Seumur hidupnya, Amira tidak pernah benar-benar dianggap sebagai bagian dari keluarganya. Sebagai anak yang lahir dari hubungan terlarang, ia selalu menjadi sasaran kebencian kakak tirinya. Bahkan lelaki yang dicintainya memilih kakaknya sendiri hanya karena Amira bukan anak sah keluarga itu. Ketika fitnah demi fitnah membuat ayahnya ikut membencinya, Amira akhirnya mendapat "hadiah" dari keluarganya—sebuah perjodohan dengan Kaizar, pewaris keluarga mafia paling ditakuti. Kaizar bukan pria biasa. Ia lumpuh, memiliki luka yang membekas di wajahnya, dingin, kejam, dan tidak mengenal belas kasihan. Bagi keluarga Amira, perjodohan itu adalah cara untuk menyingkirkan putri yang selama ini mereka anggap sebagai aib. Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik kekejaman Kaizar, tersimpan luka yang jauh lebih dalam. Dan ketika semua orang memilih takut kepadanya, Amira justru menjadi satu-satunya perempuan yang berani mendekat, memeluknya, lalu berkata, "Sabar... kamu tidak sendirian."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Pagi datang perlahan. Cahaya matahari menyusup melalui celah tirai kamar, jatuh di lantai dan sebagian mengenai ujung tempat tidur.
Amira menggeliat kecil. Matanya masih berat ketika ia membuka kelopak mata. Selama beberapa detik, ia hanya menatap langit-langit kamar tanpa mengingat apa pun.
Sampai akhirnya pandangannya jatuh pada cincin di jari manisnya. Amira langsung terdiam. Kemudian ingatannya kembali.
Pernikahan.
Kaizar.
Malam tadi.
Ia menoleh ke sisi lain tempat tidur. Kosong lalu Amira langsung duduk.
"Kaizar?"
Tidak ada jawaban. Ia melihat sekeliling kamar. Pintu kamar mandi tertutup, tetapi tidak terdengar suara apa pun dari dalam.
Amira turun dari tempat tidur dan berjalan mendekati pintu. Baru saja tangannya hendak menyentuh gagang pintu, terdengar suara dari arah belakang.
"Bangun juga."
Amira terkejut dan segera berbalik. Kaizar sudah berada di dekat pintu kamar. Pria itu mengenakan kemeja sederhana berwarna gelap. Kursi rodanya bergerak perlahan menuju meja kecil di dekat jendela.
Amira memandangnya dengan bingung. "Kamu dari mana?"
"Dari ruang kerja."
"Sejak kapan?"
"Beberapa saat lalu."
Amira mengerutkan kening. "Terus kenapa tidak membangunkanku?"
Kaizar menatapnya. "Kau tidur nyenyak."
Amira terdiam sebentar. "Kamu memperhatikanku tidur?"
"Aku kebetulan melihat."
"Oh."
Amira menahan senyum. "Berarti Tuan Dingin ternyata suka melihat istrinya tidur."
Kaizar langsung mengalihkan pandangan.
"Jangan mulai."
Amira tertawa kecil. Ia kemudian berjalan mendekat.
"Sudah sarapan?"
"Belum."
"Kenapa?"
"Aku menunggumu."
Amira berhenti. "Menungguku?"
Kaizar mengangguk. "Aku pikir setelah menikah, sarapan bersama istriku bukan hal yang buruk."
Senyum Amira perlahan muncul. "Astaga."
"Apa?"
"Tuan Dingin berubah."
Kaizar menghela napas pendek. "Aku masih bisa membatalkan ucapan tadi."
"Jangan!"
Amira langsung mendekat ke kursi rodanya. "Sudah terlanjur. Aku catat."
"Catat apa?"
"Kalau suamiku ternyata ingin sarapan bersamaku."
Kaizar menatapnya beberapa detik. "Kau memang tidak bisa diam."
"Tapi kamu suka."
Kaizar tidak menjawab. Amira langsung terkekeh. "Nah, diam. Berarti benar."
Mereka akhirnya keluar dari kamar bersama. Begitu sampai di ruang makan, beberapa pelayan yang sedang menyiapkan sarapan langsung memberi salam.
"Selamat pagi, Tuan. Nyonya."
Amira yang baru mendengar panggilan itu langsung berhenti. Nyonya. Ia menoleh kepada Kaizar.
"Kayaknya aku masih belum terbiasa dipanggil begitu."
Kaizar menatapnya. "Biasakan."
"Semudah itu?"
"Memang."
Amira duduk di kursinya. "Kalau begitu, kamu juga harus membiasakan diri."
"Dengan apa?"
Amira tersenyum jahil. "Jangan panggil aku Amira terus."
Kaizar mengangkat alis. "Lalu?"
"Istrimu."
Kaizar diam.
Amira menahan tawa. "Kenapa diam lagi?"
"Kau sedang menguji kesabaranku."
"Aku cuma mengingatkan."
Kaizar menggeleng kecil.
"Istriku."
Amira langsung tersenyum. "Nah. Begitu."
Kaizar memperhatikannya sebentar. Entah kenapa, melihat senyum perempuan itu di pagi hari membuat suasana rumah terasa berbeda.
Tidak lagi seperti bangunan besar yang hanya dipenuhi orang-orang yang bekerja untuknya.
Kini ada suara tawa. Ada seseorang yang duduk di hadapannya. Ada seseorang yang menunggu sarapan bersamanya.
Kaizar baru menyadari bahwa hal-hal sederhana seperti itu ternyata bisa membuat rumah terasa hidup.
Amira mengambil sepotong roti. "Kaizar."
"Hm?"
"Setelah menikah, kita akan tinggal seperti ini setiap hari?"
"Memangnya kau keberatan?"
"Enggak."
Amira menggeleng cepat. "Aku malah suka."
Kaizar menatapnya. "Aku cuma masih merasa aneh."
"Karena?"
"Karena dulu aku tidak pernah membayangkan hidup seperti ini."
Amira memainkan cincin di jarinya. "Aku juga tidak pernah membayangkan menikah dengan pria yang awalnya bahkan membuatku takut."
Kaizar mengangkat alis. "Aku membuatmu takut?"
"Sedikit."
"Sekarang?"
Amira menatapnya. "Sekarang?" Ia tersenyum. "Masih."
Kaizar menghela napas. "Bagus."
"Kenapa bagus?"
"Supaya kau tidak terlalu berani."
Amira tertawa. "Sudah terlambat."
Mereka kembali menikmati sarapan dalam suasana yang jauh lebih ringan. Sementara di tempat lain Ganjar akhirnya pulang ke rumah.
Seharian berada di kantor tidak membuat masalahnya selesai. Justru semakin banyak persoalan yang harus dipikirkan.
Beberapa proyek perusahaan terancam tertunda karena pembayaran dari pihak lain belum masuk. Sementara kewajiban kepada pemasok dan bank terus berjalan. Ditambah lagi, kerja sama dengan keluarga Abraham menjadi satu-satunya harapan agar kondisi perusahaan tidak semakin terpuruk.
Ganjar sudah berkali-kali menghubungi pihak Abraham, tetapi sampai sekarang belum mendapatkan kepastian.
Ia masuk ke rumah dengan wajah kusut.
Tas kerja diletakkannya begitu saja di atas sofa.
Ambar yang sedang duduk di ruang keluarga langsung menoleh.
"Kamu baru pulang?"
Ganjar hanya mengangguk.
Ia bahkan tidak sempat mengganti pakaian ketika tubuhnya sudah terasa begitu lelah.
Ambar memperhatikannya beberapa saat.
"Bagaimana perusahaan?"
Ganjar menatap istrinya.
"Masih sama."
"Maksudnya?"
"Masih belum selesai."
Ambar langsung mengerutkan kening.
"Jadi sampai sekarang belum ada kepastian dari keluarga Abraham?"
"Belum."
"Terus bagaimana dengan perusahaan kita?"
Ganjar mengusap wajahnya.
"Aku sedang memikirkannya, Ambar."
"Memikirkan?"
Nada suara Ambar terdengar tidak puas.
"Sejak pagi aku menunggu kabar. Kamu bilang hari ini akan ada pembicaraan dengan keluarga Abraham."
"Ada."
"Dan?"
"Belum ada keputusan."
Ambar berdiri.
"Kalau begitu kita harus bagaimana?"
Ganjar menatapnya lelah.
"Aku baru pulang."
"Aku juga sedang memikirkan perusahaan ini."
"Dan aku tidak memikirkannya?"
"Aku tidak bilang begitu."
"Tapi caramu bicara seolah-olah semua ini salahku."
Ambar menghela napas kasar.
"Karena kamu terlalu santai."
Ganjar langsung menatapnya.
"Santai?"
Ia tertawa pendek, tetapi sama sekali tidak menunjukkan kegembiraan.
"Kamu pikir aku santai?"
"Aku cuma ingin tahu apa yang akan kamu lakukan."
"Aku sudah melakukan banyak hal!"
Suara Ganjar mulai meninggi.
"Aku menemui investor, bicara dengan bank, meminta perpanjangan pembayaran, dan berusaha mempertahankan kerja sama dengan keluarga Abraham. Seharian aku memikirkan perusahaan ini."
Ia menunjuk kepalanya sendiri.
"Kepalaku rasanya mau pecah."
Ganjar menatap Ambar dengan kecewa.
"Kamu ini dari dulu selalu saja begini. Aku sedang punya masalah di kantor, bukannya ditenangkan malah seperti ini."
Ambar terdiam sesaat.
Wajahnya berubah.
"Jadi sekarang aku yang salah?"
"Aku tidak bilang begitu."
"Tapi maksudmu jelas."
Ambar melangkah mendekat.
"Terus kamu ingin aku bagaimana? Menjadi lemah lembut? Sok baik seperti perempuan itu dulu?"
Ganjar langsung membeku.
"Ambar..."
"Kenapa?"
"Sudah."
"Aku belum selesai."
"Sudah cukup."
Ganjar memalingkan wajah.
Entah kenapa, hanya dengan mendengar kalimat itu, sesuatu yang selama bertahun-tahun ia coba kubur kembali muncul.
Seorang perempuan.
Sebuah malam.
Dan sebuah kejadian yang mengubah hidupnya.
Ganjar mengepalkan tangan.
"Jangan bawa-bawa masa lalu."
Ambar tertawa pahit.
"Kenapa? Kamu masih tidak suka membicarakannya?"
"Aku bilang sudah cukup."
"Atau kamu masih merasa bersalah?"
Ganjar langsung menoleh.
"Ambar!"
Suara itu membuat ruang keluarga mendadak sunyi.
Ganjar berdiri tegak dengan rahang mengeras.
"Entah kenapa setiap kali mengingat masa lalu itu, aku semakin muak."
Ambar terdiam.
Ganjar melanjutkan dengan suara berat.
"Aku sudah bertahun-tahun berusaha melupakannya."
Ia menatap kosong ke depan.
"Tapi aku tetap harus hidup dengan akibatnya."
Ambar tidak menjawab.
Ganjar mengepalkan tangannya semakin kuat.
"Yang paling membuatku benci adalah aku masih punya anak dari perempuan yang selama ini kuanggap sudah menjebakku."
Nama Amira tidak disebut.
Tetapi keduanya tahu siapa yang dimaksud.
Ganjar mengalihkan pandangan.
Bahkan kemarin, di hari pernikahan Amira, ia tidak sanggup menatap wajah anak itu terlalu lama.
Setiap kali melihat Amira, ingatan tentang masa lalu selalu kembali.
Dan ia membencinya.
Bukan karena Amira pernah melakukan sesuatu kepadanya.
Melainkan karena keberadaan gadis itu selalu mengingatkannya pada malam yang ingin ia lupakan.
Ambar yang sejak tadi menahan emosi akhirnya kehilangan kesabaran.
"Kalau begitu, suruh saja anak harammu itu menyuntik dana ke perusahaan kita!"
Ganjar langsung menoleh.
"Apa?"
"Dia sekarang sudah menjadi istri Kaizar, kan?"
Ambar menatap Ganjar tanpa rasa bersalah.
"Kalau keluarga Abraham begitu kaya, kenapa kita harus repot?"
"Jangan libatkan Amira."
"Kenapa?"
"Dia tidak ada hubungannya dengan masalah perusahaan."
"Dia justru sekarang berada di keluarga yang bisa menyelesaikan semuanya!"
"Ambar!"
Ganjar membentak.
"Aku tidak akan meminta apa pun kepada Amira."
"Kenapa?"
"Karena aku bilang tidak."
Ambar menyilangkan tangan di dada.
"Atau sebenarnya kamu malu?"
Ganjar menatapnya.
"Malu karena harus meminta bantuan kepada anak yang selama ini kamu perlakukan seolah-olah bukan bagian dari keluarga ini?"
"Diam."
"Kenapa diam? Bukankah itu kenyataannya?"
Ambar terus mendesak.
"Kalau bukan karena kakek dan neneknya dulu, anak itu bahkan tidak akan punya tempat di keluarga Wijaya."
"Jangan bawa mereka."
"Kenapa tidak? Mereka yang memaksa kita menerima keberadaan Amira."
Ganjar memejamkan mata.
Ia sudah tidak sanggup mendengar nama itu lagi.
Namun Ambar belum berhenti.
"Sekarang anak itu sudah menikah dengan pewaris keluarga Abraham. Bukankah seharusnya dia berguna untuk keluarga?"
Ganjar membuka mata.
"Amira bukan alat."
Kalimat itu keluar begitu saja.
Ambar terdiam. Ganjar sendiri tampak terkejut mendengar ucapannya. Selama bertahun-tahun ia jarang sekali membela Amira.
Tetapi kali ini ia tidak sanggup membiarkan Ambar menyeret anak itu ke dalam masalah perusahaan.
"Meskipun aku tidak menyukainya," lanjut Ganjar, "aku tidak akan meminta sesuatu kepadanya."
Ambar mendengus.
"Bagus. Kalau begitu, biarkan perusahaan kita hancur."
Ganjar menatapnya.
"Jangan bicara sembarangan."
"Aku hanya mengatakan kenyataan."
Ambar mengambil tasnya dari sofa.
"Kamu selalu punya cara untuk menyalahkan keadaan. Padahal sejak awal, semua masalah ini muncul karena keputusan-keputusanmu sendiri."
Ganjar terdiam.
Ambar berjalan meninggalkannya.
Sebelum masuk ke kamar, wanita itu berhenti dan menoleh.
"Kalau suatu hari perusahaan ini benar-benar jatuh, jangan harap aku ikut menanggung akibatnya."
Pintu kamar tertutup.
Ganjar masih berdiri di ruang keluarga.
Sendirian.
Kepalanya terasa semakin berat.
Masalah perusahaan.
Keluarga Abraham.
Amira.
Masa lalu.
Semua bercampur menjadi satu.
Ia mengambil kunci mobil yang tergeletak di meja.
Tidak tahu hendak pergi ke mana.
Ia hanya tahu dirinya membutuhkan udara.
Ganjar keluar dari rumah tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Beberapa menit kemudian, mobil Ganjar melaju meninggalkan halaman rumah.
Tangannya menggenggam kemudi begitu kuat sampai buku-buku jarinya memutih.
Pikirannya tidak berhenti bekerja.
Perusahaan yang selama ini menjadi kebanggaannya kini berada di ujung tanduk.
Keluarga Abraham menjadi satu-satunya harapan.
Tetapi ia tidak mau meminta bantuan Amira.
Tidak. Ia tidak akan melibatkan anak itu.
Ia bahkan belum mampu menerima kenyataan bahwa Amira sekarang telah menjadi bagian dari keluarga Abraham. Setiap kali memikirkan putrinya, kebencian terhadap masa lalu kembali muncul.
Perempuan itu.
Malam itu.
Kehamilan.
Amira.
Semuanya seperti rantai yang mengikat hidupnya sampai sekarang.
"Seandainya malam itu tidak pernah terjadi..."
Ganjar menggumamkan kalimat itu. Matanya mulai panas. Ia memacu mobil lebih cepat. Satu tikungan terlewati. Kemudian tikungan berikutnya. Pikirannya semakin kacau.
Ia tidak memperhatikan bahwa kecepatan mobil sudah jauh melewati batas yang seharusnya.Tiba-tiba sebuah kendaraan muncul dari arah berlawanan.
Ganjar tersentak. "Astaga!"
Tangannya refleks memutar kemudi. Mobil bergerak oleng. Ganjar menginjak pedal rem sekuat tenaga. Namun semuanya sudah terlambat.
BRAK!
Suara benturan keras mengguncang jalan. Tubuh Ganjar terdorong ke depan. Mobilnya berhenti dalam keadaan ringsek. Beberapa detik kemudian, semuanya kembali sunyi.
Ganjar tidak bergerak. Darah perlahan mengalir dari bagian kepalanya. Dan tanpa pernah ia bayangkan sebelumnya, kecelakaan itu akan membuat keluarga Wijaya menghadapi satu kenyataan yang selama ini mereka sembunyikan.
Bahwa orang yang selama ini mereka anggap sebagai sumber masalah... mungkin justru menjadi orang yang akan menyelamatkan hidup Ganjar.
Bersambung...