. Di dalam kamar utama yang hangat oleh pendar lilin, Xiu Ying tertidur lelap di atas ranjang empuknya. Wajah cantiknya tampak sangat tenang, bebas dari guratan ketegangan setelah seharian bergelut dengan pembukuan dan menertibkan para pelayan yang membangkang.
Di samping pembaringan, sesosok tubuh tinggi tegap perlahan membuka matanya.
Binar polos dan kekanak-kanakan yang biasa menghiasi wajah Pangeran Zhen Yu seketika sirna tanpa sisa. Manik matanya yang hitam pekat berkilat dingin, sarat akan ketajaman dan wibawa seorang penguasa sejati.
Dengan gerakan yang teramat halus dan tanpa suara, Zhen Yu menyibakkan selimut tebalnya. Ia membetulkan letak selimut Xiu Ying agar wanita itu tidak kedinginan, lalu berdiri tegak. Langkah kakinya begitu ringan, melayang tanpa menapak kencang di atas lantai kayu yang rapuh.
Zhen Yu melangkah mendekati jendela, membukanya sedikit, lalu melompat keluar dengan kelincahan tingkat tinggi. Dalam sekejap mata, jubah tidurnya yang berhembus telah menghilang di balik bayangan atap istana.
Di atas atap Istana Zhen yang tersembunyi di balik kegelapan malam, tiga sosok berbusana serba hitam dengan topeng perak membungkuk dalam-dalam di atas genteng. Ketika Zhen Yu mendarat dengan sempurna di hadapan mereka, ketiganya langsung berlutut pada satu kaki dengan rasa hormat yang teramat mendalam.
"Hamba memberi salam kepada Yang Mulia Pangeran Ke-7!" bisik sosok di tengah dengan suara rendah yang tertahan.
"Berdiri," perintah Zhen Yu. Suaranya tidak lagi melengking tinggi atau kekanak-kanakan, melainkan berat, dingin, dan mengintimidasi—suara asli dari Pimpinan Utama Jaringan Bayangan Mistik, jaringan mata-mata dan informasi terbesar yang menguasai seluruh rahasia di Kekaisaran.
Pria bertopeng perak yang berada di tengah—seorang pengawal kepercayaan bernama Lu Feng mengangkat kepalanya sedikit. "Yang Mulia, hamba memohon ampun atas keterlambatan laporan ini. Situasi di Istana Utama sedang memanas setelah kedatangan Kasim Lian kembali dari kediaman ini."
Zhen Yu menyunggingkan senyum miring yang teramat tampan di balik kegelapan malam. Ia menyilangkan kedua tangannya di balik punggung, menatap gemerlap lampu ibu kota di kejauhan.
"Kasim Lian?" gumam Zhen Yu dengan nada mengejek. "Pelayan tua itu pasti mengadu pada Ibu Suri sambil menangis karena ditelanjangi oleh istriku."
Lu Feng terkekeh pelan. "Laporan yang hamba terima memang demikian, Yang Mulia. Kasim Lian melaporkan bahwa Istri Pangeran sangat arogan dan berbahaya. Namun, Ibu Suri saat ini belum menaruh curiga pada Anda, beliau hanya menganggap Nona Kesembilan dari Keluarga Xiu sebagai wanita liar yang tidak tahu tata krama."
"Bagus," sahut Zhen Yu datar. "Biarkan orang-orang tua di istana itu tetap tertidur dalam Ilusi bahwa aku hanyalah pangeran yang tidak berguna. Itu akan memberi kita lebih banyak ruang untuk bergerak."
Lu Feng mengangguk paham, namun kemudian wajahnya dibalut keraguan. Ia melirik ke arah jendela kamar utama di bawah yang tertutup rapat.
"Yang Mulia..." buka Lu Feng hati-hati. "Mengenai Nona Xiu Ying... Hamba mengamati tindakan beliau sejak tiba di Istana Zhen. Beliau menyelamatkan Anda dari kolam, menundukkan Bibi Guan, dan mengambil alih pembukuan hanya dalam waktu satu hari. Keberanian dan kecerdasannya sangat tidak masuk akal untuk seorang putri buangan yang selama ini dikenal penakut."
Mata Zhen Yu berkilat jenaka saat mengingat kembali bagaimana Xiu Ying melompat ke dalam kolam es untuk menyelamatkannya, serta bagaimana wanita itu berdiri membusungkan dada membentak Kasim Lian demi membela dirinya.
"Istriku memang luar biasa," desis Zhen Yu, suaranya diwarnai kehangatan yang sangat langka. "Di saat semua orang menganggapku sebagai sampah yang memalukan, dia adalah satu-satunya orang yang berdiri di depanku dan menjadikannya perisai untuk melindungiku."
"Apakah... Anda yakin beliau tidak dikirim oleh Keluarga Xiu atau faksi lain untuk memata-matai Anda, Yang Mulia?" tanya pengawal kedua yang berdiri di sebelah kiri.
"Tidak," pangkas Zhen Yu tegas, suaranya mengandung nada peringatan yang membuat ketiga pengawal bayangan itu menunduk takut. "Orang-orang di Kediaman Xiu terlalu bodoh untuk memiliki pion secerdas Xiu Ying. Jika mereka tahu betapa berharganya dia, mereka tidak akan pernah membiarkannya dinikahkan denganku."
Zhen Yu terdiam sejenak, mengingat pandangan mata Xiu Ying yang tajam namun bersih dari niat jahat. Wanitanya itu bertindak murni karena dorongan harga diri dan rasa tanggung jawab yang tinggi.
"Lu Feng," panggil Zhen Yu.
"Hamba, Yang Mulia!"
"Kerahkan divisi pertama Jaringan Bayangan. Selidiki seluruh rekam jejak masa lalu Xiu Ying di Kediaman Xiu secara mendalam. Cari tahu apa yang terjadi padanya saat dia jatuh ke dalam kolam teratai hari itu hingga membuatnya berubah drastis," perintah Zhen Yu runtut.
"Baik, Yang Mulia! Hamba akan segera melaksanakan!"
"Dan satu hal lagi," lanjut Zhen Yu, matanya menyipit penuh ancaman mematikan yang sanggup membekukan darah siapa pun yang melihatnya. "Awasi Kediaman Xiu, terutama Nyonya Besar dan Xiu Mei. Aku mendengar rumor bahwa mereka berencana menggelar perjamuan dan berniat mencelakai istriku."
Lu Feng mengepalkan tangannya di dada. "Apakah Anda ingin hamba membungkam mereka secara diam-diam sebelum perjamuan dimulai?"
Zhen Yu tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh taktik yang mengerikan. "Tidak perlu. Istriku sangat menyukai permainan. Jika kita menyingkirkan musuhnya terlalu cepat, dia akan merasa bosan."
Zhen Yu mengibaskan lengan baju mewahnya. "Cukup pastikan tidak ada satu pun jebakan, racun, atau belati rahasia yang benar-benar bisa menyentuh sehelai rambut Xiu Ying. Jika ada yang berani melukainya... pastikan seluruh Keluarga Xiu membayar harganya dengan darah."
"Hamba siap melaksanakan perintah!" jawab ketiga pengawal bayangan itu serempak sebelum menghilang dalam sekejap mata seperti asap yang tertiup angin malam.
Zhen Yu berdiri sendirian di atas genteng untuk beberapa saat, menikmati angin malam yang membelai wajahnya. Ia menyunggingkan senyum samar, merasa lucu dengan situasi hidupnya saat ini. Selama bertahun-tahun ia harus bersembunyi di balik topeng idiot untuk bertahan hidup di tengah intrik istana yang berdarah. Namun kini, di balik topeng tersebut, ia menemukan seorang wanita yang siap bertarung demi dirinya.
"Xiu Ying..." bisik Zhen Yu pelan pada angin malam. "Kau berpikir kau sedang melindungiku... padahal kau tidak tahu bahwa seluruh kekuatan bayangan di kerajaan ini siap bergerak di bawah kakimu."
Zhen Yu berbalik dan melompat turun dari atap tanpa suara.
Ia kembali menyusup melalui jendela kamar yang terbuka sedikit, menutupnya rapat-rapat, lalu melangkah menuju pembaringan. Saat melihat Xiu Ying sedikit mengernyit dalam tidurnya—mungkin karena merasakan sedikit hembusan angin dingin—Zhen Yu dengan lembut merapatkan selimut ke leher wanita itu.
Ia lalu berbaring kembali di samping Xiu Ying, memasang kembali raut wajah polos dan lugu di wajah tampannya, lalu memiringkan badannya menatap wajah lelap sang istri.
Xiu Ying bergerak sedikit, secara tidak sadar mendekati kehangatan tubuh Zhen Yu dan menyandarkan dahinya di dada bidang sang pangeran.
Zhen Yu tersenyum tulus, mengulurkan tangannya yang besar untuk mengusap rambut panjang Xiu Ying dengan sangat hati-hati agar tidak membagunkannya.
"Tidurlah yang nyenyak, Istriku," bisik Zhen Yu manis dengan suara teramat pelan di dekat telinga Xiu Ying. "Bermainlah sesukamu esok hari. Aku akan selalu ada di belakangmu untuk membereskan sisa-sisa musuhmu."
Dengan perisai rahasia yang kini telah aktif sepenuhnya di balik bayangan, Xiu Ying tertidur lelap tanpa menyadari bahwa pangeran yang dianggapnya 'idiot' dan harus dilindungi itu sebenarnya adalah raja bayangan yang siap mengguncang seluruh kerajaan demi dirinya.
(Bersambung)